
Aaron berjalan cepat ke arah ranjangnya. Dia melempar selimut ke arah wajah Reanne dengan suara decakan.
"Keluar, Reanne!"
Wanita itu menurunkan selimut yang dilempar Aaron. Dia menaiki ranjang, merangkak ke sudutnya dimana Aaron berdiri tegang disana.
Reanne melompat ke atas tubuh pria itu hingga Aaron secara spontan memegangi bokong Reanne erat.
Wanita itu melilitkan kakinya ke pinggang Aaron hingga tubuh mereka bertubrukan.
Aaron berpikir lambat, indera penciumannya dibuat gila dengan aroma tubuh Reanne yang harum.
"Bagaimana? Kau suka?"
"Apa?!"
Aaron melepas tangannya dari tubuh Reanne hingga tubuh wanita itu sedikit tak seimbang. Reanne menarik kerah kemeja yang dikenakan Aaron lalu mengecup pipinya mesra,"Kau bahkan tidak menolakku, Tuan."
Aaron mendorong kasar Reanne ke tengah ranjang. Emosinya naik melihat tingkah Reanne yang kurang ajar padanya.
Dahinya semakin berkerut tak senang saat Reanne malah menggeliat manja di atas ranjang,"Tuan Aaron..." Desahnya.
Aaron mengusap wajahnya kasar lalu ia menindih tubuh Reanne. Ia menyatukan kedua tangan wanita itu ke atas kepalanya lalu menatap tajam pada Reanne.
"Kenapa kau seperti ini Reanne? Apa sebenarnya tujuan mu?"
Reanne menelan ludahnya. Dia menatap kagum pada keindahan iris biru pudar yang Aaron miliki. Ia benar-benar tampan dan Reanne tak pernah mau berpaling dari ketampanan tak masuk akal itu.
"Tuan... Aku ingin berbalas budi padamu. Kau sudah menolongku waktu itu dan--"
Cklek
"Aaron, ayah lupa untuk--"
Aaron menaikkan pandangannya secepat kilat lalu ia terkejut melihat ayahnya berdiri di depan pintu dengan tatapan tak kalah kagetnya pula.
Pria itu memerhatikan posisinya sendiri, ia tampak sedang ingin meniduri Reanne.
Begitu juga dengan Reanne, dia dengan segera mendorong Aaron dari atas tubuhnya lalu dengan gemetar ia mengancingkan kembali pakaiannya yang terbuka. Reanne tak mau membalikkan badannya, dia benar-benar takut sekarang ini.
Alex menyimpan ucapannya untuk nanti. Dia menyilangkan tangannya lalu memandang Aaron dan punggung Reanne bergantian.
"Balikkan tubuhmu, Reanne."
Wanita itu berdiri tegang, tapi ia menurut. Dengan pelan Reanne membalikkan tubuhnya. Wajahnya menunduk ketakutan.
"Sudah berapa kali kalian seperti itu?"
"Maksud ayah?"
Alex menghela napasnya,"Sudah berapa kali kau meniduri Reanne?"
Keduanya langsung kaget. Reanne menaikkan pandangannya untuk menatap ke arah wajah Tuan Grissham senior yang terlihat garang.
"Ayah salah paham, aku dan Reanne tak terlibat apapun."
"Salah paham ya? Lalu tadi kau sedang apa? Melakukan senam?"
Aaron menghela napas kasar. Dia melirik wanita di sampingnya dengan tatapan kesal dan jengkel, tapi bibirnya terasa berat menyuarakan itu.
"Tu-tuan Grissham. A-anda salah paham, saya dan Tuan Aaron ti-tidak melakukan apapun."
Aaron ingin mengumpat saat ini. Dimana sikap liar dan nakal tadi? Reanne yang ini benar-benar berbeda dengan Reanne beberapa menit yang lalu. Dasar wanita penuh drama!
