
Keesokan harinya.
Sarah menggelung rambutnya ke atas lalu meraih pakaian dari dalam lemari. Ia harus mengucapkan terima kasih pada Joseph karena pria itu dengan baik hati membelikan pakaian untuknya. Sarah sudah menganggap Joseph seperti saudaranya sendiri dan ia berdoa agar Joseph dapat dipertemukan dengan wanita yang baik hati pula.
Ia menoleh ke arah ranjang, Alex masih tertidur pulas. Pria itu terlihat tenang dan damai ketika tidur, Sarah betah jika harus menatapnya sepanjang hari.
Dia mengecup pipi Alex sebelum berjalan keluar kamar untuk membuat sarapan.
Ketika kakinya sampai di dapur, ia melihat semua hidangan sudah tersaji.
"Akhirnya kau bangun."
Ia menoleh ke belakang saat mendapati Joseph datang. Pria itu menyiapkan piring ke atas meja lalu menarik kursi,"Mana suamimu? Saatnya sarapan," Tanyanya.
"Tunggu, kau yang membuat ini?"
Joseph mengendikkan bahunya,"Well, kau benar. Aku tidak tega membangunkan kalian berdua karena kalian pasti lelah kan?"
Sarah mengangkat alisnya,"Hah?"
"Such a long night for you two, right?"
Pipi Sarah memerah seketika. Ia benar-benar malu dan apakah Joseph mendengar itu semua? Ah sialan, kenapa ia bisa lupa kalau rumah ini bukanlah tempat yang luas, jadi suara-suara yang muncul tadi malam pasti bisa terdengar hingga ke lumbung.
"Tidak apa, jangan malu. Aku mengerti kalau kalian hanya melepas rindu. Lagipula, suara tv ku jauh lebih besar," Katanya lagi membuat Sarah semakin merasa tak enak.
"Su-sudahlah, kau sarapan saja sana. A-aku akan membangunkan Alex," Balasnya lalu dengan cepat masuk kembali ke dalam kamar.
Sarah menutup pintu kamar. Ia mengangkat alisnya ketika melihat ranjang yang sudah kosong. Pintu kamar mandinya tertutup rapat dan pasti Alex berada di dalam sana. Dia berjalan mendekati pintu kamar mandi lalu mengetuknya beberapa kali.
"Apa kau membawa pakaian ganti?"
Tak terdengar jawaban dari dalam sana, hanya terdengar suara air. Sarah menghela napasnya, dia akan meminjam pakaian Joseph saja. Ukuran pakaian mereka sepertinya sama walau Alex punya otot yang lebih terlihat.
Dia tersentak saat suara ponsel terdengar. Wanita itu meraih ponsel Alex di samping ranjang dan melihat kalau ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Sarah memencet tombol hijau lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Akhirnya aku bisa menghubungi mu. Alex, ini aku Jake. Pulanglah, Reginald kabur malam tadi. Aku mendengar kabar ini dari Zack dan asistenmu itu memintaku untuk memberitahumu. Nathan sudah mencoba melacak Reginald, tapi untuk saat ini belum ada informasi apapun. Halo? Alex?"
"Ma-maaf. Aku Sarah, Alex sedang mandi," Balasnya. Sarah menggigit bibirnya, tampaknya ini masalah yang berat dan sepertinya Alex harus pulang hari ini juga.
"Oh Sarah? Kau sudah bersama Alex? Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Bisa tolong katakan pada Alex kalau ada masalah di Kanada? Kalian harus pulang," Pintanya.
Sarah hanya mengatakan iya. Dia menutup ponsel itu lalu meletakkannya kembali ke atas meja. Ia memilih duduk di pinggir ranjang sembari menunggu Alex selesai di dalam sana.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi dibuka. Alex sudah rapi dengan pakaian barunya. Bukankah dia tak membawa pakaian?
"Aku mengambilnya di mobil subuh tadi. Ini bukan baju Joseph," Ucap Alex.
"Uhm, tadi Jake menelepon mu. Aku mengangkatnya."
