Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 2



Sarah mengikat tali sepatunya dengan kencang dan memastikan penampilannya hari ini pantas. Ia hanya memakai sweater warna merah muda dan celana jeans yang tidak terlalu ketat. Ia meminjam tas selempang milik Leah untuk menambah kesan sederhananya. Beruntung Leah punya tas kecil yang motifnya tidak berlebihan.



Sarah merapikan rambutnya sekali lagi dan menghampiri Leah yang berada di ruang tamu,"Leah, aku sudah memutuskan untuk menemui Tuan Grissham. Nanti akan kukabari jika sudah selesai,"



Leah menggigit bibirnya antara setuju dan tidak. Tadi malam Alex sudah menghubunginya dan ia cukup tertarik dengan Sarah. Gadis itu tampak begitu semangat untuk menemui Alex dan bagaimana wajahnya ketika ia pulang nanti? Oh tuhan, kenapa rasanya Leah menyesal telah mengenalkan Sarah pada Alex?



"Sarah... Uhm, jika Alex berbuat macam-macam, katakan padaku oke? Aku bisa memperingatinya,"



Sarah hanya tersenyum lalu memeluk tubuh Leah,"Iya baiklah. Akan aku lakukan,"



Selepas itu ia berbalik dan segera pergi dengan taksi. Leah sudah menawarinya tumpangan tapi Sarah terlalu keras kepala untuk menerima kebaikan Leah. Beruntung gadis itu punya setidaknya lima puluh dollar dalam dompetnya.



Sebuah taksi berhenti tepat di depan rumah Leah, Sarah masuk ke dalamnya lalu menyebut lokasi perusahaan GrissWorld yang berada di keramaian kota.



...



Taksi itu membawanya ke sebuah gedung menjulang dengan sebuah simbol emas yang terpajang di bagian atas pintu utama. Sarah tahu tentang tempat ini tapi dia tidak menyangka kalau gedung setinggi ini adalah perusahaan kaya milik seseorang bernama Alex Grissham. Gadis itu melangkahkan kaki menuju gedung besar itu, dia melihat banyak orang dengan pakaian kantor mereka masuk dan keluar melalui pintu besar di hadapannya. Beberapa penjaga dengan seragam khusus tampak berdiri tegap seperti patung jika saja mereka tidak bernapas. Sarah tetap melanjutkan langkahnya menuju lobby utama. Dilihatnya sebuah meja informasi yang berada di samping pintu lift dan sebuah ruangan lain, sepertinya disanalah dia bisa bertanya dimana ruangan Alex Grissham.



"Permisi," Sarah menyentuhkan jari-jarinya di meja coklat yang lumayan tinggi dan menutupi sebagian wajah perempuan yang duduk di depannya itu. Perempuan itu bernama Ashley, terlihat dari papan nama yang melekat di pakaiannya.



"Ada yang bisa saya bantu Nona?" Tanyanya dengan ramah. Sarah tersenyum kecil dan memberikan kartu nama yang sedari tadi ia pegang.



"Bisakah aku bertemu dengan Tuan Grissham?"



"Apa sudah ada janji sebelumnya dengan Tuan Grissham, Nona?"



Sarah meringis dalam hati. Ia tidak pernah membuat janji apapun tapi bagaimana agar dia bisa bertemu seorang Alex Grissham hari ini?



Gadis itu tersenyum seketika. Ah ia punya alasan untuk bertemu dengan Alex dan perempuan ini pasti akan membawanya langsung pada Tuan Grissham.



