
Stefan sampai di sebuah tempat yang tidak terlalu ramai dengan diikuti oleh beberapa anak buahnya yang menyimpan senjata api. Pria itu turun dari dalam mobil lalu melangkah ke arah pintu kecil yang dijaga oleh dua orang pria dengan topi fedora warna abu-abu.
"Aku disini untuk bertemu Oliver."
Salah satu pria dengan wajah yang memiliki luka memanjang di sekitar mata itu lantas memberi kode kepada temannya untuk memberi laporan.
Stefan masih berdiri tanpa ekspresi sampai akhirnya dua orang tadi menyuruhnya masuk.
"Hei, Stefan."
Mata coklat Stefan melihat Oliver yang duduk di atas meja panjang. Di bawah kakinya ia bisa melihat seorang pria kulit hitam yang wajahnya penuh dengan darah dan sebelah kakinya terkena luka tembak.
Pasti dia sempat mencoba kabur.
"Dia orangnya?"
Oliver mengangguk lalu turun dari meja. Dia menarik kerah baju anggota Elang Putih itu,"Bicara saat dia menyuruhmu bicara, oke?"
"Siapa namanya, Oliver?"
"Red Blood. Itu nama yang diberikan tetua Elang Putih padanya, sedangkan nama aslinya adalah Kenneth."
Stefan mengangguk. Ia berjongkok di depan Kenneth lalu menatap datar pada pria yang nyaris mati itu. "Jadi apa taruhan yang mereka buat?"
"I-itu tentang perebutan wilayah. Tetua kami mempertaruhkan wilayah di Amerika Utara dan... Kami kalah taruhan."
Stefan mencengkram erat dagu pria lemah itu hingga Kenneth meringis kesakitan,"Atas taruhan apa?"
"Di-di ruang merah."
Stefan menaikkan satu alisnya. Ada pertarungan tinju dan ia bertanya-tanya siapa yang melakukan itu. "Apalagi yang kau tahu?"
"Aku mendengar mereka bertaruh untuk kematian Roger Fransisco, tapi faktanya dia menang."
"Siapa saja yang terlibat dalam taruhan itu?" Tanya Stefan. Dia mulai mengerti arah pembicaraan ini.
"Ke-Kelompok Swedia dan be-beberapa orang dari Rusia."
Mata Stefan menyipit. "Beberapa orang dari Rusia? Siapa mereka?"
Stefan tahu kalau bukan hanya Viktor yang terlibat. Pasti ada beberapa dari orangnya yang diam-diam melakukan tindakan diluar batas.
"A-aku mendengar a-ada namamu."
Stefan mencengkram dagu pria itu dengan telunjuk dan jempolnya. Matanya berkilat marah saat mendengar jawaban itu,"Ada yang menyamar menjadi diriku?!"
"Wow, Stefan, tunggu dulu. Apa maksudmu?" Oliver mulai melayangkan tatapan bingung yang sama, tapi tiba-tiba saja otaknya membuat pemikiran baru.
"Stefan, tunggu! Jika memang ada yang menyamar menjadi dirimu, itu berarti--"
"Aku dikambinghitamkan," Potongnya.
Pria tadi menunduk karena tak bisa bersuara. Stefan menarik kembali dagunya lalu menatap penuh permusuhan,"Apa tujuan kalian meledakkan pabrik itu?"
"A-aku diberi perintah! Kelompok kami menaruh dendam pada dua organisasi besar. Sa-salah satunya adalah kelompokmu."
BUGH!
Stefan memukul keras pipi kiri pria kulit hitam itu hingga ia tersungkur dan pingsan.
"Ternyata Viktor memanfaatkan ku."
"Apa maksudnya?" Tanya Oliver.
"Aku adalah tetua baru kelompok ku dan bukan Viktor lagi. Orang bodoh itu memanfaatkan posisiku untuk menyatakan perang. Sialan!"
Oliver mengelus dagunya,"Elang Putih meledakkan pabrik kami karena balas dendam, maka selanjutnya--" Mata Oliver kembali melebar.
"Mereka pasti mengincar nyawamu, Stefan!"
Pria itu menggeleng,"Kau salah, Oliver. Mereka pasti mendengar kabar tentang pernikahan ku dan pasti target berikutnya adalah Elina."
Oliver semakin syok saat mendengar ucapan Stefan. Kenapa ia bisa melupakan kalau di dunia mereka, tidak etis rasanya jika langsung menyerang target mereka. Pasti ada sasaran lebih dulu sebelum masuk ke hidangan utama.
