Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 62



Calyria memberi tatapan tajam kepada setiap orang di depannya sembari menodongkan senjatanya. Situasi sudah agak kacau karena para tamu undangan terlihat syok dengan apa yang terjadi saat ini. Alex baru menyadari kalau itu bukan Lorey si pengasuh, itu Calyria.


"Cal, turunkan senjata itu dan mari kita bicara baik-baik--"


"Diam! Kau harusnya malu pada dirimu sendiri, Alex! Kau yang memaksaku melakukan ini, kau juga yang menghancurkan hidupku!"


Alex menahan geramannya sendiri. Itu bukanlah senjata mainan dan tentu saja berbahaya.


"Cal, maafkan aku."


Suara itu membuat Calyria menoleh kecil. Bibirnya tak bisa berkata banyak ketika ia melihat Reginald berdiri di antara para tamu itu dengan Stefan di sebelahnya. Anak itu sepertinya tak menyadari kalau Lorey adalah Calyria, terbukti dengan wajah bingungnya yang menatap pada Reginald.


"Semua ini adalah salahku. Aku yang menyebabkan dirimu menjadi seperti ini. Kutinggalkan kau saat tengah mengandung Stefan bahkan tak pernah mengabarimu. Ini bukan salah Alex, ia bertindak benar dengan mengusirku jauh dari Kanada. Lalu aku kembali hadir dalam kehidupan mu dan membawa Stefan jauh darimu. Ini salahku Cal, aku tolol."


Calyria tak bisa menahan isakan tangisnya, tangannya bergetar hebat ketika telinganya mendengar penyesalan tak berarti dari mulut mantan selingkuhannya itu. Calyria berusaha untuk berpikir keras, ia tidak ingin hancur sendirian dan jika ini memang kesalahan yang diperbuat Reginald, mengapa Alex turut ikut campur? Kenapa pria itu menahan Reginald untuk datang menemuinya?


Lagi, Calyria menodongkan senjatanya tepat di atas kening Alaina. Bayi kecil itu menangis tiba-tiba, ia mungkin sedikit terkejut dengan apa yang sedang terjadi di depannya kini.


"Calyria, aku datang bersama Stefan. Kau bisa memeluknya jika kau ingin," Calyria menoleh lagi pada Reginald sebelum mengalihkan pandangannya pada Stefan.


Alex tak bisa menahan lebih lama lagi, dia mengambil kesempatan disaat perhatian Calyria sedikit teralihkan. Dia memindahkan Aaron dari tangannya pada Sarah yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya dengan deraian air mata lalu mengambil ancang-ancang untuk merebut Alaina dari tangan Calyria.


Wanita itu tersentak saat merasakan lengannya ditarik kencang lalu tanpa memedulikan apa itu akan menyakitinya, Alex mendorong tubuh Calyria hingga wanita itu jatuh tersungkur mengenai ujung kursi. Usaha itu ternyata berhasil, Alaina sudah berada di dalam dekapan Alex. Pria itu memeluk erat putrinya yang masih menangis kencang hingga kedua pipinya memerah seperti tomat.


Axelle dan Aaron turut menangis keras ketika mendengar suara tangisan Alaina, mungkin ini yang mereka katakan hubungan antara saudara kembar. Disaat yang satu sedang bersedih maka yang lain pun turut merasakan hal yang sama.


Alex marah.


Ia benar-benar marah saat ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang membakar pikirannya hingga yang ia ingin lakukan adalah kejahatan. Namun sentuhan di bahunya membuat pikiran itu perlahan sirna. Ia menoleh pada Sarah yang menatapnya perih, ia seakan memberi tahu kalau Alex tak perlu melakukan hal itu.