"Ini bisa menimbulkan skandal di dalam keluarga kita, Aaron. Tidakkah kau sadar?"
Padahal ucapan itu ditujukan pada Aaron, tapi Reanne merasa hatinya tertohok. Secara tidak langsung Alex Grissham mengatakan kalau Aaron tak sepatutnya menjalin hubungan dengan seorang mantan *******. Apalagi saat ini posisinya adalah seorang pelayan rumah. Ini bisa jadi pembicaraan yang menarik untuk dibahas setiap hari.
Aaron tak menjawab, dia menarik tangan Reanne untuk keluar dari kamarnya sekarang juga. Alex memberi mereka jalan, ia tiba-tiba teringat dengan masa lalunya.
Reanne menatap kesal pada Aaron. Sekarang mereka berada di dalam dapur, hanya berdua.
"Aku memberimu peringatan terakhir, Reanne. Jika kau masih melakukannya, aku akan melemparmu pergi dari sini!"
Reanne menundukkan kepalanya,"Maafkan aku, Tuan Aaron. Aku hanya... Sedang menyukaimu."
Aaron tak lagi menjawab. Dia berjalan kembali ke lantai atas untuk berbicara dengan ayahnya. Alex pasti mencurigai dia dan Reanne sedang terlibat dalam suatu hubungan. Ini tak baik dan tak akan pernah jadi baik.
...
"Sayang? Kenapa kau melamun disini?"
Alex menoleh ke belakang ketika ia mendapati istrinya yang muncul. Wanita paruh baya itu bergelayut di lengan sang suami lalu ikut memandangi halaman belakang yang ditumbuhi banyak tanaman cantik.
"Aku hanya memikirkan soal anak-anak. Kau tahu kan Sarah? Brittany tak mau mendengar ucapan siapapun. Gadis itu benar-benar mencintai Aaron."
Sarah menghembuskan napas lelah. Ia sedang memikirkan hal yang sama. Sebenarnya ia tak mau memaksa Aaron, tapi Sarah dan Alex juga tak mau merusak hubungan kekeluargaan bersama Fred Langford. Apalagi ketika Brittany divonis penyakit semengerikan itu diusianya yang masih muda.
"Aaron sudah dewasa. Biarkan dia memilih jalan hidupnya, sama juga seperti Axelle dan Alaina. Mereka berhak menentukan kehidupan mereka sendiri."
"Aku tahu itu."
Alex teringat tentang kejadian tiga hari yang lalu. Ia menoleh pada Sarah lalu membawa istrinya untuk duduk di bangku panjang,"Aku ingin menceritakan sesuatu."
"Apa?"
"Kau ingat kan dengan Reanne? Gadis yang pernah Aaron tabrak dulu?"
Sarah mengangguk cepat,"Oh Reanne? Kenapa?"
"Aku tak sengaja memergokinya dengan Aaron di dalam kamar."
Sarah mendelik. Benarkah demikian? Dia tidak pernah mendengar Aaron dengan gadis manapun apalagi terlibat hal semacam itu.
"Apa mereka diam-diam menjalin hubungan?"
Alex menggeleng tak tahu. Dia punya alasan kuat untuk itu. Aaron selalu menolak Brittany, lalu tatapan Aaron pada Reanne terlihat sangat posesif dan intim. Apa jangan-jangan benar?
"Mom, Dad?"
"Oh halo sayang! Ayo duduk sini."
Sarah tersenyum lebar saat melihat putrinya datang. Alaina menyambut uluran tangan sang ibu lalu duduk di sebelahnya,"Kalian sedang bicara apa?"
"Bukan apa-apa, ini tentang kakakmu."
"Aaron?"
Sarah lekas mengangguk. Alaina cemberut, apa jangan-jangan orangtuanya ini menyiapkan rencana kotor untuk membuat Aaron mau menikah dengan Brittany?
"Ngomong-ngomong soal Aaron, aku mau cerita."
