
Malamnya Sarah terdiam di atas ranjang. Ia masih memikirkan ucapan Marilyn tadi pagi tentang apakah dirinya menyukai Alex atau tidak?
Wanita itu mengacak rambutnya karena frustasi. Sarah meraih bantal lalu menyembunyikan wajahnya disana, berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri atas sesuatu yang sangat tidak ingin ia rasakan. Sarah tidak tahu, satu minggu ini Alex berhasil membuktikan kalau pria itu memang seorang penjahat kelamin, bajingan, sombong dan tidak tahu malu-- sialnya dia tampan.
Dia mendongakkan wajahnya ketika mendengar decitan pintu yang dibuka. Netra hitamnya membulat ketika melihat Alex masuk.
Tiga hari tak melihat pria itu, membuat Sarah benar-benar merasa sedikit merindukannya. Oh, cobaan macam apa yang tengah dia hadapi ini? Lihat si brengsek itu, rambutnya sudah acak-acakan, kemeja biru muda yang ia kenakan sudah tak serapi seperti terakhir kali Sarah melihatnya. Dua kancing teratas dari kemeja yang dikenakannya juga sudah terbuka sempurna.
Alex sepuluh kali lebih jantan dari biasanya.
"Halo sayangku," Sapanya. Sarah tersenyum kaku, dia tidak mengerti kenapa Alex selalu menggodanya ketika mereka saling bertatap muka? Tidakkah pria itu sadar kalau setiap rayuan yang ia layangkan pada Sarah membuat semua saraf di tubuhnya mati dalam sekejap hingga ia tak mampu untuk sekedar menarik napas.
"Oh ka-kau pulang," Balasnya. Ia berdiri dari ranjang itu lalu berjalan mendekati Alex sebelum mendekap hangat tubuh kekar lelaki itu. Sejenak Alex terdiam, dia menatap Sarah yang tengah memeluknya tanpa membalas pelukan wanita itu atau apapun.
Sarah memejamkan matanya, ia menikmati ketika aroma dari tubuh Alex masuk ke indera penciumannya membuat dia jauh lebih rileks daripada tadi. Matanya kembali membuka ketika tidak mendapat balasan dari pria itu, Sarah tetap menyamankan posisinya. Ia ingin tahu, seberapa jauh dirinya bisa bertahan untuk tidak menyukai Alex dan sepertinya jawaban itu sudah bisa ia dapat. Sarah Heather tidak bisa menolak rasa yang kini tengah menderanya. Seperti sebuah goresan halus yang akan terus membekas bahkan menjadi nyata.
"Maafkan aku Alex. Aku hanya ingin memastikan sesuatu," Gumamnya. Alex mengerutkan dahinya, ia perlahan menjauhkan tubuh Sarah darinya lalu menatap gelapnya mata yang dimiliki oleh Sarah,"Apa?"
Sarah menggeleng. Dia meraih wajah Alex dengan kedua tangannya,"Kau memang tampan," Gumamnya.
Tapi sepertinya bukan itu yang membuatku menyukaimu, batinnya. Sarah melipat bibirnya, dia menarik diri dari Alex, kembali untuk duduk di atas ranjang lalu menerka reaksi yang akan Alex berikan.
"Kau sakit?"
Sarah menggeleng. Dia menekuk lututnya sebelum memberikan senyuman pedih pada Alex,"Aku tidak apa-apa."
Alex mengerutkan dahinya, ia berbalik ke arah kamar mandi-- meninggalkan Sarah dengan segala macam ucapan dalam kepalanya.
...
Hari demi hari berlalu. Tak terasa sudah hampir tig bulan terlewati sejak hari dimana Sarah mendatangi kantor Alex dan melangsungkan kesepakatan dengannya. Hal yang berhasil merubah separuh hidupnya menjadi sedikit tidak berguna. Sesuai dalam perjanjian yang Sarah terima, Alex hanya memberinya waktu satu bulan baginya untuk hamil. Namun hingga saat ini pun, Sarah tetap tak merasakan apapun, walau ia secara diam-diam pergi ke dokter dan mencari solusi. Alex tidak terlalu bertanya atau mungkin pria itu hanya akan mencecarnya nanti jika waktunya sudah habis.
