Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 14



Mereka sarapan dalam diam, Sarah tidak ingin salah bicara dan membuat Alex semakin menggodanya dengan kata-kata sialan.



Setelah sarapan selesai, Alex beralih ke kamar mandi. Mungkin setelah ini ia akan pergi bekerja lalu pulang malam dan bercinta dengannya setelah itu. Ah sial, ia merasa benar-benar dimanfaatkan saat ini.



Alex keluar dari kamar dengan pakaiannya yang sudah rapi. Pria itu mengantungi ponsel di balik jas abu-abu yang ia kenakan dan mengangkat alis saat melihat Sarah yang sedang menatapnya di pintu utama.



"Apa?"



"Tidak, aku berpikiran untuk pergi menemui Leah pagi ini. Apa kau mengizinkan aku pergi?"



Alex berpikir sejenak, Sarah menatapnya dengan penuh harap. Ayolah, siapa yang betah berada di rumah sebesar ini sendirian? Tentu saja siapapun akan menolak ditambah suasana sepi saat malam hari membuat mansion Alex terlihat dua kali lebih mengerikan daripada istana berhantu.



"Baik, dimana janji temu kalian? Aku akan mengantarmu."



"Oh tidak perlu. Aku naik--"



"Ku antar atau tidak sama sekali," Lalu Alex pun beranjak masuk ke mobilnya. Sarah berdecak, ia berteriak pada Alex untuk menunggunya sejenak karena ia belum sempat mandi atau bersiap-siap. Yang paling menyebalkannya lagi adalah Alex hanya memberinya 20 menit. Pria gila yang sialnya tampan!



...



"Disini?"



Sarah mengangguk, ia melepas seatbelt dari tubuhnya,"Sudah lama aku tak bertemu Leah. Aku ingin bercerita dengannya."



"Tentang apa? Hubungan seks kita?"



Sarah memukul bahu Alex karena rasa kesalnya. Tidak bisakah pria itu bersikap normal?



"Aku serius Alex. Aku hanya ingin mengobrol," Jawabnya. Alex hanya terkekeh, Sarah menelan ludahnya, seringaian yang timbul di sudut bibir Alex membuat tubuhnya sesak seketika. Oh demi apapun, mungkin hanya Alex yang bisa membuat dia berdebar seperti ini. Hanya karena senyum itu, Sarah merasakan panas seketika.



"Kau sakit?"



Wanita itu mengerjapkan matanya, ia tersenyum kikuk dan menggeleng. "Kalau begitu aku pergi dulu."



"Hubungi aku jika kau sudah selesai. Aku akan menjemputmu," Titah Alex.



"Oh ba-baiklah."



Sarah turun dari mobil lalu menatap kepergian Alex dari tempat ia berdiri. Dia menghela napasnya, tidak tahu kenapa akhir-akhir ini ia merasa seperti terkurung di dalam sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa itu. Tentang bagaimana ia bisa bergerak sesuai keinginannya.



Ia menggeleng pelan, lalu masuk ke dalam kafe itu dan menunggu Leah disana.



Leah datang tidak lama kemudian. Wanita itu melambaikan tangannya pada Sarah yang duduk di salah satu meja bundar untuk dua orang dengan dua gelas kopi kesukaan mereka berdua.



"Selamat pagi Sarah! Oh tuhan, aku bisa gila karena tidak tahu kabarmu selama satu minggu ini," Sapanya setelah duduk di hadapan Sarah.



Sarah hanya tersenyum kecil,"Maafkan aku Leah. Alex tidak mengizinkan ku untuk menghubungi siapapun," Balasnya. Leah hanya menatap Sarah tak percaya, apa Alex sebegitu takutnya jika Sarah berpikiran untuk merencanakan hal lain? Demi tuhan, Leah harus memukul kepala sahabatnya itu nanti jika mereka bertemu.



"Aku sudah tahu sikap tak masuk akal Alex. Lain kali Sarah, jangan terlalu menurut pada Alex. Aku tahu kalau kalian itu sebenarnya tidak baik-baik saja."



Sarah hanya menundukkan wajahnya, ia pun tidak mengerti kenapa dirinya bisa begitu saja menyetujui semua yang Alex katakan. Rasanya Sarah ingin memberitahu pada Leah kalau pengaruh Alex dalam hidupnya mulai kian membesar.



"Leah, apa menurutmu hal yang normal jika aku menyukai sesuatu yang harusnya aku benci?"



"Hah? Apa ini tentang Alex?"



Sarah tergugu seketika. Ia menggaruk hidungnya yang tidak gatal dan menatap Leah canggung,"Ah bukan itu sebenarnya. A-aku hanya--"



"Sarah, mencintai seorang pria itu wajar dan tentu saja normal. Tapi jika pria yang kau maksud adalah seseorang seperti Alex, aku hanya menyarankan kau untuk melupakan itu," Leah meraih kedua tangan Sarah dan menggenggam nya erat,"Kau harus mengerti Sarah. Alex adalah tipikal pria pencemburu level akut, dia bisa saja menyakitimu jika kau melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Jadi pilihan untuk menyukai Alex atau apapun sejenisnya adalah salah," Lanjutnya.