Alex dan Sarah menatapnya curiga,"Ada apa?"
"Begini, waktu itu saat ibu dan aku mengunjungi kakak dirumahnya, aku tak sengaja mendapati.. uhm.. itu.. aduh, bagaimana mengatakan ini ya? Pokoknya aku melihat merah-merah seperti gigitan nyamuk di leher Aaron. Bukan Aaron saja, si Reanne itu juga punya merah-merah."
Sarah mengerutkan dahi heran. Dia balik memandangi putrinya dengan mata yang menyipit,"Seperti bekas ciuman?"
Alaina menganggukkan kepalanya cepat. Dirinya malu untuk mengatakan itu, beruntunglah Sarah lebih cepat paham. "Ya ampun! Alex! Apa jangan-jangan itu memang benar? Bagaimana jika memang Aaron punya hubungan spesial dengan Reanne?"
Alex tak menjawab apapun. Ya jika itu memang benar, lalu dimana masalahnya? Bukankah itu wajar-wajar saja?
"Sudah, jangan berpikir yang aneh-aneh. Lagipula, kehidupan Aaron adalah miliknya, kita tak punya hak untuk ikut campur pula."
...
"Britty, kau harus makan."
Brittany membuang wajahnya ke samping. Lebih memilih untuk menatapi ke arah jendela yang memperlihatkan langit biru.
Axelle memegangi sendoknya sedari tadi. Walau ia tidak terlalu suka dengan Brittany, tapi ia wajib untuk merawat perempuan itu karena ia yang sudah diberi kepercayaan oleh keluarga Langford.
"Aku tidak mau makan sampai Aaron datang kemari menemuiku."
"Ya ampun, kenapa kau begitu keras kepala? Aaron tak akan pernah datang walau kau sekarat sekalipun. Berhenti berharap yang tidak pasti dan segeralah makan ini!"
Seharusnya Axelle tak membentak pasien, tapi dia terlampau kesal. Dia tidak tahu mengapa, setiap gadis pasti jatuh hati melihat Aaron padahal Aaron adalah pria kaku dan membosankan.
Brittany menundukkan wajahnya, air matanya jatuh ke atas selimut biru yang menutupi sebagian tubuhnya. Bibirnya bergetar dengan suara isakan yang mulai terdengar.
Axelle meringis pelan. Dia merasa bersalah karena sudah membentak Brittany.
"Hei? Uhm, maafkan aku. Aku tak bermaksud mengatakan itu padamu, Britty. Aku hanya--"
"Apa aku salah karena mencintai Aaron? Dulu Aaron baik sekali denganku, tapi sejak aku mengutarakan perasaanku, kenapa Aaron bergerak menjauh?"
Axelle menaruh piring berisi makanan ke atas meja pasien. Ditatapnya Brittany yang tampak menyedihkan. Memang, Brittany sudah seperti keluarga bagi mereka. Namun itu bukan berarti untuk menikahi Brittany.
"Aaron tidak menjauh, Britty. Dia hanya... Ingin merenung sejenak. Kakakku mengatakan kalau dia akan menemui mu nanti."
Brittany mengusap air matanya. Pipinya tidak merona seperti dulu lagi bahkan terlihat seperti mayat hidup. Bibirnya pun sama, dia seorang pesakitan. Apa ini yang membuat Aaron tak mau dekat dengannya lagi?
"Kau juga tak menyukaiku kan, Axelle? Alaina juga? Aku tahu, aku perempuan jahat."
Axelle menggaruk tengkuknya, dia merasa aneh berada di dalam ruangan ini. Jika saja ia boleh berkata jujur maka dia benar-benar akan mengatakan pada Brittany kalau tak ada yang menyukai perangainya.
"Aku pergi dulu, oke? Akan ada perawat yang menemani mu disini."
Axelle berdiri dari sana lalu keluar. Dia memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku jas putih yang ia kenakan lalu melangkah lesu ke ruangannya sendiri.
