Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 8



Sarah segera menoleh cepat, dia memandang tidak percaya pada Marilyn. Benarkah seorang ibu yang kelihatan begitu menyayangi anaknya tega melakukan hal seburuk ini? Marilyn membuat nama anaknya menjadi bahan perbincangan orang-orang, bagaimana dia bisa melakukan hal semacam ini?



"Kau terkejut bukan? Tentu saja kau pasti terkejut. Aku melakukan hal semacam ini sebenarnya bukan tanpa alasan, aku hanya ingin Alex segera menikah dan merubah sifatnya itu--"



Sarah menangkap raut wajah lelah dari Marilyn. Wanita tua itu pasti sangat sedih karena putranya hidup seperti ini. Mencari pelampiasan pada para jalang dan menjadi pecandu alkohol. Ya, walau Alex tidak pernah membuat masalah dengan polisi, tapi Marilyn tetap khawatir dengan kondisi putranya tersebut.



"Kenapa harus cara seperti ini, Nyonya Grissham? Apa Anda pikir cara ini adalah yang terbaik?"



Marilyn mengangguk,"Tadinya aku berniat menjodohkannya dengan seorang gadis kenalanku. Kupikir langkah awal sudah berhasil aku lakukan dan memang benar. Lalu ketika orang terpercayaku membeberkan perihal rencana gila Alex, disana aku mengetahui kalau semua rencana ku akan hancur berantakan. Secara tidak sengaja, aku semakin menyusahkan kehidupan putraku. Dan lagi, dia melibatkan gadis baik seperti mu. Jangan berkata padaku kalau sifat Alex itu sopan karena aku tahu putraku. Sedari kecil, sejak dia kehilangan ayahnya, Alex menjadi tipikal lelaki yang kasar. Ia tidak ingin berbicara padaku ketika sedang marah dan aku ingat sekali saat ia masih enam belas, Alex kabur selama dua minggu karena aku melarangnya untuk minum alkohol."



Sarah mendengarkan semua penjelasan itu dan memahami keadaan. Marilyn hanya ingin anaknya berubah, ia hanya ingin melihat sosok putra yang ia kenal. Bukan penjahat kelamin seperti saat ini. Sarah tersentak, ia mengingat sesuatu.



"Nyonya Grissham, sebelumnya, apa aku boleh bertanya?"



Marilyn mengangguk dan tersenyum,"Tentu saja kau boleh. Tanyakan saja sayang,"



"Apa Alex pernah punya anak sebelumnya?"



Marilyn mengerutkan dahinya. Ia memang jarang melihat putranya tapi ia tahu Alex tidak akan pernah menyembunyikan apapun di belakangnya,"Tidak Sarah. Dia tidak menikah ataupun punya anak,"



Sarah mengangguk. Dia melipat bibirnya,"Dia membuat kesepakatan padaku sebelum ini. Alex hanya ingin anak laki-laki, dia menolak dengan keras jika aku melahirkan bayi perempuan lalu mengancam ku," Balasnya. Marilyn menutup bibirnya, ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar,"Alex berkata seperti itu padamu?" Tanyanya dan Sarah hanya menggumam.



Marilyn mengusap permukaan wajahnya sebelum memijat keningnya,"Dia melakukannya lagi," Gumamnya.



"Apa Nyonya? Dia apa?"



Mata coklat Marilyn memandangnya lemah,"Alex... Punya ketakutan sekaligus benci pada bayi perempuan. Maaf, aku tidak bercerita tentang itu,"



"Bisa Anda beritahu aku Nyonya? Aku hanya ingin memastikan bahwa Alex punya alasan logis dan aku akan berusaha untuk memahami dia,"



Wanita tua itu meraih kedua telapak tangan Sarah dan meremasnya pelan, menghantarkan sinyal kesedihan seorang ibu yang terlihat putus asa.



"Dulu, aku pernah punya anak perempuan. Namanya Elle, dia masih berumur empat bulan saat peristiwa itu terjadi,"



"Peristiwa seperti apa?"



Marilyn merasa air matanya keluar,"Saat itu kami sekeluarga tengah berlibur di Hawaii, kejadian tidak terduga terjadi saat itu. Kami terkena ledakan yang berasal dari restoran yang tengah kami datangi. Ledakan itu berhasil meruntuhkan seisi bangunan tapi aku dan Alex berhasil selamat. Suamiku, Leonard mengatakan padaku bahwa aku harus berjalan keluar bangunan sebelum tempat itu benar-benar hancur tapi karena keadaan yang ramai, kami terpisah. Situasi benar-benar kacau dan Alex berkata kalau ayahnya harus turut pergi juga,"



"Apa yang terjadi? Ada apa dengan suami dan putri mu?"



"Mereka tidak selamat. Maksudku, Leon melindungi Elle dari kerumunan orang disana dan berusaha mencari jalan keluar sendiri. Dia berteriak padaku untuk tetap pergi bersama Alex karena dia akan menyusul. Tapi kau tahu, hal itu tidak pernah terjadi. Elle dan suamiku hancur bersama tumpukan besi bangunan itu," Jawab Marilyn. Dia melepas genggamannya lalu menghapus air mata yang sejak tadi mulai menggenangi matanya. Sarah terdiam, ia menyimpulkan bahwa Alex pasti menyalahkan adiknya atas apa yang terjadi pada ayah mereka. Mungkin sejak itu, Alex menjadi pribadi keras yang membenci anak perempuan karena peristiwa yang terjadi pada keluarganya.