"Sebenarnya aku datang kemari karena mendengar Tuan Grissham memerlukan sedikit bantuan. Ah maksudku, aku tau ini dari temanku Leah yang mengatakan--"



"Uhm, Nona... Jika anda merasa benar-benar punya alasan untuk bertemu Tuan Grissham sebaiknya anda pergi ke lantai paling atas. Disana anda akan bertemu dengan sekretaris Tuan kami dan dapat menyampaikan pesan anda,"



Ashley berdiri dan menuntunnya ke sebuah lift khusus yang akan membawanya langsung ke lantai dimana Alex Grissham berada. Sarah semakin merasa bersalah, apakah ucapannya tadi terlalu berbelit-belit atau mungkin perempuan di meja informasi itu enggan untuk mendengar alasan kedatangannya?



Seharusnya ia bertanya pada Leah tentang ini. Demi apapun, ia tidak pernah mendatangi kantor seseorang untuk bertemu dengan orang penting seperti ini. Jelas sekali kalau Sarah terlalu kuno dengan segala pengetahuannya yang hanya terpusat untuk menjadi guru sekolah.



Suara Ashley yang memanggilnya membuat pikiran Sarah sedikit teralihkan. Dia tersenyum kikuk sebelum berjalan masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai paling atas. Melalui lift ini biasanya Alex ataupun tamu yang ingin bertemu dengannya lewat. Sarah merasa sedikit tak enak karena kedatangannya tidak direncanakan sebelumnya.



Pintu lift tertutup rapat dan bergerak lambat ke lantai atas. Sarah semakin gugup, kepalanya diisi oleh jumlah uang yang akan diberikan Alex jika ia memenuhi kriteria untuk membantu pria itu dalam hal yang ia tidak ketahui sebelumnya karena Leah tidak mau mengatakannya pada Sarah. Gadis itu tersenyum saat pintu lift kembali terbuka.



Ia hanya melihat sebuah ruangan yang cukup besar dengan beberapa sofa panjang bewarna merah serta meja bulat yang di atasnya terdapat beberapa majalah edisi Minggu ini. Tidak ada siapapun yang bisa Sarah lihat kecuali wanita bermata hitam yang sibuk menulis sesuatu di meja kerjanya. Oh, ia hampir tidak melihat ada meja lainnya di dekat pintu besar yang pasti merupakan ruangan Tuan Grissham.



Sarah mendekati si sekretaris dan berdeham sebelum berbicara sopan pada wanita kacamata itu,"Uhm.. Maaf mengganggu, bisakah aku bertemu dengan Tuan Grissham?"



Wanita itu mendongak dan terkejut melihat siapa yang datang. Sungguh tadi dia terlalu fokus pada masalahnya hingga tidak menyadari kalau ada gadis muda yang datang bertanya padanya. Sekretaris itu segera memperbaiki letak kacamatanya dan menyambut Sarah dengan satu senyuman,"Maaf ada apa Nona?"



"Bisakah aku bertemu dengan Tuan Grissham?" Ulangnya. Sekretaris itu mengangguk sebelum melihat daftar nama yang ada di sudut mejanya. Sarah memerhatikan itu semua, ada beberapa daftar nama wanita serta profil mereka. Tapi kebanyakan dari mereka dicoret dengan pena merah entah karena apa. Hanya menyisakan dua profil wanita lainnya dan itu..



Sarah mengerutkan keningnya. Apa ia barusan melihat wajahnya sendiri?



"Anda Nona Sarah Heather?"



Sarah mengangguk beberapa kali.



"Anda bisa menunggu di sebelah sana Nona Heather. Tuan kami sedang memiliki tamu lain," Sekretaris itu menunjuk sofa panjang yang tadi dilihat Sarah dan tanpa banyak bertanya ia segera duduk dan menunggu. Otaknya mulai memikirkan tamu yang ada di dalam sana. Mungkinkah tamu itu wanita yang berada dalam daftar?



Tak lama kemudian pintu itu terbuka. Suara ketukan sepatu yang teramat keras di atas lantai memaksa Sarah untuk mendongak. Ia melihat wanita rambut pirang tengah menangis dan mengumpat sambil terus berjalan ke pintu lift. Kuku jarinya yang dihiasi cat kuku warna biru menekan tombol lift itu tidak sabaran mungkin bisa saja hancur jika dia tidak ingat jika tombol itu bagian dari kantor ini.



