Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 15



"Kau ini apa-apaan?!"



Alex tergelak mendengar ucapan Sarah. Dia menyipitkan matanya seolah sedang menggoda Sarah yang begitu manis.



"Baiklah, ayo kita main tebak-tebakan. Aku akan menebak warna celana dalam mu dan jika tebakan ku benar maka bercinta lah denganku," Ucapan Alex berhasil membuat Sarah ingin menuangkan air panas pada wajah sialan itu tapi sayangnya Alex terlalu tampan dan ia tidak punya kemampuan untuk merusak keindahan dari Tuhan.



"Alex berhenti bercanda. Kalau begitu aku akan pulang saja," Sarah menyimpan kembali barang-barangnya dan akan segera beranjak jika saja dua orang perempuan tidak menginterupsi meja mereka.



"Uhm, Mr.Grissham?"



Baik Alex dan Sarah sama-sama menoleh pada asal suara itu. Sarah kembali duduk perlahan dan memalingkan wajahnya, tampaknya dua gadis ini kenalan Alex.



"Ternyata ini benar Anda. Sangat kebetulan kami menjumpai Anda disini Tuan. Aku Tira dan ini Luna, kami pegawai baru di tempatmu," Lanjut gadis itu. Alex berdeham, tentu ia harus memanfaatkan kesempatan ini untuk keuntungannya.



"Ah, tentu, aku sudah lihat profil kalian kemarin. Selamat datang di perusahaanku, maaf kita bertemu di saat yang tidak tepat," Balas Alex. Sarah mendengus menatap cara bicara pria itu yang terkesan seperti orang yang sangat sopan dan bijak. Uh, rasanya Sarah benar-benar ingin membuka aib tentang betapa mesumnya pemimpin perusahaan dua orang gadis itu.



"Ti-tidak Mr.Grissham, kami yang minta maaf karena menggangu acara mu dengan kekasihmu. Kalau begitu kami permisi Tuan," Selepas itu, dua orang gadis tadi memilih untuk pergi dan merutuki pipi mereka yang merona hanya karena mendapat senyuman penuh racun kenikmatan dari Bos mereka tersebut.



Sarah menyilangkan tangan di depan dada dan menatap Alex,"Oh tampaknya sandiwara ini berjalan lancar kan Mr.Grissham? Lihat dua perempuan tadi, mereka mulai menandai ku sebagai kekasihmu dan satu atau dua hari ke depan, berita tentang hubungan kita pasti menyebar."



Alex mengendikkan bahunya,"Lalu kenapa? Bukankah memang itu inti dari perjanjian kita? Setelah ini kau harus berhasil hamil untuk menguatkan bukti kalau aku bukan pria penyuka sesama," Alex segera berdiri, dia meraih tangan Sarah untuk ikut dengannya lalu mereka pun pergi dari kafe itu.



...



Mobil mereka berhenti di depan pekarangan kediaman Grissham. Para pelayan yang tengah bertugas di depan sana menyambut Alex maupun Sarah dengan hormat. Alex kembali menarik tangan Sarah, membawanya masuk ke dalam rumah besar tempat dia dulu dibesarkan.



Sarah menekukkan bibirnya,"Alex lepas tanganku."



Pria itu menurut, ia melepas pergelangan tangan Sarah dan berjalan mendahului wanita itu. Sarah menghela napasnya, dia memilih untuk duduk di atas sofa tamu lalu menunggu disana. Mungkin Alex ingin berbincang dengan ibunya atau apapun itu.



Mata hitamnya menangkap sebuah figura di samping sofa, itu terlihat seperti foto Marilyn dan suaminya Leonard. Irisnya menatap penuh keharuan saat melihat betapa besar rasa cinta yang dimiliki oleh mendiang Grissham senior itu pada istrinya. Bahkan Sarah bisa melihat rasa itu hanya dari tatapan matanya saja. Beralih lagi ke bingkai berikutnya, ia bisa melihat foto dimana Marilyn tengah mengandung, sepertinya itu Alex. Ia tersenyum kecil, entah kapan tapi itu pasti terjadi juga padanya. Ia akan hamil, perutnya akan membesar lalu ia melahirkan. Namun, situasi membuat itu semua terlihat tidak nyata.



Bagaimana tidak? Setelah dipastikan bayinya lahir, Alex si pria penuh keangkuhan itu akan merenggutnya dari Sarah. Membuang jauh Sarah dari kehidupan bayinya dan hidup penuh penyesalan.



Sarah membenarkan posisi duduknya, seketika ia merasa sesak. Sesak karena mengetahui kalau Alex akan membuangnya seperti sampah tak berguna.



Kepalanya mendongak saat merasakan sofa yang ia duduki sedikit berguncang, Alex juga duduk di sampingnya sambil memejamkan mata.



"Kau bisa tinggal disini untuk sementara waktu karena aku akan pergi sampai beberapa hari ke depan. Maksudku, tentu saja kau tidak akan tahan jika harus sendirian bukan?"



Sarah menoleh pada Alex, pria itu masih memejamkan matanya dengan erat tapi dia tidak tertidur. Sarah menjalankan telunjuknya ke rahang tajam pria itu, merasakan kehangatan dan gairah di saat yang bersamaan.



Kelopak itu terbuka, biru pudar itu balas menatapnya dengan memuja,"Mengagumi ku?"



Sarah terkekeh, dia membuat jarak di samping Alex dan meraih salah satu bingkai foto yang tadi sempat ia lihat,"Apa ini kau?"



