
Musim semi, 20xx
Reanne tersadar dari memori enam bulan yang lalu ketika ia mendengar kepala pelayan memukul meja di depannya. Reanne mengedipkan matanya sebelum memegangi dadanya yang bergemuruh karena keterkejutan.
"Reanne? Lagi-lagi kau melamun. Tugasmu masih banyak, Reanne. Jangan sampai majikan kita tahu kalau kau pemalas."
Wanita itu mendengus sebal, pemalas dari mananya? Dilihat dari manapun juga, Reanne termasuk wanita yang rajin. Ia membersihkan setiap sisi mansion besar yang mewah ini, membuat sarapan bahkan membersihkan kandang ****** di halaman belakang. Apakah ia patut untuk disebut pemalas?
"Maaf, Madam. Aku tadi sedang memikirkan sesuatu."
"Sudahlah, Reanne. Apapun yang ada di kepalamu itu, biarkan saja. Oh ngomong-ngomong, kau belum menyelesaikan tugasmu di lantai dua."
Wanita itu berjalan dengan cepat ke lantai dua untuk menghindar dari celotehan menyebalkan si kepala pelayan. Sifatnya sama saja dengan Noah brengsek itu, cocok sekali jika disandingkan.
Reanne menghela napas lelah ketika kakinya sampai di lantai dua. Ini sudah lima bulan sejak dia bekerja pada pria yang waktu itu menolongnya dari keterpurukan. Pria yang kini menjadi majikan barunya. Reanne benar-benar berhutang budi padanya karena peristiwa itu.
Sebenarnya malam ini ia sudah dibebastugaskan, hanya saja nenek sihir itu masih memaksanya untuk melakukan tugas melelahkan ini selama majikan mereka tak tahu.
Namun Reanne dengan sabar melaksanakannya, lagipula ia dibayar. Ini uang yang berharga untuknya karena bukan hasil ia menjual diri. Uang ini ia dapat dari kerja kerasnya dalam membersihkan rumah.
Ngomong-ngomong soal rumah, baru tiga minggu dia pindah ke tempat ini. Sebelumnya ia bekerja di mansion utama, tapi Nyonya besar disitu meminta beberapa pelayan untuk pindah ke rumah salah satu anaknya, yaitu Tuan Aaron. Reanne baru tahu kalau rumah ini adalah rumah baru. Nyonya besar mengatakan kalau putra sulungnya telah membeli rumah ini sejak dua atau tiga bulan yang lalu.
Wow, dasar keluarga kaya!
"Aku juga pernah kaya, walau sebentar," Gumamnya. Ia berjalan ke arah ruang santai, membersihkan apapun yang bisa ia bersihkan. Sebenarnya semuanya sudah beres, hanya saja si nenek sihir sialan itu ingin menyiksanya karena dia adalah pelayan kesayangan. Uh, maksudnya kesayangan adalah Nyonya mereka agak mengistimewakan Reanne karena Sarah mengetahui latar belakang Reanne dari putranya.
Reanne awalnya merasa tak enak karena diperlakukan demikian, tapi sepertinya keluarga Grissham menganggap itu baik-baik saja.
Dia ingat sekali saat dirinya memohon pada Aaron untuk dipekerjakan sebagai pelayan atau apapun selain menjual dirinya. Reanne ingin hidup normal disamping ia mau berbalas budi. Untungnya Aaron berbaik hati mengenalkannya pada keluarga Grissham hingga sekarang ia berada di tempat ini.
Reanne melepas jepitan rambutnya, ia duduk di atas kursi panjang di dalam ruangan itu sembari menenangkan pikirannya yang sedikit membelah.
"Reanne? Astaga, kenapa kau malah istirahat disini? Apa kau sudah mengganti bed cover di kamar Tuan muda?"
Reanne ingin mengumpat, ia baru beberapa menit duduk disini, tapi Madam Enid tak mau ia istirahat sejenak saja.
