Perfect Agreement

Perfect Agreement
EPISODE 4 |SERIES 2|



Reanne tidak tahu kenapa dia melontarkan kata itu sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilayangkan Aaron. Pria itu menatap marah padanya sebelum mendorong Reanne jauh.


"Sepertinya aku salah menilai sikapmu, Reanne."


Ucapan itu serasa menohok hati Reanne. Apakah Aaron mau berkata kalau dirinya tetaplah ******* licik setelah semua yang terjadi enam bulan yang lalu?


"Aku menghargaimu sebagai seorang manusia, Reanne. Namun sepertinya kau tidak menghargai dirimu sendiri."


Air mata Reanne terkumpul di sudut matanya. Ia malu, Reanne merasa malu atas apa yang ia lakukan barusan. Aaron benar, dia telah menjatuhkan sendiri harga dirinya di depan pria lebih kehormatan seperti Aaron. Tanpa sadar karena obsesi besarnya ini.


"Tu-tuan a-aku..."


"Reanne, keluar dari kamarku sekarang," Titahnya dengan suara pelan. Itu adalah kata paling menyakitkan yang pernah Reanne terima dalam hidupnya.


Ia menarik napas dalam,"Baik. Aku minta maaf atas sikap kurang ajarku ini, Tuan Aaron. Namun Anda tak perlu memandang seolah aku menjijikkan dan--"


"Keluar. Aku tak pernah tergoda atas apapun yang ada pada tubuhmu dan sikap yang kau tunjukkan tadi membuktikan kalau kau memang wanita yang tak perlu ku pedulikan lagi. Sekarang keluar."


"Aku bersumpah, Tuan Aaron. Kau... Kau yang akan memohon untuk dapat menyentuhku!" Selepas itu Reanne pergi dari sana. Air matanya berderai kala mendengar untaian kata yang rasanya menusuk relung hatinya.


Aaron menatap kepergian wanita itu dengan perasaan kacau. Apalagi ini? Haruskah ia terlibat masalah dengan setiap perempuan?


Pria itu mengacak rambutnya frustasi. Jujur saja, ia belum terlalu mabuk. Aaron dapat mendengar apa-apa saja ucapan-ucapan yang tadi Reanne katakan. Wanita itu bahkan menyatakan kalau dia jatuh cinta padanya. Obsesi macam apa itu?


Aaron tak mau memikirkan hal ini lebih jauh, sepertinya dia memang salah karena menganggap Reanne bukan ancaman. Nyatanya wanita itu dengan terang-terangan berusaha menggodanya. Apakah salah tindakannya enam bulan lalu saat dia menolong Reanne dari peristiwa pemerkosaan?


Sial, sudah ada satu masalah baru lagi yang menambah daftar permasalahan dalam hidupnya.


...


Sudah satu bulan sejak kejadian dimana Aaron memergoki Reanne yang hendak bertingkah mesum. Pria itu tak lagi terlihat. Enid mengatakan Tuannya pergi sebelum semua orang bangun lalu pulang saat semua orang tidur. Tiga hari yang lalu, Aaron bahkan tidak pulang ke mansion.


Reanne adalah orang pertama yang merasa bersalah. Dia pikir kalau dirinya adalah penyebab kenapa Aaron semakin menarik diri dari semua orang. Bahkan ketika Nyonya Sarah datang kemari untuk menanyai keadaan putranya, Aaron tetap tak terlihat.


"Mansion sepi sekali rasanya. Hah, Tuan Aaron benar-benar kejam! Dia menghindar terus dan aku semakin penasaran!"


Reanne menoleh pada Violet yang datang dengan wajah kusut.


"Sudahlah, lagipula untuk apa kau memikirkan orang yang tak pernah jadi milikmu?"


"Wow Reanne, kenapa nada bicara mu?"


Violet tersenyum aneh pada Reanne. Dia mencolek lengan wanita itu sembari menggodanya,"Oh jadi kau juga rindu dengannya ya?"


"Astaga, Vi! Hentikan semua obrolan ini," Reanne memilih untuk memisah diri dari sana dengan pergi ke ruang depan. Madam Enid tengah memerintah Zoey untuk membersihkan guci mahal di dekat tangga, wajahnya benar-benar menyebalkan.


