Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 12



Sarah mencuci kedua tangannya di wastafel, dia melirik sekilas pada dua orang wanita yang masuk ke dalam kamar kecil ini. Salah satu diantaranya menaruh tas tangannya di atas wastafel lalu mulai berkaca.



"Sepertinya berita tentang Tuan Alex yang gay itu memang benar," Ucapnya. Wanita satunya lagi mengangguk antusias, menunjukkan bahwa dia setuju atas apa yang temannya ucapkan,"Kau tahu kan? Tuan Alex itu punya asisten pria. Kalau tidak salah namanya Zack, menurutku asistennya lumayan tampan dan ada kemungkinan mereka punya hubungan khusus," Balasnya.



"Wah kau benar. Aku tahu dari beberapa orang, terkadang asistennya itu disuruh datang ke kantor. Entah apa yang mereka lakukan. Ya ampun, Tuan Alex adalah pria tertampan yang pernah aku lihat tapi dia lebih suka melihat bokong pria," Balas wanita dengan rambut pirang pudar itu. Mereka tertawa setelah membicarakan atasan mereka tanpa peduli jika perkataannya akan didengar Sarah.



Sarah mematikan keran wastafel, dia berjalan pelan meninggalkan kamar kecil itu dan kembali mengulangi ucapan-ucapan para wanita tadi tentang Alex.



Apa dia boleh mengoreksi sesuatu?



Sungguh Alex adalah pria yang benar-benar perkasa. Pria itu mampu membuat Sarah seperti orang gila seks hanya dalam satu malam. Pria itu terlihat begitu tampan dan mengerikan disaat yang bersamaan. Bagaimana ia mengatakan ini? Apa perlu Sarah merekam ketika Alex sedang menyentuhnya lalu menunjukkan pada dua wanita tadi? Oh tuhan, kenapa ia yang jadi kesal mendengar tuduhan gila semacam itu.



Ternyata memang benar, berita konyol seperti ini sangat merusak reputasi.



Sarah berhenti di depan lift khusus menuju ruangan Alex. Ia menoleh ke belakang karena tidak ada satupun yang mencoba melarangnya untuk naik dengan lift ini. Oh, apakah ia harus peduli akan sikap orang-orang? Persetan dengan mereka semua.



Dia menekan tombol lift dengan tak sabaran. Dan tak lama kemudian pintu itu terbuka lebar untuknya, seakan mengundang Sarah untuk segera sampai ke singgasana majikannya. Atau memang iya?



...



Siang itu benar-benar kacau. Setelah berhasil dengan rapat pentingnya, Alex masuk kembali ke dalam ruang kerjanya. Dia mendapati Sarah tengah tertidur di atas sofa, gaun selutut yang wanita itu kenakan sedikit tersingkap. Alex bisa melihat celana dalam merah muda yang Sarah kenakan dari sudut sini.



Pria itu menggeram tertahan, ia melangkah mendekati sofa, duduk di pinggir nya dan menatap Sarah yang tertidur begitu nyenyak. Alex mendengus geli, Sarah memang terlihat polos dalam keadaan seperti ini. Siapapun tahu jika perempuan itu pura-pura tertidur seperti orang bodoh.



Jarinya terulur untuk membenarkan letak pakaian Sarah yang tersingkap tapi naluri prianya memaksa Alex untuk melihat lebih dari apa yang ia lihat.



Perlahan tangannya berpindah pada kulit paha Sarah, mengelusnya pelan seperti bulu. Alex menelan ludahnya, ia masih tidak percaya kalau Sarah punya kulit sebagus ini dan apakah perempuan ini punya kelainan kulit hingga membuatnya begitu halus seperti bayi?



Jari-jarinya bergerak naik ke bokong bulatnya yang ditutupi celana dalam. Alex tersenyum jahat, ia sempat memikirkan untuk membuat Sarah kaget dengan memukul bokongnya. Pria itu menampar bokong Sarah dua kali, dengan keras dan cepat hingga wanita itu berteriak kaget.



Alex tertawa, ia menikmati ketika Sarah yang tiba-tiba terbangun dari tidur pura-puranya sembari menatap Alex seperti seorang psikopat,"Lain kali jangan tipu aku dengan sesuatu yang sudah basi seperti itu Sarah. Aku tahu kau tidak tidur," Ucap Alex. Ia berdiri dari sana lalu duduk di atas kursi miliknya sendiri, membiarkan Sarah yang masih mengumpat di sudut sana.



Sarah melipat kedua tangannya di depan dada. Dia membuang muka ketika tahu kalau Alex tengah mengejek kebodohannya.



Wanita itu tersentak saat ia mengingat sesuatu, dia mengalihkan matanya pada Alex sebelum memilih untuk duduk di seberang meja Alex,"Jadi bagaimana dengan Grandma ku? Kau berkata akan membawa dia kemari," Tanyanya. Alex menurunkan senyumnya, dia baru ingat tentang neneknya Sarah di Florida.



"Jangan khawatir, aku akan tepati janji. Tapi Sarah, apa kau bertanya-tanya bagaimana reaksi nenekmu jika tahu kau itu menjual diri padaku? Apa kau pernah memikirkan konsekuensinya?" Balas Alex. Bibir Sarah terasa kelu, ia tentu sadar tentang bagaimana neneknya akan bersikap. Paling tidak Allison tua itu akan menamparnya atau yang lebih parah lagi adalah menghapus hubungan nenek dan cucu antara mereka berdua. Sarah lekas menggelengkan kepalanya, ia tahu Allison tidak segila itu untuk membencinya.



