Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 45



Joanna meletakkan berkas rumah sakit ke atas mejanya saat dirinya dikejutkan oleh seorang perawat yang masuk tanpa mengetuk pintu.



Perawat itu menetralkan kembali napasnya sebelum menunjuk ke arah luar,"Ada seseorang di depan pintu utama, Ma'am. Dia berdiri disana sejak tadi pagi sebelum pintu dibuka."



Joanna mengerutkan dahinya, siapa pula itu?



Dia pun berkata pada si perawat kalau dirinya akan melihat orang di depan pintu untuk memastikan.



Ketika Joanna sampai di depan, pria itu ternyata sudah duduk di salah satu kursi sambil memandang kosong pada lantai.



"Maaf Tuan? Apa anda keluarga pasien disini?"



Pria itu, Alex, dia segera menoleh. Dengan cepat Alex berdiri, mengambil langkah ke arah Joanna. Dia mengeluarkan selembar foto dari kantung jaketnya lalu menunjukkannya pada Joanna.



"Apa kau pernah melihat wanita ini disini?"



Joanna meraih foto itu dan terkejut karena wajah Sarah yang terpampang di atas sana. Dia menatap Alex dan menduga kalau pria itu adalah pria yang sama yang diceritakan oleh Sarah.



"Maaf, sepertinya aku tidak melihatnya disini. Tuan siapa?"



Alex mendesah kecewa. Dia lalu menyimpan foto itu kembali ke dalam saku jaketnya sebelum memilih untuk duduk di atas kursi panjang sembari mengusap wajahnya,"Aku kehilangannya. Dia pergi dua minggu yang lalu dan aku tak tahu dia dimana saat ini. Demi tuhan, dia sedang hamil dan sendirian."



Joanna merasa kalau pria ini memanglah pria yang dibicarakan Sarah. Lihatlah bagaimana kacaunya dia dengan penampilan yang tak rapi.



"Sudah coba mencari ke tempat lain atau melapor pada polisi?"



"Polisi tak ada gunanya. Mereka hanya senang mendengarkan laporan, tapi tidak ikut andil dalam memecahkan masalah. Aku sudah bertanya pada beberapa rumah sakit anak, tapi mereka semua punya jawaban yang sama seperti mu."



Wanita tua itu sedikit merasa iba pada Alex. Dia perlahan mengerti, pria ini menunjukkan cintanya pada Sarah dengan cara yang sulit untuk semua wanita pahami. Alex mungkin labil, tapi Joanna tahu kalau dia punya cinta yang begitu besar dan seharusnya Sarah tidak menyerah begitu saja disaat Alex butuh pertolongan dirinya.



"Sepertinya kau mencintai wanita ini ya?"



Alex tak menjawab, dia lalu mengeluarkan kembali foto Sarah yang ia ambil saat mereka liburan di Venesia dan memandanginya. Jemarinya mengelus lembut foto itu,"Aku benar-benar bodoh. Disaat dia pergi, barulah aku menyadari kalau aku mencintainya. Benar-benar sialan," Jawab Alex.



Joanna tersenyum lega, setidaknya Alex tulus ketika mengatakan hal tersebut. Dia lalu menepuk pundak Alex, memberinya sedikit semangat.



"Berjuanglah lebih keras, nak. Jika hingga malam nanti kau belum mendapat petunjuk, datanglah besok pagi. Aku akan mencoba membantumu," Kata Joanna. Alex sebenarnya tidak terlalu paham dengan ucapan wanita dengan pakaian perawat ini. Namun Alex merasa kalau dia akan menemukan petunjuk dari tempat ini. Oh Tuhan, jangan bilang kalau sebenarnya Sarah memang berada disini.



"Apa Sarah tinggal disini?"



"Apa? Tidak. Aku tidak tahu apapun soal gadis yang kau cari. Aku hanya bilang kalau aku akan membantumu jika kau masih tak tahu dimana dia berada," Jawab Joanna. Dia tahu kalau Alex mulai mencurigainya, tapi Joanna tak punya pilihan lain. Ia ingin lihat, seberapa jauh keinginan Alex untuk menemui Sarah.



