
"Berapa lama?"
Pria itu mengusap hidungnya yang memerah,"Hanya beberapa hari. Aku mohon Tuan Viktor, Stefan sangat bersedih. Setidaknya biarkan dia bertemu Calyria untuk yang terakhir kali sebelum... Kau menyingkirkan dia."
Viktor mengusap ujung dagunya, ia menatap Reginald penuh kecurigaan. Pria Rusia itu menghembuskan asap rokoknya dengan kasar,"Apa kau pikir aku bisa percaya begitu saja? Stefan sudah menjadi milikku dan biar aku yang memutuskan."
"Kumohon Tuan Viktor. Walau bagaimanapun juga, Calyria adalah ibu kandung Stefan. Kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan pada Calyria, tapi biarkan anakku bertemu ibunya," Balas Reginald dengan nada memohon. Dia tak tega melihat Stefan larut dalam kesedihan bahkan setelah melewati tahun baru yang hebat.
Pria itu berdecak kesal. Ia menekan ujung rokoknya ke dalam asbak lalu memandang tajam ke arah Reginald yang berdiri di seberang meja kerjanya dengan wajah yang kusut. Apa mungkin Reginald menyesal karena sudah menyerahkan nyawanya pada Viktor disaat dia tahu kalau Viktor bukan orang biasa?
"Akan ku kirim orang-orang ku untuk ikut bersamamu. Akan ku pastikan wanita bodoh itu mati disaat urusan mu selesai dengannya."
Tak ada balasan dari Reginald. Pria itu menyadari kalau keputusannya memang salah, bagaimana ia tak terpikir kalau Viktor akan menyingkirkan Calyria cepat atau lambat?
"Tapi ingat, jika kau sampai berusaha untuk berkhianat, maka kepalamu akan menjadi koleksi ku," Ancamnya.
"Aku mengerti."
Setelahnya, Reginald keluar dari ruangan itu. Dia pergi ke kamar Stefan lalu melihat kalau bocah itu terlelap di atas ranjangnya yang besar. Dia duduk di pinggirnya lalu mengusap kening Stefan dengan sayang hingga mengusik tidur anak itu.
"Ayah?"
"Kita akan segera bertemu dengan ibumu. Apa kau senang?"
Wajah Stefan tiba-tiba semangat ketika ia mendengar Reginald menyebut tentang ibunya. Anak itu mengangguk sembari bertepuk tangan karena gembira. Dia tidak tahu kenapa Calyria sering memarahinya, tapi yang Stefan tahu adalah kenyataan kalau Calyria itu ibu yang ia sayangi dan Stefan tak mau kehilangan ibunya.
"Stefan ingin pulang lalu bertemu Mommy!"
Reginald hanya memberinya senyum kecut. Dia salah karena sudah menempatkan Stefan ke dalam situasi berbahaya seperti ini. Dia menyesal karena tak bisa lebih dulu mengontrol dirinya sendiri sebelum bertindak gegabah. Namun sepertinya ini memang jalan yang mesti Reginald dan Stefan tempuh.
...
Alex POV
Saat ini aku berada di sebuah kamar yang bersebelahan dengan kamarku dan Sarah. Tempat dimana anak-anakku terlelap. Aku memandangi kedua keranjang bayi dengan seksama, memerhatikan dua jagoan ku yang tengah tertidur nyenyak sambil sesekali menyentuh pipi bulat mereka yang merah. Sarah bilang Aaron yang paling sering kelaparan dibanding dua saudaranya, tapi kupikir itu wajar saja kan?
Memang, aku dan Sarah tengah disibukkan dengan rencana pernikahan kami yang akan digelar dua hari lagi. Sarah mungkin tak punya banyak waktu untuk membeli setiap keperluan Alaina, jadi gadis kecilku harus menunggu hingga pesta pernikahan kami selesai.
"Apa dia sudah selesai? Aku ingin menggendongnya," Tanyaku. Sarah memberiku senyuman tipis, dia perlahan menjauhkan bibir mungil Alaina dari dadanya lalu mencium pipinya sekilas.
