
Malam berikutnya.
Tak ada hal mengagumkan yang terjadi hari ini selain hujan deras yang tak mau berhenti membasahi bumi sejak beberapa jam yang lalu. Hal itu membuat Sarah sedikit kesal, pasalnya, ia ingin menghabiskan waktu bersama Leah siang ini dengan mengelilingi kota dan menikmati pemandangan gedung-gedung pencakar tapi ternyata ia sedang tak beruntung.
Ia menoleh saat melihat pintu utama dibuka. Disana Alex muncul dengan wajah frustasi dan kemeja yang tidak benar-benar rapi. Sarah penasaran dan ingin sekali bertanya tapi tidak jadi. Mata hitamnya terus mengikuti pergerakan Alex yang menaiki anak tangga sebelum hilang di balik pintu kamar mereka. Apa mungkin pria itu lupa kalau semalam dirinya ingin kamar mereka pindah ke lantai bawah?
Dia beranjak dari sofa empuk itu lalu menyusul Alex ke lantai atas. Dibukanya pintu kamar dengan perlahan dan dapat ia lihat kalau Alex terbaring dengan pakaian kerja di tubuhnya. "Kau... Baik-baik saja?"
"Pergilah."
Sarah meremas gagang pintu karena merasa gugup seketika. Alex mungkin dalam kondisi tak memungkinkan untuk di ajak bicara dan itu akan membahayakan dirinya jika ia terus memaksa. Namun melihat wajah penuh kelelahan itu membuat Sarah iba. Pria itu tak pernah membicarakan langsung tentang masalahnya dan itu cukup untuk membuat Sarah penasaran dengan apa yang sedang ia lihat malam ini.
"Sepertinya kau tak baik-baik saja," Balasnya.
Terdengar helaan panjang dari Alex. Pria itu bangkit dari posisinya lalu menatap Sarah seolah wanita itu adalah sumber dari segala kekecewaan yang ia rasakan saat ini. Sarah mulai gelisah, ini seperti saat-saat di masa sekolah ketika ia hendak menjawab pertanyaan dari gurunya.
"Kubilang pergi Sarah. Jangan keras kepala," Gumamnya kemudian. Alex berbicara dengan nada pelan tapi Sarah tahu kalau pria itu sedang menggenggam emosi dalam tangannya. Bisa ia lihat guratan yang sedikit tercipta ketika Alex tanpa sengaja mengepalkan tangannya.
Sarah semakin penasaran, lalu dia pun dengan segenap keberanian-- mendekati pria itu dan menyentuh bahunya.
Alex dengan cepat menyentak tangan Sarah, dia menarik tubuh wanita itu hingga Sarah jatuh ke atas tubuhnya dengan sempurna. Pipi wanita itu merona, ia menatap Alex yang seperti tidak biasanya karena cara pria itu memandang sedikit aneh.
Hidungnya mengendus aroma lain yang menempel di kemeja Alex lalu menyadari kalau pria itu mabuk.
"Alex kau mabuk?!"
"Diamlah. Kau yang memilih untuk mendekati ku jadi terimalah hukumanmu," Alex pun membalikkan posisi tubuh mereka hingga Sarah berada tepat di bawahnya. Dia meneliti setiap jengkal dari wajah wanita itu lalu tersenyum penuh kemenangan,"Mata ini... Milikku. Pipimu juga milikku dan--"
"--Bibir ini juga milikku. They are mine," Dengan lembut Alex mencium bibir Sarah. Ia menggerakkan bibirnya dengan romantis seakan takut untuk menggores sedikit saja permukaan lembut yang telah menjadi sesuatu yang ia sukai sepanjang hidupnya. Sebelah tangannya menarik tengkuk Sarah untuk menciumnya lebih dalam. Demi tuhan, rasanya nikmat sekali. Begitu berbeda dari bibir wanita manapun yang pernah ia tiduri.
"Alex... Kau mabuk."
