Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 40



Sarah dan Alex bermalam di salah satu hotel setelah kedatangan mereka ke Florida. Awalnya Sarah bersikeras untuk menginap di kediaman neneknya, tapi Alex berkata kalau dirinya ingin menginap di hotel karena terlalu lelah. Jadi disinilah mereka sekarang, berada di hotel yang tidak terlalu mewah, tapi cukup untuk mereka.



"Kenapa kita tak langsung saja? Kau tahu, aku benar-benar tak sabar untuk bertemu dengan Grandma," Ucap Sarah sembari melepas mantel coklat dari tubuhnya lalu menggantungnya di tempat yang sudah disediakan. Alex mendesah panjang, dia membuka kancing-kancing kemejanya kemudian melempar dirinya sendiri ke atas ranjang.



"Ada hal yang harus aku katakan padamu," Balasnya. Sarah mengangkat sebelah alisnya, dia mengelus perutnya sebelum memilih untuk duduk di pinggir ranjang dan menatap Alex yang tengah berbaring.



"Katakan saja."



"Berjanjilah untuk tidak melakukan hal bodoh, jika aku mengatakan ini," Pintanya. Sarah lalu merasa sesuatu sedang terjadi dan dia tampaknya telah melewatkan hal itu. Wanita itu perlahan memposisikan dirinya bersandar di kepala ranjang,"Apa maksudmu?"



Alex menoleh ke kiri, menatap ke dalam netra gelap wanita yang tengah hamil itu dan merasa menyesal.



"Nanti saja, akan kujelaskan besok pagi. Sekarang tidurlah." Titahnya. Sarah mengerucutkan bibirnya, ia tidak suka saat Alex berucap seperti ini. Ia tidak akan bisa tidur dengan tenang sebelum pria itu menjelaskan semuanya.



"Cepatlah tidur, jika tidak, aku tak akan memberitahumu apapun lagi." Ucapnya kembali.



Alex berdiri lalu berjalan ke pintu kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Mungkin sejenak ia bisa mengurangi sebagian rasa sesalnya terhadap wanita itu.



Sarah segera membaringkan tubuhnya, ia menarik selimut lalu menutupi tubuhnya hingga dada. Rasanya seperti ada yang aneh, tapi entah kenapa dadanya bergemuruh kencang.



Ketika Sarah memejamkan matanya, pintu kamar mandi kembali terbuka. Alex keluar dari sana tanpa mengenakan pakaian atas, ia berjalan ke arah ranjang lalu mengambil posisi di sebelah Sarah. Ditatapnya wajah wanita itu yang terlihat damai dan tentu saja cantik. Ada sesuatu di dalam diri Alex yang tampak selalu berdebar saat melihat wanita itu. Selama beberapa bulan ini, ia tahu kalau dirinya memang tengah menyukai Sarah. Ia menyukai kehadiran wanita itu, tatapannya, suaranya serta senyumannya yang tulus.



Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya pada bibir Sarah lalu mengecup lembut bibir wanita itu. Benar kan? Rasanya memang manis dan akan selalu seperti itu. Alex menyukai bagaimana rasanya ketika ia memagut bibir Sarah yang merah.



Mata biru pudarnya lalu menatap ke arah perut Sarah yang membuncit. Dia menarik turun selimut yang Sarah kenakan lalu mengelus perut wanita itu. Dugaannya benar, ia akan punya dua anak laki-laki yang tampan. Jadi Alex tak perlu lagi melawan rasa takutnya bukan? Ia tidak akan pernah punya anak perempuan, yang mana artinya ia tak perlu mencoba untuk melawan semua itu.



Alex mengecup perut Sarah beberapa kali lalu ia merasakan sebuah tendangan dari dalam sana. Jantungnya tiba-tiba terpacu cepat. Untuk yang pertama kalinya, dia merasakan tendangan itu. Alex tersenyum haru, ia lalu kembali mengecup perut Sarah dan mengatakan kalau dia menyayangi mereka.



Sedari tadi mata Sarah terbuka, sejak ia merasakan elusan tangan pria itu. Sarah menatap ke arah Alex yang tampak bahagia. Entahlah, apa pria itu bahagia karena bayi-bayinya atau bahagia karena ia tak akan pernah punya bayi perempuan? Sarah tampak sedikit kecewa, apakah setelah ini Alex akan merencanakan pengusirannya?



Ia tidak akan pernah tahu sampai hari itu datang dengan sendirinya.



...



Taksi yang mereka tumpangi berjalan melewati jalanan yang tidak terlalu ramai. Pepohonan tampak menghiasi pinggir jalan dengan banyaknya daun yang berguguran. Sarah memakai mantel coklat miliknya dengan celana yang tidak ketat. Ia juga memakai sepatu boot warna hitam serta sebuah syal di lehernya mengingat ini hampir memasuki musim dingin.



Mata hitamnya menatap heran ke sepanjang jalan karena merasa cukup asing. Ia lalu menoleh ke arah Alex yang duduk tenang di sampingnya,"Sebenarnya kita kemana? Ini bukan jalan ke rumahku," Tanya Sarah. Alex hanya membalasnya dengan senyuman kecil lalu ia menggenggam tangan Sarah,"Aku minta maaf sebelumnya."



"Kenapa?"



Taksi itu berhenti di sebuah tempat. Alex membayar biaya pada supir taksi lalu mengajak Sarah untuk turun.



Wanita itu semakin merasa tak nyaman. Sejauh mata memandang, ia hanya bisa melihat batu nisan.



"Untuk apa kau membawaku kemari?"