Tanpa banyak berkata, Reanne bangkit dari sana. Dia berjalan cepat melewati Enid yang menatapnya tak suka. Reanne pergi ke ruang khusus dimana perlengkapan tidur tersimpan. Ia meraih bed cover dengan motif awan lalu membawanya ke kamar Tuan Aaron. Baru kali ini Reanne mengunjungi kamar Tuannya karena biasanya tugas ini diserahkan pada pelayan senior yang tengah cuti, Grace.
Reanne menatap penuh kekaguman pada interior kamar ini. Sentuhannya benar-benar manly sekali.
Tanpa banyak bicara lagi, Reanne segera melaksanakan tugasnya. Selama lima bulan ia bekerja apa keluarga Grissham, terhitung hanya lima atau enam kali dia bertemu dengan Tuan Aaron. Hal itu membuat Reanne tak tahu banyak tentang Aaron. Sebenarnya ia ingin mengenal pria itu lebih dekat, tapi bukannya mencoba untuk menggoda pria itu. Reanne hanya ingin menjadi temannya, tapi sepertinya Aaron adalah tipe pria yang tidak membutuhkan itu. Dia bisa lihat kalau Aaron hanya berbicara jika itu menurutnya penting saja.
"Reanne, apa yang kau harapkan darinya? Cukup berterimakasih saja dan tak usah banyak rencana," Gumamnya pada diri sendiri. Reanne menyapukan pandangannya pada seisi kamar. Ia berbaring ke atas ranjang empuk milik si Tuan muda yang kaya. Ini jauh lebih empuk dibanding kasur miliknya di kamar pelayan. Reanne melirik pintu, tak ada tanda-tanda kalau Aaron sudah kembali. Dia memberanikan diri untuk menjelajahi lagi seluruh isi kamar. Mulai dari melihat bingkai-bingkai foto yang terpajang di meja putih.
Reanne meraih salah satu fotonya, ia melihat disana ada Aaron yang tengah memakai pakaian wisuda. Ia memandang betapa bahagianya Aaron bersama orangtuanya. Reanne mampu melihat adanya raut kebanggaan yang ditunjukkan oleh Ayahnya Aaron pada putranya. Oh tentu saja kan? Siapa yang tidak bangga memiliki anak seperti Aaron? Sudah pintar, tampan pula dan jangan lupakan kalau dia menuruni bakat ayahnya dalam berbisnis.
Ia tersentak saat mendengar langkah sepatu yang terasa dekat dengannya ditambah tuas pintu itu berbunyi. Ia cepat-cepat berlari ke pintu yang ia yakini akan membawanya ke kamar mandi. Sialan!
Reanne menetralkan detak jantungnya. Ia berusaha untuk berpikir normal dan menyusun sebuah kalimat yang pantas untuk ia katakan pada Aaron jika pria itu memergokinya disini.
Ia membuka pelan pintu kamar mandi untuk memastikan keadaan. Ya tuhan, ternyata benar saja. Tuan Aaron sudah kembali.
Reanne mengerutkan dahinya, pria itu tampak tak baik-baik saja. Wajahnya memerah seperti orang mabuk atau jangan-jangan memang iya?
Reanne meremas tuas pintu saat dia melihat Aaron tengah berusaha melepas sweater berbentuk turtle neck. Reanne tidak tahu kenapa matanya tak bisa lepas dari pemandangan itu. Bola matanya melebar sempurna saat ia melihat dengan jelas otot-otot tubuh yang dimiliki Tuan Aaron. Dari pencahayaan yang minim di dalam kamar, Reanne masih bisa menebak kalau Aaron adalah pria yang perkasa. Dadanya semakin tak berhenti berdegup kala melihat pria itu melepas gespernya.
Ia menggigit bibirnya kencang lalu berusaha untuk menutup mata, tapi egonya mengatakan untuk tak melakukan itu. Sial! Sial! Reanne bukannya baru pertama kali melihat tubuh pria mengingat dia dulunya *******. Hanya saja, tidak ada pria yang memiliki tubuh seksi seperti pria itu.
