
Ingar-bingar musik yang menggema di dalam sebuah klub malam pada saat itu terdengar begitu menyeramkan. Mungkin untuk sebagian orang, suara keras seperti itu mampu untuk merusak gendang telinga, tapi untuk orang-orang seperti Reginald, suara dentuman musik itu sungguh menenangkan. Apalagi jika ditambah segelas brandy.
Reginald sudah berada di tempat ini sudah dua hari, sejak ia kabur dari apartemen yang diawasi anak buah Alex. Pemilik klub kecil ini merupakan seorang kenalannya dan beruntunglah ia karena orang itu mengizinkannya untuk menginap di tempat ini.
"Reg, berhenti minum-minum seperti ini. Sekarang pikirkan langkah apa yang harus kau tempuh?"
Ia menaruh kasar gelas kecil itu ke atas meja bar lalu menatap sayu pada seseorang yang berada di depannya,"Apa yang harus kulakukan? Kau sendiri tahu kalau semua jalur transportasi sudah berada dalam kuasa Alex yang mana artinya si brengsek itu menyiapkan senjatanya dimana pun. Aku tak bisa pergi kemana-mana, Logan."
Logan menatap miris pada nasib temannya ini. Ia tahu semua permasalahan Reginald dan bersyukur kalau pria itu kembali dalam keadaan hidup setelah sekian lama tak muncul.
"Aku tak bisa membantumu, bung. Aku tahu siapa itu Alex dan aku tak mau terlibat dalam masalahnya. Bisa mati aku jika dia tahu kalau aku membantu mu," Balas Logan. Reginald setuju dengan perkataan Logan. Si brengsek itu adalah salah satu psikopat paling menjijikkan yang pernah ia temui. Lihat bagaimana tingkah Alex waktu itu, dia bahkan hampir mati karena hantaman dari kepalan tangan Alex yang dingin. Jika sudah terselimuti emosi, Alex bisa menjadi orang lain.
"Iya, aku tahu. Tak bisakah kau meminjamiku uang? Aku mau mencoba pergi dari kota ini."
Logan menghela napas kasar,"Kau ini bodoh atau apa? Kau kira semudah itu pergi ke luar kota disaat hampir setiap tempat sudah dikuasai Alex. Pria itu tak hanya memiliki koneksi dengan pebisnis kaya, Alex juga berteman baik dengan mafia. Kusarankan kau mencari sekutu, agar seseorang bisa melindungimu," Balas Logan. Reginald sudah tak tahu apa yang mesti dia lakukan. Dia hanya ingin membawa anaknya jauh dari sini lalu pergi ke pulau terpencil dimana dia dan anaknya bisa hidup bebas. Reginald sudah ingin menyerah dengan apa yang terjadi.
Pria itu mengacak-acak rambutnya sendiri, ia merasa begitu gagal dan sial. Tak pernah ia merasa selemah ini sejak kesalahan yang ia perbuat lima tahun yang lalu.
"Bung, aku punya kenalan baik yang tinggal di Ukraina. Orang ini bukan orang sembarangan, mungkin kita bisa menyebutnya sebagai mafia, tapi dia tak tersentuh oleh siapapun. Kukira jika bersembunyi di sana, kau akan aman."
Reginald menegakkan kembali kepalanya, dia menatap penuh harap pada Logan. Dia tak berniat untuk kembali ikut campur dalam urusan Alex atau membuat konflik baru dengan pria itu. Reginald hanya ingin pergi dan bebas.
"Aku mau, Logan."
"Tapi... Aku mesti mengatakan sesuatu," Balasnya.
"Apa?"
"Kau harus mau memberi Stefan pada mereka. Maksudku, Stefan akan menjadi anggota keluarga dari orang itu. Ya, selama ini itulah yang terjadi. Dia dan istrinya yang mandul, mengadopsi beberapa anak yang terbuang untuk menjadi pewaris mereka," Jawabnya.
Reginald terdiam sejenak. Apa itu? Memberi Stefan sebagai bayarannya begitu? Jika ia melakukan ini, berarti itu sama saja dia menjerat dirinya sendiri ke dalam rantai besi yang baru.
"Jika aku tak mau?"
"Ya, tak akan ada yang membantumu kalau begitu. Jangan takut, dia bukan orang yang jahat walau termasuk golongan mafia. Kau hanya perlu merelakan putramu untuk di asuh oleh keluarga Roswell," Jawabnya. Reginald tampak menimbang-nimbang dan akhirnya dia menganggukkan kepalanya.
