Perfect Agreement

Perfect Agreement
END



Pria itu melihat Sarah tengah tertidur pulas. Matanya yang cantik memejam sempurna dengan rambut hitamnya yang tergerai di atas bantal. Perlahan ia mendekat, duduk di pinggir ranjang sembari memerhatikan wajah cantik istrinya itu. Ia menjalankan jemarinya ke sepanjang garis wajahnya hingga perhatiannya berhenti di depan bibir merah milik istrinya. Seulas senyum terpatri di sudut bibir Alex, ia bangkit dari sana lalu membersihkan dirinya sendiri di kamar mandi.


Setelah selesai, ia bergabung bersama Sarah. Alex memeluk tubuh wanita itu dari belakang dan menyadari kalau itu sedikit mengganggu tidur Sarah hingga wanita itu menggeliat kecil lalu membuka matanya.


"Alex?"


"Baby, aku merindukanmu."


Sarah membalikkan tubuhnya, ia menatap suaminya yang ia rindukan kini tengah mendekapnya hangat. Kenapa ia sampai tidak tau kalau Alex sudah pulang?


"Kapan kau--"


"Baru saja. Kemarilah, aku ingin mencium mu," Potongnya cepat. Ia menarik tubuh istrinya hingga hidung mereka bersinggungan sebelum pria itu memagut bibir istrinya yang sedari tadi begitu menggodanya.


Sarah menarik diri, dia menatap kesal ke arah suaminya,"Kau bohong! Kau bilang akan menghubungi ku setiap hari, tapi nyatanya selama kau pergi kita hanya sempat mengobrol 3 kali saja dan itu pun sebentar," Protesnya.


Alex meringis pelan mendapati Sarah yang tengah marah padanya. Ya, ia menyesali itu tentu saja. Namun sungguh, Alex benar-benar sibuk selama dua Minggu itu. Ia pergi bolak-balik ke pulau dimana resort nya berada dan itu melelahkan. Belum lagi ia mesti mengadakan rapat mendadak bersama beberapa investor lain.


"Maafkan aku, sayang. Aku sudah usahakan semampuku, tapi aku tak pernah punya waktu yang pas."


Sarah menghembuskan napas kesal, tapi terlepas dari semua itu ia tetap senang Alex pulang dengan selamat.


"Aku merindukan mu, Alex. Jangan ulangi lagi," Pintanya sembari memainkan rambut suaminya yang sedikit memanjang.


Alex mendekap hangat tubuh istrinya sembari mengusap punggungnya pelan,"Aku tak akan ulangi. Lain kali jika aku punya tugas ke luar kota, mungkin ada baiknya kalian ikut saja bersamaku."


"Hmm, Alex..."


"Kenapa?"


Sarah mendongak untuk menatap wajah suaminya,"Waktu itu aku pergi ke tempat Mom. Kami sempat berbicara tentang sesuatu," Jawabnya.


Sarah sebenarnya ragu untuk mengatakan ini, tapi dirinya juga ingin membahasnya bersama Alex.


"Apa menurutmu kita pergi bulan madu saja? Karena ya... Seperti katamu waktu itu--"


"Setuju. Kau ingin kita pergi kemana?" Alex membalik posisi mereka hingga Sarah berada di bawahnya. Wajah wanita itu memerah padam dengan degupan jantung yang dapat Alex dengar dari dadanya.


"A-apaan kau ini... Ki-kita harus mendiskusikannya lagi kan?"


Alex menggeleng, Sarah menatap ke dalam bola matanya saat melihat ada kilatan gairah dari mata pria itu. Ia meneguk ludahnya susah payah, sepertinya ia sudah salah bicara.


"A-Alex, se-sebaiknya kita istirahat dulu. Kau pasti lelah."


"Rasa lelahku bisa menunggu, tapi ada sesuatu yang jauh lebih darurat dari rasa lelah," Balasnya.


Sarah mengeluarkan wajah bodohnya, ia tak sempat berbicara lagi ketika bibir Alex menciumnya penuh nafsu. Tangan pria itu pun dengan cekatan bergerak ke antara pahanya lalu menarik ujung gaun tidur tipis yang Sarah kenakan hingga tubuh bagian bawahnya terlihat. Wanita itu melenguh, ia menekan lengan Alex, merasakan otot-otot pria itu yang tercetak sempurna akibat olahraga yang selalu ia lakukan.


Alex menggigit kecil kulit rahang dan leher Sarah sebelum bibirnya meluncur ke bawah untuk mendapati bagian favorit menurutnya. Dia melepas pakaian yang Sarah kenakan, melemparnya ke atas lantai lalu kembali mencumbui setiap jengkal tubuh istrinya itu. Sarah tak bisa menolak disaat dia juga menginginkannya. Oh ayolah, dua Minggu bukan waktu yang sebentar, setidaknya bagi mereka berdua. Alex tak mau lagi terpisah jauh dalam jarak waktu yang lama. Ia tak akan bisa menahan nafsu sialan ini pada istrinya.


