Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 55



"Saya sudah memeriksa setiap jadwal Anda hingga dua minggu ke depan, Mr.Grissham."


Alex menganggukkan kepalanya ketika sekretarisnya memberitahukan kepadanya mengenai urusan kantor. Wanita dengan kacamata itu lalu pamit undur diri, menyisakan Alex dan Zack yang setia berdiri di sebelah pintu.


"Zack, apa kau pernah punya kekasih?"


Pria itu menaikkan sebelah alisnya,"Saya rasa tidak, Tuan. Saya tak bisa percaya pada wanita."


Alex menyembunyikan tawanya mendengar jawaban Zack. Pria itu terlalu kaku, tapi mungkin dia punya alasan yang tak bisa Alex ketahui.


"Well, kurasa itu bukan hak ku untuk tahu, bukan?"


Zack hanya diam.


"Ya sudahlah, kupikir tugasmu sudah selesai. Aku memberikanmu libur selama musim dingin ini, nikmatilah waktumu, Zack."


Pria itu menundukkan kepalanya lalu pamit pulang. Alex tak ingin menyibukkan dirinya dengan urusan-urusan yang mungkin akan sedikit mengganggu ketentraman yang sekarang ia punya. Beberapa hari lagi ia akan punya anak, lalu menikah dengan Sarah. Oh, apakah ada hal lebih menakjubkan di dunia ketimbang masa depannya bersama wanita yang ia cintai?


Alex pernah merasakan betapa indahnya ketika jatuh cinta, tapi cintanya yang sekarang benar-benar membuat dia jauh lebih berdebar. Ada gairah, emosi, dan tingkah posesif yang ia rasakan ketika dirinya bersama Sarah. Alex tak ingin siapapun melihat Sarah dengan tatapan lapar atau menjadikan wanita itu sebagai objek fantasi liar. Katakan saja itu yang ia pikirkan saat Scott sempat menghabiskan waktu bersama Sarah di dapur beberapa waktu yang lalu. Ia marah tentu saja, ketika Sarah memberi senyumnya pada pria lain dan Alex ingin memukul siapa saja yang membuat Sarah melakukan itu.


Dia memang konyol, tapi seperti kata orang-orang, cinta itu gila.


Alex meraih ponselnya, mencoba menghubungi Sarah akan tetapi ponsel wanita itu tak aktif. Tak biasanya.


Dia mencoba untuk menghubungi sang ibu dan hasilnya sama saja. Ibunya tak menjawab ponsel itu. Alex mengerutkan dahinya heran, kenapa tidak ada satupun dari mereka yang bisa dihubungi?


Akhirnya Alex memutuskan untuk menghubungi telepon rumah. Ia harap Sarah yang mengangkatnya. Namun Alex malah mendengar suara salah satu pelayan yang bekerja untuk Sarah.


"Dimana Sarah? Kenapa ponselnya tak aktif?"


"Mr.Grissham, Nona Sarah saat ini dibawa ke rumah sakit. Dia akan melahirkan."


Mata Alex melebar, ia berdiri dari tempatnya secara tiba-tiba, merasakan kalau oksigen serasa hilang dari paru-parunya.


"Mr.Grissham?"


Alex lekas mematikan ponselnya. Dia meraih kunci mobil lalu berlari keluar pintu. Madelaine sempat menatap bos nya heran, apalagi Alex mengumpat pada pintu lift yang tak kunjung terbuka. Pria itu dengan tergesa, melangkah ke dalam lift lalu menekan tombol ke bawah. Alex tak henti-hentinya mengucapkan doa. Demi Tuhan, Sarah akan melahirkan bayi mereka! Apa ada kata-kata yang bisa membuat dia tenang sedangkan Sarah tengah mengaduh sakit di ruang persalinan sana?


Ini memang diluar perkiraan mereka. Wanita itu seharusnya melahirkan di bulan Januari, tapi sepertinya Aaron juga Axelle tak mau ketinggalan menyaksikan pesta kembang api di Downtown.


Ketika ia sampai di mobilnya, Alex langsung mengendarai mobil itu ke arah rumah sakit yang paling dekat dengan mansion. Dia memang merencanakan tempat kelahiran bayinya disitu.


...


Marilyn bergerak gelisah di depan ruang persalinan. Dokter bilang Sarah harus segera melahirkan dikarenakan ketubannya sudah pecah ditambah, Sarah memiliki bayi kembar jadi jika tidak segera ditangani, maka kemungkinan terburuk bisa terjadi.


Wanita itu berteriak kesal karena melupakan ponselnya di rumah. Dia tak bisa menghubungi Alex karenanya. Marilyn berdoa untuk keselamatan Sarah dan bayi-bayinya, ini adalah momen paling menakutkan juga spesial untuk semua calon ibu di dunia ini. Namun, Marilyn selalu memikirkan kemungkinan terburuk.


Ia menoleh ke arah lorong ketika mendengar derap langkah seseorang yang terkesan terburu-buru. Ia tidak perlu menebak itu siapa karena tentu Marilyn tahu kalau Alex pasti datang.


"Mom? Dimana Sarah?" Tanyanya tak sabaran. Napasnya masih tersengal-sengal dengan bulir keringat yang menghiasi sekitar pelipis dan dahinya. Marilyn memberinya senyum lemah sembari menunjuk pintu ruang bersalin yang masih tertutup rapat. Alex mengusap wajahnya dengan cemas, ia berusaha untuk melihat melalui kaca buram di pintu itu lalu mendesah kecewa ketika tak bisa melihat atau mendengar apapun dari dalam sana. Marilyn meraih bahunya lalu memeluk Alex dengan erat, dia tahu kalau putranya ini butuh pelukan.


"Tenanglah, Sarah pasti baik-baik saja. Mereka akan keluar dalam keadaan selamat, kau harus berdoa untuk mereka."