"Calyria, aku akan memaafkan mu atas kejadian ini. Namun itu bukan berarti aku akan membiarkan mu pergi setelah kau membahayakan nyawa anak-anakku. Aku tetap akan--"


"Katakan Alex! Katakan pada mereka semua bagaimana kau menghukumku tak adil atas kesalahan yang aku perbuat dulu! Kau membuat Reginald tak bisa bertanggungjawab atas bayinya, Stefan! Kau membuatku terus menerus merasakan kepedihan, mengharap kalau kau akan memberiku kesempatan kecil sekalipun. Namun apa? Kau menyiksaku dengan segala kekuasaan tak masuk akal yang kau punya?! Ini semua salahmu, Alex. Jika saja kau berbaik hati untuk membiarkan Reginald dan aku bersama, mungkin aku tak akan pernah menjadi seperti ini!"


Alex menaikkan satu alisnya. Kenapa wanita selalu menyalahkan pria atas segalanya?


Dia menggelengkan kepalanya, ia lalu menatap tajam Reginald yang sedari tadi terdiam menyaksikan semua kata-kata yang keluar dari bibir mantan kekasih gelapnya itu. Ada kesedihan yang ia rasakan karena menurutnya Calyria tidak sepenuhnya salah. Dulu ketika ia tahu kalau Calyria tengah hamil hasil dari perselingkuhan mereka, Reginald ingin bertanggungjawab. Pria itu ingin merubah hidupnya yang suram dengan membangun sebuah keluarga bersama Calyria. Namun ia tak bisa.


Alex membuatnya terasingkan jauh dari Kanada seperti seorang tahanan. Ia tak boleh bepergian tanpa ada yang menemaninya. Alex masih menaruh dendam saat itu.


"Cal, aku minta maaf. Ini semua salahku. Kau tak sepatutnya menyalahkan Alex atas semuanya. Dulu aku sempat iri dengan semua kekayaan dan kehormatan yang Alex punya hingga aku berniat untuk merusak citra namanya dengan menjadikanmu sebagai selingkuhan. Aku pikir hal itu bisa dengan mudah membuatnya jauh lebih terpuruk hingga akhirnya aku menang, tapi aku salah. Justru semuanya berbalik kepadaku. Aku kehilangan semua kekayaan yang aku punya, bahkan keluarga ku pun tak tahu dimana. Ini salahku, maafkan aku. Sekarang aku membawa Stefan untukmu. Aku tahu, kau adalah wanita yang baik, tapi keadaan memaksamu menjadi seperti ini. Maaf, Calyria."


Calyria menangis tersedu-sedu, ia pernah jatuh cinta pada Reginald saat itu. Mungkin karena dulu Alex tak pernah memanjakan dirinya, Alex tidak pernah berkata hal romantis atau sekedar menjanjikan makan malam berdua. Namun Reginald melakukannya. Pria itu mengabulkan semua mimpi yang Calyria inginkan, tapi sayang itu hanyalah kebahagiaan semu yang justru menghancurkan hidupnya.


Wanita itu perlahan bangkit, ia mengelap sisa air matanya lalu menatap pada Reginald dan Stefan bergantian sebelum merentangkan tangannya.


"Stefan, peluk Mommy nak. Mom merindukanmu."


Stefan melepas genggaman ayahnya lalu berlari ke arah Calyria sebelum memeluk tubuhnya erat. Ia tersenyum senang karena akhirnya ia bisa bertemu dan memeluk ibunya seperti ini. Calyria mensejajarkan tubuhnya pada Stefan lalu menciumi wajah anak itu sebelum menempelkan dahinya pada Stefan. Tangannya bergetar, ia terlalu sering menorehkan luka, membuat Stefan merasa tak disayangi, tapi yang lebih sakitnya, Stefan tetap menganggap ia ibu. Hal yang tidak pernah Calyria sangka.


Alex dan Sarah saling pandang. Sarah memberinya kode untuk membiarkan Calyria pergi bersama Reginald dan putra mereka. Ia tahu bagaimana rasanya ketika harus dipisahkan dari seseorang yang ia sayang, jadi Sarah ingin Alex melupakan tentang kejadian ini.


Zack memandang curiga pada setiap orang asing yang waktu itu ia lihat di Rusia. Pria-pria berengsek yang menyekapnya di bawah tanah sembari berceloteh menggunakan bahasa Rusia yang tidak ia mengerti.


