
Sedang di altar, pengantin pria pun dengan para bestman telah lebih dulu menunggu disana. Alex berdiri tak sabaran, sedari tadi ia gugup dan tak percaya kalau kali ini dirinya benar-benar akan menikah. Ia menatap ragu pada setiap tamu-tamu yang hadir memadati seisi katedral ini. Alex sempat tersenyum miring, mengingat ada beberapa orang yang dulu bersikeras mencari bukti kalau dia memang gay, duduk di bangku nomor tiga dari depan. Orang-orang itu menampakkan raut tak percaya serta malu karena memakan bulat-bulat gosip miring itu. Alex lega, setidaknya reputasinya kini kian menanjak seiring dengan kabar pernikahannya bersama Sarah yang terkesan mendadak karena sebagian orang tak tahu apa-apa mengenai Sarah.
Lupakan saja itu, kini jantung Alex kembali berdetak keras kala melihat para bridesmaids yang berjalan anggun ke sepanjang aisle itu. Sebentar lagi ia akan melihat calon istrinya yang cantik. Wanita keras kepala dan cengeng yang berhasil membuat dia bertekuk lutut.
Para tamu menatap takjub di depan pintu besar itu, Sarah dan Mr.Louse berjalan pelan menuju altar dengan alunan piano yang mulai terdengar seiring dengan kedatangan si mempelai wanita di depan sana.
Mata Alex terpaku melihat kecantikan Sarah dari sini. Dia tak bisa menggambarkan betapa cantiknya sang pujaan hati ketika mengenakan gaun pengantin yang melekat pas ditubuhnya dengan tatanan rambut yang terasa pas. Alex mengutuk veil putih itu yang membuat dia tak bisa memandang dengan leluasa ke arah wajah Sarah yang cantik.
Sama seperti Alex, Sarah juga terpukau. Ia mengakui kalau tampilan Alex dengan jas hitam itu benar-benar terlihat gagah. Ia menyukai bentuk rambut Alex yang ditata rapi seperti itu, sungguh Sarah tak sabar untuk kembali mengacak-acak rambut Alex kali ini.
Ia berhenti tepat di depan Alex, Mr.Louse memberikan tangannya pada Alex lalu membiarkan pria itu menggenggam erat telapak tangan Sarah yang halus.
"Kau cantik," Bisiknya. Sarah terkekeh, tapi ia tak mengatakan apapun.
Pendeta membuka buku alkitabnya lalu memulai prosesi pernikahan ini setelah keadaan kembali hening.
"Ladies and gentleman, terimakasih kepada Tuhan karena kebaikannya kita bisa berada di sini untuk menghadiri upacara pernikahan antara Alexander Grissham dengan Sarah Heather."
Pendeta tua itu diam sejenak. Dia berucap sesuatu tentang pernikahan, cinta dan beberapa ayat dari Alkitab sebagai pengantar upacara pernikahan ini. Ia menatap Sarah dan Alex bergantian sebelum kembali mengucapkan kalimat yang mesti diikuti oleh Alex maupun Sarah.
Alex menarik napasnya, ia berusaha untuk tak bersikap tegang.
"I, Alexander Grissham... take you, Sarah Heather to be my wedded wife. To have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness or in health, to love and to cherish 'till death do us part."
Sarah tak bisa menahan tangisnya sendiri dan akhirnya cairan bening itu meleleh dari sudut matanya dengan cepat. Genggaman di tangannya semakin erat, Sarah tahu kalau Alex tengah memberinya kekuatan.
Sarah mengucapkan kalimat yang sama dengan sedikit bergetar hingga akhirnya ia bisa bernapas lega karena mengucapkan sumpah pernikahannya dengan benar.
Alex menatapnya penuh cinta, ia menulikan telinganya dari suara pendeta yang membacakan beberapa kalimat tentang cinta dan pernikahan. Pria itu menatap dalam pada gelapnya mata Sarah, mencari alasan kenapa ia begitu dengan mudah menjatuhkan hatinya pada Sarah setelah semua yang mereka lewati bersama.
Alex terkekeh dalam hati, ini bukan mimpi. Semua ini nyata, ia telah mengucapkan sumpahnya begitu pula dengan Sarah.
"Untuk saat ini dan selamanya, atas nama Tuhan, aku nyatakan kalian sebagai sepasang suami-istri--"
"You may kiss the bride." Lanjutnya.
