Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 18



Sarah mengerjapkan matanya, ia tersenyum kikuk dan bergerak salah tingkah,"Ti-tidak, kau saja duluan. A-aku akan berbicara setelah kau," Balasnya. Alex mengernyit tak suka, ia berniat melangkahkan kakinya sedikit lebih dekat pada Sarah tapi wanita itu lebih dulu memintanya untuk berhenti,"Hei, tetap disana. Ja-jangan berdiri terlalu dekat."



"Kenapa?" Alex menyipitkan matanya sedangkan Sarah hanya menggeleng. Wanita itu hanya tidak ingin perasaannya semakin membesar jika Alex berada beberapa sentimeter saja darinya. Dia takut lepas kendali.



"Ya ka-kau tak ingin berkata, jadi mungkin aku-- AHH!" Sarah berteriak kencang karena ia tidak sadar kalau kakinya tak menyentuh permukaan lantai ketika ia perlahan bergerak menjauh. Tidakkah ia lupa kalau sedari tadi dia berdiri di pinggir kolam?



Teriakan kencang itu diiringi dengan tarikan kuat pada sesuatu. Sarah tak punya pilihan selain menarik kaus yang Alex kenakan hingga pria itu ikut terjatuh bersamanya ke dalam kolam karena insiden tiba-tiba ini.



Sarah kembali muncul ke permukaan setelah membuat dia dan Alex tercebur ke dalam kolam yang dingin itu. Ia menoleh ke belakang lalu melihat Alex disana, pria itu menyugar rambutnya sebelum mengusap wajahnya yang basah. Sejenak, Sarah terpesona. Alex dengan kaus hitamnya yang melekat pas pada tubuhnya karena pria itu basah oleh air, ia terlihat jauh lebih menggoda. Juga lengannya yang kekar saat dia mengusap wajahnya atau ketika rambut Alex yang basah itu menutupi dahinya dengan posisi yang sempurna. Oh Sarah, sebutlah ini keberuntungan untukmu.



"A-Alex! Aku minta maaf. Ya Tuhan, aku begitu ceroboh," Setelah kembali pada kesadarannya, Sarah segera menatap Alex dengan tatapan tak enak. Namun, pria itu hanya balas menatapnya dengan sebuah seringaian. Perlahan, Alex berjalan mendekati Sarah, menyudutkan wanita itu ke pinggir kolam sebelum mengurungnya dengan kedua tangan.



"Kau basah."



"A-apa? Aku apa?" Tanyanya dengan pipi yang merona.



"Kau mendengarnya dengan jelas--" Alex mendekatkan bibirnya pada telinga Sarah,



"--Kau basah," Lanjutnya.



Sarah mendorong pelan bahu Alex yang basah. Ia mengalihkan tatapannya pada sekumpulan bunga di dekat air mancur kecil. Tampaknya itu lebih baik untuk dilihat dibandingkan wajah panas Alex di hadapannya.



"Sarah," Suara pria itu terdengar begitu serak. Sarah menahan napasnya ketika jemari Alex menarik pelan dagunya, untuk kembali menatap iris seperti samudera di depannya ini. "I want you," Katanya.



Sarah merasa lututnya semakin melemas, ia ingin berbicara tapi kata-katanya serasa tersangkut di ujung bibir. Mata hitamnya bergerak penuh antisipasi pada bibir Alex yang terbuka, pria itu bisa saja langsung menciumnya tanpa aba-aba dan Sarah yakin dia tidak akan bisa bertahan jika Alex terus-menerus mendominasi setiap permainan yang mereka ciptakan.



"Tidak, Alex. A-aku--"



"Sshh, kau menolak terlalu sering. Ayo kita lakukan dengan perlahan. Di bawah air."



Sarah melebarkan matanya ketika Alex mencium sudut bibirnya lalu semakin bergerak untuk melumat secara sempurna bibirnya. Wanita itu memejamkan mata, ia mulai terlena ketika Alex menciumnya pelan. Hal itu mampu untuk meruntuhkan semua tembok yang Sarah bangun dalam hatinya. Wanita itu mengalungkan tangannya pada leher Alex, ia membiarkan tangan pria itu menariknya lebih dekat lalu melepas perlahan potongan pakaian yang melekat di tubuh sintalnya.



Mereka mengakhiri ciuman itu dengan napas yang terengah-engah. Alex dengan kasar merobek celana pendek beserta celana dalam yang wanita itu kenakan, membuat Sarah merasa tubuhnya semakin terbakar oleh gairah yang pekat. Dia membiarkan Alex melakukan semuanya, semua sudah terlanjur dan Sarah tetap tidak bisa untuk menolak apapun itu. Karena ia sendiri menikmatinya.



