
Ciuman-ciuman itu terus berlanjut hingga Sarah bisa merasakan kalau bibirnya sedikit membengkak. Ia mulai terlena oleh ciuman Alex yang memabukkan, pria itu tak jarang membelai wajahnya dengan satu jari kemudian mencecap rongga mulutnya tanpa henti, membuat Sarah bingung untuk mengendalikan dirinya.
Pria itu menarik wajahnya, ia menatap Sarah yang lemas dengan dadanya yang naik turun karena oksigen yang mulai habis dari paru-parunya. Seringai kecil terbit di sudut bibir Alex, ia mengusap permukaan bibir Sarah dan menatap penuh minat pada wanita pemilik netra gelap itu.
"Apa menurutmu aku adalah guru yang baik untukmu Sarah? Maksudku, bagaimana perasaanmu dengan ciuman tadi?" Tanyanya. Sarah gelagapan, ia mencoba untuk melepas diri dari Alex dengan mendorong pundak pria itu tapi Alex menyergap tangannya hingga Sarah sepenuhnya terkurung di bawah tubuh kekar pria itu. "Alex."
"Hmm? Kau ingin lagi?"
Sarah menggigit bibir bawahnya, demi apapun yang ada di dunia ini, wajah Alex begitu tampan bahkan melebihi semua ekspektasi dalam kepalanya. Bayangan pangeran-pangeran dari negeri dongeng yang sering ia dengar tampak lebih rendah dibanding Alex yang punya ketampanan seperti dewa dalam cerita. Sarah tahu tentang seks, setidaknya ia pernah melihat adegan disebuah film yang mempertontonkan bagaimana seorang pria dan wanita melakukan kontak fisik.
Oh tuhan!
"Alex..."
Pria itu mendekatkan bibirnya lagi, kali ini mengecup kening Sarah dan terus berjalan hingga menyentuh rahang wanita itu sebelum memberinya gigitan kecil hingga Sarah mengerang.
"Katakan apa yang kau inginkan Sarah?"
Salah satu tangan Alex menyusuri bagian atas tubuh Sarah, mencoba mencari gundukan besar yang sedari tadi bersembunyi dibalik kain tipis yang membaluti sekujur tubuh Sarah. Ia meremasnya pelan sambil matanya merekam dalam ingatan bagaimana perubahan wajah Sarah yang tampak menikmati apa yang ia lakukan.
Sarah ingin mendesah. Benar-benar, ini pertama kalinya ada seseorang yang berani menyentuh daerah sensitif dari dirinya bahkan memberi remasan kecil. Sarah merasa gila oleh sentuhan ini. Ucapan dan tatapan Alex serasa menghipnotis dirinya hingga ia benar-benar terlena oleh permainan pria itu.
"A-aku ingin kau," Jawabnya pelan.
"Gadis pintar. Tentu saja kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan nanti, tapi aku harus memeriksa dirimu dulu," Balasnya. Sarah menahan napasnya, perlahan wajah Alex hilang dari hadapannya karena pria itu kembali mencium rahangnya lalu turun ke lehernya sebelum satu tangannya dengan mudah mengangkat gaun tidur Sarah hingga dada Sarah yang hanya ditutupi bra terlihat olehnya.
"Just like what i'm thinking," Gumamnya. Alex melepas kaitan bra yang berada di depan dada dan meraih salah satu dari dada gadis itu untuk ia kecup. Sarah semakin dilanda gairah yang pekat. Ia mengerang setiap kali lidah Alex menyentuh ujung payudaranya seperti sebuah sengatan listrik. Sarah membusungkan dadanya sembari memejam nikmat.
Alex menghisap dan menjilati setiap inchi kulit payudara Sarah yang halus dan bersih. Bahkan dia bisa melihat urat-urat hijau di pinggirnya.
Setelah puas berlama-lama, Alex akhirnya melepas bibirnya dari puncak payudara Sarah. Dia menaikkan pandangannya pada Sarah dan mengetahui kalau wajah gadis itu sudah sangat memerah bahkan terlihat seperti jalang yang minta kepuasan.
