Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 35



Sarah tak dapat menahan senyumnya sendiri ketika mengingat apa yang terjadi di kantor Alex dua hari yang lalu. Pria itu begitu lembut dan tulus ketika mengatakan kalau dirinya menyukai Sarah. Wanita itu mengelap beberapa piring yang masih basah sebelum meletakkannya kembali ke tempat semula. Tadi mereka baru saja selesai makan malam, para pelayan tidak bekerja hari ini karena Sarah meminta Alex untuk meliburkan mereka. Entahlah, dia sedikit tak menyukai keramaian.



"Kau mau ke suatu tempat?"



Sarah menoleh ke belakang, ia tersenyum melihat Alex duduk di kursi makan sembari memandanginya,"Kemana?"



"Entahlah. Kemana pun yang kau suka? Ini malam minggu."



Sarah memikirkan suatu tempat yang mungkin bisa mereka kunjungi di malam hari, tapi ia tak yakin apakah Alex mau pergi kesana bersamanya atau tidak?



"Aku ingin mengunjungi rumah sakit anak. Sudah lama aku tidak kesana menjenguk anak kecil. Apa kau mau pergi bersamaku?"



Alex tampak sedikit terkejut. Ia kira awalnya Sarah akan mengajaknya ke mall atau tempat hiburan, tapi malah mengajaknya ke rumah sakit anak.



"Kau sering kesana?"



"Ya, biasanya aku menjenguk anak-anak di rumah sakit itu sebulan sekali dan tentu saja saat hari Natal. Aku merindukan mereka," Jawabnya. Alex mengulas senyum kecil, Sarah memang wanita yang baik. Ia sepertinya salah karena mengira bahwa Sarah itu sama seperti kebanyakan wanita yang hanya ingin ego mereka terpenuhi.



"Oke, kalau begitu bersiaplah. Aku menunggumu di mobil."



Sarah tersenyum lebar, dia segera mengelap tangannya lalu beranjak untuk berganti pakaian.



...





Mereka sampai di sebuah rumah sakit khusus anak yang tempatnya tidak terlalu jauh dari hiruk-pikuk kota. Sarah tersenyum lebar melihat bangunan tinggi yang sering ia datangi untuk memberi semangat anak-anak yang sakit di dalam sana.



Sarah membawa Alex masuk ke dalam. Mereka sempat bertemu dengan seorang perawat kenalan Sarah dan sedikit mengobrol kecil. Perawat wanita itu bernama Mytha. Perempuan berusia sekitar 40 tahunan itu berkata pada Sarah kalau anak-anak disini merindukan kehadirannya. Hampir beberapa bulan terakhir ini, Sarah tak mengunjungi mereka. Bahkan tak ada ucapan di hari ulangtahun salah satu anak yang mana biasanya Sarah datang kemari dengan membawa kejutan besar.



Wanita itu memperkenalkan Alex sebagai temannya pada Mytha. Ia tak mau mengambil risiko jika wanita itu mengetahui apa yang sedang terjadi padanya saat ini.



Mytha meminta Alex dan Sarah untuk mengunjungi ruang bermain karena anak-anak berada disana, sedang menghabiskan waktu mereka sebelum tidur.



"Aku yakin kau akan menyukai mereka, Alex. Anak-anak itu begitu ceria," Ucap Sarah. Wajahnya begitu berseri-seri, Alex membutuhkan waktu untuk bisa mengendalikan dirinya agar tak mencium bibir wanita itu lalu mengajaknya bercinta disini.



Keduanya sampai di sebuah ruangan yang cukup luas. Ya, memang ada anak-anak sekitaran 4-9 tahun disini dan mereka memakai pakaian rumah sakit.



"Hai! Lihat siapa yang datang?!"



Anak-anak itu menoleh di pintu penghubung lalu seketika raut wajah mereka berubah menjadi begitu bersemangat. Mereka secara tak sabar berlarian ke arah Sarah lalu bergantian memeluk wanita itu bahkan ada yang mencium pipinya.



Alex menatap Sarah dengan lembut. Wanita ini punya jiwa yang besar, ia bahkan rela menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk hal kecil seperti ini, menyemangati anak-anak yang terkena penyakit berat.



"Aunty Sarah! Kami sudah lama menunggu mu, kenapa tak datang kemari?"



Sarah mengerucutkan bibirnya, ia merasa menyesal karena tak memberi kabar pada anak-anak ini.



Jemarinya mengelus pipi bocah laki-laki yang menatapnya dengan bola mata yang berbinar,"Maafkan aku, Ben. Aku punya beberapa urusan penting dan tak sempat menemui kalian semua."




Sarah menggigit bibirnya, ia lantas menoleh pada Alex yang masih terdiam menatapi mereka lalu kemudian tersenyum,"Aku tak membawa kado, tapi aku membawa teman baru untuk kalian. Mau berkenalan dengannya?" Jawab Sarah lalu menunjuk Alex.



Anak-anak itu mengangguk antusias. Mereka senang bertemu orang baru.