Dalam hati Alex bersorak senang, ia bosan terus bermimpi melihat Sarah yang telanjang. Ia benar-benar kesal dan bosan karena itulah yang ia alami selama dua Minggu itu.


Alex menyentak tubuhnya ke dalam tubuh Sarah, menikmati momen itu untuk dirinya sendiri.


Ranjangnya bergerak-gerak mengikuti sentakan demi sentakan yang Alex berikan pada istrinya bahkan wajahnya kian memerah.


"A-Alex.."


Wanita itu mendesahkan nama suaminya disaat ia berada di ujung kenikmatan itu. Alex pun sama, ia menggeram nikmat sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sarah.


Keduanya bernapas terengah-engah, tapi Alex sepertinya masih punya tenaga yang besar.


"Satu kali lagi."


"Alex!"


...


"Sarah, menurutku yang itu terlalu kecil."


Sarah menoleh ke arah suaminya yang sedang menemaninya membeli pakaian dalam.


"Apa maksudmu terlalu kecil? Ini ukuranku," Balasnya.


Alex mengendikkan bahunya, dia meraih bra yang tadinya dipegang Sarah lalu menatapnya sekali lagi,"Tidak. Ini bukan ukuranmu, sayang. Tidakkah kau sadar, semenjak si kembar lahir, ukuran dadamu membesar?"


Wanita itu kembali menimbang-nimbang ucapan Alex sebelum menaruh benda itu kembali ke tempatnya,"Apa-apaan kau ini? Aku memang biasa memakai yang seperti ini."


Mereka kembali berjalan untuk melihat yang lain. Alex mendorong kereta bayi Alaina sedangkan Sarah mendorong kereta bayi untuk bayi kembar, dimana Aaron dan Axelle terlelap.


"Kita lihat pakaian bayi dulu, ya? Aku ingin membeli gaun-gaun cantik untuk Alaina," Katanya. Alex mengangguk tanpa membantah, dia mengikuti langkah kaki istrinya ke arah toko perlengkapan bayi untuk membeli beberapa potong pakaian.


Usia si kembar kini sudah 7 bulan. Alex senang melihat hal-hal menakjubkan setiap hari. Ia merasa bahagia karena tak pernah melewatkan satu hari pun perkembangan anak-anaknya.


"Alex lihat ini! Apakah ini cantik? Alaina bisa menggunakannya untuk pergi ke pesta pernikahan Scott dan Leah," Tanya Sarah. Ya, Scott dan Leah memutuskan untuk menjalin hubungan lagi. Sarah tidak tahu bagaimana awal mulanya, tapi ia senang karena sahabatnya bisa mendapatkan kebahagiaan yang ia inginkan.


Setelah berlama-lama, akhirnya mereka keluar dari toko itu lalu duduk di sebuah kursi panjang yang berada di dekat elevator. Alex meraih kereta bayi putranya lalu menggendong Axelle dalam pelukannya. Anak itu terbangun dan menangis kecil, mungkin ia lapar.


"Kenapa Axelle? Daddy disini, sayang."


Axelle menghentikan tangisnya, dia memasukkan kepalan tangannya ke dalam mulut sambil beberapa kali berceloteh tak jelas.


"Alex, apa menurutmu kita pulang saja dulu? Ini sudah hampir gelap, anak-anak harus mandi dan tidur."


Ia menoleh pada istrinya lalu mengangguk,"Baiklah. Kurasa gigi-giginya mulai tumbuh, Sarah. Lihat, sedari tadi dia menggigiti tangannya."


"Iya, perhatikan saja Aaron, gigi-giginya mulai terlihat. Dia jadi lebih sering menggigit ** dadaku akhir-akhir ini."


Alex menahan senyumnya,"Well, menurutku kau juga sudah terbiasa aku gigit bukan?"


Sarah memberinya tatapan tajam, rona merah sudah terlihat di sekitar pipinya yang putih,"Bicaramu aneh. Sudah, ayo kita pulang."


Ia beranjak lalu mendorong kereta bayi Alaina, Alex tertawa pelan sebelum menaruh kembali Axelle yang terbangun ke dalam kereta bayi sebelum menyusul istrinya di depan sana yang tengah malu.


Rumah mereka terlihat begitu sepi sesaat setelah mereka sampai. Hanya ada penjaga dengan pakaian hitam yang bertugas untuk mengawasi setiap sisi mansion yang terlihat. Salah seorang pelayan kepercayaan Sarah membantunya membawa si kembar sedangkan Alex membawa semua barang belanjaan istrinya itu.