"Aku harus pergi!" Stefan berniat untuk berlari keluar, tapi sebelum itu, anak buahnya masuk ke dalam markas dengan wajah memucat.
"Tu-tuan Stefan... Terjadi penembakan di restoran--"
"****!" Stefan berlari keluar lalu masuk ke dalam mobil. Dia menyalakan GPS untuk dapat segera sampai di restoran dimana Elina dan temannya bertemu.
...
Tuk!
Alaina meletakkan cangkir tehnya ke atas meja bundar setelah menyesap sedikit isinya. Ia datang bertepatan dengan mobil Elina yang berhenti di depan restoran. Betapa menyenangkannya saat dapat berjumpa lagi dengan kawan lama seperti saat ini.
Elina menceritakan banyak hal, mulai dari kepindahannya dulu sampai rencana pernikahannya yang akan digelar satu bulan lagi. Kehidupan yang diceritakan Elina tampak seperti beban karena kerap kali wanita itu menghembuskan napas lelah.
"Jadi begitulah, Al. Aku hidup seperti boneka dengan mengikuti perintah keluargaku. Sebenarnya bukan keinginan ku untuk menikah, tapi ini diwajibkan."
"Aku mengerti rasanya bagaimana. Dikurung dan diperlakukan seperti boneka, ayahku juga bersikap seperti itu padaku. Saat SMA saja, aku dilarang ikut prom. Menyebalkan sekali," Balasnya. Elina tertawa kecil dan mengangguk kala tahu nasib mereka sama.
Mata Alaina tak sengaja menatap ke sekeliling, ia heran, kenapa ada banyak pria dengan pakaian yang nyaris sama di tempat ini? Alaina tahu kalau Elina sudah memesan tempat ini khusus untuk acara pertemuan, tapi dia bingung saja dengan tampilan pria-pria mengerikan yang duduk di meja lain.
"Oh ya, dimana calon suamimu?"
"Maaf, dia berhalangan hadir. Mungkin aku akan mengenalkan dia lain kali," Jawab Elina dengan wajah suram. Wanita itu tahu kalau sesuatu pasti terjadi pada di kota ini, makanya Stefan tidak berada disini bersama mereka.
Kepala Elina menoleh ke kiri, matanya menyipit saat melihat ada orang asing yang tidak ia kenal duduk sambil mengawasi mereka berdua.
Apa mereka mengawasiku?
Elina menyentuh tas tangannya dengan erat. Tidak salah lagi, orang-orang itu memang sedang mengawasinya dan sialnya lagi, tidak ada satupun pengawal yang menyadari itu.
Siapa mereka?!
"Alaina..."
"Ya?"
Elina mengeluarkan pistolnya dari dalam tas dengan hati-hati. Jantungnya berdegup kencang dan tangannya sudah bergetar.
"Pegang ini..." Bisiknya. Mata Alaina mengerut bingung dan ia tersentak saat sesuatu yang dingin menyentuh lututnya. Tangan Elina bergetar di bawah meja saat menyerahkan pistol itu pada Alaina.
"El--"
"Ambil!" Bisiknya setengah memaksa. Alaina yang masih tidak mengerti dan mulai merasa tak aman lantas menerima pistol yang diberikan oleh Elina padanya. Beruntung karena orang-orang itu tak melihat saat Elina menyerahkan pistol dari bawah meja.
Pria-pria itu berdiri dari posisi mereka-- terdengar rentetan peluru yang ditembakkan, membuat Alaina menarik tubuh Elina untuk bersembunyi di bawah meja. Alaina terkesiap saat salah seorang dari mereka mengeluarkan senjata api dari balik jas nya dan ternyata orang itu menargetkan Elina.
Alaina dengan cepat menodongkan senjatanya. Situasi makin menjadi rumit saat ia mengetahui kalau ada beberapa pengawal yang tadi datang bersama Elina merupakan komplotan orang jahat itu.
"El, bersembunyi di belakang ku!"
Elina menurut. Dengan tubuh bergetar dia bergerak untuk mendapat perlindungan di belakang tubuh Alaina walau dia tahu kalau kesempatan mereka lolos hanya satu persen.
"Maafkan kami Nona Elina. Kami menjalankan perintah." Salah seorang anak buah Stefan berkata padanya dengan nada tanpa ekspresi dan itu semakin membuat dia takut. Ia mulai berpikiran, apakah Stefan memang berencana untuk membunuhnya seperti ini?
"Diam atau aku tembak!" Alaina dengan tangannya yang ikut bergetar, berusaha membuat orang kulit hitam itu mundur. Namun, usahanya hanya dihadiahi tawa yang keras. Beberapa dari mereka mulai bergerak dan Alaina mendorong tubuh Elina. "Lari!"