"Tapi kau tidak perlu takut Sarah. Aku tidak akan membiarkan Alex menyeretmu jauh ke dalam permainannya. Akan kuusahakan untuk membuat Alex melepasmu pergi," Katanya. Sarah tidak tahu bagaimana harus berterima kasih lagi, dia hanya mengangguk sekali dan tersenyum lemah,"Terima kasih banyak Nyonya Grissham,"



Tepat setelah itu, Zack muncul di dekat mereka. Pria kurus itu mengucap salam sembari menundukkan wajahnya. Di tangannya, ia membawa sejumlah kantung. Tentu saja berisi pakaian yang diperintahkan Alex padanya.




Sarah dan Marilyn menoleh padanya. Wanita tua itu perlahan berdiri lalu menyambut kantung plastik yang diisi dengan pakaian mahal di dalamnya. Dia menghela napas lalu mengendikkan bahunya,"Ambil saja Sarah. Ini untukmu,"



...



Malam pun kembali tiba. Sarah mematut dirinya di cermin seluruh badan yang ada dalam kamar mandi. Demi apapun, bagaimana Alex bisa tahu ukuran pakaian dalamnya?



Wanita itu memukul pelan dahinya. Tentu saja, Alex adalah seorang penjahat wanita. Dirinya pasti tahu banyak bahkan dalam sekali lihat.



Sarah mengambil pakaian tidur yang lumayan nyaman. Itu bukan sebuah gaun tidur atau apapun, hanya piyama bewarna biru muda yang tampak pas dengannya.



Setelah selesai berpakaian, ia memilih untuk keluar dari kamar mandi. Ini masih jam tujuh malam, sebelumnya dia sudah selesai makan malam. Ibunya Alex juga sudah pulang ke rumahnya sendiri sore hari tadi jadinya dia berada di kamar ini sendirian.



Jantungnya hampir melompat keluar ketika pintu kamar dibuka tiba-tiba. Pria dengan mata biru pudar itu muncul dari balik sana. Ia tidak lagi pakai jas, hanya kemejanya saja yang sudah tidak beraturan lagi serta rambutnya yang kembali berantakan.



Alex berdiri disana sambil memandangi Sarah dari atas hingga bawah,"Demi tuhan! Apa yang kau kenakan?!"



Sarah memerhatikan dirinya sendiri. Tentu saja ini sebuah piyama dan apa yang salah?



Dia mendongak dan menatap Alex kesal,"Kau memberiku pakaian seperti ini Alex! Lalu kenapa kau marah?!" Balas Sarah, dia mengerutkan dahi tak suka mendengar nada bicara Alex yang terkesan tajam.



Pria itu mengatupkan bibirnya. Dia berjalan mendekati Sarah, mengurung wanita itu dengan dua tangannya. Tubuh Sarah sudah terhimpit di dinding, ia bisa mencium parfum mahal yang Alex kenakan pada tubuhnya.



"Aku marah karena kau menyembunyikan kesukaanku di dalam sini," Bisiknya sembari sebelah tangannya mulai menyusup masuk dari ujung pakaian atas Sarah, merambat ke atas kemudian menyentuh payudaranya.



Sarah terlonjak kaget saat jemari pria itu mulai meremas dada kirinya, ia mendorong tangan Alex perlahan karena perasaan itu membuat dia sedikit tidak nyaman.



"Aku ingin istirahat malam ini," Tolaknya.



"Apa aku tak salah dengar? Istirahat bahkan secepat ini? Aku baru menyentuhmu kemarin Sarah, dan aku rasa aku mulai ketagihan untuk terus menyentuhmu," Balasnya. Ia semakin merapatkan tubuhnya dan mengecup singkat permukaan bibir Sarah yang terbuka sedikit.



Sarah sedikit menjauhkan wajahnya, pipinya sudah merah seperti tomat dan sungguh Sarah tidak ingin terperangkap terlalu jauh. Jika Alex seperti ini, dia tidak yakin kalau akan bertahan walau hanya satu minggu saja. Katakanlah Alex punya pesona yang kuat dan Sarah bisa saja terjerat jika tidak berhati-hati.



Himpitan itu terasa mulai berkurang. Sarah menoleh pada Alex yang berjalan menjauh darinya sembari membuka kancing kemeja pada tubuhnya. Pria itu melempar asal kemejanya ke atas lantai lalu membuka pintu balkon untuk menikmati angin malam yang menyejukkan. Sarah memerhatikan punggung tegap Alex yang juga dihiasi oleh tato seperti sayap burung di dekat pundaknya.



"Sarah, cepat kau ganti pakaian mu, ikut aku ke suatu tempat," Titahnya. Sarah bisa mendengar suara itu dari dalam kamar diikuti oleh tatapan mengintimidasi dari mata setajam elang itu.



Sarah menoleh pada bingkisan yang ia letakkan di sudut kamar, itu juga berisi gaun pesta. Apa Alex sedang mengajaknya untuk ke pesta?



Sarah mendekati bingkisan itu lalu mengeluarkan gaun cantik yang tersimpan rapi di dalam sana.



"Ya, kau boleh kenakan itu. Aku akan memberimu waktu setengah jam untuk bersiap,"



Setelah itu, Alex bergerak keluar kamar hanya bertelanjang dada saja. Oh, Sarah mulai mewaspadai semua yang akan terjadi mulai dari sekarang.