"Loh? Axelle?"
"Scarletta?"
Axelle menatap seorang wanita yang merupakan seorang dokter dengan wajah terkejut,"Kau bekerja disini?"
Wanita berambut pirang itu mengangguk,"Aku dipindahtugaskan ke Toronto minggu ini."
Wajah Axelle terlihat menegang. Oh, jadi dokter baru yang akan bekerja di salah satu rumah sakit besar di Toronto ini adalah Scarletta?
"Uhm, ayo kita bicara di ruangan ku.. Letta," Ajaknya.
Wanita cantik itu lantas mengikuti langkah kaki Axelle dengan senang. Ia begitu kaget karena Axelle memanggilnya dengan sebutan Letta lagi setelah sekian lama mereka tak bertemu atas alasan yang Letta sendiri tidak tahu apa. Semoga saja ini pertanda baik.
Di sisi lain, Aaron baru saja sampai di rumah sakit. Ia tidak mengabarkan siapapun tentang ini karena Aaron tak mau orang menganggap kedatangannya kemari untuk maksud yang baik.
Ia sudah menanyakan ruang pasien dimana Brittany dirawat dan Aaron tak akan membuang waktunya lagi. Ia pun merasa terkejut karena berita tak menyenangkan ini. Axelle mengatakan Brittany sudah mengidap kanker darah sejak satu tahun belakangan, tapi tak ada satupun dari mereka yang menyadari itu.
Aaron melangkah keluar dari pintu lift lalu mulai mencari ruangan milik Brittany. Ia bernapas lega saat melihat papan nama di sebelah pintu yang tertera nama Brittany Langford. Aaron mengetuk pintu lalu menekan tuasnya ke bawah.
Di dalam sana ia melihat Brittany yang tengah makan sendiri sedangkan seorang perawat tampak mengecek infusnya.
"Aaron?!"
Wajah lesu itu tiba-tiba berubah 180 derajat.
"Ya ini aku, Britty."
Brittany merona malu saat Aaron memanggilnya dengan nama kecil itu. Hatinya berdebar-debar tak karuan. Ia memberi kode pada perawat itu untuk meninggalkan mereka berdua. Aaron duduk di kursi samping ranjang pasien, ia menatap wajah Brittany yang sangat pucat.
"Aku disini untuk memberimu sedikit pengertian, Britty. Sedari dulu kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri dan aku benar-benar kecewa karena kau menjadi seperti ini hanya karena aku menolak untuk menikahimu."
"Aku tahu kau akan mengatakannya, Aaron. Namun, bisakah aku menolak rasa ini? Aku mencintaimu itu bukan kehendak ku, ini terjadi begitu saja. Kau... Kau tak bisa terus menghakimi ku," Balasnya. Ia menahan tangisnya sendiri, Brittany tak tahu kalau ia bisa semenyedihkan ini di depan pria yang ia kira bisa menjadi kekuatannya.
"Bri, aku benar-benar minta maaf. Jujur saja, ini akan lebih menyakiti mu jika kau memaksaku untuk melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan."
Brittany tak berkata-kata lagi setelah itu. Aaron pun tak tahu bagaimana caranya ia mengutarakan perasaannya agar tak menyakiti Brittany.
"Apa... Apa Kak Aaron punya gadis lain?"
Oh sialan! Kenapa pula Brittany mesti memanggilnya begitu? Hidupnya memang serba di dramatisir.
"Tidak ada. Aku tak sedang menjalani hubungan dengan siapapun."
Gadis itu mengangguk pelan. Ia menatap wajah pria yang sedari kecil menemaninya bermain itu dengan seksama,"Aroma parfum mu tidak sama dengan yang terakhir kali. Aku hanya menduga apa Kak Aaron memang punya kekasih?"
