Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 33



Alex memarkirkan mobilnya di sebuah kelab malam yang menjadi tempat dia dan para sahabatnya menghabiskan waktu bersama. Tadi, sebelum ia pergi siang ini, ibunya datang ke rumah. Wanita itu juga sama khawatirnya seperti Leah karena dia tidak mendapat kabar apapun. Well, sebenarnya bukan masalah besar mendengar ibunya marah-marah. Malah Alex sedikit merindukan celotehan itu.



Beberapa penjaga dengan seragam hitam tampak membungkukkan tubuhnya mereka saat Alex masuk. Bukan hal aneh lagi baginya, Alex dan para sahabatnya adalah pelanggan tetap disini. Dia melirik ke semua tempat lalu mendapati Scott, Jake serta Leah di meja paling ujung. Ekspresi wajah mereka terlihat serius dan Alex penasaran tentang apa yang membuat sahabatnya seperti ini.



"Hei."



Ketiganya menoleh saat Alex datang. Pria itu mengambil tempat di sebelah Scott,"Jadi ada apa?"



Scott mendekatkan beberapa foto padanya,"Kau lihat dulu ini," Jawabnya.



Alex melirik satu persatu foto itu sebelum mengalihkan matanya pada semua sahabatnya,"Apa ini?"



Leah mendengus kesal,"Itu Calyria. Lihatlah baik-baik."



Pria itu meraih salah satu foto, tampak Calyria tengah menggendong seorang anak kecil walau tak terlalu jelas di dalam foto itu,"Calyria dan seorang anak. Ada apa?"



"Nah itu dia yang ingin kami bahas bersamamu Alex. Beberapa waktu yang lalu, aku sempat memata-matai Calyria di tempat dia tinggal, kau tahu, aku masih kesal padanya dan tak lama setelah itu, aku melihat dia pergi dengan seorang anak. Awalnya kukira mungkin itu hanya keponakan atau anak tetangganya, tapi mereka terlalu dekat Alex," Leah menjelaskan secara rinci tentang fakta yang ia temukan beberapa waktu yang lalu. Alex hanya diam mendengar itu.



"Jadi kalian ingin berkata kalau anak itu adalah anakku?"



"Awalnya aku dan Leah mengira begitu. Kau dan Calyria sempat bertunangan dan semua orang pasti akan beranggapan kalau kau memang ayah dari anak yang dilahirkan Calyria," Jawab Scott. Alex merasa tak senang, dia menaruh kasar foto-foto itu ke atas meja dan menatap tajam pada Scott,"Aku tak pernah sekalipun tidur dengan Calyria, Scott. Kalian semua tahu kalau dia menjual dirinya sendiri pada pria sialan itu. Aku berani untuk mengatakan ini karena itulah faktanya."



"Kami percaya padamu, Alex. Lagipula, Calyria adalah wanita paling buruk yang pernah kita kenal," Timpal Jake. Pria Asia itu menaruh simpati pada sahabatnya, tentu saja, mana mungkin Alex bisa sebodoh itu dengan meniduri Calyria yang jelas adalah wanita rendahan.



"Kita harus menyusun rencana. Kau tahu, hal paling gelap di dunia ini adalah kebohongan, maka dari itu kita harus menggali semua bukti untuk melenyapkan hal itu," Alex kagum dengan apa yang dikatakan oleh Leah. Wanita itu tentu punya strategi baik dalam menghancurkan sesuatu, makanya Alex selalu meminta Leah untuk ikut dalam setiap pertemuannya dengan beberapa kolega. Hanya untuk meminta bantuan sedikit.



"Aku sudah menghubungi Nathan dan meminta bantuannya. Dia bilang dia akan memberi informasi malam ini atau paling lambat besok siang. Aku meminta dia melacak keberadaan pria selingkuhan Calyria itu."



Alex sedikit meragukan perkataan Leah-- tidak, bukan tidak setuju. Dia hanya merasa kalau itu malah terlihat bodoh. Demi apapun, apa pangkat pria sialan itu hingga terdengar seperti seorang raja? Dicari-cari seperti orang penting saja-- mungkin itu memang benar.



"Aku tak mau terlibat. Jika kalian ingin mengurus masalah ini, silahkan saja. Aku tak mau Calyria merasa kalau aku mulai memerhatikan dirinya. Tidak, aku tidak mau dia punya pikiran bodoh itu," Leah dan yang lain sedikit terkejut. Apakah Alex tak mengerti kalau situasi ini bisa membuat dia makin terpojok?



"Kau tidak bisa diam seperti ini, Alex. Jika sesuatu--"



"Sudah kubilang aku tidak peduli, oke? Aku tidak mau mengurusi hal yang bukan urusanku. Anak itu bukan milikku jadi aku tak mau memedulikannya," Potongnya cepat. Jake membungkam mulutnya, baiklah, sebenarnya Alex kenapa? Dia terlihat sedikit tidak fokus atau hal-hal gila ini yang membuat dia menyerah?