Ia membuang alat tes kehamilan ke tempat sampah. Sarah tahu kelakuannya terlihat begitu bodoh, apa yang ia harapkan dalam tiga bulan? Ya memang Alex begitu agresif soal berhubungan tapi tetap saja, hal-hal negatif bisa terus mengancam. Bagaimana jika faktanya ia mandul? Atau ia bermasalah soal reproduksi? Lalu apa yang akan Sarah dapat selain kehampaan? Ia telah sukses menjual dirinya pada Alex, setuju untuk menjadi wadah dari benih pria itu dan rela dibayar dengan harga yang sebenarnya tidak bisa dikatakan pantas untuk ia dapatkan. Demi apapun di dunia ini, apakah uang dan fasilitas mewah lainnya sepadan untuk ia tukar dengan calon bayinya kelak? Wanita sombong mungkin menganggapnya hal biasa, tapi Sarah tidak bisa seperti itu. Ia tidak bisa bersikap biasa-biasa saja.
"Aku harus bagaimana?" Tanyanya pada diri sendiri. Sarah duduk di atas kloset lalu mulai mengacak rambutnya frustasi karena merasa akan segera mendapat kesialan. Sarah mengusap wajahnya, apa seharusnya ia meminta sedikit waktu lagi pada Alex, mungkin satu bulan lagi bukanlah hal yang salah. Lagipula ia tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri. Hanya Tuhan yang berhak tahu kapan ia harus melahirkan bayi atau tidak.
Dengan segenap keberanian, Sarah mencoba untuk berbicara dengan Alex. Ini hari minggu, dan Alex selalu berada di mansion. Entahlah, pria itu terasa seperti orang asing. Sarah tidak mengerti, Alex terlihat 'berbeda' walau jujur saja pria itu masih sama perkasanya seperti yang Sarah ingat terakhir kali.
Wanita itu membuka pintu kamar dan berjalan cukup cepat ke lantai dasar, ia tahu Alex pasti berada di ruang kerjanya dan Sarah harus menemui pria itu disana.
Pintu ruang kerja Alex tidak tertutup rapat, Sarah bisa melihat Alex yang tengah membolak-balik beberapa berkas di atas mejanya dengan wajah frustasi.
"Uhm, Alex. Bisakah kita bicara sebentar? Ah maksudku, aku ingin menyampaikan permintaan."
Mata biru pudarnya melirik ke arah pintu, dimana Sarah yang berdiri ragu sambil memainkan jemarinya. Bibir wanita itu terlihat basah, mungkin karena Sarah beberapa kali menggigit bibir bawahnya. "Ada apa? Katakan saja. Aku sedang sibuk," Jawabnya tanpa berhenti memeriksa laporan-laporan mengenai keuangan dari beberapa pegawai di bawahnya.
"Aku butuh tambahan waktu. Maksudku, Uhm, belum ada tanda-tanda kehamilan dan aku khawatir kalau--" Sarah tidak berani untuk kembali melanjutkan ucapannya. Alex terlihat tidak mendengarkan atau pria itu pura-pura tak dengar dengan apa yang sedang dia ucapkan. Sarah menghela napasnya,"Tolonglah Alex. Aku hanya butuh tambahan waktu."
Alex berhenti menggerakkan tangannya. Dia menyimpan kertas-kertas itu di atas meja sebelum mendongakkan wajahnya untuk bisa melihat wajah pasrah Sarah yang terlihat menyedihkan di depannya. Oh, siapapun pasti bisa melihat adanya bulir keringat serta aura ketegangan yang ditunjukkan wanita itu dan entah kenapa hal itu sedikit membuat Alex iba.
Sarah mengerjapkan matanya, ia tidak menyangka kalau Alex tidak mencecarnya dengan berbagai pertanyaan ataupun ejekan. Setidaknya ia bisa bernapas lega karena Alex sedang tidak bergairah untuk marah.
"Jika satu bulan apakah itu terlalu lama untukmu? Ka-kau bisa memotong setengah upahku kalau kau mau. A-aku tak masalah untuk itu," Jawabnya. Tenggorokannya terasa tercekat ketika ia mengucapkan untaian kata itu. Mereka seperti sedang membicarakan pembicaraan mengenai hal tidak penting padahal pada kenyataannya mereka tengah membicarakan soal kehamilan dan bayi. Sarah ingin menangis tapi ia tak bisa, semua hanya akan sia-sia karena pada akhirnya dia tetap berada di tempat ini.
Alex mengetukkan jarinya di atas meja hingga menciptakan bebunyian yang agak mencolok di tengah keheningan itu. "Kurasa itu terlalu lama," Ucapnya kemudian. Sarah membuka bibirnya-- ingin mengucapkan satu kata tapi bingung ingin berkata apa. Jadi Alex tetap tidak memberinya waktu? Sungguhkah?
"Kau tahu, ini hampir tiga bulan. Dan sesuai perjanjian kita, jika dalam tiga bulan aku tidak hamil maka semuanya batal."