"Tidak. Aku tidak mabuk. Aku hanya terlalu pusing dengan harum tubuhmu Sarah. Membuatku ingin... Menyentuhmu dengan keras," Balasnya. Ia dengan sengaja mencium rahang wanita itu hingga turun ke lehernya sebelum meninggalkan bekas yang terlihat seksi. Tangannya bergerak untuk menurunkan gaun tidur yang dikenakan Sarah hingga terbebas dari tubuhnya lalu Alex meraih pinggang Sarah dan membawanya dalam pelukannya yang kuat.
Sarah terkesiap--ia secara spontan-- melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Alex dan menempatkan kedua tangannya di belakang kepala pria itu.
"Alex, aku bisa jatuh," Bisiknya.
"Jangan khawatir. Tak akan kubiarkan kau terjatuh," Pria itu kembali melumat bibir Sarah dengan keras sambil kakinya terus melangkah ke arah pintu kamar mandi. Sarah tak peduli jika saat ini dia sudah berada di bawah pancuran air yang entah sejak kapan mulai mengalirkan air dan membasahi tubuh mereka berdua.
Sebenarnya diluar sedang hujan, tapi entah kenapa hal itu membuat suhu di ruangan yang tidak terlalu luas ini menjadi begitu panas dan terasa membakar dengan cepat.
Pakaian tidur yang sudah benar-benar terlepas dari tubuhnya sukses menjadikan Sarah seperti orang yang gila akan sentuhan. Dia dengan tak sabaran membuka kancing kemeja Alex hingga beberapa dari kancingnya bahkan terlepas dan berjatuhan ke lantai.
Pria itu terkekeh,"Slow down, babe."
Alex menikmati bagaimana tak sabarannya Sarah saat ini. Bahkan di bawah pancuran air, wanita ini sangat mengagumkan. Seperti malaikat seksi yang memang datang hanya untuknya.
Pria itu menyentak tubuhnya ke dalam Sarah, dengan gerakan cepat hingga membuat wanita itu merasa melayang dalam pusaran gairah. Alex berani melakukan ini karena penjelasan dokter Delilah dua hari yang lalu. Beruntung dokter itu mengatakan jika hubungan seks pada masa kehamilan itu diperbolehkan. Hanya saja, mungkin Alex melakukannya dengan sedikit keras.
...
Mereka terbangun ketika alarm berbunyi dengan cukup kuat. Sarah menjulurkan tangannya, ia menekan tombol merah di atas alarm itu dan seketika bunyi yang keras tadi langsung senyap. Ia mengerjapkan matanya lalu mulai menyesuaikan pandangannya. Ah, benar juga, tadi malam adalah malam yang hebat. Sarah tidak pernah merasa selepas ini saat bercinta dengan Alex atau ini karena cintanya pada pria itu yang membuatnya agak berbeda?
Ia memerhatikan tangan Alex yang berada di atas perutnya. Dia bahkan tak sekalipun menjauhkan tangannya dari perut Sarah. Hal itu cukup untuk membuat Sarah bahagia karena ia tahu, kalau di dalam hati Alex, pria itu mencintai anaknya. Pasti. Ia yakin itu walau Alex tampak sangat mewaspadai janinnya.
"Selamat pagi."
"Pagi," Balas Sarah. Dia memberikan senyuman kecil untuk Alex sebelum mengecup bibir pria itu.
"Aku hanya kesal karena seseorang."
"Siapa?"
"Calyria," Jawab Alex. Sarah melunturkan senyumnya. Oke, kali ini apalagi yang wanita jahat itu lakukan?
"Dia kenapa?"
Alex mendesah. Dia menjauhkan tubuhnya dari Sarah untuk meraih ponselnya di meja kecil. Alex membuka sebuah artikel lalu menyodorkan benda persegi itu pada Sarah.
Sarah meraihnya lalu membaca judul artikel dengan tulisan yang besar dan tebal.
BERITA KEMBALINYA PASANGAN FENOMENAL, ALYRIA.
"Alyria? Siapa?"