Sarah menunjuk perut Marilyn yang tengah mengandung,"Ya. Itu aku," Jawabnya. Sarah tersenyum, ia menatap lamat-lamat foto itu sebelum mengembalikannya ke tempat semula.



"Nanti perutku akan sebesar itu dan rasanya pasti menakjubkan," Gumamnya.




Pria itu ingin sekali membaca ekspresi Sarah saat ini, wanita itu bahkan terlihat begitu tulus saat mengucapkannya. Sangat berbeda dengan wanita-wanita yang dulu ia kencani, mereka bahkan menolak mentah-mentah untuk mempunyai bayi karena alasan yang membuat Alex kadang berpikir sedikit lebih keras untuk mengerti.



"Sarah, aku tidak menyesalkan perbuatan ibuku yang menyebabkan kau terlibat dalam hal ini. Yang aku sesalkan adalah--"



Pria itu mendekat pada Sarah, mencium pundak wanita itu beberapa kali sebelum berbisik tepat di telinganya.



"Kau. Kau dan pesonamu yang berhasil menghancurkan ku, Sarah."



Jantung Sarah semakin berdetak tak karuan. Ia memilin ujung dress yang ia kenakan dan mulai duduk gelisah di samping Alex.



Aroma tubuh itu, aroma yang akan selalu Sarah ingat dalam indera penciumannya. Ia mungkin sadar kalau Alex adalah seorang perayu tapi entah kenapa Sarah menikmati euphoria itu sendiri. Hatinya tergelitik dengan cara yang tak masuk akal saat Alex mulai merayunya.



Telapak tangan pria itu meraihnya, menggenggamnya erat,"Satu minggu ini kau membuatku yakin kalau kita adalah teman tidur yang cocok."



Sarah tersenyum miris, apa itu tadi? Apa baru saja ia mengharapkan sesuatu yang lebih dari Alex? Bahkan pria itu hanya menganggapnya sebagai penghangat ranjang, tidak lebih.



"Alex."



Keduanya menoleh ke arah belakang, dimana Nyonya Grissham tengah berdiri sambil menatap keduanya penuh arti.



Marilyn duduk di seberang Alex dan Sarah, dia menatap keduanya bergantian sebelum berbicara,"Jadi apa ada kemajuan selama satu minggu ini?"



Sarah mengatupkan bibirnya, ia merasa Marilyn tidak begitu senang. Seperti ada masalah yang mengganjal dalam hatinya dan memaksa Sarah untuk menebak.



Alex bergerak menjauhi Sarah, dia berdiri lalu membenarkan letak jas yang ia kenakan,"Tentu saja ada kemajuan Mom. Gosip tidak jelas tentangku sudah tidak terdengar lagi dan mungkin akan ada gosip lainnya yang lebih menarik," Jawab Alex.



Marilyn menghela napas kasar, dia menajamkan matanya pada Alex, menunjukkan bahwa ia sangat tak menyukai cara Alex berbicara. Siapapun pasti tahu betul kalau gaya berbicara Alex terkesan begitu arogan. Terkadang Marilyn masih tak paham, kenapa putranya benar-benar berubah menjadi seorang dengan kesombongan dalam hatinya.



"Al, aku ingin kau merubah sifatmu nak. Baik, Mom minta maaf karena ikut campur dalam masalahmu dan membuat reputasimu kacau tapi--"



"Tidak. Kau tidak perlu minta maaf. Sudah kubilang kalau aku dan Sarah melakukan ini karena kami sudah punya kesepakatan. Maafkan aku Mom, untuk kali ini aku tidak mau mendengar ucapanmu," Potongnya. Pria itu meraih pergelangan tangan Sarah, membawanya naik ke lantai atas-- meninggalkan Marilyn dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.



Sarah tersentak saat Alex mengajaknya masuk ke dalam kamar. Wanita itu menoleh saat Alex berhasil mengunci pintu kamar tersebut,"Alex. Aku tak yakin ibumu akan menyukai ini. Maksudku, dia terlihat tidak suka melihatku. Aku jadi merasa bersalah padanya," Ucap Sarah. Alex tak menggubris itu, dia melepas jas yang ia kenakan lalu membuangnya asal ke atas sofa kecil. Alex menyugar rambutnya ke belakang hingga tatanan rambut yang tadinya rapi menjadi acak-acakan,"Jangan bahas soal ibuku. Dari awal dia yang membuatku seperti ini."



Sarah mendelik tajam, oh yang benar saja. Jadi Alex masih menyalahkan ibunya atas segalanya?



"Alex, ibumu tidak salah. Dia hanya ingin kau menjadi orang yang lebih baik lagi. Maksudku, tidakkah kau merasa kalau dirimu tidak sebaik yang kau kira?"



"Astaga Sarah, kenapa kau jadi begitu cerewet? Sudah kubilang jangan bahas apapun soal ibuku," Balasnya.



"Karena dia ibumu jadi aku harus membahasnya dengan mu, brengsek!"



Alex sedikit tersentak mendengar ucapan Sarah yang mulai berani padanya. Pria itu berjalan mendekati Sarah, ia meraih dagu wanita itu dan mencengkramnya,"Sayangku, bibirmu yang cantik ini begitu kasar. Perlu aku ingatkan satu hal padamu Sarah, disini kau berada dibawah kendaliku dan kau tidak berhak mengaturku atas apapun."



Alex memilih untuk meninggalkan Sarah. Dia masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya cukup keras hingga Sarah sedikit merasa kaget. Wanita itu membawa tangannya di depan dada dan menyadari kalau hatinya sedikit tercubit karena bentakan itu.



...