Ia ingin membisikkan tentang orang-orang itu pada Tuannya, tapi sebelum itu sempat terjadi, suara peluru yang dilepaskan terdengar begitu kuat entah siapa yang menembakkan itu.


Jantung Reginald terpacu begitu cepat ketika melihat Calyria tumbang di hadapannya. Peluru itu berhasil menembus isi kepalanya hingga ia seketika tak bernyawa. Telinganya terasa tuli ketika mendengar teriakan panik dan ketakutan dari semua orang yang ada di tempat ini. Reginald membawa pandangannya pada Stefan, memerhatikan ketika bocah itu mengguncang kecil bahu ibunya sembari menangis keras.


Marty memberinya sebuah kedipan sebelum ia dan rombongannya pergi dari sana. Itu seolah merupakan tanda bahwa tugas mereka sudah selesai.


Alex dengan segera membawa Sarah beserta anak-anaknya pergi dari situasi itu. Dia merangkul bahu istrinya sembari meminta Zack membawa anak-anaknya untuk masuk ke dalam mansion. Oh Tuhan, ini kejadian yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi malam ini. Namun seharusnya Alex sudah menyangka dari awal kalau kehadiran Reginald bukanlah tanpa alasan.


"Astaga, Alex! Pe-peluru itu... Calyria... Dia--"


"Sarah dengarkan aku. Tetaplah di dalam kamar bersama si kembar. Aku akan mengamankan situasi diluar, oke?"


Sarah lantas menggeleng keras. Ia mencengkram lengan suaminya dan menatapnya ketakutan,"Jangan! Ka-kau bisa tertembak, Alex! Tetaplah disini!"


Alex mencium bibirnya lembut. Ia memeluk erat Sarah dalam dekapannya sebelum menatap serius pada wajah istrinya.


"Aku berjanji kalau aku akan baik-baik saja. Tetaplah disini."


Sarah duduk di pinggir ranjang dengan pikiran yang kalut. Ia baru saja melihat sebuah pembunuhan di hari pernikahannya. Ia melihat dengan jelas saat Calyria mati tertembak oleh pistol.


Ia segera menoleh pada ketiga bayinya yang kembali terlelap di tengah ranjang. Sarah mengecupi pipi mereka satu persatu sembari berkata kalau ia akan melindungi anak-anaknya dari semua bahaya yang mengancam mereka di dunia.


...


Pagi ini bukanlah pagi yang baik. Alex tak kembali semalaman dan Sarah tak tahu apa yang terjadi di luar sana. Ia merentangkan tangannya lalu mengusap mata saat perlahan cahaya menembus dari luar jendela. Suhunya masih sedingin es, tapi beruntunglah karena tak ada salju yang turun hari ini. Ia masih mengenakan gaun pengantinnya karena semalam ia ketiduran.


Sarah beranjak ke pintu kamar lalu mendapati kalau pintu itu masih terkunci. Ia berjalan cepat ke arah meja kopi lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Alex. Sialnya pria itu tak menjawab teleponnya, tapi Sarah tak kehabisan akal. Ia dengan segera menghubungi telepon rumah agar pelayan bisa membukakan pintu kamarnya dengan kunci cadangan.


Beruntunglah karena setelah itu salah satu pelayan dengan cepat mencarikan kunci cadangan lalu membuka pintu kamarnya.


Sarah mendesah lelah, ia sempat meminta pelayan muda itu untuk menjaga ketiga bayinya yang masih tertidur sedang dirinya pergi ke lantai bawah untuk mencari tahu.


Entah bagaimana caranya atau berapa lama mereka melakukan itu, semua hiasan sudah tak ada. Sarah bisa melihat ada beberapa pelayan tampak membersihkan mansion yang luas ini sambil sesekali memberinya senyum kecil.


"Dimana yang lain?"


"Maafkan saya Nyonya Grissham. Tuan Alex tidak kembali sejak semalam. Ia hanya memberi kami perintah untuk membersihkan semuanya."


Sarah lantas mengangguk paham dan membiarkan pelayan itu pergi. Dia mencari keluar mansion dan benar saja, sebuah mobil baru saja terparkir lalu Alex keluar dari dalamnya bersamaan dengan Zack juga Reginald.