Reanne menyapukan matanya lagi. Sekarang selangkangannya terasa berdenyut-denyut. Aaron sudah telanjang bulat, pria itu berjalan dengan langkah gontai sebelum menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
Reanne menutup matanya sejenak. Ia memberanikan diri untuk keluar walau jantungnya terasa ingin berhenti berdetak. Reanne menarik napas dalam-dalam lalu menoleh ke arah ranjang. Mata Aaron sudah terpejam erat dan dia... Ya tuhan! Keadaannya benar-benar telanjang bulat!
"Reanne! Sadarlah! Kumohon jangan jadi ****** dulu!" Ucapnya pada diri sendiri sembari ia memukul pipinya beberapa kali.
Reanne melangkah sangat pelan, ia memejamkan matanya sedikit sebelum meraih selimut lalu menutupi tubuh telanjang Aaron yang benar-benar menggodanya saat ini. Dari sini Reanne bisa mencium aroma alkohol. Ternyata benar, Aaron sedang dalam pengaruh alkohol.
"Tu-tuan Aaron... A-apakah Anda membutuhkan sesuatu?"
Tak ada jawaban apapun. Reanne meneguk ludahnya dengan susah payah, ini tak baik. Benar-benar tak baik untuk kinerja otaknya yang dangkal. Usaha seperti apapun juga terasa sangat percuma disaat rasa ingin tahunya tentang hal tersembunyi dari Aaron semakin besar. Perlahan Reanne menjalankan telunjuknya ke sepanjang lengan penuh otot milik tuannya itu. Keras!
Dia pasti suka olahraga, pikirnya.
"Kenapa aku baru sadar kalau Tuan Aaron ini memang mempesona?" Tanyanya pada diri sendiri. Reanne tersentak saat mendengar geraman dari pria itu. Ia terlihat seperti mengendus sesuatu.
Oh, Reanne baru menyadari sesuatu. Apakah aroma parfumnya menempel di atas ranjang saat dia berbaring disini tadi? Oh tuhan!
"It teases me."
Reanne terpaku mendengar ucapan itu. Apa Aaron baru saja mengatakan kalau aroma tubuhnya menggoda?
"Tuan Aaron? A-apakah aku boleh menyentuhmu?" Yap. Reanne tahu ini gila, tapi ia tak bisa berbuat apapun karena kini ia telah dilanda gairah yang tak tertahankan. Aaron sedang mabuk berat, mungkin ia bisa memanfaatkan keadaan ini untuk mengetahui seberapa perkasa Tuannya itu.
Tanpa tahu malu lagi, Reanne naik ke atas ranjang. Ia menduduki perut Aaron dengan jantung yang nyaris copot. Ini gila, bahkan lebih gila. Namun ia tak bisa menahannya lebih lama lagi. Reanne membutuhkannya!
Aaron masih terpejam, tapi demi Tuhan! Tangan pria itu bergerak meraih pinggulnya yang ditutupi pakaian pelayan. Reanne menaruh tangannya tepat di atas dada pria itu sedangkan matanya memejam menikmati sentuhan Tuannya.
Tangan Aaron bergerak semakin ke atas, masuk ke dalam pakaiannya untuk menggapai sesuatu. Reanne memberanikan diri untuk melihat Aaron dan ia terkejut saat bola mata pria itu tak lagi memejam. Dia menatap Reanne sayu.
"Beautiful and.. sounds naughty."
"Tuan Aaron? A-anda sudah sadar?"
Aaron tak menjawab. Dapat dipastikan dia masih mabuk. Setidaknya Reanne bisa bernapas lega malam ini. Wanita itu memberanikan dirinya untuk mencium bibir Tuannya yang mengundang.
Ciumannya berbuah manis, tanpa ia sadari, Aaron membalas ciumannya dengan ganas. Pria itu bahkan menekan tengkuk Reanne kencang hingga ciuman mereka terasa sulit dihentikan.