"Benarkah? Dia bilang apa?" Pria itu meraih ponselnya untuk melihat riwayat panggilan. Disana ada nomor tak dikenal, seperti biasanya Jake selalu menggunakan nomor yang berbeda. Tidak tahu kenapa ia begitu.
"Dia menyebut nama seseorang. Kalau tidak salah, Reginald. Jake bilang orang itu kabur," Jawabnya.
Alex mengumpat pelan. Dia dengan cepat mencari nomor Zack lalu menghubunginya. Baiklah, saat ini masalah baru muncul. Pria brengsek itu pasti mencari Calyria, sialan.
Sarah melihat raut wajah Alex seperti marah. Sebenarnya ada apa? Siapa Reginald ini?
Alex kembali mengumpat saat Zack tak menjawab teleponnya. Baiklah, saat ini apa yang harus ia lakukan?
"Apa Jake berkata hal lain?"
"Dia meminta mu untuk pulang," Jawab Sarah. Pria itu menghembuskan napasnya. Untuk saat ini dirinya tak bisa kemana-mana mengingat Sarah yang tidak mau pulang ke Kanada. Alex tidak bisa memaksa wanita itu untuk ikut pulang bersamanya, tapi dia juga tak bisa jika harus kembali berpisah. Tentu saja Alex takut jika Sarah kembali pergi entah kemana.
"Alex, jika kau mau kembali ke Kanada, silahkan saja. Aku akan menghubungi mu jika--"
"Aku tak akan pergi kemanapun tanpa dirimu. Demi Tuhan Sarah, aku baru saja bertemu denganmu tadi malam dan aku tak akan berpisah darimu lagi," Potongnya. Sarah terdiam mendengar balasan Alex. Dia begitu serius dan Sarah terpesona dengan semua rasa peduli yang Alex berikan untuknya.
"Kenapa kau mau repot-repot melakukan hal itu untukku?"
Wanita itu bangkit dari posisinya lalu berdiri tepat di depan Alex.
Dia menggenggam kedua tangan Sarah dengan erat lalu mengecupnya satu persatu,"Satu-satunya alasan kenapa aku berada disini, itu karena aku baru menyadari kalau aku benar-benar jatuh cinta padamu, Sarah. Aku seperti orang gila saat itu, memarahi siapapun bahkan membentak setiap orang karena tak ada yang mengenalmu. Aku lupa kapan aku makan, tidur atau bahkan mandi. Semuanya tidak penting bagiku karena pikiranku hanya terpenuhi olehmu."
"Maka dari itu, aku mencari informasi sampai ke ujung Florida sekalipun dan enggan untuk kembali ke Kanada hingga kau berhasil aku temukan dengan mata kepalaku sendiri." Katanya.
"Kau... Apa?"
Alex meraih dagu wanita itu, ia lalu tersenyum kecil,"Kau tidak salah dengar. Aku telah jatuh cinta padamu Sarah. Aku memang bodoh karena baru mengakui itu hari ini, tapi tidak ada kata terlambat bukan?"
Sarah menangis terharu, dia memeluk tubuh Alex lalu keluarlah isakan dari bibirnya. Alex mencium puncak kepala Sarah, ia mengelus punggung wanita itu dan mengisyaratkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Aku mencintaimu, Alex. Aku sangat mencintaimu," Balas Sarah.
Dia enggan untuk melepas pelukan ini, tapi bunyi pintu yang dibuka memaksanya untuk melepas diri.
"Oh maaf. Tadinya aku hanya ingin memanggil kalian untuk sarapan," Kata Joseph.
Sarah menghapus air matanya, ia tersenyum kepada Joseph dan mengatakan kalau mereka akan menyusul ke meja makan.
"Sarah, kau percaya padaku kan?"