"Ada hal lebih penting yang harus aku pikirkan saat ini."



"Apa? Mungkin kami bisa membantumu," Tanya Jake. Alex menghembuskan napasnya, dia menuangkan air di dalam gelas di atas meja lalu meneguknya lebih dulu.



"Aku mendapat kabar dari Zack kalau Neneknya Sarah baru saja meninggal. Dua hari sebelum kepulangan kami dari Venesia," Jawabnya.



Leah menutup bibirnya dengan kedua tangan. Ia merasa syok dan tak percaya dengan apa yang Alex informasikan. Neneknya Sarah adalah wanita tua yang baik, dia mengenal si tua Allison ketika Sarah mengenalkan dia lewat telepon. Sungguh, Leah tak percaya berita ini.



"Apa Sarah sudah tahu?"



"Belum, Leah. Aku tak bisa memberitahunya sekarang."



"Sarah sedang hamil muda, kupikir bukan hal bijak untuk memberitahunya sekarang," Kata Scott. Dia juga menyesalkan hal yang sudah terjadi, tapi mau bagaimana lagi?



"Kau mau menunggu saat dia melahirkan? Wow, dia akan membencimu seumur hidupnya."




"Entahlah, mungkin aku menunggu hingga dia sendiri yang bertanya tentang keadaan neneknya," Katanya kemudian.



Mereka berempat sempat berdiam dengan pikiran masing-masing.



"Alex, kami akan tetap menyelidiki tentang anak itu. Kau tidak mau ikut campur juga tidak apa-apa. Untuk saat ini, tunggu saja kabar dari kami," Ucap Leah. Wanita itu tahu Alex terlalu lelah dengan semuanya.



Alex menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, ia mulai memikirkan beberapa kata yang harus ia sampaikan pada Sarah. Secara halus, agar wanita itu bisa mengerti.



Dering ponselnya terdengar, Alex merogoh saku celananya lalu melihat ada pesan masuk dari salah satu bawahannya yang mengatakan kalau ada seseorang dari Finlandia yang mengiriminya kotak. Bawahannya mengatakan kotak itu sudah ditaruh di dalam ruang kerjanya.



"Kalau begitu aku pergi dulu, ada sedikit urusan penting. Untuk masalah ini, aku serahkan pada kalian. Hanya saja, jangan libatkan aku lagi. Aku sudah muak dengan pemberitaan buruk tentang diriku," Ucapnya. Alex berdiri dari sana, ia berbalik pergi tanpa menunggu balasan dari sahabat-sahabatnya.



...



Ia menutup pintu ruangannya ketika sampai. Alex melirik ke atas meja tamu, ada sebuah kotak berukuran kecil dengan pita warna putih yang menghiasnya. Pria itu mendekat, ia merobek bungkusnya lalu mengeluarkan isi dari kotak itu.



Jemarinya meraih sesuatu dari dalam sana. Itu sebuah cincin.



Alex meraih cincin itu lalu mengelus permukaannya yang halus. Sebuah cincin emas dengan sedikit ukiran di atasnya.



Sarah.



Alex merasa hatinya sedikit lebih baik setelah membaca nama wanita itu yang terpahat pada cincin yang ia beli. Ia sudah merencanakan untuk memberi Sarah cincin itu nanti, setelah wanita itu berhasil melahirkan bayinya. Alex tentu masih ingat permintaan Sarah waktu lalu dan tentu saja ia akan menepatinya.



Namun, Alex merasa dirinya menginginkan Sarah hanya untuknya. Dia tidak rela jika Sarah pergi begitu saja dan hilang dari kehidupannya.



Pintu ruangannya dibuka tanpa ketukan lagi hingga membuat Alex sedikit terkejut.



"Madelaine?! Dimana sopan santun mu?"



"Ma-maafkan aku Mr.Grissham, ta-tapi di depan ada--"



"Menyingkir dariku wanita bodoh!"



Alex mengerutkan keningnya saat mendengar suara lain di belakang sekretarisnya. Pria itu segera menyimpan kembali cincin yang ia pegang lalu beranjak untuk melihat siapa wanita itu.



Rahangnya mengetat sempurna saat matanya bertemu pandang dengan iris biru milik mantan kekasihnya dulu. Untuk apa Calyria kemari? Dengan membawa bocah?



Sekretaris Alex segera keluar dan menutup pintu. Ia tak mau dipecat karena mendengar percakapan yang sepertinya pribadi ini.



"Apa-apaan kau Calyria?!"



Wanita itu tersenyum culas, dia menurunkan bocah yang tadi ia gendong lalu melirik Alex sinis,"Nah Stefan... Pria yang disana itu adalah ayahmu. Ibu sudah menepati janji kan?"



Alex semakin menatapnya berang,"Kau gila Cal? Apa kau tidak punya urat malu lagi hah?"



...