Alex membuka veil putih itu yang sedari tadi menutupi kecantikan wajah Sarah. Ia perlahan memajukan tubuhnya, mencium dengan lembut bibir merah Sarah. Ia akhirnya benar-benar percaya dan lega karena semuanya telah selesai. Alex memejamkan matanya, ia menarik pinggang Sarah lebih erat lalu memiringkan kepalanya sedikit.
Rasa ciuman yang benar-benar berbeda. Ya, ini karena Alex mencium Sarah yang kini telah menjadi istrinya. Perasaan asing itulah yang membuatnya sedikit berbeda.
Tepuk riuh para tamu mulai terdengar setelah ciuman mereka berakhir. Alex tersenyum manis pada Sarah lalu mengusap sudut matanya yang sedikit berair.
"Terimakasih karena telah menerimaku sebagai istrimu Alex," Katanya.
"Terimakasih karena kau juga menerima semua kekuranganku ini. Aku senang karena pada akhirnya kau lah yang menjadi pelabuhan terakhir ku."
Sarah ingin sekali mencium Alex, tapi prosesi pernikahannya belum selesai. Setelah melewati beberapa tradisi lainnya, barulah upacara itu benar-benar selesai.
Pesta selanjutnya akan digelar nanti malam, Sarah punya waktu beberapa jam untuk beristirahat sebelum kembali menyambut tamu-tamunya nanti malam juga mengumumkan pada dunia tentang ketiga bayinya.
...
Sore itu, mansion terlihat masih ramai karena pesta kedua yang akan digelar malam ini. Seorang wanita dengan setia berada di kamar lantai atas, menjaga ketiga bayi majikannya. Si sulung sedari tadi tidak tidur, dia dengan mata kecilnya itu terus mengedip lucu dan sesekali menggerakkan kepalanya.
Wanita bernama Lorey itu duduk di sebelah ranjang Aaron. Ia menepuk pelan paha Aaron agar ia kembali tertidur. Axelle dan Alaina berada di ranjang kedua, mereka tertidur begitu nyenyak.
Keheningan itu sedikit terusik dengan suara daun pintu yang terbuka sedikit. Lorey menaikkan sebelah alisnya, dia yakin semua orang pasti sedang sibuk di lantai bawah, tapi apa mungkin majikannya sudah pulang?
Lorey berjalan ke depan pintu, lalu membukanya. Ia tiba-tiba tersentak kaget ketika melihat seseorang dengan hoodie hitam merangsek masuk ke dalam lalu memukulinya dengan tongkat bisbol yang entah kapan orang itu dapatkan.
Seketika Lorey pingsan. Ia tergeletak dengan darah di kepalanya. Orang itu menutup kembali pintu lalu menguncinya rapat. Dia membuka hoodie itu lalu melempar tongkat bisbol ke lantai.
Ia tersenyum sinis lalu mengelap tangannya pada jaket yang ia kenakan.
Siapa lagi yang orang gila yang berani masuk ke sarang buaya tanpa penjagaan selain Calyria? Wanita gila yang bahkan rela menghancurkan masa depannya sendiri demi obsesi sesaatnya.
Wanita itu mengenakan pakaian Lorey lalu menutup wajahnya dengan masker putih. Calyria menggulung rambutnya lalu mengambil wig coklat dari dalam tas yang ia bawa sebelum melempar tas itu ke dalam lemari lalu mengunci pintunya.
Dia menatap tajam ke arah dua ranjang bayi itu dan bersumpah akan melenyapkan mereka, seperti yang Alex lakukan padanya. Calyria tak peduli jika ia dihukum mati sekalipun, ia hanya ingin melihat Alex menderita karena telah membiarkan ia hidup dalam kesengsaraan sejak hari dimana pria itu meninggalkan dirinya.
Calyria menatap Alaina, satu-satunya bayi perempuan yang Alex miliki. Dia mendekap tubuh kecil anak itu dan memberinya tatapan tajam.
"Kau harus membayar semua kesalahan Alex terhadap ku, bocah! Aku tak akan pernah membiarkan ayahmu bahagia begitu saja."
Tepat setelah itu, Alaina menangis keras. Calyria menaruhnya kembali ke dalam ranjang bayi tanpa memedulikan tangisan lirih anak itu. Ia duduk di salah satu kursi di dekat ranjang Aaron lalu menunggu hingga waktunya tiba.