"Itu akan menjadi urusanku dan Grandma. Kau tidak perlu tahu," Ucap Sarah. Alex mengendikkan bahunya, dia segera berdiri dan mendekati Sarah. Wanita itu menatapnya tanpa berkedip hingga ia merasakan hembusan hangat di sela-sela lehernya. Kedua telapak tangan Alex meremas bahunya, seakan memberi sinyal kalau Sarah dalam bahaya.



"Urusanmu? Sejak kapan urusanmu menjadi bukan urusanku? Perlu aku beritahu padamu Sarah, aku terlibat dalam hal apapun yang kau lakukan jadi jangan pernah berpikir kalau aku tidak punya kuasa apapun dalam urusanmu," Bisiknya begitu pelan dan penuh peringatan. Sarah merasa kulitnya meremang seketika, benar-benar terkutuk pesona Tuan sialan ini.



Alex memutar kursi yang Sarah duduki, membuat wajah wanita itu berhadapan dengan wajah Alex sepenuhnya. Pria itu berjongkok, ia mengelus wajah Sarah dan matanya menatap penuh damba pada bibir seperti kelopak bunga itu.



"Kita sudah terikat, sayang. Walau hanya terikat oleh perjanjian, tapi itu sama saja. Jadi mulai sekarang kau harus terima dengan apa yang aku katakan atau apa yang kulakukan. Karena itu sudah bagian dari kesepakatan."



...




"Aku tahu tempat ini indah," Suara itu membuat Sarah membuka matanya. Dia menoleh ke samping, ketika mengetahui dirinya tidak sendirian. Oh, lupakah ia kalau Alex yang membawanya kemari?



Pria itu tidak melihatnya ketika berbicara, Alex lebih suka memandangi bebatuan ataupun bunga yang ada di sepanjang jalan setapak ini.



"Kau sering kemari?"



"Tentu saja. Aku dan ibuku sering menghabiskan sore hari di tempat ini," Jawab Alex. Ia memasukkan satu tangannya di dalam saku celana, cuaca lumayan dingin dan ia tidak yakin kalau berada disini sepanjang malam adalah hal bagus.



Sarah juga seperti itu, disini cukup dingin. Ia tidak mengerti kenapa selalu ada udara dingin yang mengganggu saat-saat tenang seperti ini. Apa karena ia datang bersama Alex?



Sarah sedikit terlonjak saat sesuatu menghinggapi pundaknya. Tangan Alex yang besar melingkupinya, pria itu menyampirkan jasnya pada pundak Sarah. Untuk sesaat Sarah sedikit terpesona dengan sikap Alex. Jika saja dia adalah remaja tanggung, mungkin saat ini dia sudah lebih dulu menyatakan cinta pada Alex.



"Untuk menghalau angin. Jangan salah paham," Ucapnya.



Sarah mengerucutkan bibirnya tak suka, Alex cukup arogan. Sungguh kau akan menyesal jika bertemu dengan pria seperti dia apalagi membuat janji konyol seperti ini.



"Oh ya Alex, kau belum menceritakan apapun tentang dirimu padaku. Tidak bisakah kita menjadi orang yang normal malam ini? Tidak saling melempar kebencian ataupun saling melepas gairah seperti yang kau lakukan kemarin. Sungguh, dalam hatiku, aku ingin mengenalmu juga," Sarah menarik tangan Alex, memaksa pria itu untuk menatapnya selagi berbicara. Oke, ucapannya memang terkesan terlalu berani, tapi tidakkah kalian tahu kalau jantung Sarah terasa meledak-ledak?



Mata biru pudar miliknya bergerak-gerak, tenggelam dalam gelapnya bola mata wanita itu. Alex menarik sebuah senyuman,"Tentu saja, sayangku. Kau bisa tanyakan apapun, aku akan menjawabnya."



Sarah melipat bibirnya, ia menatap bangku taman di sebelah kanan lalu memberi kode pada Alex untuk duduk disana. Mereka berdua duduk berdampingan, Sarah mengeratkan jas Alex yang melekat di tubuhnya hingga ia bisa mencium aroma pria itu.



"Boleh aku tanya sesuatu?"



Alex menatapnya sebentar sebelum beralih pada beberapa orang yang tengah memetik bunga tanpa izin,"Selama itu tidak membuatku kesal," Jawabnya.



"Kalau begitu tidak jadi. Pertanyaan ini--"



"Bercanda. Tanyakan saja," Potongnya.



Sarah menelan ludahnya, dia tidak yakin ingin menanyakan ini tapi setidaknya dia harus mendengar alasan sepenuhnya dari Alex.



"Apa yang membuat kau membenci adikmu sendiri Alex?"



Pria itu segera menoleh, menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.



Sarah tahu, ini tidak akan berakhir baik-baik saja.



...




A/n : terima kasih untuk dukungan kalian. saya akan up setiap hari tapi review dari mangatoonnya lama :') like dan komen kalian sangat berarti bagi saya terima kasih :)