"Nah namanya Uncle Alex. Kalian bicara yang sopan ya, soalnya dia suka menggigit seperti singa. Jadi jika bicara sembarangan, nanti dia mengaum," Katanya dengan sedikit bercanda. Anak-anak itu memekik terkejut, mereka lantas memerhatikan Alex yang tampak kebingungan.



"Kenapa? Apa aku memang terlihat seperti itu?"



Sarah tertawa kecil. Dia menarik lengan Alex untuk duduk di atas sofa lalu ia juga duduk di sampingnya.



"Ayo kemari dan duduk manis. Kalian ingin mengenal lebih dekat dengan Uncle Alex bukan?"



Ben dan teman-temannya yang lain menurut. Mereka duduk manis mengelilingi Alex dan Sarah dan mulai berceloteh. Ada yang bertanya dimana Alex tinggal atau bagaimana pria itu bisa datang kemari.



"Aku tinggal di dekat sini dan kebetulan Aunty kalian membawaku kemari," Katanya. Ia berusaha untuk berbicara selembut mungkin atau paling tidak, suaranya yang biasanya membentak itu tidak membuat anak-anak ini terkejut atau ketakutan.



"Apa Uncle juga sakit? Kami disini punya penyakit dan kata suster Bennet, orang sakit tinggal disini," Celetuk seorang anak perempuan. Alex memandanginya dengan satu alis yang terangkat. Anak itu memakai semacam kupluk di atas kepalanya serta alat bantu pernapasan di hidungnya. Tubuhnya terlihat kurus dan pucat, siapapun tahu kalau anak itu mengidap penyakit berat.



Ia lalu tersenyum kecil,"Well, aku rasa aku juga punya penyakit, tapi mungkin agak berbeda," Jawabnya.



Sarah tahu Alex pasti iba dengan anak perempuan itu. Ya, tentu saja bukan? Dia punya penyakit berat di usianya yang bahkan belum 10 tahun.



"Angel, Uncle Alex ini sedikit pemalu dengan anak perempuan. Maukah Angel kemari dan menemani Uncle Alex sejenak?"



Alex sedikit terkejut mendengar ucapan Sarah. Ia menggeleng kecil pada wanita itu, sebagai tanda kalau ia sedikit tak setuju. Namun, Sarah hanya membisikkan kata kalau ia akan baik-baik saja.



Anak dengan topi kupluk tadi mengangguk senang. Dia dengan segera mendekati Alex lalu memilih untuk duduk di atas pangkuan pria itu. Alex membeku, ia tidak tahu bagaimana rasa sakit yang tengah dirasakan oleh bocah ini karena tubuhnya dingin. Ia kurus dan matanya tak terlihat begitu bersinar walau mungkin ia sedang berbahagia.



"Uncle jangan jadi pemalu. Kami mau berteman dengan Uncle kok," Angel menyengir lebar padanya. Anak-anak yang lain juga tampak bersemangat, mereka berusaha untuk berbicara dengan Alex.



Sarah tak bisa menahan senyumnya lagi. Ia ingin Alex merasakan bagaimana punya anak, agar pria itu tidak bertingkah seperti dulu. Mungkin keberadaan anak-anak ini bisa membantu Alex untuk menyegarkan pikirannya kembali.



Setelah menghabiskan waktu disana, Mytha memberitahu Sarah dan Alex kalau pasien harus segera beristirahat karena sudah malam. Anak-anak itu bergantian memeluk Sarah dan Alex. Mereka tak sabar untuk kembali bertemu mereka di lain waktu.



"Mereka anak-anak yang manis kan?"



Alex mengangguk pelan. Ya, mereka memang begitu ceria. Wanita itu menghela napasnya, ia duduk di atas sofa lalu memandangi Alex yang berdiri menatapnya,"Duduklah dulu. Aku ingin bercerita."



Pria itu mengambil tempat di sebelah Sarah. Sarah menyandarkan kepalanya di bahu Alex.



"Kebanyakan dari mereka sudah menjadi anak yatim-piatu. Bahkan aku mendengar dari Mytha kalau beberapa anak sengaja ditelantarkan di tempat ini karena sakit yang mengerikan. Waktu pertama aku pindah ke Toronto, tempat ini adalah yang pertama kali aku kunjungi. Aku ingin melihat, apakah ada anak yang hidupnya sama seperti ku, ditinggal oleh orangtua dan sepi. Ternyata banyak sekali, bahkan mereka tak mengenal apa itu orangtua. Aku sedih dan senang disaat yang bersamaan. Sedih karena mereka terlalu kecil untuk menahan sakit dan tak punya orangtua. Senang karena aku tahu kalau aku tak sendirian."



Alex melirik Sarah. Mata wanita itu menyiratkan kerapuhan serta cahaya yang memudar. Alex tahu semua tentang Sarah, teman-temannya, dimana ia tinggal, semuanya. Namun, satu hal yang mungkin tidak akan pernah ia ketahui, ialah perasaan wanita itu. Alex tidak akan pernah mengerti bagaimana cara Sarah menghadapi kehidupannya di tengah kacaunya dunia sekarang. Ia tidak akan pernah tahu bagaimana rasa malu serta amarah yang Sarah rasakan ketika wanita itu menerima perlakuan tak baik atau sesuatu yang serupa.



...