Setelah kepergiannya, sekretaris itu berdeham sedikit dan mencoret nama itu dari daftar yang ia pegang. Ia berdiri dan berjalan ke samping pintu besar yang menghubungkan mereka dengan seseorang di dalam sana.



"Nona Sarah, saatnya Anda masuk. Saya yakin Tuan sudah menunggu Anda,"



Sarah menggigit bibirnya, kenapa ia merasa tidak tenang? Apakah aura ketegangan ini memengaruhi nya? Oh Tuhan. Sarah bersumpah dalam hatinya kalau dia sangat gugup, kepalanya pusing memikirkan hal buruk lainnya ketika bokongnya mendarat di kursi tamu di dalam sana. Ia meneguk ludahnya kemudian berjalan pelan ke arah pintu yang sedikit terbuka. Sekretaris itu mengikutinya dari belakang ketika Sarah berhasil masuk.



Gadis itu tetap menundukkan wajah, takut melihat mata si pemimpin yang terasa mengerikan.



"Tuan Grissham. Ini adalah Nona Sarah Heather, dia perempuan--"



"Keluar Madeleine,"



Suaranya begitu berat dan terkesan seksi. Sarah menajamkan telinganya dan ia berusaha untuk mendongak. Melihat si pemilik suara yang terasa dekat padanya.



Madeleine telah keluar dan menutup pintu sesuai dengan yang diperintahkan Alex padanya.



Sarah merasakan gelenyar aneh ketika matanya berhasil bertemu pandang dengan netra biru yang menyejukkan mata. Oh tuhan, Tuan Grissham adalah fantasi semua wanita. Warna mata yang memukau, alisnya tebal dengan ciri yang sangat langka menurut Sarah. Garis-garis yang memenuhi keningnya ketika ia mengerutkan dahi membuat pria itu terlihat sangat bijaksana. Coba lihat rahangnya yang tajam, bagaimana jika Sarah menjalankan telapak tangannya di sekitar rahang tajam Alex? Apakah akan berdarah?



Hal terakhir yang menjadi penglihatannya adalah bibir pria itu. Begitu basah dan ya tuhan! Bahkan di majalah yang pernah ia lihat, tidak ada yang seperti itu. Alex Grissham sangat sempurna, berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan.



"Hanya akan berdiri seperti itu?" Suara pria itu begitu serak, nada perintah juga terasa ketika bibirnya berbicara. Sarah bergetar di tempatnya, ia menarik napas dan berjalan sedikit lebih dekat pada Alex yang berdiri di depan kursi besarnya. Kedua tangan pria itu berada di dalam saku celananya dan kemejanya tidak rapi, tapi itu sangat seksi di mata Sarah.



Sarah duduk di kursi seberang Alex, setelah pria itu duduk tentunya.



"Sarah huh? Aku menunggumu sedari tadi,"



"Ma-maaf Tuan Grissham, ta-tadi Anda--"



"Mereka tidak berguna Sarah. Kuharap aku dan kau bisa saling menguntungkan,"



Sarah mengangguk kaku, bahkan ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini. Apa harus ia berbasa-basi basi dulu untuk mempersempit rasa canggung ini?



"Jadi Nona Heather, mengingat kau tidak tahu cara berbicara, aku akan memulai lebih dulu--"



Alex mengulurkan tangannya pada Sarah,"Aku Alexander Grissham. Jika kau masih tidak percaya kalau ini aku," Lanjutnya. Sarah merasakan jantungnya tidak dapat berfungsi lagi. Malu sekali rasanya, ketika ia kedapatan sedang memikirkan wajah serta mengukur ketampanan pria itu. Tapi jujur saja, Alex begitu sempurna! Hell, seharusnya Sarah tahu itu.