Ia tahu kalau Alex mengadakan pesta pernikahan malam ini dan Calyria yakin kalau itu satu-satunya saat yang tepat untuk merencanakan aksinya.
Pintu itu kembali di ketuk dan terdengar suara dari luar sana.
"Lorey, sebentar lagi Tuan dan Nyonya Grissham sampai ke mansion. Bersiaplah untuk membawa Tuan muda dan Nona muda."
"Ya, aku mengerti."
Lalu suara itu menghilang. Calyria berdiri, dia menatap satu persatu bayi yang berbaring tenang di atas ranjang kecil itu. Alaina masih menangis sesenggukan walau tidak terlalu besar. Dia tak peduli jika orang akan menuntut dirinya karena melakukan ini. Calyria hanya ingin pembalasan, lagipula jika kehilangan satu bayi bukanlah masalah besar kan? Alex punya tiga bayi, Calyria rasa itu akan baik-baik saja.
...
Reginald beserta rombongannya berada di depan pintu apartemen Calyria. Ia sudah mengetuk beberapa kali, tapi tak ada sahutan apapun dari balik pintu itu.
"Ayah... Stefan ingin masuk," Reginald menoleh pada putranya yang merengek. Pria itu menekan gagang pintu dan sedikit terkejut karena pintunya tak terkunci.
"Apa wanita itu ada di dalam sini?"
Dia mengendikkan bahunya sebagai jawaban. Reginald tak memedulikan pertanyaan pria Rusia itu dengan memilih masuk ke dalam sembari menggenggam tangan Stefan.
"Cal?"
Ia mengedarkan pandangannya lalu tersentak ketika melihat pengasuh Stefan yang tergeletak di bawah meja makan dengan posisi yang mengerikan. Tubuhnya penuh luka dengan ikatan pada kaki dan tangannya.
"Ada apa ini Reg? Kenapa dengan tempat ini?"
"Aku tak tahu."
Reginald mendekat pada Lonna lalu mengguncang bahu gadis itu dengan pelan,"Lonna, bangun. Hey, apa yang terjadi disini?"
Lonna perlahan membuka matanya. Dia menangis saat itu juga ketika melihat Reginald beserta Stefan yang tengah menatapnya kebingungan. Gadis itu menggelengkan kepalanya ketika melihat bayangan saat Calyria melukainya dengan benda-benda tajam.
"Tuan Reginald! Nona Calyria sudah gila, dia berusaha membunuhku karena aku membiarkanmu membawa Tuan muda Stefan!" Teriaknya sembari menangis.
Stefan menatapnya ketakutan, dia berdiri di belakang tubuh ayahnya sambil melihat sedikit pada Lonna yang kesakitan. Stefan tak mengerti dengan apa yang terjadi, tapi dia ketakutan.
"Apa? Dia sampai melakukan itu padamu?"
Lonna lantas mengangguk.
"Tenangkan dirimu, Lonna. Aku akan memanggil bantuan segera. Sekarang katakan, dimana Calyria?"
Lonna menatapnya ngeri,"Tuan, Nona Calyria berencana untuk membunuh keluarga Tuan Alex. Aku mendengar dia berteriak soal mantan kekasihnya dan kumohon! Hentikan perbuatan Nona Calyria! Dia berusaha untuk menghancurkan orang itu," Balasnya. Reginald merasa bahunya melemas. Ia berkata pada Lonna untuk tetap disini hingga bantuan datang sedangkan dirinya pergi terburu-buru bersama Stefan juga para pria Rusia itu untuk menghentikan kelakuan gila Calyria.
"Reg! Aku akan memberikan kabar tak enak ini pada Tuan Viktor. Membunuh wanita itu saat suasana sedang ramai adalah hal gila!"
Reginald tak memedulikan racauan orang itu. Dia hanya ingin menghentikan perbuatan gila Calyria. Reginald tak mau wanita itu merusak kehidupan orang lain lagi. Ya, dia hanya ingin Calyria berubah, memaksanya untuk tak lagi mengharapkan cinta Alex yang sudah mati untuknya.
Ia memandangi Stefan yang duduk ketakutan di kursi penumpang. Semua ini juga demi masa depan Stefan, Reginald tak mau anak itu mengingat Calyria sebagai seorang pembunuh.
...
a/n : up up up