"Kau terasa seperti surga. Tapi kita tak akan melakukannya malam ini,"
Alex segera bangkit, membuat Sarah terheran-heran dengan gerakan pria itu. Sarah merasa emosinya kian membumbung, ia merasa seperti jalang pada umumnya-- ya ia akui-- tapi seharusnya Alex tak lakukan hal seperti itu. Sarah menarik selimut secepat yang ia bisa, ditatapnya Alex yang berjalan mendekati kaca besar sambil membenahi pakaiannya,"Tidak bisakah kau... Lupakan saja," Wajahnya menunduk lesu. Sarah tak jadi melanjutkan kata-katanya karena entah kenapa hatinya terasa berat untuk mengatakan kalau dia ingin urusannya dengan Alex dihentikan saat ini juga.
Alex menatap Sarah melalui pantulan cermin dan mendekatkan telunjuknya di depan cermin itu, tepat pada pantulan wajah Sarah,"Aku tidak terbiasa melakukan seks dengan perempuan seperti mu. Maksudku, wajahmu--" Alex memutar tubuhnya,
"Kau terlihat menyedihkan tapi maafkan aku, untuk kesepakatan yang sudah kau setujui hari ini, aku tak akan pernah membatalkannya lagi. Jadi kuharap aku bisa melihat ekspresi lain darimu besok," Lanjutnya. Pria itu menyugar rambutnya ke belakang lalu memilih untuk keluar kamar. Oh setidaknya ia sudah tahu kalau Sarah benar-benar sempurna.
...
Pagi itu Sarah mendengar ada beberapa keributan diluar kamar. Ia tidak tahu, semalam Alex tidak lagi kembali ke kamarnya dan entah kemana pria itu pergi.
Gadis itu menyibak selimutnya dan berjalan perlahan ke pintu. Ia menempelkan telinganya dan mendengar ada suara perempuan yang samar-samar disana. Dahi Sarah berkerut, ia tidak pernah tahu kalau ada perempuan lain yang juga tinggal di tempat ini. Oh ia akhirnya mengerti kenapa ada pakaian wanita di lemari Alex. Sialan.
Dia menghela napasnya, Sarah menjauh dari pintu untuk segera membersihkan diri di kamar mandi. Hari ini dia akan menemui Leah dan meminta sedikit bantuan darinya. Tapi beberapa langkah setelah dia menjauhi pintu kamar, pintu itu terbuka cukup keras hingga membuatnya terlonjak.
Sarah memutar tubuhnya tapi ia langsung jatuh terjerembab ke atas lantai akibat tamparan yang keras. Gadis itu merasa bingung dalam beberapa detik sebelum dia menyadari kalau dirinya baru saja ditampar kuat. Sarah mendongak, mata hitamnya bertemu dengan netra biru yang melebar menatapnya. Wajah wanita itu diliputi amarah bahkan ia bisa melihat ada sepercik api seperti membara di dalam irisnya.
Belum sempat Sarah beranjak, ia menerima pukulan lagi. Kali ini wanita itu berani untuk menarik rambutnya dengan kuat hingga kulit kepala Sarah terasa seperti terbakar.
"Dasar jalang! Pelacur sialan! Mati saja kau!" Makinya sembari melukai tubuh Sarah seperti kesetanan. Sarah meringis kesakitan, ia berusaha melawan tapi perempuan ini cukup liar dalam percobaan untuk membunuh seseorang.
Beruntunglah aksi heboh itu tidak berlangsung selamanya karena Alex datang dengan cepat. Dia meraih kedua tangan gadis bar-bar tadi lalu mendorongnya jauh dari Sarah. Alex berjongkok, dia menatap wajah Sarah dan memastikan tidak ada luka serius.
"Jadi karena ini Alex?! Kau mencampakkan ku karena pelacur sialan ini? Bajingan berengsek! Aku benar-benar akan membunuh jalang itu jika dia--"
"Hentikan Calyria! Kau tidak berhak ikut campur semua urusanku dan seharusnya kau malu pada dirimu sendiri Cal, kau berselingkuh bahkan kau sudah menyerahkan tubuhmu pada si sialan itu. Jangan salahkan aku Cal, adalah sebuah kesalahan jika aku tetap memilih untuk menikahi wanita yang sudah jadi bekas pria lain," Potongnya. Itu merupakan pukulan telak bagi Calyria. Wanita dengan rambut pirang pucat itu terdiam karena merasa dipermalukan di depan Sarah yang masih terdiam dalam posisinya.
