
Reginald dan Stefan sampai di Kanada dua jam yang lalu. Mereka datang dengan beberapa orang Rusia suruhan Viktor untuk melakukan tugas kotor mereka yaitu, membunuh Calyria. Tujuan Viktor hanya satu, ia tidak ingin satu hal pun yang bisa menghalangi dirinya untuk mendapatkan Stefan. Ia tertarik dengan bocah itu dan Viktor punya banyak rencana yang akan ia realisasikan segera.
Reginald sekarang tak punya kuasa untuk menyelamatkan masa depan Stefan. Anak itu akan menghadapi semua tantangan berbahaya dalam hidupnya mulai saat ini atau mungkin ada yang jauh lebih buruk lagi dari sekedar tantangan semata.
"Ayah, kapan Stefan bertemu Mommy?"
Reginald melirik putranya,"Malam ini tidurlah lebih dulu. Besok kita akan pergi menemui ibumu, oke?"
Wajah Stefan menekuk seketika. Anak itu lantas mengangguk lalu kembali ke dalam kamarnya untuk tidur. Mereka berada di sebuah apartemen rahasia milik Viktor dan rencananya besok pagi dia akan pergi ke apartemen Calyria.
Wajah Reginald kembali menegang ketika sebuah senjata api ditaruh di atas meja. Ia melirik ke kiri, salah satu anak buah Viktor tersenyum miring kepadanya sebelum pria Rusia itu duduk di seberang Reginald.
"Besok adalah saatnya bukan? Persiapkan dirimu, Reg. Bukan hanya kau, mungkin Tuan muda Stefan harus mempersiapkan dirinya sendiri untuk kemungkinan terburuk."
"Apa kalian harus melakukan ini di depan Stefan?"
Pria itu mengendikkan bahunya,"Anggap saja ini seperti tradisi untukmu. Lagipula, Tuan Viktor ingin Stefan menjadi pria yang berhati dingin agar nantinya anak itu bisa menguasai dunia," Jawabnya. Reginald semakin merasa tengkuknya dingin. Sesuatu seperti menguasai dunia itu benar-benar mengerikan. Bagaimana bisa sifat polos yang dimiliki Stefan harus berubah 180 derajat dalam waktu beberapa detik?
"Tuan Viktor sungguh menginginkan anak laki-laki, sayang sekali karena Nyonya Svetlana adalah wanita mandul. Namun berkat kau, Keluarga Roswell kini punya seseorang yang akan menjadi penerus mereka, selain Nona Liliana dan Harper."
Reginald menundukkan wajahnya demi menatap senjata yang akan melubangi kepala Calyria dalam sekejap. Entah bagaimana reaksi yang akan diberikan Stefan ketika mengetahui kalau ibunya dihabisi tepat di depan matanya sendiri?
"Kau harus berhati-hati Reginald, bisa jadi kau selanjutnya."
...
Waktu berjalan begitu cepat. Pagi yang cerah tanpa adanya salju yang turun semakin membuat dua orang insan yang akan diikat dalam sebuah hubungan sakral itu semakin bergembira. Pagi ini seisi mansion keluarga Grissham tengah disibukkan dengan adanya acara besar untuk hari ini. Pernikahan Alex dan Sarah akan digelar dua jam dari sekarang di katedral basilika. Semua persiapan acara sudah selesai, kali ini tinggal menunggu waktu pernikahan itu dimulai.
Leah berada di ruangan atas bersama beberapa perias pengantin yang datang dari Paris. Dia mengamati tangan-tangan penuh talenta itu saat memoles wajah polos Sarah dengan alat make up. Sarah memang cantik, tak bisa diragukan lagi kenapa Alex akhirnya jatuh cinta pada wanita ini.
Leah tak berhenti berkata kalau Sarah adalah pengantin paling cantik yang pernah ia lihat. Bentuk rambutnya yang dihias sedemikian rupa hingga terlihat seperti mahkota cantik dengan segala aksesoris mahal yang semakin mempercantiknya.
"Nona Sarah, apakah ini sudah cukup untukmu?"
Sarah memandang dirinya sendiri di kaca. Jika ia boleh menangis, mungkin saat ini Sarah akan menangis kencang. Ia tak menyangka kalau itu adalah dirinya sendiri yang ia lihat melalui kaca rias. Betapa cantik riasan yang terlukis pada wajahnya, seakan yang ia lihat kini adalah orang lain.
"Ya tuhan, kau cantik sekali Sarah! Rasanya aku ingin menangis melihatmu," Sarah menoleh ke arah Leah lalu terkekeh. Wanita itu meraih Sarah ke dalam pelukannya lalu mengusap punggungnya yang agak bergetar.
