Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 47



Tidak tahu sebenarnya perasaan seperti apa yang kini tengah melingkupi mereka. Namun siapapun tahu kalau mereka punya ikatan yang erat hingga jika dipisahkan, akan membuat bumi terbelah. Sebuah kisah cinta yang klise, tapi mengharukan.



Itulah yang saat ini tengah terjadi. Sarah menangis di dalam pelukan pria itu, menumpahkan semua emosinya yang tertahan sejak dua minggu yang lalu. Ia tidak pernah sesedih ini dalam hidupnya dan Sarah bersumpah kalau berpisah dari pria yang tengah memeluknya ini adalah salah satu bentuk kesakitan paling menyedihkan yang pernah ia rasakan. Situasi yang sama seperti saat dia terpaksa harus berpisah dengan kedua orangtuanya dulu.



"Aku merindukanmu," Bisik Alex. Ia mengucapkan dua kata itu sebagai bentuk perwakilan dari rasa frustasinya kali ini. Pria itu mengelus rambut Sarah, mencoba merasakan kembali betapa halusnya surai hitam yang sudah menjadi kesukaannya sejak awal.



Sarah tak membalas apapun, dia tetap betah memeluk tubuh Alex dan menangis. Wanita merasa menyesal karena telah pergi dan juga kecewa pada dirinya sendiri yang tak bisa membuang nama Alex jauh-jauh dari hati juga pikirannya.



"Jangan pergi lagi, kumohon Sarah. Beri aku kesempatan dan biarkan aku membuktikan padamu kalau aku bisa berubah," Pintanya.



Alex melepas pelukan mereka, dia menangkup wajah Sarah lalu perlahan menghapus lelehan air mata wanita itu dengan jempolnya. Alex mencium bibir wanita itu dengan lembut, melumatnya dengan penuh perasaan hingga Sarah terbuai dengan ciuman itu.



Pria itu memiringkan kepalanya, ia memejamkan mata saat bibirnya bertemu dengan bibir Sarah yang merah dan terasa manis. Rasanya tetap sama, tak ada yang berbeda. Sarah tetap mengagumkan seperti biasanya.



"Alex, a-aku--"



"Sstt, aku tak ingin dengar apapun. Aku tak peduli dengan itu, sayangku. Sekarang ayo kita pulang, aku tak mau berpisah darimu lagi," Potongnya. Sarah dengan cepat menggeleng, dia meremas kemeja yang Alex pakai.



"Aku belum bisa. A-aku masih takut untuk kembali, tapi... Aku tak mau berpisah darimu," Katanya.



Alex merasa gemas, wanita itu bahkan dengan terang-terangan mengaku kalau dia juga tak mau berpisah darinya. Pria itu kembali mengecup bibir Sarah sekilas lalu memegang bahunya,"Kau mau aku juga tinggal disini sementara?"



Dengan polosnya Sarah mengangguk. Persetan, dia menginginkan Alex, bukan yang lain.



Pria itu melirik Joseph yang tengah menatapi mereka di dekat pintu penghubung ruang tamu,"Aku tak yakin jika orang itu mau menerimaku."



Joseph tersentak, ia menjadi salah tingkah sendiri.



"Joseph, kau mengizinkan Alex tinggal kan?"



Pria itu mengusap lehernya, terlalu banyak orang asing ditambah wajah Alex terlihat menakutkan.



"Well, aku tak punya alasan untuk bilang tidak bukan?" Pria bermata hijau itu memberi senyuman kecil pada keduanya,"Asal kau mau membantuku bekerja disini."



Alex menatap Sarah dan Joseph bergantian,"Oke, itu kuanggap setimpal."



Joseph menjentikkan jemarinya,"Jadi, jika kau mau memakan sesuatu, silahkan saja. Kebetulan kami baru saja makan malam," Kata Joseph. Pria itu pun memilih untuk pergi ke kamarnya dan tak memedulikan pasangan yang baru saja bertemu itu.



Sarah tersenyum hingga ia merasa matanya menyipit, ini adalah sebuah bentuk kebahagiaan yang paling ia syukuri. Ia berterimakasih pada dirinya sendiri karena tak bisa dengan mudah melupakan kehadiran Alex dalam pikiran dan hatinya.



"Dimana kau tidur?"



"Jangan khawatir, aku tidak berada di kamar yang sama dengan Joseph. Kamarku berada di sebelahnya," Jawab Sarah. Ia tahu kalau Alex pasti menaruh kecurigaan tersebut dan untungnya Sarah bisa menebak itu sebelum Alex menyadarinya.



Dia menarik tangan Alex, membawa pria itu masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu. Sarah tak peduli jika Alex belum mencintai dia, yang dia pedulikan adalah bagaimana caranya untuk membuat Alex mencintainya? Ia sudah berusaha, bersikap manis dan melakukan hal yang pasangan lakukan. Namun Alex tetap kukuh mengatakan kalau dia hanya sekedar menyukainya bukan jatuh cinta padanya.



Pria itu menarik tubuh Sarah mendekat, kembali mencium Sarah seperti orang kesetanan. Ia selalu menunggu kesempatan ini saat bibir mereka bersatu dalam suatu kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang sepertinya.




"Maafkan aku, Alex. Aku pergi begitu saja dan tidak pernah meninggalkan petunjuk. Aku hanya--"



"I don't care, because all that matters to me now is you."



