
"Ahh!"
Desahan itu memenuhi setiap sudut kamar yang tengah mereka tempati. Sarah menggigit bibir bawahnya ketika tubuh Alex menyentak dengan begitu keras di bawah sana. Kedua tangannya ia letakkan pada kepala ranjang saat tubuhnya tak kuat untuk bergerak lagi.
Alex meremas bokong bulatnya sambil sesekali menamparnya hingga Sarah semakin meringis penuh kenikmatan.
"A-Alex! Pelan... Bayinya..."
Pria itu menggeram rendah, tapi kemudian memelankan gerakan tubuhnya yang seperti kesetanan. Dia menarik pelan rambut hitam Sarah hingga wanita itu sedikit mendongak. Oh tuhan, kenapa dia terlihat begitu seksi ketika sedang merintih seperti itu. Alex meremas sebelah dada wanita itu dan memuji kelembutannya yang begitu asli. Tentu saja kan? Selama ini wanita yang ia tiduri kebanyakan mengimplan payudara mereka hingga besar seperti balon dan keras layaknya batu. Payudara Sarah jauh lebih lembut dan tentu saja alami, tanpa operasi apapun. Oh sialan! Ia tak akan pernah berhenti.
Wanita itu sudah mendapatkan pelepasannya beberapa kali dan rasanya tubuhnya sudah mati rasa, tapi Alex masih terus bergerak disana tanpa berhenti walau dengan ritme yang tidak begitu keras karena janinnya.
Alex menarik pinggang Sarah hingga punggung wanita itu menyentuh dada bidangnya. Dia langsung mencium pundak dan leher Sarah sebelum menekan tubuhnya sedalam-dalamnya ke dalam Sarah hingga sesuatu mengalir keluar memenuhi wanita itu.
Sarah memejamkan matanya, merasakan kehangatan Alex yang selalu bisa membuat dia merasa senang dan bahagia, seperti ada kelembutan salju yang memeluknya.
Alex menarik tubuhnya, dia mengatur posisinya hingga ia berada disamping Sarah sambil memeluk tubuh wanita itu dari belakang. Dia tak berhenti mengecup leher Sarah sambil menormalkan kembali napasnya yang terputus-putus.
"Aku terkesan denganmu Sarah," Bisiknya. Sarah hanya menggeliat geli ketika napas Alex menerpa tengkuknya yang dingin. Jantungnya kembali berdebar seiring dengan sentuhan jemari pria itu pada lengan serta pinggangnya.
"Kau milikku," Tegasnya. Sarah tak membalas, dia membalikkan tubuhnya lalu berusaha mencium bibir pria itu, tapi Alex menahan tubuhnya.
"Katakan kalau kau hanya milikku. Sekarang."
Sarah menelan ludahnya lalu mengangguk,"Aku milikmu Alex. Selamanya."
"Berjanji kalau kau tak akan meninggalkan ku dalam keadaan apapun."
"Aku berjanji."
"Hukuman seperti apa yang harus aku berikan jika kau melanggar?"
Sarah menggigit bibirnya,"Kau boleh menyiksaku."
Alex tersenyum miring,"Menyiksamu dengan kenikmatan? Itu setimpal."
Jemari Alex kembali beraksi. Ia meremas bokong Sarah lalu mencium wanita itu. Sarah awalnya tersenyum bahagia dan dengan senang hati ingin membalas ciuman itu, tapi tenggorokannya tiba-tiba saja bergejolak. Sarah mendorong tubuh Alex lalu turun dari atas ranjang secepat yang ia bisa untuk bisa sampai ke kamar mandi tanpa memedulikan ketelanjangannya.
Alex yang terkejut akhirnya berkerut bingung. Ia mencari celana pendek miliknya--mengenakannya-- lalu ia pun menyusul Sarah ke kamar mandi.
Ia melihat wanita itu terduduk di samping kloset sambil berusaha memuntahkan sesuatu dari mulutnya hingga wajahnya terlihat memerah. Alex berjongkok di dekat Sarah lalu meraih rambut panjangnya yang mengganggu Sarah sambil memijat punggung wanita itu,"Masih merasa mual?"
Sarah mengangguk lalu mengeluarkan cairan bening dari tenggorokannya yang terasa menyiksa. Ia mencoba menarik napas pelan karena hal ini menguras oksigen dalam paru-parunya.
"Aku baik-baik saja... Ini hanya mual biasa di pagi hari," Jawabnya.
"Setiap pagi? Tapi kemarin-kemarin aku tak melihatmu seperti ini."
Sarah menekan tombol flush lalu menutup kloset itu,"Bisa tolong ambilkan handukku?" Pintanya. Alex mengangguk tanpa banyak bertanya lagi, dia meraih handuk putih yang terlipat di lemari kecil sebelum memberinya pada Sarah. Wanita itu segera melilitkan handuk pada tubuhnya lalu beranjak dari lantai dan duduk di atas kloset yang sudah ditutup.
