
Sejak hari itu, situasi kembali normal. Reginald pergi ke Rusia dan berjanji bahwa dirinya tak akan pernah kembali begitu juga dengan Stefan ataupun yang lain. Ia tak akan mengganggu ketentraman siapapun lagi karena Reginald sudah lelah dengan masalahnya. Ia akan mencoba mengambil hati Stefan dan menenangkan pikiran anak itu yang ia tahu pasti sedang kacau.
Sudah dua bulan sejak hari pernikahan Alex. Musim semi sudah tiba, bulan yang selalu Alex sukai. Saat ini ia sedang berada di kamar anak-anaknya, ia tengah menimang Aaron sambil sesekali mencium gemas pipinya yang gemuk. Di antara kedua saudaranya, Aaron paling sering terjaga. Ia bayi yang sulit tidur di malam hari dan selalu sukses membuatnya gagal bermesraan bersama Sarah.
"Hey, apa kau lapar?" Ia memerhatikan Aaron yang tengah memasukkan kepalan tangan kecilnya ke dalam mulut. Lirihan kecilnya terdengar begitu menggemaskan. Sarah sedang pergi bersama Leah, sahabatnya itu ingin Sarah menemaninya ke Mall dan Alex tak punya pilihan lain selain duduk diam disini dan menjaga ketiga bayinya. Dia tak lagi memercayai pengasuh. Alex takut kejadian serupa kembali terjadi dan ia tak mau itu sampai terulang lagi.
Alex menaruh kembali Aaron ke dalam ranjang bayi, ia mengusap kening bayi itu beberapa kali sebelum beranjak keluar kamar. Pria itu menutup pintu kamar anak-anaknya lalu berjalan ke lantai bawah.
"Mom? Sejak kapan kau disini?"
"Al, aku baru saja tiba," Wanita tua itu memerintahkan beberapa pelayan untuk membawa barang belanjaannya ke kamar si kembar.
"Apa itu?"
"Mainan untuk cucu-cucu ku tentu saja. Ada mainan lucu yang tadi kulihat di toko mainan, jadi Mom membeli beberapa untuk mereka."
Alex justru menaikkan sebelah alisnya matanya. Yang benar saja, baru saja kemarin Marilyn datang berkunjung hanya untuk mengantarkan mainan pada si kembar dan hari ini dia mengulanginya.
"Mom, kau bisa datang kapanpun. Maksudku, aku tak mungkin melarangmu untuk kemari," Ucapnya. Alex tahu, Marilyn merasa tak enak jika harus datang setiap hari maka dari itu dia selalu membawa mainan sebagai alasan untuk menemui si kembar.
Dia hanya mengumbar senyumnya yang lebar,"Tidak apa. Aku senang jika mereka senang dengan pemberian ku. Aku ke atas dulu ya," Dia pun segera berlalu. Alex memandangi ibunya dengan pandangan geli dan seketika mengingat tentang Elle. Marilyn pasti merasa hancur, ia kehilangan putrinya yang bahkan belum lama ia timang. Dia pasti sering bersedih walau Alex tak pernah melihat kesedihan itu secara langsung.
Pria itu menarik napasnya, itu sudah berlalu. Alangkah baiknya jika ia memikirkan tentang masa depan bukan?
Alex meraih ponsel di sakunya lalu menghubungi Sarah.
"Halo, sayang?"
"Kau dimana?"
"Aku sedang dalam perjalanan pulang. Apa si kembar rewel?"
Alex duduk di atas sofa sembari menghidupkan televisi,"Tidak, mereka masih terlelap, aah Aaron tidak tidur."
"Baiklah, aku sebentar lagi sampai."
"Aku mencintaimu, Sarah."
Terdengar kekehan dari seberang sana,"Aku tahu itu sayang."
"Kau tak mencintaiku?" Alex sedikit menggerutu karena Sarah tak membalas ucapannya. Beginilah jika Sarah sudah sibuk dengan urusannya bersama Leah, ia akan lupa mengucapkan 'aku mencintaimu juga' yang selalu ia lontarkan setiap malam.
"Ya, hati-hati," Lalu ia pun menekan tombol merah. Alex menaruh ponselnya ke atas meja lalu mulai menonton saluran olahraga kesukaannya. Hari ini tim bisbol favoritnya bertanding.