"Ma-maafkan aku Tuan Grissham. A-aku hanya--"



"Sambut saja tanganku, Heather," Titahnya. Sekejap saja, Sarah mengulurkan tangannya segera lalu menyambut telapak tangan Alex dan menggenggamnya. Demi dewa, tangan Alex begitu besar dan hangat, melingkupinya dalam arti yang sangat sempurna. Sarah yakin kalau Alex hanya satu-satunya pria yang punya genggaman yang begitu kuat dan panas.



Sarah melepas tangannya ketika ia merasa bahwa acara berjabat tangan itu berlangsung agak lama dan duduk kikuk di tempatnya. Menyisakan tangan Alex yang hampa sebelum pria itu menariknya kembali.



Alex merasakannya, getaran itu, ketika kulit mulus gadis di depannya ini bersentuhan dengan telapak tangannya yang kasar. Berbeda dengan wanita-wanita sebelumnya, Sarah sangat polos dan halus. Gadis ini begitu mendambakan cinta-- sial, bukan seperti itu. Karakter perempuan seperti Sarah mungkin tidak seburuk yang ia kira, dia kelihatan seperti gadis yang penuh dengan cinta dan tidak bisa disakiti perasaannya. Yap, Sarah adalah gadis yang tulus dan baik. Melalui tatapannya yang seperti itu, Alex tau bagaimana sifat Sarah yang sesungguhnya.




Sarah mengangguk,"Tidak Tuan Grissham. Aku berada disini karena keinginanku sendiri dan aku berniat membantu,"



Alex menggeleng dan tersenyum aneh. Ia mendekatkan wajahnya ke depan dan menelisik pada mata hitam Sarah yang kebingungan,"Ah, jadi kau tidak tahu ya seperti apa tugasmu?"



Sarah menggeleng,"Aku... Disini berniat untuk membicarakan hal itu denganmu Tuan Grissham,"



Alex kembali pada posisinya. Well, Sarah bukan gadis yang buruk. Perempuan itu punya tubuh yang bagus walau dia menutupinya dengan sweater panjang dan celana jeans yang terlihat seperti celana biasa. Alex tahu bagaimana cara memperhatikan tubuh wanita dari pakaian mereka. Biar saja penampilan Sarah seperti biarawati yang tertutup, ukuran dada perempuan itu tetap tak bisa ia sembunyikan.



Alex menyerahkan satu dokumen pada Sarah agar wanita itu dapat membaca apa saja tugas dan ketentuan yang ia berikan. Sarah menerimanya dengan hati-hati. Alex memerhatikan perubahan raut wajah Sarah yang tadinya penuh kepolosan menjadi suatu ketakutan dan kebingungan. Dahinya berkerut dalam tanda ia masih tak mengerti atas apapun yang tertulis di dalam sana.



Sarah sendiri mulai merasa jantungnya tidak beres. Dokumen itu mengatakan kalau Alex membutuhkan seorang wanita untuk mengandung benihnya agar berita konyol yang berusaha untuk meredupkan namanya tidak menjadi ancaman. Hal berikutnya yang membuat matanya membulat adanya nominal uang dan semua fasilitas yang akan Alex berikan.



Mata hitamnya perlahan bergerak untuk menatap Alex, wajah pria itu tetap tenang seolah terbiasa dengan ketakutan dan ketidakpercayaan perempuan seperti dia. Sarah menaruh kembali dokumen itu ke atas meja dan bingung dengan semuanya. Kenapa Leah tak memberitahukannya?



"Jadi... Maksud Tuan adalah, Tuan butuh seseorang yang bisa menjadi tempat untuk menampung bayi anda?"



"Melahirkan bayiku, jika itu kurang jelas di dengar," Balas Alex.



"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti adalah sebuah 'pekerjaan'? Bukankah itu menyakitkan untuk di dengar?" Sarah mulai merasakan getaran dari cara ia berbicara. Oh ayolah, ia tidak pernah menyangka kalau Alex bisa berbuat seperti itu.