"Madam, apa aku boleh izin pergi? Sebentar saja."


Enid menatapnya kesal,"Kemana Reanne? Kau mau melacur?"


Reanne berusaha untuk menekan emosinya,"Tidak, Madam. Aku hanya ingin minum kopi di kedai."


Enid hendak menjawab, tapi Zoey memotong ucapannya,"Tidak apa, Madam. Biarkan saja Reanne pergi, dia pasti bosan. Sisa tugasnya biar aku yang kerjakan."


Reanne benar-benar ingin berterimakasih pada Zoey. Enid akhirnya memberi Reanne waktu untuk pergi.


Wanita itu dengan cepat mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai dan sederhana. Reanne mengenakan atasan off shoulder warna krem dipadukan jeans hitam yang tidak terlalu mengetat di tubuhnya. Untuk sepatu, Reanne lebih nyaman mengenakan flat shoes saja. Rambutnya ia biarkan tergerai indah dengan tambahan jepitan di bagian depan agar tak menghalangi wajah.


Merasa sudah siap, Reanne berjalan keluar rumah Tuannya untuk menikmati kesendiriannya sebagai wanita bebas.


Ia pergi menaiki bus umum, Reanne tahu suatu tempat yang letaknya berada di dekat balai kota. Itu merupakan kedai kopi terbaik menurutnya.


Reanne bernapas lega karena ia datang disaat kafe itu sepi. Ini memang cukup siang untuk meminum kopi, jadi wajar saja jika tempat itu sepi.


Ia mendorong pintu kaca di depannya lalu indera penciumannya mulai bereaksi dengan aroma kopi yang cukup pekat.


"Ms.Lee? Astaga, sudah lama kau tak datang kemari!"


Reanne menoleh pada seorang pria yang bekerja di bagian kasir tempat ini lalu wanita itu memeluknya kencang,"Oh Tuhan, Ray! Sudah lama tak menjumpai mu!"


Pria bernama lengkap Raymond itu tersenyum lebar,"Jadi bagaimana kabarmu? Kau terlihat lebih gemuk dari yang terakhir kali."


Reanne menggembungkan pipinya. Memang, berat badannya naik 4 kilogram tiga hari yang lalu. "Ya, aku baik-baik saja. Aku sudah berhenti bekerja pada Noah."


"Benarkah?! Hutangmu lunas?"


Reanne duduk di kursi bar lalu menumpukan tangannya di atas meja. Raymond duduk di seberangnya dan menatap bingung pada Reanne.


"Ada apa?"


"Well, aku memang sudah bebas, kurasa. Hanya saja, aku takut Noah kembali."


Raymond memegang telapak tangannya, mencoba memberi kekuatan pada Reanne,"Tak apa, Reanne. Kau akan baik-baik saja. Dimana kau tinggal?"


"Aku tinggal di mansion Tuanku. Aku bekerja disana."


"Nah baguslah! Kau harus menata dirimu untuk jadi lebih baik lagi, Reanne. Aku akan membuatkan kopi kesukaanmu siang ini," Balas Raymond lalu ia beranjak untuk membuatkan Reanne kopi.


Reanne terduduk diam di tempatnya. Ia tidak mengerti mengapa serpihan-serpihan masa lalu itu kembali menyeruak ke dalam pikirannya. Ia ingat bagaimana ibu dan ayahnya mati bunuh diri akibat jatuh miskin, atau kakaknya Brent yang dengan tega menjualnya pada Noah. Reanne tidak ingin memikirkannya, tapi otaknya lagi-lagi mengingat hal yang sama setiap hari. Dia takut dan dia sendirian. Reanne tak punya tujuan hidup lagi rasanya setelah semua yang ia punya harus direnggut paksa dari kehidupannya.


Bel di pintu itu berbunyi, menandakan ada pelanggan lain yang masuk. Reanne menoleh dan ia membelalakkan matanya.


Aaron disini. Dia datang bersama Tuan Grissham senior.


Reanne menutup wajahnya dengan buku menu di atas meja, berharap saja kalau Aaron tak menyadari keberadaannya atau dia akan memecat Reanne karena pergi tanpa sepengetahuannya dan meninggalkan banyak pekerjaan di rumah. Sial!