Alex mendengus tak suka, ia mengambil ponselnya kembali lalu menaruhnya kasar ke atas nakas. "Hanya singkatan bodoh yang entah kenapa aku setujui waktu itu," Jawabnya.
Sarah mengerjapkan matanya,"Jangan katakan kalau itu singkatan dari Alex dan Calyria?"
"Yap, kau benar. Dan sialnya lagi, akibat peristiwa di pesta malam itu, media kembali mengungkitnya," Jawab Alex kemudian.
Sarah tak berkomentar, ia justru penasaran, seberapa dekat Alex dan Calyria hingga mereka disebut sebagai pasangan fenomenal? Hal itu malah membuat Sarah cemburu karena Alex pasti punya kenangan terindah dengan Calyria yang mau tak mau pasti terkenang dalam kepalanya.
Wanita itu menggeser sedikit tubuhnya, ia menggelayuti lengan kiri Alex dengan manja dan sesekali menyentuh perut pria itu yang dipenuhi otot,"Kau pasti mencintainya kan?"
Alex tak menyahut. Ia tetap diam seperti patung dan membiarkan Sarah berbicara sesuka hatinya.
"Kau tentu punya setidaknya satu atau dua kenangan manis bersama mantan kekasihmu bahkan kalian pernah ingin menikah. Aku tidak tahu kenapa kau bisa dengan mudah melupakannya lalu membencinya seperti ini," Katanya. Jujur saja, dia benar-benar iri karena Calyria mampu meraih hati Alex dan ia takut jika suatu saat wanita itu kembali berhasil merebut hati pria itu sebelum dia.
"Ya, aku pernah mencintai dia. Aku pernah punya kenangan dengannya dan aku juga berencana untuk menikahi wanita sialan itu. Namun, hal yang membuatku dengan cepat membenci bahkan mengutuknya adalah karena ia tak menuruti ucapan ku dengan berselingkuh," Balas Alex. Kali ini ia menempatkan lengan kirinya ke sisi tubuh Sarah, setengah memeluk wanita itu. Sarah merasa nyaman, ia menyandarkan kepalanya di atas dada Alex sembari mendengarkan detak jantung pria itu.
"Kenapa ia berselingkuh?"
"Mana kutahu. Aku tak mau tahu dan tak akan pernah bertanya padanya."
Sarah tak berbicara lagi setelah itu, ia memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya kembali. Wanita itu mendongakkan wajahnya, menatap ke dalam mata biru pudar Alex yang kini juga tengah memandangnya.
"Kau tidak ingin mencoba untuk mencintai lagi? Mencari wanita selain Calyria?"
Alex menggeleng,"Entahlah. Kurasa semua wanita sama saja pada akhirnya," Jawab Alex. Sarah menekukkan bibirnya, apa artinya ia juga tak punya kesempatan untuk memenangkan Alex? Namun, sepertinya mereka berdua terlihat begitu cocok.
"Apa kau pernah bermesraan seperti ini dengan wanita lain? Membiarkan aku memelukmu manja atau saat kau memelukku dari belakang ketika aku tengah memasak. Apa kau pernah melakukan itu pada wanita yang kau tiduri?"
"Kenapa kau menanyakan itu?"
Sarah merubah posisinya, ia dengan berani menduduki paha Alex, tak peduli selimutnya yang benar-benar tersingkap.
"Karena kau telah membuatku menaruh harapan, Tuan Grissham. Kau bertindak seolah kau mengizinkan aku untuk memperbaiki hatimu yang patah itu. Kau melakukannya tanpa kau sadari dan itu menyakitiku," Jawabnya. Sarah tak tahu kenapa air matanya jatuh. Yang ia tahu adalah ia hanya ingin mengungkapkan perasaannya secara perlahan lalu mencium Alex.
Dengan air mata yang masih membasahi pipinya, Sarah mencium pria itu. Bibirnya bahkan bergetar untuk sesaat ketika ia berhasil merasakan kembali bibir itu.
"Terlalu menyakitkan ketika aku tahu kalau pada akhirnya aku jatuh cinta padamu, Alex."
...
A/n : up up lagee😍