"Alex?"


"Sayang, kau meminta kunci cadangan?"


Sarah menatapnya kebingungan sembari melirik pria bernama Reginald yang tampak murung. Wajahnya tak menyiratkan apapun selain penyesalan, tapi ia sempat memberi Sarah sebuah senyuman.


"Zack, bawa Reginald pergi ke ruangan ku. Aku akan menyusul," Zack dengan cepat menurut lalu berjalan lebih dulu diikuti Reginald.


Pria itu menarik pelan tangan Sarah, membawanya kembali ke kamar mereka lalu memerintahkan seorang pelayan di dalam sana untuk meninggalkan ruangan.


"Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Siapa orang-orang itu?"


"Sarah, ceritanya panjang. Aku bingung mau memulai darimana, tapi yang jelas semuanya baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir oke?" Balasnya lalu ia mulai mencumbui bibir istrinya yang merah. Alex mengusap wajahnya yang lelah lalu ia ikut berbaring bersama ketiga anaknya di atas ranjang.


Dia mengusap pipi Axelle dengan lembut. Ada guratan merah di kedua pipi Axelle dan Alaina, mungkin mereka kedinginan.


"Lorey ditemukan tak sadarkan diri semalam. Itu ulah Calyria dan beruntung karena pengasuh itu belum mati."


Sarah meringis pelan mendengar itu. Otaknya kembali teringat akan peristiwa semalam dimana Calyria mati tertembak.


Wanita itu mengganti pakaiannya segera dengan gaun santai sebelum turut bergabung bersama suami dan anak-anaknya,"Lalu bagaimana dengan putranya Calyria? Dia pasti syok dengan kejadian ini," Tanyanya.


Alex lantas mengendikkan bahu. Sebenarnya semalam orang-orang Rusia itu memaksa untuk membawa Reginald dan Stefan untuk pulang, tapi pria itu mengatakan kalau saat ini dirinya tak punya keberanian untuk bertatap muka dengan Stefan setelah kejadian semalam.


"Sudahlah, semua baik-baik saja. Maafkan aku karena pesta semalam tak berjalan begitu baik karena... Peristiwa tak terduga itu."


Sarah menekukkan bibirnya. Ia tak peduli soal pesta dan seharusnya Alex tak usah meminta maaf. Perlahan wanita itu membawa Aaron kedalam pelukannya, ia menarik gaunnya ke atas lalu mulai menyusui Aaron yang nyaris menangis. Ia mengusap kening putranya dengan sayang dan berterima kasih pada Tuhan karena telah melindungi bayi-bayinya.


"Kau tahu? Rasanya aku benar-benar ingin menangis semalam saat Calyria menodongkan senjatanya kepada kening Alaina. Aku tak bisa berpikir normal dan jika salah langkah, bisa saja peluru itu menembus isi kepalanya."


Ia menoleh pada Alex lalu membenarkan hal itu. Dirinya pun turut merasakan demikian. Apa saja bisa terjadi semalam dan beruntungnya Calyria tak bertindak nekad dengan menembak mati Alaina.


"Apa yang akan kau lakukan pada Reginald?"


"Hanya akan memintanya agar tak pernah kembali ke tempat ini. Aku tak ingin Viktor atau siapapun kembali memerintahkan anak buahnya untuk mengganggu kehidupan kita."


Sarah tak menjawab lagi. Dia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang sebelum menghembuskan napas lelah,"Terlepas dari semua peristiwa yang terjadi semalam... Aku tetap merasa bahagia, Alex. Aku bahagia karena pada akhirnya semua harapan ku jadi nyata dan--"


"Aku juga. Aku bahagia karena kau, Sarah. Kau memberiku sebuah harapan dan kau berhasil membuatku merasa dicintai. Terima kasih."


Keduanya lantas tertawa. Sarah benar-benar mencintai keluarga kecilnya ini dan berharap kalau tak ada apapun lagi yang bisa menghancurkan mereka.


...


A/n : fyi, novel ini ada 4 seri ya, selanjutnya akan saya publish secepatnya 😁😁