Raymond kembali dengan wajah sumringah dan ditangannya ia membawa cangkir kecil berisi kopi hangat,"Reanne, ini kopimu."


...


Aaron hendak meraih kunci mobilnya di atas meja saat ia mendengar pintu ruangannya terbuka. Ayahnya masuk ke dalam lalu menutup pintunya.


"Dad?"


"Nak, kurasa kita perlu bicara."


Pria itu menghela napasnya lalu kembali duduk di kursi putar,"Ayah mau bicara apa?"


"Ini soal--"


"Brittany lagi? Astaga, apa kalian tak bosan membahasnya?"


Alex diam di kursi seberang Aaron. Ia memerhatikan wajah anaknya yang terlihat kalut. Sepertinya dia sedang ada masalah.


"Ya ini memang tentang Brittany. Dia masuk rumah sakit tadi malam."


Aaron menoleh cepat pada Alex,"Kenapa?"


"Dia terkena sakit keras, Aaron. Axelle menjadi dokter untuk Brittany dan dia mengatakan Brittany terkena kanker."


Aaron memejamkan matanya. Apa Brittany punya permintaan terakhir hah? Aaron tidak perlu menebak maksud dari kedatangan ayahnya kemari.


"Dia ingin kau menikahinya. Brittany tak ingin apapun selain dirimu, Aaron."


Alex tahu ini gila. Dia awalnya terkejut mendengar permintaan Brittany semalam yang mengatakan kalau dia sangat mencintai Aaron dan gadis Langford itu benar-benar ingin Aaron mempersuntingnya.


Ia melirik perubahan raut wajah putranya yang tambah kacau. Alex pun mengerti kalau ini diluar kendali.


"Aku... Tidak bisa, Dad. Aku tak ingin menikah karena terpaksa apalagi hanya untuk menyenangi hati Brittany. Aku tak bisa, itu malah akan menyakitinya."


"Aku paham maksudmu, Aaron. Sudah coba kujelaskan pada Fred dan istrinya, mereka pun mengerti. Namun Brittany... Dia tidak."


Aaron berdiri, ia meraih kunci mobilnya,"Ayah, kita bicara di kedai kopi saja. Aku benar-benar butuh kafein."


Dia melirik putranya yang berjalan cepat ke arah pintu lalu mengikutinya dalam diam. Alex mengetahui dari Axelle kalau Aaron sering meminum alkohol yang mana akan membuat Aaron makin terpuruk. Putranya satu ini selalu melampiaskan kekesalannya lewat alkohol.


Mereka tiba di salah satu kedai kopi yang hanya berjarak beberapa blok dari area kantor. Ini adalah kedai kecil dulunya, tapi sekarang tempat ini berkembang menjadi cafe yang menarik.


Aaron masuk lebih dulu, disusul ayahnya dibelakangnya. Dia memilih meja yang letaknya bersebelahan dengan meja yang sudah diisi oleh seorang pelanggan. Alex duduk di depannya.


"Reanne, ini kopimu."


Raymond dengan senyum sumringah menaruh secangkir kopi itu sebelum kembali duduk di depan Reanne yang masih menundukkan kepalanya.


"Reanne?"


Wanita itu terlonjak. Ia menoleh kecil lalu tersenyum kikuk pada Aaron,"Tu-tuan."


Alex memandangi keduanya, ia ingat dengan Reanne. Waktu itu Aaron pernah mengenalkannya sebagai pelayan baru.


"Apa yang kau lakukan disini?" Reanne tahu kalau Aaron masih tak menyukainya. Nada bicara pria itu membuktikan betapa ia membenci Reanne saat ini.


"Ma-maafkan aku, Tu-tuan Aaron. Aku sudah izin pada Madam Enid dan dia--"


"Aku atau dia yang majikan mu sekarang, Reanne?"


"Eh?"


Alex berdeham kecil. Ia memberi kode pada Aaron untuk tak membuat keributan.


"A-aku minta maaf."


Raymond menatap tak enak pada Reanne dan dua majikannya. Sepertinya Reanne sedang dalam masalah.