Elina yang melihat kesempatan itu lantas berlari ke depan. Wanita itu mengarahkan moncong senjata yang dipegang Alaina tepat ke depan dagunya lalu tanpa ragu dia menekan pelatuk itu hingga pelurunya berhasil menembus kepalanya. Alaina menjerit saat bunyi berdengung itu merobek telinganya. Matanya melebar ngeri saat tanpa sengaja ia telah menembakkan peluru itu pada sahabatnya sendiri.
Sebenarnya ini memang saat yang Elina tunggu-tunggu, menjadi bebas dan tidak membiarkan siapapun berusaha untuk mengontrol dirinya lagi.
"TIDAK! ELINA!"
Ia meraih tubuh yang terjatuh itu lalu menyadari kalau dia mungkin telah membunuh Elina.
"Oh Tuhan... Tidak... Aku... Elina!"
"Target sudah berhasil dilumpuhkan, Bos." Pengawal itu berbicara lewat earphone di sebelah telinganya lalu mulai membubarkan diri.
Alaina menarik kepala Elina lalu ia menepuk pipinya beberapa kali. "Kumohon, bangun... Kenapa kau melakukan ini, El? Kenapa kau malah membunuh dirimu! Hiks... Hiks..."
Telapak tangan Alaina bergerak untuk menekan luka tembak di bawah dagu Elina-- walau usahanya sia-sia. Darahnya yang keluar berhasil menodai pakaian dan telapak tangannya, tapi hal itu malah terlihat sia-sia karena Alaina tidak merasakan tanda kehidupan lagi dari tubuh sahabatnya.
"Oh tuhan.. aku membunuhnya!" Lirihnya sambil berusaha untuk menekan luka itu. Mata Alaina yang basah mulai melirik ke sekitar, dia mencoba mencari pertolongan di tempat sepi ini, tapi dirinya tak menemukan apapun.
Dengan pelan Alaina memindahkan tubuh Elina ke sampingnya lalu ia meraih ponsel untuk dengan cepat mencari bala bantuan.
"Jangan berani menelepon polisi atau ambulans."
Telinganya mendengar suara berat dari arah pintu dapur. Alaina menoleh ke belakang dan matanya melebar saat melihat pria dengan rambut yang memutih keluar dari baliknya sambil menodongkan senjata.
"Jangan mencoba untuk menelepon siapapun."
"Dia mati. Kau membunuhnya, Nona Grissham."
"Da-dari mana kau mengetahui nama keluarga ku?" Tanyanya ketakutan. Air mata Alaina mengumpul di pelupuk matanya dan semua ini terasa seperti mimpi.
"Tidak perlu kau tahu. Jika kau masih ingin hidup, maka tetaplah berada disini sampai Stefan menemukanmu."
...
Stefan memberhentikan mobilnya tepat di depan restoran dimana Elina berada. Bisa ia lihat kalau anak buahnya tampak berlalu lalang sambil mengamankan lokasi agar jauh dari perhatian publik. Ia semakin merasa curiga saat dia melihat Viktor berada di dalam restoran itu.
"Stefan..." Pria tua itu menyentuh bahu putra angkatnya lalu bergerak untuk meninggalkan Stefan di dalam ruangan itu.
Stefan melihat tubuh Elina sudah tidak bernyawa lagi-- bersamaan dengan banyaknya mayat yang merupakan anak buahnya. Ada seorang perempuan yang duduk membelakanginya sambil sesekali menangis. Apa dia saksi mata?
"Hei."
Alaina yang tadinya menangis, dengan cepat menoleh ke belakang. Ia tersentak saat matanya bertemu dengan netra coklat itu.
Stefan pun terdiam. Otaknya kembali mengingat gadis bermata biru yang semalam dengan arogannya menyiram alkohol ke wajah Stefan.
"Ka-Kau calon suami Elina?" Tanyanya lirih. Atensi Stefan kembali berada pada linangan air mata Alaina. Tampaknya Alaina tidak mengingat kalau semalam mereka pernah bertemu.
"A-aku... Aku minta maaf. A-aku--"
"Stefan." Keduanya menoleh ke belakang saat Viktor kembali muncul di antara keduanya. Alaina menatap dua orang itu bergantian dan menyadari kalau ada sesuatu yang aneh disini. Kenapa wajah Stefan tidak menunjukkan kesedihan atau raut frustasi? Kenapa pria itu diam saja saat melihat jasad calon istrinya?
