
Gelapnya langit membuat wanita yang berdiri di pinggir pagar balkon termenung. Ia menghitung bintang dengan sinar paling terang sebelum tersenyum dalam diam. Sarah mengeratkan jubah tidur yang ia kenakan, entah kenapa suhu begitu dingin daripada sebelumnya dan Sarah merasa tersiksa dengan itu.
Ia melirik ke belakangnya, Alex baru saja masuk ke dalam kamar. Pria itu membuka kausnya dan berbaring ke atas ranjang. Tidak memedulikan keberadaan Sarah di pinggir balkon. Sarah masuk kembali ke dalam kamar, dia berjalan melewati ranjang lalu keluar kamar tapi suara Alex menghentikannya.
"Kau mau kemana?"
"Aku akan meminta kamar lain, Alex. Aku tidak ingin perasaan ibumu semakin terganggu dengan ini," Jawabnya. Sarah meremas gagang pintu itu saat melihat wajah Alex kembali seperti orang marah. Kerutan di dahi dan bentuk alis pria itu membuat sarat yakin kalau Alex akan membakarnya segera.
"Berhenti melangkah Sarah, atau kau akan menyesalinya."
Wanita itu perlahan melepas genggamannya pada gagang pintu, Sarah membalikkan tubuhnya perlahan, ia melihat Alex berdiri di pinggir ranjang dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada. Wajah pria itu terlihat tidak terlalu jelas karena ini sudah malam dan suasana kamar hanya diterangi oleh sinar bulan yang tidak terlalu kentara.
"Tidur denganku, Sarah. Ini sebuah perintah," Ucapnya sekali lagi. Sarah menggeleng lemah, ia menundukkan wajahnya dan meremas jemarinya sendiri. Telinganya mendengar sebuah hembusan napas kasar dan ia tahu Alex kini tengah berjalan mendekatinya.
Pria itu perlahan mendongakkan wajah Sarah, ia mengelus bibir merah wanita itu dengan ibu jarinya sebelum menarik sebuah senyum kecil,"Kau tak bisa pergi dariku sebelum aku yang memintamu untuk pergi."
"Kenapa?"
Alex tak langsung membalas pertanyaan Sarah, ia menarik pelan pergelangan tangan wanita itu-- menuntunnya pada ranjang besar.
"Karena aku membutuhkan tubuhmu," Alex mencium bibir wanita itu dengan begitu rakus, mendorong tubuh Sarah hingga ia terlentang di atas ranjang tanpa melepas ciuman mereka yang panas.
Sarah memejamkan matanya erat, jantungnya semakin menggila setiap bibir Alex seperti menghisap bibirnya dengan ganas. Ia tidak ingin melanjutkan ini tapi sial tubuhnya menolak itu. Gairah sudah lebih dulu menyelimuti pikirannya hingga ia hanya bisa pasrah ketika Alex mulai membuka gaun tidur yang masih melekat pada tubuhnya. Sarah merasa tubuhnya terangkat hingga posisinya menjadi di atas Alex, pria itu bergerak cepat untuk melucuti sisa pakaian mereka sebelum menarik tubuh Sarah kembali untuk ia cium.
Sarah mulai mendesahkan nama Alex ketika pria itu menggigit lehernya dan mengecup ujung dadanya dengan sensual.
"Malam ini kau boleh mendominasi," Gumamnya. Sarah mengerjapkan matanya yang memanas, oh demi tuhan! Ia kelaparan, ia lapar akan kenikmatan semu yang akan ia raih bersama Alex malam ini. Tanpa pikir panjang lagi, Sarah segera memposisikan dirinya sendiri di atas tubuh Alex. Miliknya sudah begitu basah dan siap menerima Alex.
"Slow down, baby," Alex terkekeh melihat Sarah yang tampak sudah diujung kesabarannya sendiri.
Mereka mulai bergerak, begitu panas dan menggelora. Sarah menaruh kedua tangannya di atas dada Alex yang keras, bisa ia rasakan degupan jantung pria itu yang terasa damai serta bulir keringat yang mulai menyatu dengan suhu panas dari tubuh indah itu.
"Ya, seperti itu, Sarah. Kau belajar dengan cepat sayang," Bisiknya. Sarah tak membalas ucapan Alex, ia sudah jauh tenggelam ke dalam laut gairah hingga tak fokus mendengar suara Alex.
Oh, terkutuklah dirinya yang terlalu mudah jatuh dalam rayuan nafsu ini.
...