"Aaron, sudahlah. Lagipula dia hanya pergi minum kopi. Reanne, nanti kau pulang ikut kami saja. Kebetulan setelah ini aku akan mampir ke rumah putraku."


"Ba-baik, Tuan Grissham."


Reanne duduk kaku di tempatnya. Cafe ini tidak terlalu besar jadi setiap percakapan antara ayah dan anak itu mampu ia rekam dengan baik di kepalanya.


Wanita itu tak tahu kalau Brittany penyakitan. Mungkin umur gadis itu tak akan bertahan lama karena penyakitnya. Entah kenapa Reanne merasa tenang walau seharusnya ia tak berpikir demikian.


"Reanne? Aku kembali ke meja kasir dulu ya?" Ucap Raymond sesaat setelah pria itu mengantarkan pesanan Aaron dan Alex. Reanne hanya mengangguk pelan dan ia kembali membisu sambil sesekali menyesap kopinya yang agak pahit.


"Bagaimana jika kita menipu?"


"Menipu apa maksudmu?"


Aaron menghela napasnya,"Aku mau bertukar posisi dengan Axelle. Jadi maksudku, Axelle saja yang menikah dengan Brittany. Wajah kami identik, Dad. Kurasa kita bisa mengelabui mereka."


Alex menatap tak percaya dengan putranya. Oke, ia mengakui kalau Aaron selalu punya keputusan bagus di setiap masalah yang menyangkut dirinya. Namun untuk hal ini, tega kah dirinya mengorbankan Axelle? Lalu bagaimana dengan perasaan keluarga Langford, terutama Brittany? Akan ada banyak hati yang kecewa.


"Tidak, nak. Aku tak menyetujui keputusan mu. Kau tidak bisa menyuruh Axelle begitu saja."


Aaron menundukkan kepalanya, dia tahu itu dan kemungkinan terburuk, Axelle mungkin akan membencinya karena ini.


"Lalu bagaimana? Aku menikahi Brittany lalu menunggunya hingga meninggal? Itu gila!"


Alex terpanah seketika. Secara terang-terangan, Aaron memang menunjukkan keengganannya untuk menikahi Brittany. Mungkin ia harus memberi keluarga Langford sebuah penjelasan. Lagipula dirinya tak bisa terus-terusan memaksa kehendak disaat Aaron tak menyukai kehendaknya itu.


Reanne tak bisa berhenti melirik ke arah kirinya. Ia mampu merasakan ketegangan antara ayah dan anak itu. Pembicaraan serius ini membuat rasa ingin tahunya semakin besar.


"Aku akan menemui Brittany nanti dan mengatakan apa yang selama ini aku rasakan padanya."


Alex menyeruput kopi miliknya. Ia tak sengaja melihat mata biru Reanne yang memandangi putranya. Seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa Reanne?"


Wanita itu terlonjak. Ia tak sengaja teriak kecil lalu kembali membungkam bibirnya. Aaron melirik wanita itu dari sudut matanya, berusaha untuk tak peduli.


"Ti-tidak, Tuan Grissham. Sa-saya hanya.. uhm.. itu.."


"Dad? Apa kita bisa membahas ini nanti? Aku mau pulang."


"Iya, sudah kukatakan aku ingin mengunjungi mu, Aaron. Ayo Reanne, ikutlah dengan kami."


Reanne mengangguk kaku, dia tahu Aaron tidak ingin berada dalam ruang lingkup yang sama dengannya. Sudah bisa ditebak dari cara pria itu memandangnya.


Ketiganya lantas berdiri dari sana. Aaron mengeluarkan beberapa lembar uang lalu memberinya pada Raymond,"Sekalian milik wanita itu."


Reanne tak bisa berkata-kata lagi. Dia mengekori Aaron dan Alex dengan wajah menunduk.


...


Tuan Grissham senior sudah pulang sesaat setelah makan malam sunyi bersama putra sulungnya. Reanne mengelap piring terakhir sebelum meletakkannya ke dalam tempat khusus.


Reanne melepas jepitan rambutnya, menyimpannya ke atas meja dapur. Ia pun melepas dua kancing teratas di pakaian pelayannya hingga belahan dadanya terlihat. Ini sudah malam dan ia bersiap untuk beristirahat.