"Kurasa kau sudah dengar peristiwa tentang ayah dan adik perempuannya kan Sarah?"



Sarah mengangguk, tentu saja. Alex benar-benar menunjukkan bagaimana ia membenci adiknya sendiri karena berhasil merebut perhatian orangtuanya. Bahkan karena hal itulah, ia menjadi pria mengerikan yang tidak menyukai bayi perempuan.



"Aku tahu, Leah. Tapi kurasa aku harus menghancurkan pikiran itu dari Alex. Dia tidak bisa selamanya membenci anak perempuan dan bagaimana jika bayi yang aku lahirkan adalah perempuan? Situasi pasti akan semakin kacau," Balas Sarah. Leah melepas kedua tangannya dari Sarah lalu berpikir,"Apa kau tidak ingin terbebas dari perjanjian ini Sarah?"



"Aku?" Tanyanya kembali. Sarah mulai mempertimbangkan semuanya, ia benar-benar yakin dengan keputusan yang ia pilih saat ini. Dan terlepas dari itu semua, dia merasa tak rela jika harus memutus hubungannya dengan Alex secepat ini. Entahlah, ada sesuatu yang menahannya untuk tetap setia pada perjanjian mereka. Apa karena Sarah ingin Alex membuang pemikiran buruk tentang bayi perempuan?



"A-aku tidak ingin berhenti di tengah jalan. Maksudku, semuanya sudah telanjur Leah," Jawabnya kemudian. Leah hanya menghela napas, ia tidak ingin egois dengan meminta Sarah untuk berhenti saat ini juga karena dia tahu, Sarah sudah kehilangan banyak hal dari dirinya. Lagipula, ia bisa sedikit memercayakan keselamatan Sarah jika bersama Alex.



"Ya sudah. Aku tahu maksudmu dan Sarah, jika kau berhasil hamil atau apapun, segera beritahu aku oke?"



Sarah mengangguk,"Tentu saja. Aku pasti akan selalu mengabarimu tentang hal yang terjadi di masa depan."



Pertemuan mereka berlangsung cukup lama. Leah dan Sarah membahas banyak hal termasuk neneknya di Florida. Hingga saat itu, Leah meninggalkan Sarah sebentar ke kamar mandi. Sarah melirik jarum jam di tangannya yang menunjukkan pukul setengah sebelas pagi. Sudah satu jam lebih ia berada di tempat ini.



Ponselnya bergetar, ia merogoh tas kecil milik Leah yang masih ia pinjam hingga sekarang lalu mengeluarkan ponselnya dari sana. Sebuah pesan dari nomor yang ia ingat membuat Sarah terkesiap sejenak.



From : Alex G.



What are you doing now?



Sarah merasa kupu-kupu hinggap di perutnya, entahlah, ia tidak mungkin menyukai Alex atau setidaknya sedikit saja memiliki setitik rasa tertarik. Oh itu tak mungkin kan?



To : Alex G.



Tak ada.



Lalu dering ponselnya kini berbunyi. Alex menghubunginya. Sarah menggeser tombol hijau lalu mendekatkan ponsel di telinganya.



"Kau sendirian?"



"Ah i-iya. Leah sedang ada di toilet," Jawabnya.



"Lihat ke belakang sekarang--"



Sarah menuruti ucapan Alex. Perlahan ia menolehkan kepalanya lalu terlonjak saat melihat Alex duduk di sudut ruangan sambil mengedipkan sebelah mata padanya. Seperti lelaki penggoda dan Sarah merasa perutnya semakin bergejolak melihat Alex disana.



"Aku ada disini sejak beberapa menit yang lalu. Tidakkah kau sadar, Leah pergi ke kamar mandi terlalu lama?"



Sarah kembali menghadap depan. Dia tidak melihat tas Leah disana dan Sarah benar-benar seperti orang bodoh saat ini.



"Apa kau yang mengusir Leah?!" Lalu ponselnya pun mati. Wanita itu semakin tak karuan saat Alex mengambil tempat di depannya. Duduk dengan pandangan mata yang seakan meremehkan Sarah. Pria itu menyugar rambutnya ke belakang,"Rasanya tak aman meninggalkan kau sendirian saja. Ya, aku hanya takut wanitaku pergi."



Bibir Sarah terkatup. Ia menyimpan ponselnya kembali sebelum bergerak gelisah di tempatnya.



"Sarah, bolehkah aku bertanya sesuatu?"



Sarah mengangguk kaku, dia perlahan membalas tatapan mata biru pudar milik Alex dan tenggelam di dalamnya.



"Apa warna celana dalam mu sekarang?"



...



A/n : mulai memanas wkwk, ayo di like dan komen supaya rajin up ehehe