"Tidak setiap pagi juga. Hanya beberapa kali dan yang paling sering itu ketika aku selesai makan," Jelasnya. Sarah lalu berdiri di depan wastafel lalu mencuci tangan serta bibirnya yang terasa basah. Ia menatap Alex dari cermin, pria itu juga tengah memerhatikannya.
"Aku menjijikkan ya?"
Alex mendekat. Dia lalu berjongkok di hadapan Sarah sambil mengamati perut wanita itu. Ia menyibak handuk yang dikenakan Sarah, telapak tangannya mengusap perut wanita itu yang sedikit menonjol.
"Jagoan-jagoan ku menyusahkan mu sepertinya," Ucapnya.
Sarah membuka mulutnya. Dia masih diam terpaku melihat perlakuan tak terduga itu.
Alex mendongak,"Benar kan?"
Sarah menggeleng cepat,"Te-tentu saja tidak, Alex. Mereka baik-baik saja."
Alex kembali memandang pada perut Sarah lalu setelah beberapa detik dia mencium perut wanita itu cukup lama sembari memejamkan matanya.
Tangan Sarah terasa gatal untuk mengusap rambut coklat pria itu. Ia terkesiap saat Alex berdiri lalu mengecup bibirnya dengan lembut.
"Ayo kita jadi orang normal. Maksudku, lupakan perjanjian sialan itu," Katanya.
Sarah terhipnotis seketika. Ia lalu menganggukkan kepalanya tanpa tahu maksud Alex membicarakan hal itu. Sedangkan Alex, dia lalu tertawa melihat respon Sarah. Pria itu mengusap sebelah pipinya dengan pelan seolah takut kehalusan kulitnya akan hancur begitu saja jika dia tak berhati-hati.
"Kalau begitu mari berkenalan lagi, sayangku."
Dia meraih telapak tangan Sarah kemudian menjabatnya,"Perkenalkan, aku Alex dan aku sedang butuh teman kencan."
Sarah ingin sekali tertawa, tapi ia menahan itu.
"Apakah orang yang baru bertemu langsung kencan? Aku baru tahu," Balasnya.
Alex hanya mengendikkan bahunya,"Well, sedikit improvisasi tak masalah kan?"
Keduanya lantas tertawa di pagi hari yang manis itu.
...

Sarah sesekali terkikik geli mendengar celotehan seorang wanita yang berdiri tak jauh darinya. Wanita berusia 60 tahunan itu ternyata bisa berbahasa inggris. Dia menceritakan bagaimana masa kecilnya yang selalu bermain di sekitar kanal lalu menjatuhkan koin-koin emas ke dalam sungainya. Wanita tua itu mengatakan juga kalau Venesia belum seindah seperti saat ini, dulu tempat ini tidak seramai sekarang bahkan untuk membedakan antara wisatawan dan orang lokal saja susah.
"Lalu bagaimana kau bisa hidup disini hingga sekarang?" Tanya Sarah.
Wanita bernama Eurice itu menatap pada indahnya kanal dari atas jembatan Rialto,"Aku tinggal disini bersama suamiku. Aku bahagia karena bersamanya dan walau dia sudah lama pergi, aku selalu merasa kalau dia disini bersamaku," Jawabnya.
Sarah merasakan kesedihan itu. Dia tahu bagaimana rasanya ditinggal seseorang yang dicintai, sama seperti yang Eurice rasakan.
"Tempat ini menyebalkan, nak. Sungguh menyebalkan, tapi Hans, suamiku selalu berhasil membuatku berpikir kalau Venesia adalah tempat paling indah. Rasanya jika tak ada dia di sisiku, mungkin aku sudah lama pergi sejak usiaku 22 tahun," Tambahnya sembari tertawa.
"Suamimu sudah lama meninggal?"
"Cukup lama, lebih dari 25 tahun. Namun, kehilangannya bukan berarti aku kehilangan hidupku. Aku memang sangat mencintai suamiku hingga pernah berkata kalau aku tak akan bisa hidup tanpa dia, tapi Hans selalu berkata kalau selalu ada masa depan untuk cerita yang menyedihkan, itu yang menguatkan aku hingga saat ini," Jawabnya panjang lebar.
Sarah merenungkan ucapan Eurice. Ya, wanita tua itu benar. Ada masa depan untuk cerita yang pahit. Sama sepertinya, dia dan Alex punya awal yang buruk dan hubungan yang hanya saling menguntungkan. Tak ada rasa bahkan Sarah pernah merasa dendam. Namun, kisah mereka juga punya masa depan. Mau berakhir seperti apapun, itulah takdir mereka. Bukankah memang harus seperti itu?
...