Reanne melenguh nikmat ketika bibir pria itu mendapati lehernya lalu menciptakan noda kemerahan yang katanya sulit hilang. Namun Reanne tak peduli, dia menikmati apa yang kini tengah ia gapai.
Wanita itu balas mengecup rahang dan leher Aaron penuh nafsu hingga ada tanda kemerahan pula di leher pria itu. Oh ini menakjubkan!
Namun di tengah rasa kenikmatan yang mencoba menggelungnya ini, Reanne tersadar akan sesuatu. Dia dengan segera beranjak dari tubuh Aaron berjalan menjauhi ranjang hingga punggungnya menyentuh dinding. Reanne membawa tangannya ke atas bibir sebelum matanya memandang Aaron yang tampak kebingungan, tapi akhirnya pria itu jatuh terlelap.
"Tidak... Aku... Aku bukan ******* lagi. Aku bukan wanita bayaran!" Akhirnya Reanne memutuskan untuk keluar dari kamar Aaron. Dia menuruni tangga dengan cepat untuk segera sampai ke kamarnya. Sebelumnya matanya sempat bertemu dengan Madam Enid, tapi ia tak peduli lalu masuk dan mengunci pintu kamarnya.
...
Reanne tengah membersihkan meja ruang tamu saat ia mendengar ada tamu yang datang. Madam Enid membuka pintu lalu tunduk hormat pada Nyonya Grissham dan Nona muda Alaina yang datang.
Mereka tampak berbincang tentang sesuatu sebelum Enid memintanya untuk membuatkan minuman dingin. Reanne dengan segera pergi ke dapur untuk membuatkan minuman yang tadi diperintahkan oleh Enid. Jangan sampai ia berbuat kesalahan.
"Reanne?"
"Iya Nona?"
Alaina menatapnya dengan senyuman. Kadang kala Reanne merasa iri karena Alaina sangat cantik, dia seperti malaikat. Wajarlah jika Aaron berwajah tampan, adik kembarnya saja cantik. Keluarga Grissham memang punya bibit unggul.
"Sudah lama aku tak melihatmu. Bagaimana disini? Apakah nyaman bekerja dengan kakak es ku itu?"
Reanne tidak tahu dirinya harus tertawa atau tidak, tapi yang jelas ucapan itu setidaknya membuat dia ingin sekali tertawa.
"Iya Nona. Tuan muda sangat baik."
Alaina tak lagi menjawab. Alisnya terangkat sedikit saat melihat ada tanda kemerahan di bagian leher Reanne. Bukan satu, tapi ada dua.
"Reanne? Luka memar bekas apa itu?"
Dia mengikuti arah pandang Alaina pada lehernya dan seketika mata Reanne melebar ngeri. Ya tuhan! Bagaimana dia bisa lupa dengan kissmark sialan ini? Karena ulahnya semalam lah tanda ini muncul!
"Oh i-ini.. uhm.."
"Kau dicium ya?"
Dalam hati Reanne ingin mengumpat. Kenapa Alaina sangat frontal sekali saat mengatakannya? Dia gadis yang peka rupanya.
"Bu-bukan, Nona. A-aku, ini..."
"Aku hanya bercanda, Reanne. Ya sudah, aku bawa minuman ini ke lantai atas ya? Aku ingin menemui kakak."
Reanne tak sempat berkata apapun lagi. Alaina pergi sambil membawa nampan berisi minuman itu, meninggalkan dia dengan rasa malunya yang besar.
Di lantai atas, Alaina masuk ke dalam kamar kakaknya. Ibunya sudah berada di dalam sana, tampaknya mereka tengah berbicara.
"Mom mengerti kalau kau semalam itu kesal, Aaron. Aku bisa melihatnya, tapi tak bisakah kau bersikap sopan pada keluarga Brittany?"
Aaron menatap ibunya jengah. Apakah pembahasan ini tak ada ujungnya?
