Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 38



"Oh jadi ini pengecut yang bernama Edric Lynch?"



Suara itu begitu dingin seperti es dengan tatapan membunuh yang biasa Edric temukan di film psikopat. Dia tidak tahu siapa yang datang dan apa keperluan mereka, tapi ia yakin kalau ini memang tentang dirinya.



"Siapa kau?" Tanyanya. Ia takut, tentu saja.



Di seberangnya, Alex tertawa remeh. Dia mengangkat satu alisnya melihat respon yang diberikan Edric.



"Menyedihkan, kau pengecut gila yang membuat wanitaku terluka!"



Edric terdiam disana. Dia bingung, tentu saja. Matanya meneliti wajah pria yang meluapkan amarah padanya dengan seksama. Astaga, ia rasa ia tahu itu siapa.



Tentu saja, dia Alex Grissham yang selalu muncul di majalah bisnis. Yang waktu lalu dikabarkan punya orientasi seksual yang menyimpang. Untuk apa pria gay ini datang kepadanya sambil marah-marah?



"Tunggu dulu, sebenarnya ada apa ini? Kenapa kalian masuk ke rumah kami dan menuduh suamiku?"



Alex menatap tak suka pada wanita yang berada di anak tangga, mereka sama saja.



"Zack, ikat mereka semua," Titahnya. Zack segera mengangguk, dia memberi kode pada anak buahnya untuk mengikat Edric beserta keluarganya.



"Hei, apa-apaan!" Edric berusaha untuk memberontak, begitu pula dengan istri serta kedua putrinya. Alex melipat kedua tangannya di depan dada lalu memandang kesal pada Edric.



"Apa kau lupa? Kau menampar wanitaku beberapa jam lalu. Dia dirawat di rumah sakit berkat ulah pengecutmu dan aku benar-benar marah karena hal itu," Kata Alex setelah Edric benar-benar terikat kencang.



Edric tersadar sesuatu. Oh, sialan. Sepertinya Sarah memang dimiliki oleh pria penuh kuasa ini. Ia meneguk ludahnya susah payah dan berusaha memutar kalimat untuk bisa menyelamatkan dirinya.



"Tu-tuan Grissham. A-Anda salah paham, aku tidak--"



"Mau ku bunuh sekarang? Dengarkan aku baik-baik, Lynch. Ada tindakan, ada pula pertanggungjawaban. Kau harus menerima ganjaran atas apa yang sudah kau perbuat pada Sarah."



Keringat dingin mulai membanjiri wajah Edric. Dia benar-benar lemah dan tak berdaya dibanding pria berkuasa seperti orang ini. Ah, dia juga baru tahu kalau Alex adalah kekasih Sarah. Berarti berita miring itu adalah palsu?



"Apa maksudmu Tuan?! Siapa itu Sarah dan kenapa kau menuduh suamiku dengan itu?"



Alex melirik wanita berambut pendek yang terlihat garang. Ia tersenyum remeh karena wanita itu terlalu mudah untuk dibodohi.



"Bagus sekali, jadi kau tidak tahu rahasia apa yang disembunyikan oleh suami sialan mu ini?"



Levany terdiam. Dia tak tahu apa maksud ucapan Alex.



Alex meraih kerah baju Edric dan mencengkramnya kasar hingga pria itu merasa tercekik,"Pria sialan ini berniat memerkosa Sarah lalu menjualnya pada pria kaya--"



Alex memberi satu pukulan tepat di pipi Edric hingga pria itu tersungkur. Suara teriakan dari kedua anak Edric terdengar menyedihkan, tapi Alex tak akan pernah berhenti hingga ia puas.



"A-apa maksudmu? Edric tak mungkin melakukan itu," Kilahnya. Alex menggeleng,"Kau terlalu bodoh sebagai perempuan. Apa kau tidak pernah tahu kalau dia ini adalah mucikari huh? Bekerja sebagai dosen hanya untuk menutupi pekerjaan sesungguhnya," Alex mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya lalu melempar sekumpulan kertas-kertas putih berisikan foto dan data lainnya tepat di wajah Edric.



"Edric! Ini tak benar kan? Kau... Kau tidak--"



"Diamlah kau. Zack, bawa wanita itu dan anak-anaknya pergi ke tempat lain. Aku punya urusan dengan bajingan satu ini," Titahnya. Zack segera bertindak, dia dan dua orang anak buahnya segera menuntun Levany beserta kedua anaknya pergi keluar, menyisakan Alex dan Edric di dalam rumah itu.