"Aku perlu bicara berdua denganmu." Viktor lantas kembali meninggalkan Alaina dan Stefan. Pria itu masih tak melepas tatapannya yang tajam pada iris biru Alaina yang berkaca-kaca. Separuh dari dirinya menginginkan gadis itu, segera...
"Aku akan kembali untukmu nanti, Nona."
Pria itu berbalik untuk menyusul Viktor yang masuk ke dalam mobil. Pasti ada pembicaraan serius.
"Apa yang terjadi? Apa benar Elang Putih mengirim orang untuk membunuh Elina dan gadis tadi adalah saksi mata?"
Viktor menggeleng,"Dia pembunuh Elina yang sebenarnya. Aku tidak tahu kenapa gadis itu melepaskan peluru untuknya dan kurasa ada maksud terselubung."
"Kau menuduh gadis itu yang membunuhnya disaat kelompok Elang Putih mengirim pasukan mereka untuk mencelakai Elina dan anak buahku? Sadarlah sedikit, semua ini karena ulahmu," Sanggahnya. Viktor menghela napasnya, ia mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam jas nya lalu menyerahkan benda itu pada Stefan.
"Aku mendengar kalau Elina akan bertemu dengan gadis itu, jadi aku mencari tahu sedikit tentangnya."
"Dia Alaina Grissham. Apa kau tidak ingat nama itu, anakku?" Lanjutnya.
Stefan mulai berpikir keras.
Grissham?
Dengan cepat dia membaca dokumen yang diberikan Viktor padanya lalu napasnya mulai bergerak tak beraturan.
"Dia... Grissham yang itu?"
"Benar, dia putri dari Alex Grissham-- pria yang sudah membuat ibumu menderita."
Mata coklatnya melirik kembali ke dalam restoran, menatap tajam wanita yang duduk dengan tangisan di matanya. Tangannya meremas kertas itu dengan kencang kala menemukan seseorang dari masa lalunya yang membuat dia hidup seperti ini.
"Dia... Darah daging orang itu?"
"Mari kita bermain pintar, Stefan. Hari ini, gadis itu membunuh calon istrimu dan ya... Kita masih tidak tahu apakah gadis itu juga terikat dengan Elang Putih. Apa kau tidak mau memikirkan untuk membunuh gadis itu juga?"
Tawa Stefan terdengar seketika. "Membunuhnya? Well... Aku masih waras dengan tidak bersetubuh dengan mayat, ayah. Aku lebih suka melihatnya hidup."
Senyum kemenangan terbit di bibir Viktor. Dia tahu kalau umpannya berhasil ia berikan pada Stefan dan sebentar lagi, drama sesungguhnya akan dimulai.
Stefan keluar dari dalam mobil. Tubuh tingginya masuk kembali ke dalam restoran kosong itu untuk segera menemui Alaina.
"Alaina Grissham."
Ia menoleh ke arah belakang. Tubuh tinggi Stefan membuatnya sedikit khawatir. Apa pria itu juga mengenalnya?
"Kau... Kau tahu namaku?"
Stefan pura-pura iba melihatnya,"Maafkan aku... Tidak sopan rasanya jika kita tak berkenalan secara resmi."
Pria itu berjongkok, ia menyentuh dagu Alaina dan benar-benar memuji kecantikan wanita itu. Bahkan saat menangis pun Alaina terlihat seksi.
"Ikutlah denganku sebentar. Mari kita bersihkan dirimu."
...
Alaina tidak tahu mengapa dia menurut begitu saja saat tangan dingin Stefan membawanya ke sebuah rumah kecil.
Ingatannya masih merekam jelas saat Elina dengan sengaja membunuh dirinya sendiri tepat di depannya. Tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang terjadi dan Alaina berharap ini hanya mimpi belaka walau terdengar mustahil untuknya.
Tuk!
"Minum ini. Kau pasti syok."
Mata birunya melirik seorang pria tinggi dengan rambut klimis. Alaina masih tidak nyaman berada di dekat Stefan karena mereka tidak saling mengenal dan itu membuat dia sedikit ketakutan.
Alaina tersentak saat Stefan mengulurkan tangannya padanya,"Namaku Stefan Roswell."
"A-aku Alaina. Kau sudah tahu namaku," Balasnya dengan suara yang kecil. Gadis itu melirik telapak tangannya yang masih terkena noda darah yang mengering dan sekali lagi ia teringat peristiwa beberapa saat yang lalu.
Aroma tubuh Stefan tampak begitu dekat dengannya, Alaina tidak menyadari saat pria itu meraih telapak tangannya.