Alex tidak membalas ucapan Sarah. Ia membenarkan dalam hati, sebenarnya Alex tak berpegang lebih dengan perjanjian itu hanya saja Sarah terlalu serius menanggapinya. Ayolah, Alex pun tahu jika setiap wanita itu berbeda. Ada yang dengan sekali berhubungan intim dia akan hamil dan ada juga yang mesti melakukan ratusan kali untuk bisa hamil. Well, Alex tidak ingin menekan Sarah terlalu jauh tapi sepertinya Sarah hanya membutuhkan satu jawaban.
"Baiklah, aku beri waktu tiga minggu lagi. Dan jika lewat dari hari itu maka semuanya selesai. Apa itu oke?"
Sarah menundukkan kepalanya, ia membuang napas pendek sebelum kembali mendongak,"Ya, aku oke."
Sarah segera meninggalkan ruangan itu. Ia memilih untuk duduk di pinggiran kolam renang di taman belakang dan berdiam diri. Sudah hampir tiga bulan ini juga ia tak mendapat kabar tentang neneknya. Ketika ia bertanya pada Alex, pria itu hanya menggumamkan 'tenang saja' 'semua aman' dan semua kata memuakkan yang sering Sarah dengar.
Sarah merasa tenang saat kakinya masuk ke dalam air yang dingin itu. Ia menggerakkan kakinya di bawah sana, hanya sekedar mendapatkan sedikit hiburan dari riak air yang semakin bergerak tak beraturan mengikuti gerakan kakinya di bawah sana.
Sarah menyentuh perutnya sendiri, mengusapnya pelan walau ia tahu tak ada apapun di dalam sana kecuali organ tubuhnya sendiri. Tidak, Sarah tidak berpikir tentang itu, ia hanya kepikiran tentang saat-saat dimana ia harus rela menyerahkan bayinya, menukar darah dagingnya dengan uang yang sudah dijanjikan Alex untuknya. Demi mengembalikan citra nama Grissham di publik.
Tanpa perlu bertanya, Sarah tahu kalau di masa depan ia tak akan pernah bahagia walau kehidupannya bergelimang harta sekalipun.
Matanya menangkap pantulan seseorang dari air. Ia segera menoleh dan mendapati kalau Alex berdiri disana dan mengamatinya. Sarah segera berdiri dan bergeser beberapa langkah dari Alex,"Kau butuh sesuatu?"
Alex menggeleng, ia menyugar rambutnya ke belakang sebelum mengedarkan pandangannya pada taman kecil seperti surga yang terpampang di depannya,"Aku hanya bertanya-tanya, apakah kau mau ke dokter atau tidak?"
Sarah hanya menganggukkan kepalanya,"Semua terserah padamu. Aku hanya ikut apa yang kau perintahkan," Jawabnya.
Alex membalas tatapan Sarah. Terlihat sekali kalau wanita itu tengah terluka. Apapun yang ingin Sarah katakan padanya, Alex akan mencoba untuk menepis itu semua. Alex pun tidak bodoh, mungkin suatu saat Sarah akan memberontak padanya, mengancam atau melakukan apapun yang wanita itu ingin lakukan. Untuk itulah, dia berusaha untuk tidak terlalu termakan dengan wajah penuh pengharapan itu.
Alex menggaruk tengkuknya, ini situasi yang lumayan canggung entah kenapa. Seharusnya ia tidak bersikap seperti ini, maksudnya, Alex salah tingkah karena apa? Sarah?
Sarah termenung sejenak, dia menolehkan pandangannya ke arah lain tanpa mau berniat untuk berbincang dengan Alex lagi.
Pikirannya kemudian melayang tentang pembicaraannya dengan Nyonya Marilyn beberapa waktu yang lalu. Sarah ingin membuang semua ingatan itu dalam benaknya tapi selalu saja timbul sebuah pertanyaan. Setelah sejauh ini, apakah dia benar-benar menyukai Alex?
Ini mungkin terlalu cepat untuk mengutarakan perasaannya dan berdiskusi tentang apa yang harus ia lakukan berikutnya tapi Sarah tidak bisa menahan ini lebih lama. Ia menggigit bibirnya pelan, sebelum mengumpulkan segenap keberanian untuk mengutarakan apa yang ia rasakan selama tiga bulan mereka bersama ini.
"Alex."
"Sarah."
Keduanya kembali terdiam. Sarah menahan semua ucapannya, matanya menatap penuh kekaguman pada indahnya iris yang dimiliki Alex. Seolah itu semua membenarkan semua spekulasi Sarah terhadap perasaannya yang mengatakan kalau ia benar-benar menyukai Alex secara diam-diam.
"Well, kau ingin membicarakan apa?"