Alex memejamkan matanya, dia membalas pelukan Marilyn dan berusaha tenang. Untuk saat ini dirinya hanya bisa menunggu hingga dokter selesai dengan pekerjaannya.


"Sudah berapa lama Sarah berada di dalam sana?"


Alex menggeleng pelan. Setidaknya dia sudah kemari, itu yang lebih penting. Pria itu memilih duduk di kursi sembari menunggu dengan khawatir. Dia mengusap wajahnya sekali lagi ketika produksi keringat pada wajahnya meningkat drastis. Ia tak pernah merasa ketakutan seperti ini sebelumnya, tapi ternyata proses melahirkan bisa membuat dia gemetar seperti orang pesakitan.


Oh tuhan, dalam kurun waktu beberapa menit lagi, statusnya akan berubah. Akan ada seseorang yang memanggilnya dengan sebutan ayah bahkan rumahnya tidak akan sepi seperti dulu.


"Alex, ibu pikir kau harus membersihkan dirimu terlebih dahulu agar pikiranmu jauh lebih tenang."


Alex mendongak untuk menatap wajah teduh ibunya. Dia lantas mengangguk pelan lalu berdiri. Ibunya benar, dia mesti menyegarkan pikirannya lebih dulu.


Dia pergi berjalan ke arah kamar kecil untuk sekedar membasuh wajahnya saja agar otaknya bisa lebih tenang. Sedari tadi perasaan tidak enak itu terus menakuti hatinya, Alex tak ingin terlihat kacau ketika ia bertemu dengan bayi-bayinya nanti.


Dia menghidupkan keran dari wastafel lalu mulai membasuh wajahnya dengan kedua tangan. Rambutnya ikut basah, tapi Alex merasa segar. Ia menatap pantulan dirinya sendiri melalui kaca besar itu. Ada sedikit perbedaan dari wajahnya, apa itu? Apakah binar kebahagiaan?


Ia terkekeh pelan, pikirannya melayang pada saat-saat dimana dirinya merupakan pria bajingan. Well, katakan saja dulu ia seorang brengsek karena memandang kaum wanita sebelah mata. Dia arogan, memecat siapapun yang membuat setitik kesalahan bahkan mengotori tangannya untuk hal percuma. Pernah mendapatkan penghinaan besar dari mantan kekasihnya dulu bahkan urusan yang tak pernah selesai dengan bajingan yang berhasil membuat kehidupan cintanya kacau. Itu dulu, Alex mengakui kalau dia memang seperti itu, di masa lalunya yang mengerikan. Terlebih lagi, ia punya temperamental yang buruk-- berani melukai siapapun yang melukainya atau orang yang ia sayangi. Itulah Alex.


Ia merasa gila sejak pertama kali bertemu dengan Sarah karena suatu alasan konyol yang dibuat oleh ibu dan sahabatnya. Alex merasa ada gairah yang tinggi ketika ia menyentuh kulit Sarah, menatap wajah wanita itu tanpa bosan seakan Sarah adalah alkohol yang memabukkan hati dan pikirannya. Belum lagi sifat polos dan sedikit kekanak-kanakan yang Sarah punya, membuat Alex selalu merasa penasaran dan tak akan pernah puas untuk mereguk kenikmatan bersamanya.


Sampai pada akhirnya wanita itu berhasil hamil dan benar-benar merubah pandangan Alex mengenai kemuliaan seorang perempuan. Untuk yang pertamakali dalam hidupnya, ia memuja seorang perempuan sedalam ini. Terlepas dari semua masalahnya, ia akui kalau Sarah berhasil membuat dirinya berubah.


Pikirannya teralihkan ketika ponselnya bergetar. Alex melihat sebuah nama yang tertera di layar ponselnya dan itu Nathan.


"Ada apa?"


"Bung, aku baru saja dari mansion mu dan katanya Sarah melahirkan?"


Alex menarik sebuah senyum simpul sembari berjalan keluar toilet,"Benar. Aku sedang di rumah sakit, menunggunya."


"Selamat untukmu, Alex. Aku akan memberitahu yang lain dan nanti malam kami usahakan mampir."


"Ya dan terima kasih," Balasnya. Ia berjalan cukup cepat ke tempat tadi lalu mendapati ibunya tengah duduk sembari tersenyum lega.


"Mom? Apa sudah selesai?" Alex bertanya dengan hati berdebar-debar. Marilyn memberinya senyuman yang begitu lebar hingga matanya menyipit,"Aku baru saja berbicara dengan Dokter Delilah. Bayi kalian sedang dibersihkan dan dibawa ke ruang bayi. Apa kau ingin melihat mereka sekarang?"


Alex menahan napasnya. Apakah benar?


"Bagaimana dengan Sarah? Dia baik-baik saja?"


"Ya, dia akan segera di bawa ke ruang perawatan. Selamat nak, kau sudah jadi seorang Ayah sekarang. Apa kau senang?"


Alex segera memeluk ibunya, ia benar-benar bahagia hingga rasanya tak mau momen ini berakhir dengan segera. Dia merasakan setitik air mata  jatuh dari wajahnya karena dia terlalu bahagia. Pria itu lalu berjalan mengikuti Marilyn ke sebuah tempat khusus di rumah sakit ini.


Namun, Marilyn tiba-tiba berhenti di depannya.


"Ada apa Mom?"


Marilyn membalikkan tubuhnya, dia menatap Alex dengan wajah mencurigakan.


"Alex, ada hal yang mesti aku jelaskan padamu. Sesuatu yang akan membuatmu sedikit terkejut."


"Apa maksudmu?" Tanyanya, ia mulai tidak nyaman dengan cara ibunya berbicara.


"Kau punya tiga bayi."


...