"Mr.Grissham, maafkan aku. Kumohon jangan sakiti keluargaku Tuan. Aku mohon maafkan aku," Pintanya seperti seorang pengemis. Jika saja ia tahu kalau Sarah itu milik Alex, ia tak akan pernah berani untuk menampakkan dirinya di hadapan Sarah apalagi menampar wanita itu.



Alex semakin berang mendengarnya, ia lagi-lagi melayangkan pukulan hingga Edric kembali tersungkur ke belakang. Tangannya yang diikat membuat dia tak bisa berbuat leluasa. Kepalanya mulai pening karena pukulan Alex tak main-main. Bahkan ia tahu kalau bibirnya pasti robek dan mengeluarkan darah.



"Sarah sudah mengatakan semuanya. Bukan sekali ini saja kau melecehkan dia, bahkan dulu, sewaktu Sarah kuliah kau pun melecehkan dia kan? Pria sialan!"




Alex benar-benar gelap mata. Ia bahkan berani menendang perut Edric hingga pria itu memuntahkan darah dari bibirnya. Alex benar-benar tak terima dengan perlakuan Edric pada Sarah, apalagi mengetahui kalau pria itu berniat mesum pada wanita yang ia sukai. Secara tak langsung, ia cemburu. Walau kenyataannya Edric yang brengsek, hal itu tak bisa membuat Alex tak merasakan kecemburuan.



Edric benar-benar kesakitan, ia tak bisa lagi merasakan otot wajahnya atau sekedar bernapas. Alex benar-benar ingin membunuhnya.



"Ini akan menjadi peringatan yang terakhir kali untukmu, Lynch. Jangan pernah menyentuh sejengkal pun dari milikku. Karena Sarah hanya milikku dan tak ada yang boleh menyentuh ujung rambutnya sekalipun!" Tegasnya lalu untuk yang terakhir kali menendang perut Edric.



"Oh dan juga, bersiaplah untuk berada di dalam penjara. Aku sudah menyerahkan semua bukti-bukti kalau kau melakukan perdagangan manusia. Itu ilegal dan aku senang bisa membantumu masuk ke dalam penjara lalu membusuk."



"Berterimakasih lah karena aku tak membunuh mu malam ini, Lynch." Lanjutnya.



Mata Edric membulat sempurna. Dia meronta-ronta di bawah sana, menangis untuk dibebaskan dan meminta maaf. Ia bahkan terlihat seperti orang gila ketika mendengar tapakan sepatu Alex yang menjauh dari rumahnya.



Ya, satu pelajaran yang ia dapat adalah jangan pernah bermain-main dengan pria seperti Alex.



...



Alex tahu kalau ia datang sedikit lama, tapi ia harus menepati janjinya pada Sarah. Dia menutup pintu ruang rawat Sarah dan mendapati kalau wanita itu tengah tertidur nyenyak di atas ranjangnya. Leah tidak ada lagi disana, kemungkinan besar sahabatnya itu pulang ketika Sarah tidur.



Alex duduk di samping ranjang pasien lalu meraih sebelah tangan Sarah dan menggenggamnya,"Aku datang," Bisiknya.



Sebelah tangannya yang lain ia jalankan ke atas perut buncit Sarah, merasakan kedua calon bayinya di dalam sana dan bersyukur karena mereka baik-baik saja.



Elusan di perut Sarah membuat wanita itu menggeliat. Perlahan ia membuka matanya dan mendapati kalau Alex sudah ada disisinya.



"Kenapa lama sekali?" Tanyanya. Suaranya terdengar parau.



"Tidak ada apa-apa."



Sarah meraih tangan Alex dan mengetahui kalau buku jarinya sedikit terluka.



"Kenapa ini? Kau berkelahi?"



Alex tak menjawab apapun, ia memilih untuk mencium punggung tangan Sarah cukup lama sebelum kembali menatap mata wanita itu yang terlihat khawatir padanya.



"Hanya masalah kecil. Kau tahu maksudku."



Sarah mengatupkan bibirnya. Ini pasti soal Mr.Lynch. Sarah sudah bisa menebak kalau hal ini terjadi.



"Kita harus mengobati tanganmu," Katanya.



"Tak usah. Sekarang kau tidurlah, aku akan disini sambil mengelus perutmu sampai besok pagi. Karena kita masih punya banyak rintangan esok hari," Titahnya.



Sarah tak mampu membantah. Di sisi lain dia juga lelah karena hari ini. Pikirannya selalu berputar tentang kejadian-kejadian di masa dulu yang menyakitkan.



"Selamat malam Alex."



"Iya, selamat malam."



...



A/n :πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸ€©