Alaina menaruh nampan tadi di samping ranjang lalu ia duduk di atas ranjang sembari mengamati kakak dan ibunya yang tengah terlibat percakapan.
"Mom, aku setuju dengan pendapat Aaron. Brittany itu memang cantik, tapi dia terlalu materialistis. Memang dia baik cuma tak ada dari kami yang menyukainya."
Sarah menatap mata putrinya itu lalu menggeleng seakan mengatakan kalau dia jangan memanasi suasana.
"Kumohon, Mom. Berhenti ikut campur dalam hidupku."
Ucapan itu membuat Sarah bungkam. Kalimat yang diutarakan Aaron mengingatkan dirinya akan mendiang mertuanya, Marilyn. Alex pernah berkata hal semacam itu pada ibunya dulu dan Sarah tahu benar alasan kenapa pria itu mengatakan nya.
Wanita itu memegang punggung tangan putranya sebelum mengelusnya pelan,"Kau benar-benar terlihat seperti ayahmu, Aaron. Namun tak apa, Mom tak akan memaksamu untuk menikahi Brittany. Hanya saja, jika ada pertemuan dengan keluarganya, usahakan kau bisa hadir, nak. Jangan seperti semalam."
Aaron hanya mengangguk paham. Sarah kemudian mengecup dahi putranya lalu beranjak keluar, meninggalkan Alaina dan Aaron berdua di kamar.
"Kak, ibu terlihat sedih."
Aaron menghembuskan napasnya, dia meraih minuman dingin itu lalu menyesapnya sebelum meletakkan gelasnya kembali ke atas nampan.
"Lalu aku harus apa? Menikahi Brittany agar ibu senang?"
Alaina menggeleng kecil. Tidak seperti itu juga sih.
"Jadi semalam kau kemana? Menghilang lalu ponselmu mati."
"Kelab."
Alaina membulatkan matanya,"Jangan bilang kau--"
"Please, jangan berlebihan. Aku hanya minum beberapa gelas," Potongnya.
"Aaron, kenapa kau tidur telanjang?"
Aaron memerhatikan tubuhnya sebelum melempar bantal tepat di depan wajah adik kembarnya.
"Pergi saja sana."
Alaina menatapnya kesal. Mata tajamnya tak sengaja melirik tanda bekas ciuman di leher kakaknya. Sama dengan milik--
Gadis itu membulatkan kedua matanya. Apa jangan-jangan semalam terjadi sesuatu antara Aaron dan Reanne?
Hanya Aaron sendiri yang bisa menjelaskan itu. Alaina dengan segera beranjak keluar kamar. Dirinya mau bertanya pada Reanne langsung.
Aaron menatap kesal ke arah pintu dimana Alaina baru saja keluar. Tidak bisakah mereka membiarkan dirinya tenang sejenak?
Pria itu meraih handuk putih dari dalam laci nakas, melilitnya di pinggang sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Aaron tak mengingat apapun semalam. Dia mabuk dan semuanya terlupakan begitu saja.
...
Reanne tidak tahu mengapa tadi pagi Alaina menanyakannya pertanyaan aneh. Ia pasti mencurigai sesuatu dan semoga saja tadi pagi adalah yang terakhir Alaina menanyai dirinya soal ciuman.
"Oh, Reanne?"
Dia tersentak lalu dengan cepat menoleh ke belakang,"Tu-tuan?"
"Maaf jika aku mengejutkanmu. Tolong buatkan aku teh madu hangat dan bawa ke ruang kerjaku ya?"
Reanne langsung mengangguk, dia berjalan cepat melewati Aaron untuk segera menyelesaikan tugasnya.
Aaron terpaku.
Aroma ini...
Aroma yang terasa familiar.
Ia membalikkan tubuhnya, menatap punggung Reanne yang tegang. Sungguh, wangi yang menguar dari rambut wanita itu terasa sangat familiar. Seperti ia sudah pernah menciumnya.
"Reanne? Apa kau ke kamarku semalam?"
...