Oh, ia sekarang mengerti kenapa daftar nama-nama itu dicoret dan wanita sebelumnya menangis saat keluar dari ruangan Alex. Ternyata karena lelucon ini.



"Sarah, disini kita sama-sama mendapat keuntungan. Jika kau mau dan berhasil melahirkan bayiku, kau juga akan kuberi uang. Bahkan bukan hanya itu, aku akan memberimu apartemen mewah dengan segala fasilitas serta sebuah mobil mahal. Kukira itu setimpal, mengingat bahwa kau memang membutuhkan nya saat ini,"



Hidung Sarah terasa memerah. Ia tahu, bahwa ia akan segera menangis saat ini dan Alex mungkin akan menertawakan kelemahannya. Tapi Sarah kembali berpikir, ia putus kuliah dan ditendang dari flatnya karena masalah uang. Ia berada di Kanada juga karena ia butuh uang. Sial, uang jutaan dollar yang di tawarkan Alex memang sedikit menjanjikan tapi membayangkan kalau dia harus tidur selama berhari-hari dengan pria itu sampai ia hamil lalu...



Oh, bahkan itu akan menjadi lebih buruk lagi.



"Jadi bagaimana? Kau setuju?" Alex bertanya padanya dengan seringainya yang terlihat sangat jelas. Alex memang membutuhkan Sarah untuk melahirkan bayinya tapi selain itu, ia ingin menuntaskan fantasi liarnya ketika melihat Sarah. Rasa penasarannya untuk mencicipi tubuh gadis itu semakin besar.



Sarah menarik napasnya, ia disini untuk uang dan ia sangat membutuhkannya. Sarah menatap mata Alex dan melihat ada kilatan api gairah yang begitu besar dari pria itu sebelum ia memilih untuk mengangguk pelan,"Baiklah. Aku setuju," Jawabnya.



Alex tersenyum penuh kemenangan, dia melipat bibirnya sebelum menumpukan tangannya ke atas meja kerja,"Kau yakin dengan jawabanmu Nona Heather? Karena aku tidak menerima penolakan setelah ini,"



"Aku yakin Tuan Grissham,"



"Well, senang berbisnis denganmu. Sekarang aku akan menjelaskan sisanya,"



Sarah mengerutkan dahinya,"Apa maksudmu? Sisanya?"



Alex menautkan jari-jarinya dan bersandar di kursi besar yang ia duduki sambil menatap penuh kejahilan terhadap Sarah,"Iya, hal-hal yang sengaja tidak aku tulis di dalam dokumen itu,"



Sarah mengetatkan rahangnya. Ini benar-benar tidak baik, apakah pria ini sering memainkan seluruh kesepakatan yang sudah mereka buat? Apa dia begitu licik seperti ini hingga memperdaya gadis sepertinya? Oh tuhan, Sarah tidak pernah bertemu pria gila dengan segala obsesinya untuk memiliki anak atau bahkan memanfaatkan bayinya sendiri sebagai tameng.



"Dan apa itu, Tuan Grissham? Kurasa kau harus mengatakannya padaku,"



Alex tersenyum puas. Dia ingin sekali menertawakan cara Sarah berbicara, kucing manis yang mencoba untuk menjadi macan. Oh ia betapa ia suka sifat lugu perempuan semacam Sarah.



"Tentu, Nona Heather. Aku baru saja ingin mengatakan kesepakatan sebenarnya padamu,"



Alex berdiri, berjalan ke arah meja yang di atasnya terdapat sebuah mesin kopi yang tidak akan pernah Sarah dapatkan di dalam flatnya. Pria itu memasukkan bubuk kopi yang ia ambil dari wadah khusus dan membiarkan alat itu bekerja dengan sendirinya.