Tiga hari berlalu begitu cepat. Setelah malam itu, Alex mengatakan kalau ia akan pergi selama tiga hari. Sarah tak banyak melakukan kegiatan setelah kepergian Alex paginya, ia hanya bangun untuk sarapan lalu membantu para pelayan saat membersihkan mansion besar tersebut. Selama tiga hari itu juga ia tak melihat Marilyn, saat bertanya pada para pelayan, mereka hanya bilang Marilyn pergi pagi-pagi dan pulang setelah makan malam. Mungkin itulah sebabnya kenapa Sarah tak melihat wanita baik itu selama beberapa hari ini.
Senyumnya luntur seketika saat ia melihat Marilyn tengah duduk di salah satu bangku taman sembari memegang bingkai foto. Awalnya Sarah ragu untuk mendekat tapi akhirnya ia memutuskan untuk berbicara dengan Marilyn.
"Maaf mengganggumu Nyonya Grissham. Boleh aku duduk?"
Marilyn menatap Sarah yang berdiri di depannya, ia tersenyum kecil lalu menepuk sisi sebelahnya yang kosong. Sarah membalas senyuman itu lalu ikut duduk, ia melirik bingkai foto yang ada di tangan Marilyn.
"Foto pernikahan mu?"
"Benar. Ini adalah satu-satunya momen yang paling kusukai," Jawab Marilyn.
Sarah menganggukkan kepalanya, tentu saja, Marilyn pasti sangat bahagia saat itu.
"Rasanya aku semakin merindukan suamiku. Setiap hari aku bangun di pagi hari, selalu terasa dalam benakku kalau ia tengah tersenyum dan mengecup dahiku. Sama seperti yang selalu ia lakukan," Katanya sembari terkekeh kecil. Sarah tak mampu membalas, ia hanya cukup mendengarkan curahan hati dari Nyonya besar itu daripada salah bicara.
"Apakah putraku melakukan hal yang sama padamu nak?"
Pipi Sarah seketika merona. Ia tergugu seketika dan malu untuk menjawab. Ia malu karena posisinya disini adalah sebagai wanita penampung benih pria itu dan saat ini dirinya sedang berbincang dengan ibu dari pria yang akan menjadi ayah dari bayinya. Tentu saja ia malu untuk mengatakan tentang apa yang Alex lakukan ketika pagi hari.
"Ah maaf, aku malah menyinggung mu dengan hal tidak mengenakkan. Aku tahu, Alex tak mungkin punya rasa hormat pada perempuan," Marilyn menunduk sedih. Putra yang ia banggakan itu mungkin seorang bajingan, tapi dia tetap darah dagingnya.
"Sarah, aku minta maaf karena aku sudah membuatmu berada dalam situasi tidak menguntungkan ini. Dan juga maafkan aku karena Alex--"
"Tidak Nyonya Grissham. Anda tidak salah dalam hal apapun dan aku... Aku dan Alex sudah sepakat untuk melanjutkan perjanjian kami. Aku tahu aku bisa melakukannya dan Alex pun begitu," Potongnya cepat. Ia tidak ingin Marilyn semakin menyalahkan dirinya sendiri dan larut dalam kesedihan serta penyesalan.
Wanita paruh baya itu lantas menggeleng, ia menaruh bingkai foto di sisi kosong sebelahnya lalu menatap Sarah,"Nak, aku tahu kau itu sedang tak baik-baik saja. Kenapa kau tidak melakukan sesuatu untuk mematahkan perjanjian kalian? Aku ingin membantumu Sarah tapi sepertinya aku tak bisa melakukan itu karena Alex... Aku hanya takut Alex semakin berada dalam jarak yang jauh dariku."
Sarah menggeleng, ia menatap ujung jari kakinya sebelum kembali menatap mata coklat Marilyn,"Tidak apa Nyonya Grissham. Anda tak perlu melakukan apapun. Lagipula, entah kenapa aku merasa kalau berada dalam jarak yang dekat bersamanya membuatku merasa... Aman. Walau ia tidak terlihat seperti itu," Balas Sarah. Ia tersenyum kecil pada Marilyn dan tersadar kalau ia sedang bicara tak masuk akal.
Sebelum Sarah sempat kembali berkata, Marilyn meraih salah satu tangannya lalu menggenggamnya erat,"Aku berharap perasaanmu akan segera terbalas. Aku tahu Alex juga tipikal pria yang mudah jatuh cinta, maksudku, apa yang tidak mungkin di dunia ini? Jika kau menyukai putraku, kau bisa mengatakannya padaku Sarah. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak pernah membencimu hanya karena itu," Perkataan Marilyn sukses membuat Sarah terdiam.
Benarkah?
Benarkah kalau ia menyukai Alex secepat ini? Atau itu hanya rasa semu yang bisa saja hilang di kemudian hari?
...
A/n : up up up. like dan komen jangan lupa ya... terima kasih