"Aku belum pernah bercinta di dalam air, bagaimana menurutmu? Apakah rasanya akan sama saja?"




...



Sarah mengaitkan bra nya ketika matanya melirik Alex yang duduk di pinggir ranjang. Dia meraih gaun merah yang Alex belikan untuknya lalu memakainya dengan cepat. Tadinya dia ingin memasak makan malam tapi Alex berkata kalau  malam ini mereka akan menghadiri suatu acara dan Alex meminta Sarah untuk menjadi pendampingnya malam ini.



Sarah menggigit bibirnya, dia menatap tubuhnya sendiri melalui kaca full body yang ada di dalam walk in closet ini. Gaun merah itu melekat pas di tubuhnya, membuat Sarah jauh lebih seksi dan terkesan sangat elegan. Bagian punggungnya terbuka lebar-- mengekspos punggung mulusnya yang tidak cacat sedikitpun. Panjangnya hampir menyentuh lantai tapi tetap saja, Sarah terlihat begitu cantik memakainya. Permata berkilauan juga menambah kesan mewah pada gaun itu, oh tentu saja, Alex tidak mendapatkan gaun ini sembarangan. Ia berkata kalau Sarah berhak memilikinya dan itu harus spesial.



Sarah menghela napasnya, dia mendorong pintu ruangan itu untuk kembali ke kamar lalu meminta pendapat Alex tentang gaunnya.



"Uhm, Alex?"



Pria itu menoleh pada asal suara, seketika Alex terpana. Sarah jauh lebih cantik dan sialnya itu tidak baik untuk kinerja jantungnya yang akhir-akhir ini tidak waras. Sebuah senyum tipis akhirnya tercipta dan Alex menepuk tangannya beberapa kali,"Kau begitu indah. Benar-benar perpaduan yang pas," Ucapnya. Sarah tersipu malu, ia berjalan ke meja rias dan duduk di depannya. Kali ini dia akan sedikit berdandan dengan tetap menjaga kesan natural pada wajahnya. Lalu setelah itu ia akan membentuk rambutnya yang panjang atau mungkin cukup menggerainya saja tanpa dibuat macam-macam.



Netra hitamnya menatap pantulan Alex yang mendekatinya. Mata mereka saling bertemu, Sarah tersentak saat kedua tangan Alex menyentuh bahunya lalu meremasnya pelan.



"Aku punya sesuatu untukmu," Ia berujar dengan nada yang pelan. Alex meraih sesuatu di sudut meja rias, lalu membuka kotaknya. Ia mengeluarkan sebuah kalung lalu menunjukkannya pada Sarah,"Ini untukmu."



Sarah menatap kalung itu dengan penuh kekaguman. Oh tuhan, itu adalah kalung terindah yang pernah ia dapat selama 22 tahun ia hidup. Sarah bersumpah kalau itu satu-satunya perhiasan paling indah dalam hidupnya. Matanya tidak berhenti memuja keindahan liontin yang menghiasi kalung itu. Bentuknya sederhana tapi Sarah yakin itu sangat mahal, kesederhanaan kalung itu bahkan lebih mahal daripada sepatunya. Pasti!



"Mau kupakai kan?"



"Oh, i-iya," Jawabnya.



Sarah menyampirkan rambutnya ke depan dan Alex perlahan melekatkan kalung itu ke sekeliling leher Sarah sebelum menyatukan pengaitnya. Mata biru pudarnya melirik ke arah cermin, dimana Sarah terlihat istimewa dengan perhiasan yang ia berikan dan Alex menyukai itu.



"Kau cantik. Sangat cantik," Pujinya.



Lagi-lagi Sarah tersipu. Ia mungkin terlihat jelas seperti jalang yang menerima semua pemberiannya Alex seperti ini dan semua orang akan mengecapnya demikian. Namun Sarah tak peduli, ia bukannya ingin memanfaatkan ini untuk dirinya sendiri. Tidak, ia tidak pernah memikirkan itu. Hanya saja dengan segala bentuk perlakuan manis dari pria yang telah memberinya hadiah ini, Sarah semakin menyadari sesuatu kalau ia sebenarnya sudah mulai jatuh terlalu dalam pada pesona Alex hingga ia sulit untuk melepaskan diri. Sebagian dari dirinya berkata kalau dia memang mencintai Alex.



...



A/n : kemarin ga update karena saya ada urusan. maaf ya :) like dan komen buat lanjut :)