Pria itu lekas pergi kemudian. Dia berjalan cepat ke arah mobilnya lalu mulai meninggalkan pekarangan rumah sakit kecil itu untuk pergi ke tempat lainnya yang belum ia datangi. Anak buahnya berkata kalau Sarah tak ada di rumah sakit anak manapun, tapi Alex yakin kalau Sarah masih disini.



...



Joseph baru saja pergi ke kota dengan jeep nya pagi ini. Sarah hanya menitipkan salam untuk Joanna dan mengiriminya surat. Wanita itu masuk kembali ke rumah, mengunci pintu depan dan juga pintu belakang. Joseph tinggal sendiri di rumah ini, jadinya jika pria itu pergi maka tempat ini hampir sama seperti kuburan yang sunyi.



Sarah berjalan ke arah cermin besar di dekat pintu dapur, dia memandangi tubuhnya sendiri yang benar-benar berubah. Perutnya membesar karena kehamilannya dan wajahnya terlihat lebih dewasa, mungkinkah karena kehamilan ini?



Dia mengusap perutnya dengan lembut, mengirim sinyal kasih sayang pada bayi-bayinya di dalam sana. Sarah senang, paling tidak dia punya dua jagoan tampan yang akan melindunginya kelak. Dia tak dapat memungkiri kalau suatu saat nanti Alex pasti akan terlibat dalam pertumbuhan anak-anaknya karena Alex adalah ayah biologis mereka. Sarah tak bisa terus-terusan menahan pria itu untuk menemui kedua anaknya disaat Alex punya kuasa untuk membangun ikatan antara ayah dan anak.



"Aku merindukanmu, Alex. Suaramu, pelukan mu dan ciuman yang biasa kau berikan untukku. Aku rindu itu semua," Sarah mengusap kulit lehernya yang dingin, hatinya tak bisa menahan rasa itu semua. Ia menginginkan Alex dan semua perhatian pria itu. Namun untuk saat ini dirinya tak punya pilihan. Sarah ingin membuang rasa itu, memulainya kembali dengan awal yang baik walau itu pasti berat untuk mereka berdua.




Wanita itu meraih gagang telepon, berpikir belasan kali sebelum menekan nomor yang sudah ia hapal. Mungkin dengan mendengar suara pria itu, bisa sedikit mengurangi rasa rindunya yang membuncah. Jantungnya berdetak kian kencang sembari menunggu panggilan itu terjawab. Setelah beberapa deringan, terdengar jawaban dari seberang sana.



"Halo?"



Bibir Sarah bergetar, suara ini terdengar lelah dan berat. Entah apa yang tengah terjadi, tapi Sarah merasa kalau Alex sedang dalam kekalutan. Apa ini karena kepergiannya?



"Halo, ini siapa?"



Wanita itu memejamkan matanya, saat itu pula air matanya jatuh. Sarah benar-benar merindukan pria ini. Sangat merindukannya.



Dengan cepat Sarah menutup kembali gagang telepon itu lalu pecahlah suara tangisnya. Dia duduk di atas lantai lalu menutup bibirnya sendiri, menahan isakan itu agar tak terdengar oleh siapapun walau Sarah tahu kalau dirinya sendirian di tempat ini.



...



Alex memandangi ponselnya dengan heran ketika panggilan itu diputus tiba-tiba. Dia menghela napas lalu melempar ponselnya ke tengah ranjang hotel yang ia tempati. Pria itu melepas pakaian atasnya sebelum masuk ke kamar mandi. Ia memandangi wajahnya sendiri di depan wastafel, memerhatikan kalau ada guratan kelelahan yang terlihat pada wajahnya. Rambutnya tidak tertata rapi bahkan ada bulu-bulu halus di sekitar dagu dan rahangnya, menandakan kalau dia sangat kacau hari ini.



Pria itu menghidupkan keran lalu mulai membasuh wajahnya dengan air, dia menatap wajahnya dari pantulan cermin sebelum menggeram kesal. Alex mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras seperti batu.



"Kau berbohong padaku Sarah. Kau bilang kalau kau tak akan pernah meninggalkan ku apapun yang terjadi, tapi kau mengingkarinya," Katanya. Tentu Alex masih ingat dengan apa yang wanita itu katakan beberapa bulan lewat, tentang Sarah yang tak akan pernah pergi atau menyerah dengan keadaannya. Namun lihat, dua minggu dia pergi entah kemana. Membuat semuanya kian kacau balau.