"Aku setuju, Logan. Antar aku pada mereka."
"Viktor dan Svetlana Roswell akan sangat senang mendapat anggota keluarga baru. Akan aku hubungi mereka malam ini."
...
"Apa menurutmu si kembar akan mirip seperti ku?"
Sarah memutar bola matanya,"Tentu saja, Alex. Mana mungkin mereka mirip seperti Zack," Jawab Sarah. Ia kembali terkikik saat Alex mengecup perutnya sambil menggesekkan hidungnya di atas sana.
Pintu ruang keluarga itu diketuk oleh seseorang. Alex menoleh pada pintu saat Zack masuk ke dalamnya.
"Tuan Grissham, ada informasi baru," Katanya. Alex menghela napas lelah, dia bangkit dari karpet bulu itu setelah sebelumnya mengecup singkat dahi Sarah. Dia memberi kode bagi Zack untuk menunggu diluar.
"Informasi apa?" Tanyanya kemudian.
"Pagi ini apartemen Nona Calyria dirusak oleh orang tak dikenal. Saya sudah mengecek setiap cctv di apartemen itu dan cctv di sekitar jalanan. Reginald Anderson terlihat, dia membawa anaknya."
"Shit. Sudah kau coba melacak di lokasi?"
"Sudah, Tuan. Namun belum ada hasil apapun. Saya akan kembali ke sana nanti malam," Jawab Zack.
Alex mulai berpikir keras. Ia yakin kalau Reginald tidak sendirian, ia pasti punya seseorang yang membantunya hingga ia berhasil menemukan apartemen Calyria lalu kabur bersama putranya. Sebenarnya itu bukan masalah lagi bukan? Urusan orang itu bukanlah urusannya dan Alex seharusnya tak perlu susah payah untuk mengejar Reginald.
"Hentikan pencarian hari ini juga. Tak usah lacak dia dimana pun. Jika dia pergi bersama putranya maka biarkan saja dia pergi," Titah Alex. Dia berniat untuk kembali ke dalam ruang keluarga, tapi Zack kembali berbicara.
"Tuan, semua konsep pernikahan yang Anda minta sudah saya rangkum. Berkasnya ada di ruang kerja Anda berikut dengan nama desainer khusus yang akan merancang gaun pengantin Nona Sarah."
"Kerja bagus, jangan katakan pada siapapun kalau kami akan menikah. Aku tak mau media apapun membahas mengenai aku dan Sarah. Aku tak suka mereka dan jika masih ada berita tentang ku di majalah, aku akan memecatmu karena lalai," Balasnya. Zack mengangguk paham, dia sudah menjalankan tugasnya dengan baik dan Alex tak mungkin kecewa. Membungkam setiap orang yang bekerja di bagian media dan informasi bukanlah urusan mudah tentu saja.
Alex menutup pintu ruangan itu dan melihat Sarah sedang memandangi taman belakang di dekat jendela sambil mengusap perutnya yang besar.
"Musim dingin sebentar lagi datang, apa kau mengharapkan sesuatu yang baru Sarah?"
Wanita itu segera menoleh lalu menggeleng,"Aku tak ingin apapun. Hanya kau dan bayi-bayi kita saja itu sudah cukup untukku," Jawabnya.
Alex tahu kalau Sarah pasti akan mengatakan hal seperti itu. Ia berjalan ke arah nakas lalu mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru tua dari dalamnya. Dia mendekati Sarah yang setengah bingung melihatnya dengan sebuah kotak kecil itu.
Perlahan pria itu mengeluarkan isinya, membuat Sarah terpanah seketika.
"Menikahlah denganku Sarah. Tak ada alasan lagi untukku tak menikahimu dan tak ada alasan untukmu menolakku bukan? Aku telah memikirkan tentang hal ini dan aku yakin kalau ini adalah keputusan paling bijak yang pernah aku ambil. Setelah melewati berbagai masalah dan semua rasa ketakutan ku, aku baru menyadari kalau ini adalah saat yang paling tepat untuk mencari jati diriku yang sebenarnya untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Kehilanganmu memberiku banyak pelajaran penting tentang bagaimana menghargai perasaan orang lain dan tidak menjadi bodoh untuk menolak semua itu. Aku mencintaimu, bukan karena tubuhmu atau karena kau sedang mengandung anak-anakku. Aku mencintaimu karena aku menyadari kalau aku tak bisa hidup terpisah darimu. Apa kau menerima lamaranku, Sarah?"
...