"Alex, apa Sarah menyimpan ASI cadangan?"
Ia menoleh ke arah tangga, dimana sang ibu tengah menimang Axelle dan Alaina sekaligus dalam dekapannya. Keduanya menangis hingga pipinya memerah. Alex berdiri, dia meraih Axelle lalu menepuk bokongnya pelan,"Aku lupa Mom."
Marilyn menggeleng pelan mendengar ucapan Alex,"Dimana tempat penyimpanannya?" Alex mengajaknya kembali ke dalam kamarnya, ia menunjuk sebuah kulkas khusus untuk menyimpan ASI atau apapun yang menurut Sarah penting.
"Disana."
Marilyn membuka kulkas itu lalu mendapati ada beberapa botol ASI di dalamnya,"Mom akan kebawah sebentar, menyiapkan ini." Dia menaruh Alaina yang tidak lagi menangis seperti tadi ke tengah ranjang lalu keluar untuk menghangatkan ASI itu. Ia terkadang merindukan saat-saat seperti ini.
Alex menatap ibunya dalam diam, pastilah ada sesuatu yang sedang wanita itu pikirkan. Dia dengan segera mendekati Alaina lalu menaruh Axelle di sebelahnya. Ia mengecup tangan kecil putrinya hingga gadis kecil itu mengeluarkan tawanya. Ada banyak perkembangan yang bisa Alex lihat, si kembar sudah bisa tengkurap dan gerakan kaki juga tangannya begitu aktif walau belum sepenuhnya sempurna. Namun yang paling menyebalkannya, Aaron sering menangis saat tengah malam. Entah karena popoknya yang penuh atau kelaparan. Alex bukan marah, ia hanya kesal karena kesempatannya untuk berduaan dengan Sarah selalu gagal.
Ia sudah pernah membicarakan perihal bulan madu, tapi Sarah mengatakan kalau si kembar tak bisa di tinggal barang sehari saja dan Alex tak punya kuasa apapun untuk menolak alasan yang masuk akal itu.
Tak lama kemudian Marilyn kembali masuk ke dalam kamar. Ia menyerahkan satu botol kecil pada Alex lalu wanita itu menggendong Alaina sembari memberinya susu dari botol satunya. Lihat binar kebahagiaan yang Marilyn tunjukkan, Alex senang jika ibunya bahagia.
"Dulu saat kau masih kecil, kau selalu menolak susu dari dalam botol. Itulah sebabnya botol susu milikmu selalu kosong," Marilyn tertawa saat mengingat kenangan itu. Saat Alex masih bayi, dia memang tak suka susu dalam botol. Tidak tahu untuk alasan apa.
Senyuman itu lantas menular pada Alex. Ia jadi ingat kalau Aaron juga punya kasus yang sama. Bayi kecil itu juga menolak kemarin malam saat Sarah menyodorkannya botol susu.
"Terkadang ibu merindukanmu, Al. Sejak dewasa ini, kita jarang sekali menghabiskan waktu bersama ditambah sekarang kau sudah berkeluarga. Namun tidak apa, setidaknya aku bisa menghabiskan waktuku dengan si kembar," Ujarnya. Tatapannya menyendu, Alex tahu ia selalu saja menghindar saat ibunya berusaha untuk sekedar berbicara padanya. Dulu ia sedikit tertutup dan ia tak mau berbicara pada siapapun.
"Maafkan aku, Mom."
"Oh tidak perlu, putraku! Kau sudah melakukan hal yang baik dan aku bangga padamu," Balasnya. Alex tak menjawab lagi, ia menatap Axelle dalam dekapannya, anak itu nyaris menghabiskan semua isinya.
"Dimana Sarah?"
"Dia sebentar lagi kembali."
"Kau harus mengajak Sarah dan si kembar liburan, nak. Setidaknya mereka bisa punya kenangan pertama bersamamu," Alex menatap mata ibunya penuh keraguan. Liburan ya? Jujur saja, Alex sedikit takut. Ia jadi ingat saat liburannya dulu ke Hawaii, lihat bagaimana dengan mudahnya hari itu berubah menjadi hari yang kelam seumur hidupnya.
"Ya, akan aku pikirkan lagi bersama Sarah."
...