"Selamat berbahagia, Sarah. Akhirnya kau menikah," Ucapnya.
Sarah berusaha sangat keras untuk tak menangis. Sudah semalaman ia menangis bahagia karena acara pernikahan yang ia impikan akan segera dimulai. Ia masih tak percaya kalau dalam waktu dua jam lagi, dirinya akan punya sebuah keluarga.
"Anda siap Nona Sarah?"
Asisten Luna membantu Sarah untuk mengenakan gaun pengantinnya sewarna putih tulang. Gaun itu menempel pas di tubuhnya dengan sedikit aksesoris simpel yang membuatnya terlihat begitu elegan. Bagian bawahnya dibuat menjuntai hingga menyentuh lantai dengan bagian punggung yang dibiarkan terekspos-- menampilkan kemulusan kulit punggung Sarah.
Leah menatapnya penuh kebinaran. Sarah berubah menjadi wanita cantik dengan gaun pengantin itu.
"Sarah, kau mengagumkan!"
"A-apakah ini terlihat terlalu seksi?"
Leah mendengus geli lalu menggeleng. Ia mengambil buket bunga yang terletak di atas meja rias lalu memberikannya pada wanita itu,"Alex benar-benar akan terpesona denganmu."
Keduanya sama-sama tersenyum sebelum memutuskan untuk segera berangkat ke katedral mengingat Alex yang sudah lebih dulu berada disana. Semalam Marilyn memaksa Alex untuk tak tinggal serumah dengan Sarah sebelum hari pernikahan mereka digelar. Alex ditemani oleh beberapa sahabatnya juga Zack, menempati mansion utama keluarga Grissham sedangkan Marilyn dan Leah berada di mansion milik Alex sendiri.
Keadaan rumah benar-benar ramai. Alex merencanakan pesta di rumahnya untuk nanti malam, jadi semua persiapan ini sudah ia rencanakan sejak beberapa minggu yang lalu.
Sopir pribadi Marilyn membukakan pintu limusin untuk sang calon Nyonya Grissham, menuntunnya masuk ke dalam limusin yang mewah itu.
Jantung Sarah terus berdebar kencang seiring melajunya kendaraan yang tengah ditumpanginya ini. Suhu yang dingin membuat telapak tangannya semakin membeku. Ia gugup dan merasa tak sabar dalam waktu yang bersamaan.
"Mom? Si kembar bersama siapa?"
"Aku sudah mengutus seorang wanita untuk mengasuh si kembar. Jangan khawatir, kita akan segera mengumumkan tentang kelahiran Aaron, Axelle, dan Alaina sesudah upacara pernikahan mu selesai."
Sarah sedikit bernapas lega. Ia belum sempat bertemu ketiga bayinya sejak tadi karena ia butuh banyak persiapan untuk menjadi pengantin, tapi mengetahui kalau bayi-bayinya akan baik-baik saja, Sarah tenang. Kali ini fokus utamanya adalah upacara pernikahannya dan Alex. Dia berdoa dalam hati, semoga tak ada apapun yang menghalangi acara kali ini.
Beberapa menit kemudian, limusin itu sampai di sebuah katedral besar dan megah yang sudah disulap menjadi tempat pernikahan yang amat cantik. Sarah bisa melihat ada beberapa pria dengan setelan hitam dan bunga melati di masing-masing saku jas mereka tengah berdiri tegap di setiap tangga menuju pintu besar yang telah terbuka itu.
Cole, membukakan pintu bagi Sarah lalu membantu wanita itu untuk keluar dari limusin. Napas Sarah terasa tercekat seketika, ia benar-benar ingin menangis melihat pemandangan indah ini. Orang-orang memberinya senyum paling lebar dan tak sedikit dari mereka yang menepuk tangan saat melihat si mempelai wanita telah sampai ke altar.
Seorang pria tua yang Sarah lihat kemarin tampak berdiri di sampingnya sembari menggamit lengan Sarah ke tangannya yang rapuh. Dia memberi Sarah senyuman terbaik.
"Saya akan mendampingi Nona Sarah hingga ke altar. Apa Nona siap?"
Wajah Sarah tiba-tiba menyendu. Ia mengingat ayahnya seketika dan benar-benar berharap kalau ayahnya lah yang saat ini tengah menggamitnya erat sembari berjalan ke sepanjang altar.
Setelah menarik napas panjang, Sarah perlahan melangkah bersama Mr.Louse. Wajahnya ditutupi dengan sebuah veil putih transparan membuatnya tampak lebih memukau.
...