"Aku tahu... Kau pasti merasa bersalah karena telah membunuh calon istriku, kan? Tenang, aku tidak menaruh dendam padamu." Pria itu dengan santai mengelap tangan Alaina dengan sapu tangan miliknya, menghapus noda darah di telapak tangan gadis itu.
"A-aku tidak bermaksud... E-Elina, di-dia--"
"Sstt... Tenang, sayangku. Kau sedang terguncang."
Mata Stefan berkilat penuh gairah. Sebelah tangannya yang lain meremas bahu Alaina, mencoba menguasai emosi perempuan rapuh di sebelahnya ini dan ia bersorak penuh kemenangan saat Alaina terlihat tidak menolak sentuhannya.
"Sudah kuduga aku pasti mendapatkan mu..." Bisiknya.
Kesadaran Alaina kembali muncul saat merasakan desiran di telinganya itu. Ia dengan segera bangkit dari duduknya dan memandang penuh permusuhan pada Stefan. "Anda jangan kurang ajar, Tuan Roswell."
Stefan tersenyum miring dan itu diartikan sebagai bentuk ejekan bagi Alaina. "Aku tertarik melihat kecantikanmu, Nona Alaina. Kau tampak seperti malaikat."
"Elina baru saja meninggal! Apa kau gila?!" Mata Alaina berkilat marah. Dia tidak mengerti dengan orang-orang ini dan sebenarnya apa tujuan mereka?
Stefan berdiri lalu ia berjalan ke depan Alaina yang memundurkan tubuhnya ke belakang hingga punggungnya menyentuh dinding berlapiskan keramik warna hitam. "Perlu aku ingatkan padamu, Nona. Kau membunuh calon istriku dan--"
Stefan mengusap telunjuknya di pipi gadis itu hingga Alaina merasa merinding. Ia tidak pernah mendapat kontak fisik seperti ini dengan pria manapun dan semua ini membuatnya merasa takut.
"Apa kau tidak ingin meminta maaf padaku karena telah menyirami ku dengan alkohol?"
Mata birunya membulat.
Hah? Dia pria kurang ajar tadi malam?!
"Ka-kau mau apa?"
"Aku minta bayarannya dengan tubuhmu."
Tangan Alaina dengan cepat menampar pipi kiri Stefan hingga berpaling ke samping. "Anda jangan kurang ajar denganku, Tuan Roswell. Aku akan pergi."
Alaina menggeser tubuhnya lalu berjalan cepat ke arah pintu. Dia akan melapor pada polisi atas kejadian ini dan mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Alaina tidak mengerti kenapa lokasi kejadian tidak didatangi oleh pihak kepolisian ataupun para saksi mata lainnya. Dia pun bingung, sebenarnya apa yang baru saja dia alami?
"Alaina."
Langkah gadis itu berhenti tepat di depan pintu. Ia tidak berniat menoleh, tapi telinganya masih bisa mendengar cukup jelas.
"Aku pasti akan mendapatkan mu."
Cukup. Alaina menekan tuas pintu dengan kasar lalu dia berlari cukup cepat keluar dari rumah kecil itu untuk segera pergi ke kantor polisi. Dia akan melaporkan tentang kasus ini dan bersedia untuk diadili.
"Nona Grissham."
Ia tersentak mendengar suara berat itu lagi. Matanya melihat seorang pria tua yang baru keluar dari dalam mobil. Pria itu menghisap cerutu di bibirnya dan sesekali matanya yang tajam menatap ke arah langit. "Jangan pernah memberi pernyataan apapun pada polisi jika kau ingin semua anggota keluarga mu aman."
"Sebenarnya apa maumu? Kenapa kau dan pria itu tak merasa kehilangan, hah? Kenapa?!"
"Karena kami bukan orang seperti itu, Nona Grissham. Kematian bukan menjadi alasan kami untuk menjadi lemah. Aku sarankan padamu untuk tetap bungkam."
"Saat ini kematian Elina akan menjadi momok bagimu. Orang-orang akan mengincar nyawamu sebagai pembalasan atas kematian anggota klan mereka. Kau mau mati cepat dengan mengekspos dirimu?" Pria tua itu kembali berkata.
Alaina memundurkan langkahnya karena perkataan pria itu semakin tidak dapat ia percayai dan napasnya tercekat saat punggungnya membentur sesuatu yang keras dan panas. Itu Stefan.
Sentuhan di bahunya membuat ia kembali meremang,"Jika kau ingin perlindungan, jadilah milikku."
...
a/n : halo :). harap diingat baik-baik kalau saya posting 5 bab pertama :). kalau kalian mau nunggu novel terbit, nanti saya beritahu lagi.