Hati Sarah merasa meleleh seketika. Dia tidak tahu kenapa Alex mengatakan hal semanis itu, tapi yang ia yakini adalah kali ini dirinya memiliki Alex. Pria itu adalah miliknya dan begitu pula sebaliknya.



Alex merendahkan tubuhnya, dia mengusap perut besar Sarah lalu mengecupnya beberapa kali,"Dan aku merindukan kedua jagoan ku di dalam sini."



Sarah tersenyum kecil. Bukan hanya Alex saja, kedua bayi ini bahkan merindukan ayah mereka. Perasaan mereka saling terhubung dan Sarah meyakini hal itu ada.



"Sarah," Alex memegang bahu Sarah, dia menatap ke dalam netra gelap wanita itu dan memberinya keyakinan.



"Aku minta maaf atas semua hal yang telah aku lakukan. Aku tahu kalau aku salah karena selalu menganggap perasaanmu hanyalah sebuah permainan. Aku membuatmu menungguku hingga selama ini dan membuatmu berpikir untuk pergi dariku. Aku juga seorang pembohong, aku tak mengatakan hal sejujurnya soal nenekmu beberapa bulan yang lalu. Tak pernah terpikir olehku kalau akibatnya akan membuatmu semakin menjauh dariku dan aku menyesali itu. Kuharap kau masih bisa memaafkan diriku."



Sarah terpaku mendengar setiap kata yang terlontar dari bibir pria itu. Alex terdengar putus asa, dia mengakui kalau dirinya salah dan meminta maaf, tapi itu malah membuat Sarah tak rela. Dirinya tak bisa menyalahkan Alex atas semua situasi yang sudah terjadi. Setiap orang punya alasan kenapa mereka melakukan hal semacam itu dan Sarah harus lebih mengerti lagi.



Dua minggu ini memberinya sedikit pembelajaran. Ia tahu kalau sebuah keputusan besar harus selalu dipikirkan matang-matang, ia tak bisa selamanya menghindar dari masalah lalu membuat masalah baru. Tidak, dia menyadari kalau mereka berdua harus menyelesaikan setiap masalah yang mengikat diri mereka. Sarah mesti menolong dirinya sendiri agar tak selalu berada dalam kesialan.



"Aku tahu, Alex. Aku memaafkan dirimu dan sudah kucoba untuk menerima apa yang telah terjadi. Lagipula, sekarang aku akan punya bayi, dimana artinya aku punya urusan yang jauh lebih penting daripada yang terjadi saat ini. Aku tidak bisa menebak apakah kita bisa bersatu mengingat kau dan aku masih terikat dengan perjanjian. Kita sama-sama punya masalah, Alex. Kau dengan trauma mu, dan aku dengan perjanjian yang kita sepakati bersama. Mungkin ini adalah cara Tuhan menunjukkan kalau kita terhubung. Mau bagaimana pun caraku atau caramu mencoba memisahkan diri, kita tetap akan selalu bersama. Seperti saat ini misalnya."



Sarah mengusap pipi Alex, dia tahu pria itu sudah lelah dengan semuanya. Pria arogan yang ia anggap sebagai penjahat wanita adalah pria paling rapuh yang bahkan terjebak dengan perasaannya sendiri. Lalu kenapa Sarah tak memberinya kesempatan? Setiap orang berhak mendapat kesempatan bahkan untuk yang ke seratus kali sekalipun. Karena yang Sarah butuhkan adalah rasa percaya. Jika ia percaya kalau Alex akan mencintainya, maka dia mesti memberi Alex kesempatan untuk mencobanya. Mereka tidak akan pernah tahu tentang apa yang akan terjadi bukan?



Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan liontin yang Sarah tinggalkan di kamar hotel di hari wanita itu pergi.



"Ini milikmu. Jangan pernah membuangnya kapan pun," Kata Alex sembari mengaitkan kalung itu ke leher Sarah. Alex meraih dagu wanita itu,"Kau cantik sekali."



Perlahan jemarinya semakin bergerak ke arah pipi lalu berjalan pada kehalusan kulit leher Sarah.



"Malam ini dingin," Ucapnya.



Sarah menggumam tak jelas. Ia tahu maksud perkataan Alex karena kali ini dia juga menginginkannya.



"May I?"



"Fuck me."



...



Joseph mengerang kesal. Dia menutup telinganya rapat dengan kapas yang sudah ia gulung. Sayangnya suara decitan ranjang yang berasal dari kamar sebelah membuat tidurnya benar-benar tidak nyaman. Telinganya panas mendengar setidaknya suara teriakan Sarah atau geraman yang berasal dari mulut Alex walau agak samar-samar. Dia duduk di atas ranjang dengan gusar sembari menatap dinding di sebelahnya.



"You kidding me now?! Tak bisakah mereka berdua berpikir kalau kamar itu bukanlah ruang kedap suara? Sial," Gerutunya. Ia melipat bantal lalu menenggelamkan kepalanya ke atas bantal untuk meredam suara menyebalkan yang disebabkan oleh pasangan di kamar sebelah.



Pria itu berdecak kesal sebelum memilih untuk keluar dari kamarnya. Joseph membawa selimut dan dua bantal, dirinya memutuskan untuk tidur di ruang tamu saja sambil menonton tv. Setidaknya itu sedikit membantu kan?



...