Sarah mengangguk,"Aku selalu percaya padamu, Alex. Seharusnya aku tak pernah meragukanmu," Jawabnya. Setelah semua ini, apalagi yang mesti Sarah takutkan? Ia bisa melihat cahaya cinta dari mata Alex dan satu hal yang membuatnya yakin adalah karena Alex tak pernah bermain-main dengan ucapannya. Pria itu merupakan pria yang konsisten dalam berbicara.
Alex mendekap tubuh Sarah dengan hati-hati, perut wanita itu membesar dan ia tak mau menyakiti dua bayi di dalam sana.
"Oh ya, Alex. Aku sudah membuat nama untuk kedua bayi kita. Apa kau mau dengar?"
"Benarkah? Nama apa yang kau berikan?"
"Yang pertama bernama Aaron dan yang kedua bernama Axelle. Apa kau menyukainya?"
Alex tertawa kecil,"Tentu saja aku menyukainya dan ternyata kau menggunakan awalan namaku pada mereka," Senyum yang Alex timbulkan kini menular pada Sarah. Wanita itu ingin kalau anak-anaknya punya sifat berani seperti Alex. Dan harapannya adalah dengan kehadiran bayi-bayi ini, mereka bisa menjadi lebih dekat.
"Ya sudah, lebih baik kita sarapan sekarang karena teman pria mu itu tak mau menunggu," Kata Alex. Sarah mengikuti langkah kakinya keluar kamar untuk menemani Joseph yang tengah makan sendirian di dapur.
Pria itu hanya menyapa dengan senyuman sambil terus mengunyah roti isi yang ia buat sendiri. Mata hijaunya tak sengaja melirik jari manis Sarah ataupun Alex yang tidak terpasang cincin pernikahan. Oh ayolah, padahal baru saja berbaikan, tapi mengapa tak ada cincin?
"Dimana cincin kalian?"
Alex mengerut bingung,"Cincin apa?"
"Bung, kalian menikah, tapi tak punya cincin?"
Sarah mengutuk dirinya sendiri, dia lupa kalau Joseph belum tahu soal hubungan dia dan Alex.
"Joseph, maaf kalau aku lupa bilang. Sebenarnya aku dan Alex belum menikah. Kami, masih dalam proses untuk itu," Jawab Sarah. Joseph terkejut tentu saja, tapi dia dengan cepat mengontrol keterkejutannya dengan berdeham. Ia tak percaya kalau Sarah belum menikah, tapi baguslah kalau Alex akan menikahinya segera karena mereka akan punya bayi. Tak apa terlambat menikah daripada tidak sama sekali?
Sarah segera meraih piring lalu mulai memakan sarapannya, begitu pula Alex. Jika obrolan ini diperpanjang, maka tak akan ada habisnya.
Suara ponsel Alex menggema di tengah keheningan itu. Dia pamit untuk menjawab panggilan tersebut karena sepertinya penting.
"Sarah, apa pria mu itu orang penting? Karena kelihatannya seperti itu," Tanya Joseph.
"Ya, begitulah. Kau tak akan mengerti jika aku bilang."
"Kapan kalian akan kembali ke Kanada?"
Sarah mengaduk-aduk sup di mangkuknya. Ia sebenarnya ingin kembali ke Kanada, tapi entah kenapa rasanya akan ada hal buruk jika mereka pulang. Perasaan tak enak yang sedari tadi Sarah rasakan.
"Pulanglah bersamanya, Sarah. Dia itu punya jabatan penting kan? Bisa bahaya jika dia pergi terlalu lama," Cetusnya. Sarah tampak berpikir sejenak, Joseph ada benarnya juga. Alex mungkin punya masalah lain di Kanada dan dia tak bisa jika terus-menerus berada di peternakan ini. Sarah harus bisa lebih bijaksana.
"Ya, akan aku bilang padanya kalau kami pulang hari ini," Putusnya kemudian. Joseph setuju saja dengan keputusan Sarah lagipula terlalu banyak orang asing bisa membuat dia sedikit merasa tak nyaman berada di dalam rumah.
...
A/n : yuhuu😇❤️❤️ like dan komen agar saya bisa up banyak banyak🎉🎉