"Reanne, tolong antarkan ini ke kamar Tuan Aaron."


"Eh? Tapi bukankah itu tugas Violet?"


Madam Enid memelototinya,"Antar saja ini!"


Dengan perasaan kesal Reanne meraih sepiring roti isi itu lalu membawanya ke lantai atas. Untuk apa roti isi ini disaat Aaron baru saja selesai makan malam bersama ayahnya?


Reanne mengetuk pintunya lalu suara dari dalam sana mengatakannya untuk masuk.


Mata biru Reanne langsung bertatapan dengan netra biru pudar Aaron yang melihatnya setengah terkejut, tapi dengan cepat pria itu bersikap biasa-biasa saja. Dia berdiri di depan sofa kecil.


"Tuan, ini roti isinya."


Wanita itu membungkuk untuk meletakkan piring kecil itu ke atas nakas, tapi ia tersentak saat suara Aaron membentaknya.


"Apa kau gila?!"


"Hah? Apa maksudmu Tuan?"


Aaron mendengus tak senang. Matanya melirik ke arah dua kancing baju Reanne,"Kau mau menggodaku lagi malam ini?"


Reanne segera tersadar. Dia melupakan kancingnya!


Reanne menyilangkan tangannya di depan dada. Dia hendak meminta maaf, tapi Reanne tak sengaja melihat tenggorokan Aaron yang bergerak.


Apa dia tergoda?!


Wanita itu menurunkan tangannya. Ia menatap berani ke arah Aaron,"Apa Tuan Aaron suka melihat dadaku?"


Mata pria itu semakin membola. Ia tak menyangka kalau Reanne berani bertingkah nakal di depannya seperti ini. Aaron memerhatikan gerak-gerik Reanne yang menjijikkan. Dia akui, Reanne punya bentuk tubuh yang bagus. Ia terlihat berisi di tempat-tempat tertentu.


"Reanne, keluar dari kamarku."


Wanita itu memainkan ujung rambutnya sebelum ia dengan berani menyentuh kancing ketiga yang masih terpasang,"Kau mau aku membukanya untukmu, Tuan?"


"Jangan kau--"


"Ups.."


Bra hitam yang dikenakan Reanne sekarang terpampang. Pakaian pelayan itu hanya memiliki beberapa kancing dan jika wanita itu berani membuka sisa kancingnya maka tubuhnya akan terekspos.


"Kau bilang saat itu kalau dirimu tak akan pernah tergoda denganku kan, Tuan? Aku hanya ingin kau membuktikannya sekarang."


Aaron tetap terdiam. Dia berusaha untuk menormalkan pikirannya sebelum menendang Reanne keluar dari kamarnya.


"Ayolah Tuan Aaron, ini gratis kok. Kau tak perlu membayar ku dengan uangmu."


"Oh atau kau mau sesuatu yang lebih menakjubkan dari asetku yang lain?" Reanne bersiap untuk mengangkat roknya, tapi ia melihat gelengan kepala Aaron.


"Ternyata sekali ******* tetaplah *******. Benar begitu, Reanne? Aku tidak masalah jika harus menikmati tubuh gratis mu itu, tapi pernahkah kau berpikir tentang harga dirimu sendiri? Aku bertanya-tanya, apakah harga celana dalam mu lebih mahal dibanding harga dirimu?"


Reanne tak ingin mendengar ucapan itu. Ia sudah terbiasa saat seseorang merendahkan dirinya. Namun, bisakah jangan Aaron yang mengatakan itu?


"Aku sudah tak punya harga diri, Tuan Aaron. Semuanya sudah hilang sejak aku berumur 19 tahun. Jadi disini aku memberimu gratisan karena aku tak punya harga diri."


Aaron tak senang dengan pendapat itu. Di suatu titik ia merasa kasihan dengan Reanne. Namun di sisi lain dia tak bisa menahan rasa kesalnya.


"Aku terobsesi untuk memiliki mu, Tuan Aaron. Cicipi aku dan katakan bagaimana rasa tubuhku dari bibir seksimu itu."


...