Aku berjalan mendekat pada Sarah lalu meraih tubuh mungil Alaina dari tangannya. Aku sangat senang mendengar lirihan kecil dari Alaina, mendengarnya begitu menenangkan pikiranku. Harus aku akui, Alaina benar-benar cantik. Ia mewarisi bentuk wajahku, tapi warna matanya sama seperti Sarah. Alaina juga punya bentuk bibir seperti Sarah, itulah yang menjadikan dia sangat cantik.
Dia begitu tenang dalam dekapanku, matanya masih terbuka sedikit. Alaina menatapku dengan mata kecilnya yang memukau, ia masih membuatku terpesona dengan tatapan kecilnya. Ternyata ucapan ayahku dulu memang benar, memiliki anak perempuan adalah hal paling menakjubkan. Aku jadi tak rela Alaina tumbuh dengan cepat, itu artinya kesempatan ku untuk terus bisa bersama putriku akan berkurang. Ia pasti akan menikah lalu memiliki keluarganya sendiri suatu saat nanti. Tidak, tidak. Putriku tak akan bisa dimiliki siapapun hingga aku sendiri yang akan memilihkan seseorang yang pantas untuk menggantikan tanggung jawabku terhadapnya. Ya, akan aku pastikan itu. Aku tak mau Alaina berada di genggaman orang yang salah.
"Alex? Apa yang kau pikirkan?" Tanya Sarah. Aku memberinya sebuah senyuman lalu kukatakan pada Sarah kalau ini saatnya untuk kami beristirahat. Sarah pasti akan menertawakan ku jika kuberitahu apa yang baru saja aku pikirkan.
Dia berjalan lebih dulu ke kamar kami berdua, aku menyusul di belakangnya.
Aku menaruh Alaina tepat di tengah ranjang lalu mengecup pipinya beberapa kali. Kupegang telapak tangannya yang begitu kecil dan lembut, Alaina adalah bayi yang lucu. Harus berapa kali aku mengatakan itu?
Sarah mengambil tempat di sebelah kanan, dia terlihat memposisikan bantalnya sebelum tidur menghadap ke Alaina,"Kau bahagia?"
Pertanyaan Sarah terdengar begitu konyol, tapi aku mengakuinya kalau aku bahagia dengan semua ini. Rasanya semua kebodohan ku dimasa lalu mulai perlahan memudar setiap kala aku menatap ketiga anak-anakku. Besok usia mereka tepat satu minggu, ada banyak kemajuan yang mungkin mereka lakukan esok hari.
"Sarah, aku minta maaf atas semua yang sempat aku katakan padamu dan anak-anak kita. Kau tahu kan, dimasa lalu aku memang bukan orang yang baik. Aku sudah melakukan kesalahan dengan menolak kehadiran Alaina di tengah-tengah kita," Ucapku. Seharusnya aku tahu, berapa kalipun aku meminta maaf pada Sarah, kesalahan yang sudah pernah aku perbuat tak mungkin bisa diperbaiki. Namun, sebagai gantinya, akan aku usahakan untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk Sarah juga anak-anakku.
Dia hanya tersenyum saja, tapi aku tahu kalau Sarah pasti memaafkan ku. Dia adalah wanita yang baik, ia bisa memaafkan siapapun jika ia mau.
"Aku mencintaimu Alex. Aku juga tidak mau memperpanjang masalah kita dengan sesuatu yang lebih rumit. Sekarang hanya ada masa depan kita berdua bersama anak-anak, itu hal lebih penting yang mesti kau pikirkan dibandingkan hal yang sudah lewat," Kubilang juga apa. Sarah pasti akan mengatakan hal semacam itu. Disaat seperti ini, aku malah ingin menciumnya seperti orang gila.
"Aku juga mencintaimu, Sarah. Sesuatu yang tidak harus kau ragukan lagi."
"Tentu saja, aku tahu kalau kau memang mencintaiku," Balasnya. Sarah memeluk Alaina dengan hati-hati lalu mulai memejamkan matanya erat. Mereka terlalu berharga untukku dan aku benar-benar tak mau kehilangan salah satu dari mereka.
Aku memposisikan diriku seperti Sarah lalu mulai memejamkan mata untuk menyambut hari esok dengan puluhan tantangan lainnya.
...