"Berapa umurmu Sarah? Aku lupa," Tanya Alex ketika kedua tangannya masih sibuk memasukkan air ke dalam alat itu. Sarah memainkan jarinya, apakah ini sebuah tes atau apa?



"Dua puluh satu, Tuan Grissham. Aku--"



"Seharusnya kau berkuliah, apa yang menghentikan mu?"



Alex membawa teko berisi kopi yang sudah selesai ia buat juga membawa dua gelas kecil lainnya. Ia memberi isyarat kepada Sarah untuk duduk di atas sofa hitam agar memudahkan mereka berbicara. Sarah duduk dengan tenang sambil melirik Alex yang juga mengambil tempat disampingnya. Pria itu menaruh gelas dan mengisinya dengan kopi yang ia bawa.



"Kenapa kau tidak lanjut kuliah?"



Sarah menahan napasnya. Aroma parfum yang menguar dari tubuh pria itu mulai melingkupi hidungnya dan tentu saja wanginya sangat seksi. Apa yang dimaksud Sarah adalah, parfum itu begitu cocok di tubuh tegap Alex.



"Aku... Berhenti karena tidak punya uang untuk membayar,"



"Menyedihkan untuk di dengar," Alex menyeruput kopi yang ia pegang dan menatap Sarah dengan matanya yang berkilat.



"Sarah, apa kau perawan?"



"Tuan Grissham. Kurasa itu bukan pertanyaan yang bisa--"



"Tentu saja bisa, Sarah. Aku tidak ingin anakku lahir dari rahim wanita murahan,"



Air mata mengalir di pipi Sarah. Ia merasa direndahkan, diinjak dan dihina. Harga dirinya dibeli begitu mudah oleh pria brengsek di depannya ini. Sarah sedikit menyesali keputusannya, apa sebegitu rendah dia di hadapan pria seperti Alex hingga menerima begitu saja ucapan kotor yang keluar dari bibir merah pria itu? Sialan, Sarah tidak akan pernah bisa melawan Alex. Dia miskin dan tidak memiliki apapun untuk ia pergunakan selain tubuhnya, mungkin.



"Baiklah, Tuan Grissham. Sebaiknya langsung katakan padaku, hal apa lagi yang harus aku terima?"



Alex tertawa. Ia menaruh gelasnya ke atas meja lalu memilih untuk mengelus pipi Sarah yang begitu lembut seperti kapas dengan punggung tangannya yang terlihat begitu besar ketika dihadapkan dengan wajah Sarah,"Pertama, jika dalam waktu tiga bulan kau tidak berhasil hamil, maka perjanjian kita batal dan aku tidak akan memberikan apapun padamu. Kedua--"



Alex memainkan jarinya di atas bibir Sarah yang merekah dan berhenti untuk memuja betapa seksi bibir perempuan itu. "Aku ingin anak laki-laki, bukan perempuan,"



Sarah menjauhkan wajahnya segera. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Alex padanya. Bagaimana bisa ia tahu apakah ia akan melahirkan bayi perempuan atau laki-laki? Itu rahasia Tuhan dan mereka tidak bisa memilih.



"Kupikir kau butuh anak hanya untuk menghapus rumor konyol itu, Grissham?! Ini tidak sesuai dengan--"



"Kau tidak bisa mundur Sarah," Alex menatapnya tajam. Sorotan matanya begitu mengintimidasi dan membuat Sarah yakin kalau pria itu memang penguasa. Sarah menelan ludahnya, ini kesalahan. Bukan... Ini lebih terlihat seperti petaka untuknya.



"Ya, memang aku butuh seorang anak untuk menghapus berita konyol tentang diriku itu, tapi disamping itu aku juga butuh penerus bukan?"



Dan kali ini Sarah benar-benar ingin membunuh seseorang.



...



hayy :) saya kembali. terima kasih untuk kalian yang sempetin buat baca :)



beri like dan komen buat next part ya :)



terima kasih