Setelah menyusun semua barangnya, Sarah lekas memandikan si kembar lalu menidurkannya. Beberapa minggu belakangan ini, Aaron sangat sulit tertidur. Memang bukan yang pertama kali, tapi tingkat kesulitan untuk membuat Aaron tertidur malah semakin sulit. Bayi itu terkadang berceloteh ringan dengan suaranya yang lucu atau terkadang tertawa melihat wajah ayahnya yang kesal.


Seperti saat ini misalnya, Axelle dan Alaina sudah lebih dulu tertidur setelah disusui. Namun Aaron masih betah untuk berlama-lama bermain dengan orangtuanya.


Dia duduk di pangkuan Alex dengan menghadap ke arahnya. Ditatapnya wajah sang ayah sebelum ia lagi-lagi tertawa.


"Apa yang lucu, sayang? Kau bahagia sekali sepertinya."


"Alex, berikan Aaron padaku. Biar aku susui lagi," Kata Sarah. Alex tak lekas menjawab, dia mencium gemas pipi gemuk Aaron hingga bayi 7 bulan itu lagi-lagi tertawa keras hingga menampakkan gusi-gusinya yang masih merah.


"Katakan Daddy, sayang. Da... Da..."


Sarah menatap keduanya dengan gemas. Lihat bagaimana Aaron berusaha untuk meniru apa yang ayahnya ucapkan. Mata bulatnya yang sama seperti Alex menatap penuh kekaguman pada ayahnya.


"Daddy... Kau bisa? Ayo, jagoan."


Setelah beberapa kali percobaan dan selalu gagal, akhirnya Alex menyerah. Ia tahu mungkin terlalu cepat untuk membuat Aaron berhasil menyebutnya ayah.


"Dad- da!"


Sarah terharu mendengar suara cempreng Aaron yang mengudara. Ia menepuk-nepuk telapak tangannya sembari terus berucap satu kata yang menakjubkan untuk di dengar. Aaron memang genius.


"That's my boy!"


Aaron tertawa keras sembari bergerak-gerak di atas pangkuan ayahnya. Alex mencium pipi putranya dengan gemas sebelum memberinya pada Sarah untuk disusui.


Sarah memposisikan dirinya menyamping, ia menepuk pelan bokong Aaron agar anak itu lebih cepat tertidur.


Alex menatap keduanya dengan mata penuh kekaguman, dia tidur menghadap Sarah sembari memandangi wajah istrinya.


"Terimakasih, Sarah."


Sarah lantas menatap Alex,"Ada yang ingin kau sampaikan?"


Pria itu menjalankan telunjuknya pada pipi Aaron yang gemuk sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada Sarah.


"Aku tidak tahu. Aku rasa aku tak punya kata-kata pas untuk menggambarkan betapa aku senang hidup bersamamu. Ah mungkin seperti ini saja, aku suka kehadiran mu, pelukanmu, suaramu, dan wajah cemberut mu itu ketika aku mengabaikan ucapan mu. Aku suka semua yang ada padamu Sarah dan terima kasih karena kau telah memberikan ku tiga malaikat mungil ini. Sekarang aku mempunyai sesuatu untuk aku lindungi."


Kata-kata itu, entah berapa kali pun Alex mengatakannya, Sarah tak akan pernah bosan mendengar. Ia suka ketika Alex mengakui perasaannya seperti ini dan tentu saja Sarah semakin yakin kalau sikap Alex sudah sepenuhnya berubah.


"Alex... Aku juga berterima kasih padamu karena kau mau mencoba untuk menerima ku dan anak-anak. Kau berhasil mengalahkan rasa takutmu demi kami. Terima kasih, Alex. Aku mencintaimu."


Alex semakin merapatkan tubuhnya, dia mengecup bibir istrinya dengan mesra sebelum menempelkan kening mereka,"Aku juga sangat mencintaimu, istriku."


Keduanya terlonjak saat Aaron tiba-tiba menangis, seolah tak rela ayahnya bermesraan dengan sang ibu.


Alex dan Sarah tertawa kecil. Mereka berdua tidur dengan Aaron yang berada di tengah-tengah mereka. Jemarinya saling bertautan sebelum akhirnya ketiganya tidur damai untuk menyambut hari esok.


Mereka bahagia, setelah semua hal yang sudah terjadi...


Aku ingin memberimu dunia ini, tapi sayang tidak bisa. Jadi, aku akan beri sesuatu yang paling berharga, yaitu duniaku.


-Anonim


END


...


A/n : Yeay akhirnya udah tamat hehe...


tenang, akan ada epilog kok dan saya bakal promosikan buku kedua tentang si sulung kembar, yaitu Aaron Grissham.


ditunggu ya, ga lama kok❤️❤️