Aaron secara spontan membaui dirinya sendiri. Ia menggeram pelan saat hal yang Brittany sampaikan memang benar. Ini aroma tubuh Reanne! Astaga, kenapa ia bisa melupakan apa yang terjadi pagi tadi di dalam kamar mandinya? Sial! Sial! Sepertinya Aaron mesti menyingkirkan wanita itu sebelum semua orang menduga kalau mereka punya hubungan khusus.
"Hanya perasaan mu saja. Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu. Tolong Britty, jangan jadi egois. Aku tidak ingin kau atau siapapun tersakiti karena ini."
Pria itu lantas pergi dari ruangan Brittany dengan perasaan kesal. Tidak tahu, sebenarnya Aaron kesal karena parfum ini atau perkataan Brittany?
...
Malam itu, entah kenapa anggota keluarga Grissham memutuskan untuk berkunjung dan makan malam di rumah Aaron. Mereka bilang hanya untuk kumpul keluarga dan seharusnya tak menjadi masalah. Namun bagi Reanne itu sebuah masalah besar. Ia merasa kalau keberadaannya disini sedikit dicurigai walau jujur saja selama ini dia hanya menggoda Aaron dan pria itu tak pernah sekali pun tergoda.
"Aaron, ajak para pelayan untuk ikut makan malam bersama kita."
Ucapan sang Nyonya besar mampu membuat Reanne jantungan. Dia memang pernah dengar kalau Sarah Grissham berlaku sangat baik pada para pelayan rumah ataupun penjaga yang sering berkeliaran di sekitar mansion. Harusnya hal ini benar-benar mengagumkan, tapi sekali lagi, Reanne merasa ketakutan.
Ia kaget saat lengannya ditarik. Lantas Reanne menoleh ke arah kanan, mengetahui Nona mudanya membawanya ke kursi di samping Aaron,"Ayo duduk sini Reanne."
Napasnya serasa berhenti saat di hadapannya, hampir semua mata sedang memandanginya dengan senyuman. Ia tampak seperti orang bodoh, sungguh.
Violet dan Zoey duduk di seberangnya, mereka berada di dekat Madam Enid dan juga Nona Alaina. Kursi di samping kanan Reanne kosong dan ia menebak kalau itu milik Tuan Axelle yang tidak menampakkan batang hidungnya.
Mereka akhirnya makan dalam diam. Lengannya tak sengaja bersinggungan dengan Aaron. Ia ingin berteriak kaget, tapi untung hal itu masih sanggup ia tahan.
Selama makan malam berlangsung, tak ada suara-suara yang terdengar kecuali dentingan alat makan yang beradu. Reanne benar-benar tak ingin makan apapun ini, dia tak bisa berhenti memandangi punggung tangan Aaron yang sedikit berurat.
Dia seksi sekali!
Ia menggeleng cepat karena pikirannya mulai mesum. Demi apapun, apa ia tak bisa sekali saja berpikir normal saat di dekat Aaron.
Hell, sepertinya aku memang kurang belaian.
Ia menyimpan tangan kirinya ke bawah, Reanne melirik semua orang hati-hati lalu dengan berani ia menggerakkan tangannya pelan ke atas paha Aaron.
Ia bisa melihat kalau pria itu menegang. Gerakan tangannya pada sendok itu pun tiba-tiba terhenti. Reanne ingin berteriak dalam hati karena usahanya nyaris berhasil.
Ia semakin berani, Reanne menjalanlan telapak tangannya semakin ke atas hingga--
Srett!
Aaron tiba-tiba berdiri dari kursinya. Semua orang terkejut karena suara yang agak mengagetkan itu.
"Ada apa nak?"
Aaron lekas melirik ayahnya dan menggeleng,"Maaf, sepertinya aku harus ke kamar. Aku melupakan sesuatu."
Pria itu lekas pergi. Reanne meliriknya dengan tatapan lapar. Bagaimana cara meluluhkan pertahanan Tuan muda satu itu?
...
Nanti akan ada versi novel ya :)