Alex berjalan keluar kamar mandi, dia membuka pintu balkon lalu berdiri di pinggirnya, menatap kepada jalanan padat di Jacksonville yang menyebalkan. Zack sudah tiga kali menghubunginya karena ada beberapa pertemuan penting dengan klien dari negara tetangga. Mereka ingin membicarakan masalah bisnis, tapi Alex tak berminat. Tujuannya hanya menemukan Sarah lalu menyatakan cintanya pada wanita itu. Alex tak mau kehilangannya, dia tidak punya alasan lain untuk tidak menerima Sarah dalam kehidupannya. Untuk yang pertama kali dalam hidupnya, dia mengerti kalau rasa sakit saat dicampakkan itu seperti ini. Mungkin dulu inilah yang Sarah rasakan, berbulan-bulan tanpa kepastian, membuat wanita itu kecewa.



...



Calyria tak berhenti bertanya-tanya tentang keberadaan Alex. Dia mengunjungi kantor ini untuk yang kesekian kalinya, berusaha untuk menemui pria itu karena masalah mereka belum selesai. Namun jawaban dari wanita yang bekerja di lantai bawah ini selalu sama. Dia bilang kalau Alex belum kembali ke kantor sejak dua minggu belakangan. Tidak tahu apa yang pria itu lakukan, tapi Calyria penasaran.



Wanita itu berbalik, berniat untuk pergi dan kembali nanti. Langkahnya terhenti ketika mendengar beberapa bisikan serta tatapan sinis yang tertuju padanya. Entahlah, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa pegawai disini tampak menyebalkan dengan memberinya tatapan sinis seperti itu?



Ponselnya berdering kuat di dalam tas. Calyria mendesah keras ketika melihat siapa yang menelepon.



"Ada apa?!"



"No-nona Calyria. Apa sebaiknya aku membawa Stefan ke dokter? Tubuhnya benar-benar panas. Aku khawatir dia terkena demam tinggi."



Calyria memijat kepalanya,"Bocah itu merepotkan saja. Sudah biarkan saja dia seperti itu, nanti sehat sendiri. Kau beri saja obat yang ada di kotak obat," Jawab Calyria dengan sedikit bentakan.



Wanita pirang itu mematikan ponselnya lalu kembali melanjutkan langkah kakinya ke suatu tempat. Calyria butuh uang, ia tak punya pilihan lain selain menjadi pekerja seks untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Saat ini keluarganya sudah mengusirnya, mereka tak mau menanggung malu dengan aib yang dibawa oleh Calyria, jadinya kini wanita itu hanya bisa tinggal di apartemen yang tak seberapa sambil menjual dirinya sendiri di club malam.



Jika saja Alex tak sombong dengan menolaknya, mungkin saat ini dia bisa bersenang-senang di salon kecantikan atau mungkin menghabiskan uang untuk membeli berbagai macam jenis perhiasan mahal yang langka.



Sedang di apartemennya, Stefan menggigil kedinginan walau suhu tubuhnya benar-benar panas. Berulang kali dia menyebut nama ibunya, berharap sang ibu mau datang untuk menemaninya disaat-saat seperti ini, tapi sayang sekali ibunya terlalu malas hanya untuk memberinya obat.



"Oh Tuan muda Stefan. Benar-benar kasihan dirimu, sepertinya keputusan ku untuk tinggal disini adalah benar. Nona Calyria bahkan tak mengurusmu sama sekali," Ucap seorang gadis. Dia mengusap wajah mungil Stefan yang tampan. Anak itu kekurangan kasih sayang, bagaimana kehidupannya nanti di masa depan kalau sekarang saja dia terlihat seperti seorang pesakitan?



"Mommy dimana? Dia pulang kan?" Lirihnya.



Gadis yang mengasuh Stefan hanya mampu tersenyum,"Dia akan segera kembali setelah urusannya selesai. Stefan tidurlah, aku akan bangunkan jika sudah saatnya makan siang."



Stefan perlahan memejamkan matanya, kepalanya pusing dan yang ia inginkan hanyalah ibunya.



...