Alex memegang bahu Sarah, dia menatap serius ke arah wanita itu, memastikan kalau dirinya akan baik-baik saja,"Kau mau bertemu dengan nenekmu kan? Maka disinilah kita," Jawabnya.



"Maafkan aku Sarah, aku terlambat untuk memberitahu mu tentang hal ini. Namun, sekarang aku akan mencoba menjelaskan semuanya agar kau--"



Sarah menepis tangan Alex dengan segera. Dia menatap tak percaya pada pria itu,"Tunggu! Ma-maksudmu nenekku sudah meninggal?"




"Nenekku sudah tiada? Ka-kau mengetahuinya, tapi kau tidak--"



Alex menangkup pipi Sarah, dia menghapus lelehan air mata wanita itu dan mencoba memberinya sebuah penjelasan,"Aku akan jelaskan. Kumohon dengarkan aku dulu," Pintanya sekali lagi. Sarah kembali terisak, ia menghempas tangan Alex lalu berbalik meninggalkan pria itu. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari dimana nama Allison McGreggor bersemayam.



Ia membungkam mulutnya sendiri ketika mata hitamnya menangkap sebuah batu nisan yang terlihat besar dan lebih terawat dibanding yang lainnya, hadir di hadapannya.



Alex segera memegang bahu Sarah, menuntun wanita itu untuk berada sedikit lebih dekat dengan makam neneknya. Telapak tangan Sarah tampak bergetar ketika ia menyentuh nisan sang nenek. Ia menatap tak percaya pada gundukan tanah yang berisi jasad neneknya tersebut.



"Sejak kapan?" Tanyanya.



"Dua hari sebelum kepulangan kita dari Venesia," Jawab Alex. Air mata Sarah semakin berjatuhan, sudah selama itu. Alex menyembunyikan hal sepenting ini selama berbulan-bulan.



Sarah mengepalkan tangannya, dia menoleh pada Alex lalu meminta penjelasan.



"Apa yang terjadi?"



"Saat pertama kali aku mencari tahu tentang nenekmu, baru kuketahui kalau dia sudah hampir satu tahun belakangan ini dirawat di rumah sakit. Zack memberiku informasi kalau penyakit yang diderita oleh nenekmu sudah memasuki tahap yang paling kronis. Aku sudah mengupayakan yang terbaik dan meminta Zack untuk memantau kondisi nenekmu, tapi hari itu, ketika kita berada di Venesia--"



"She didn't make it..."



Sarah memejamkan matanya, merasakan kalau lelehan air mata itu kembali turun melewati pipinya. Benarkah semua itu? Ternyata selama ini Allison menyembunyikan tentang kesehatannya dari Sarah dan membuat wanita itu benar-benar merasa bersalah padanya.



"Ya Tuhan... Ini semua salahku. Aku... Aku... Aku bahkan tak pernah datang kemari untuk melihat keadaannya karena kesibukan ku dan tanpa aku sadari, dia bahkan sekarat..."



Pipinya sudah basah karena air mata. Sarah begitu menyesali semuanya, ia meninggalkan neneknya untuk hal yang sia-sia. Disaat Allison membutuhkan dirinya, Sarah malah lebih memilih hidup di Kanada demi mengejar lembaran kertas berharga yang sulit ia dapatkan. Sarah menjanjikan Allison tempat tinggal yang nyaman, makanan yang lezat serta semua kebutuhan yang lengkap. Namun apalah artinya itu jika Allison sudah tiada? Jadi semua ini untuk apa?



Sarah perlahan bangkit dari posisinya, dia menghapus lelehan air matanya dan menatap sedih pada batu nisan yang terukir nama Allison McGreggor.



Aku tak punya siapapun sekarang.



"Alex..."



Pria itu hanya diam, menunggu lanjutan kalimat Sarah yang membuat dia semakin tak karuan.



"Aku ingin bayiku. Berapa pun kau ingin aku membayar, akan aku berikan. Bahkan jika kau ingin menjadikan aku pelacur, aku rela asalkan kau tak merebut bayi-bayiku," Katanya.



Alex secara spontan menarik bahu Sarah, ia meremas pelan bahu wanita itu dan menatapnya tak percaya. Setelah semua ini, apakah Sarah masih tidak bisa memberinya waktu?



"What the hell are you talking about?!"



Sarah membalas tatapan tajam itu dengan seribu luka yang ia tebarkan. Wanita itu menggeleng lalu menjauhkan telapak tangan Alex darinya,"Aku tak punya siapapun Alex. Aku kehilangan satu-satunya harapan ku. Aku melakukan ini demi nenekku, aku rela dihina, bekerja dimana pun bahkan menjadi penampungan untuk bayimu--"



Sarah menarik napasnya,"Aku lelah. Aku lelah terus berbohong pada diriku sendiri kalau aku adalah wanita yang kuat padahal kenyataannya, aku hanya seorang perempuan. Lalu, sekarang ini tujuan hidupku sudah hilang dan tidak ada lagi yang harus aku perjuangkan. Maafkan aku Alex, aku mencintaimu, tapi kurasa kita harus mengakhiri situasi ini," Lanjutnya. Hatinya terasa perih ketika mengucapkan untaian kata itu. Sarah tak bisa menolak kalau rasa cintanya terlalu besar untuk Alex bahkan tak ada ruang untuk pria lain. Namun ia sadar, dirinya tetap sendirian dan akan selalu begitu.



Saat ini, salah satu penopang kehidupannya telah hilang dan Sarah tak yakin kalau dirinya mampu bertahan lebih jauh lagi dengan situasi yang kacau ini.



...



A/n : hulala๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐Ÿคญ