
"Aku dan Hans tak punya anak. Aku mandul dan beruntungnya aku mendapat pria setia seperti Hans. Kulihat kau sedang hamil, nak. Pastilah kau dan suamimu sangat bahagia."
Sarah bingung ingin mengatakan apa. Dia cukup malu jika harus jujur dengan keadaannya sekarang ini.
"Dimana suamimu?"
"Oh i-itu.. tadi dia sedang mencarikan minuman untukku dan dia bilang aku harus menunggu disini karena aku mudah lelah," Eurice tersenyum penuh keharuan. Dia mengelus pundak Sarah dengan begitu lembut lalu memberinya satu senyuman,"Dia suami yang baik. Pastilah dia mencintaimu, itu sebabnya dia rela melakukan apapun untukmu. Aku berdoa pada Tuhan agar tak ada hal buruk menimpa rumah tangga kalian," Balasnya. Sarah tak dapat menahan air matanya lagi, ia pun memeluk tubuh wanita itu dan mengucapkan kata terimakasih nya. Ya, Sarah berharap kalau ia dan Alex bisa memiliki masa depan seperti itu. Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan Alex dan mati di pelukan pria itu. Tuhan tahu betapa ia mencintai Alex bagaimana pun sifat dan rupanya.
"Te-terimakasih banyak Eurice," Ucapnya. Wanita tua itu hanya mengusap punggung Sarah.
"Sarah?"
Keduanya menoleh saat mendengar suara. Sarah segera menghapus air matanya dan memberi Alex sebuah senyuman,"Kau bawa minumanku?"
Alex mengangguk lalu memberi botol mineral itu pada Sarah. Pria itu mengeluarkan ekspresi bingung pada wanita tua di samping Sarah yang tampak asing.
"Alex, ini Eurice. Dia penduduk lokal disini, kami tak sengaja bertemu. Dia sangat ramah."
Wanita tua itu ******** senyum saat melihat Alex. Dia lalu menjabat tangan Alex,"Kau adalah suami yang baik, nak. Jaga istri dan anakmu dengan baik ya, jangan buat dia kecewa apalagi kau sakiti hatinya. Karena pria sejati tak mungkin menyakiti wanita yang ia cintai. Kau benar-benar mengingatkan ku pada Hans," Katanya.
Alex tertegun mendengar perkataan wanita itu. Ia hanya mengangguk beberapa kali. Kinerja otaknya sedikit melambat, tapi Alex merasa kalau itu adalah tanggung jawab terbesarnya. Dia tak mau pria lain yang menggantikan posisi sebagai pelindung Sarah.
Setelah berbincang kecil serta nasihat demi nasihat yang diberikan oleh Eurice, wanita tua itu memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Dia punya banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan jadi Eurice pamit lebih dulu. Sepeninggal wanita itu, Alex dan Sarah pun memutuskan untuk pergi makan di hotel tempat mereka menginap.
Mereka berdua pergi menaiki gondola. Sarah tak banyak berbicara, dia lebih ingin menikmati semilir angin dan riak air yang tidak begitu besar. Ia melihat pantulan dirinya sendiri dari permukaan air yang bergelombang lalu menyadari kalau kehidupannya sudah berbeda. Tujuannya sudah tak sama seperti dulu. Ia akan punya bayi, statusnya pun kini berganti. Apa Sarah tetap menginginkan uang? Atau melanjutkan kuliahnya?
Tidak. Sarah tak menginginkan itu lagi, karena yang ia inginkan adalah bersama Alex dan mendapatkan cinta pria itu. Ya, semuanya sudah berubah. Hanya waktu yang bisa menjawab seperti apa akhirnya nanti.
Sarah menghela napasnya, dia tersentak saat jemari Alex menggenggam tangannya. Dia menoleh lalu seketika itu pula matanya terkunci pada iris biru pudar milik Alex.
"Ada yang kau pikirkan?"
Buru-buru Sarah menggeleng,"Tak ada. Aku hanya suka melihat tempat ini," Jawabnya.
Alex mengikuti gerakan mata Sarah yang tak menentu. Ia menemukan sedikit ketakutan bahkan ribuan rasa sakit yang sebenarnya sedang ia sembunyikan. Hal itu sedikit membuat hati Alex tercubit, ia tahu, Sarah adalah pihak yang paling dirugikan. Mau bagaimana pun dia menghibur wanita itu, Sarah tetap merasakan sakit.
Keduanya akhirnya sampai kembali ke hotel. Alex menuntun Sarah untuk melompat kecil dari gondola ke permukaan tanah dengan hati-hati. Setelahnya mereka pun berjalan beriringan ke teras belakang hotel lalu memilih meja makan yang kosong.
Seorang pelayan berjalan mengikuti mereka sambil membawa daftar menu.
"Kau ingin sesuatu?" Tanya Alex. Sarah menaikkan satu alisnya, ia tidak mengerti. Makanan macam apa semua ini?
"Semuanya dalam bahasa Italia, aku tidak tahu," Jawabnya.
Alex lalu menutup buku menunya,"Berterima kasih lah karena aku pernah kemari dulu."
Alex menjentikkan jarinya untuk memanggil pelayan muda itu kembali. Dia berbicara dalam bahasa Italia dan tampak si pelayan itu tersenyum sambil membawa lagi buku menu itu.
"Apa yang kau katakan padanya?"
"Aku hanya bilang padanya kalau teman kencan ku menginginkan menu spesial di tempat ini. Kenapa?"
Pipi Sarah memerah seketika. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain karena tak bisa menahan senyuman itu.
"Seharusnya jangan katakan hal seperti itu," Cicitnya. Alex tergelak di tempatnya, dia lalu mengetuk meja bundar itu dengan telunjuknya.
"Lalu apa aku harus mengatakan padanya kalau aku ingin bercinta denganmu di atas meja sialan ini?"
"Alex! Bicaramu kotor!" Wajah Sarah kian memanas. Ia mendengus kesal ketika mendengar Alex tertawa, tapi hal itu sedikit melegakan hatinya. Suara tawa Alex terdengar begitu lepas dan ia tak pernah melihat hal itu.
"Alex."
"Apa?"
"Aku hanya penasaran bagaimana kehidupan mu dulu. Maksudku, seperti apa dirimu?"
Alex tak lekas menjawab. Dia berdeham lalu matanya melirik beberapa orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka sebelum kembali memandang Sarah yang sepertinya tidak menyerah dengan pertanyaannya.
"Apa yang harus aku katakan? Aku kehilangan ayahku sejak lama lalu aku dan ibuku sempat hidup kesusahan karena terlilit hutang di perusahaan. Mom bukan orang yang pandai mengurusi hal semacam itu, sejak kematian ayah, aku tahu dia berusaha keras untuk menghidupi ku. Bahkan saat itu aku pernah mendengar kalau Mom hampir menjual dirinya sendiri untuk melunasi hutang-hutang kami. Well, menyakitkan ketika mengingatnya. Mungkin kau mengira kalau aku ini anak orang kaya bukan? Itu tak benar menurutku, karena aku merasakan bagaimana susahnya untuk makan saat itu," Jelasnya.
Sarah mengunci bibirnya rapat-rapat. Oh ia tak tahu tentang hal itu, karena Alex tak pernah terlihat menyedihkan seperti yang ia katakan. Sarah selalu melihat wajah Alex yang angkuh, penuh kekuasaan dan seorang pekerja keras. Pantas saja ia begitu murka ketika nama baiknya tercoreng, Alex mungkin takut kalau hal serupa kembali terjadi pada dirinya dan ibunya.
"Alex, aku--"
"Minta maaf? Sudahlah, itu semua sudah berlalu. Lagipula kurasa aku memang butuh teman cerita," Potongnya. Pria itu bisa berkata dengan santainya, tapi Sarah bisa melihat kalau Alex sedang bersedih. Apakah separah ini efek ketika dia kehilangan ayahnya? Apa karena itu juga Alex membenci Elle?
"Alex, apa kau pernah merindukan adikmu?"
Pria itu menghela napasnya. Dia menumpukan kedua tangannya di atas meja bundar itu,"Entahlah... Jika mengingatnya, rasa sakitku selalu hadir," Jawabnya.
"Bisakah kau merasakan perasaannya? Bagaimana jika dia tahu kalau kakaknya sendiri membenci dirinya? Apa kau bisa merasakan itu?"
Alex melipat bibirnya, langit seketika menjadi mendung. Hujan memang belum turun, tapi udaranya semakin dingin menusuk.
"Aku tahu rasanya."
Sarah menatap sendu padanya. Dia mengelus perutnya sendiri sembari menaruh harapan,"Lalu bagaimana dengan perasaan bayi ini jika dia tahu kalau ayahnya sendiri menolak kehadirannya? Apa kau bisa merasakannya?" Tanyanya. Nada bicaranya mulai melemah dan hati Alex kian tercubit mendengar cara Sarah berbicara.
"Sarah, kenapa kau begitu yakin kalau mereka perempuan?"
"Sama sepertimu, Alex. Kenapa kau yakin kalau bayi-bayi ini laki-laki? Kau memanggil mereka jagoan, seakan menegaskan kalau kau memang tak menginginkan anak perempuan dan apa kau sadar kalau itu membuatku sedih? Atau apa kau sadar kalau ucapanmu sedikit menyakiti bayi ini?"
Alex tak membalas lagi. Dia tahu, dia paham dengan apa yang dikatakan oleh Sarah. Wanita ini tak akan menyerah begitu saja, Alex bisa merasakan itu.
Pelayan pria tadi mengantarkan pesanan mereka lalu menaruhnya ke atas meja tanpa memedulikan apa yang sedang Sarah dan Alex bicarakan. Setelah itu pelayan tadi pun pergi karena tugasnya selesai.
Sarah menatap hidangan yang tersaji tanpa minat. Keinginannya untuk makan sudah lenyap entah kemana.
"Aku mencintaimu, Alex. Sangat mencintaimu hingga aku sendiri merasa bodoh. Namun, jika itu bisa membahayakan bayi dalam rahimku... Aku rela melepas cintaku demi mereka," Katanya.
Alex mengetatkan rahangnya, ia kesal. Ya, benar-benar kesal. Alex tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini, dia merasa hampa ketika Sarah tiba-tiba berdiri dari kursinya dan perlahan meninggalkan Alex di tempat itu seorang diri.
Pria itu menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar. Alex berdiri dari sana lalu mengejar Sarah yang berjalan lesu tak jauh darinya. Dia menarik pinggang wanita itu sampai tubuh mereka bertabrakan.
Sarah terkesiap, dia masih diam tak bergerak ketika kedua tangan Alex merayap dari pinggangnya hingga berhenti tepat di atas perutnya.
"Aku tahu kau sakit hati karena semua ucapanku, tapi Sarah, aku punya trauma. Diam-diam aku selalu mengunjungi psikiater hanya untuk mengobati luka lama itu karena aku tahu kalau aku tak bisa selamanya menghindari rasa takutku. Namun semuanya selalu gagal. Aku tetap tak bisa menghilangkan memori itu," Bisiknya.
Sarah melepas tangan Alex, dia membalikkan tubuhnya lalu memeluk pria itu dengan erat hingga rasanya tercekik.
"Oh Alex, kenapa kau tak bilang padaku kalau kau juga ingin trauma itu pergi? Hum? Beri aku dan bayi ini kesempatan Alex, kumohon. Kau harus mencobanya," Ucap Sarah. Ia menangkup kedua pipi Alex dengan tangannya yang agak bergetar.
Alex memejamkan matanya, dia meraih sebelah tangan Sarah lalu mengecupnya lama.
"Mari kita sama-sama berharap, Sarah."
...
a/n : up up lagee๐๐๐