Alex berdiri dan menuntun Sarah untuk duduk di pinggir ranjang,"Sekarang aku minta kau pergi dan jangan pernah mencoba untuk menyentuh Sarah atau aku bersumpah untuk mematahkan kedua tanganmu," Ancamnya.
Calyria menelan ludahnya, ia tahu Alex bukan tipikal pria yang sering bermain-main. Jadi untuk saat ini dia lebih memilih mundur dan menjauhi Alex seperti yang dikatakan oleh pria itu.
Setelah memastikan Calyria pergi dari apartemennya, Alex kembali mendekati Sarah yang terdiam. Ia menghela napas dan menatap tanpa minat raut penuh kesedihan di dalam mata gadis itu.
"Dengar Sarah, jika kau bertemu dengan Calyria dimana pun itu, segera hubungi aku. Aku akan mencoba sebisa mungkin untuk melindungimu dari Calyria,"
Sarah memalingkan wajahnya ke samping,"Apa karena aku sebuah proyek?"
"Apa?"
Mata hitamnya menatap tajam pada Alex,"Ini adalah sebuah kesalahan Alex. Aku terlalu dibutakan oleh uang dan semuanya hingga hidupku penuh dengan masalah. Maksudku, aku memang butuh uang untuk membiayai semuanya tapi apakah ini pantas untuk aku lakukan pula? Lalu-- apakah sepadan rasanya jika aku menukar anakku dengan uang?"
Sarah menggigit bibir bawahnya. Oh kenapa ia jadi terbelit-belit seperti ini. Tadinya dia hanya ingin bilang kalau ia butuh waktu untuk sendiri dan merenungkan semua serta merencanakan apapun yang akan terjadi di masa depan.
Alex menggeleng,"Tidak. Ini bukan kesalahan dan lagipula tidak ada pihak yang akan dirugikan. Jadi kau tak perlu takut. Sarah, kau cukup melahirkan bayi laki-laki untukku dan semuanya selesai sudah. Aku akan menanggung biaya hidupmu seperti yang aku janjikan," Sesudahnya Alex pun memilih untuk berlalu.
"Aku punya kesepakatan lain,"
"Kau bilang kalau tidak ada pihak yang dirugikan bukan? Maka aku akan memanfaatkan itu untuk bagianku,"
Kali ini Alex memutar tubuhnya, ia menatap Sarah di atas ranjang sebelum memilih untuk duduk di hadapan gadis itu,"Baik. Aku mendengarkan,"
Sarah memejamkan matanya. Ia sudah memikirkan keputusannya semalaman dan Sarah sudah mengumpulkan semua keberanian untuk kembali bersepakat dengan Alex.
"Jika... Anak yang kulahirkan laki-laki, kau bisa membawanya kemanapun yang kau mau dan aku ingin imbalan ku segera kau berikan karena detik itu juga aku memutuskan untuk pergi--"
Gadis itu menelan ludahnya. Alex mengangguk setuju, ia rasa itu memang bentuk kesepakatan mereka sejak awal.
"Tapi jika anakku yang kulahirkan perempuan--"
"Sarah. Kurasa kau sudah tahu kalau--"
Sarah membawa tangannya ke udara. Memberi isyarat bagi Alex untuk tetap diam dan mendengarkan penjelasannya.
"Jika anakku perempuan, aku ingin kau mengakuinya lalu menikahiku. Atau aku bersumpah untuk menghancurkanmu dan membuat hidupmu jauh lebih mengerikan dibanding berita tak masuk akal yang kau terima ini, Alex,"
Sudah. Alex tidak bisa lagi bersabar. Pria itu segera bangkit lalu mencengkeram erat rahang Sarah hingga gadis itu mendongak menatapnya,"Jadi kau mengancamku sialan? Apa kau sadar dengan siapa kau berbicara hum? Jawab!" Bentaknya. Sarah bergetar, dia mendorong tangan Alex, berusaha untuk melepas cengkraman yang terasa perih itu.
"Ini permintaan ku Alex! Sebagai pria, seharusnya kau bisa lebih konsisten dengan apa yang kau katakan. Terlebih lagi kau sudah berjanji padaku bahwa tidak ada pihak yang akan dirugikan, maka kau harus menghormati permintaan ku!" Cercanya. Sulit sekali untuk membuat pertahanan Alex runtuh, pria itu menekan tulang rahangnya hingga Sarah merasa akan hancur detik itu juga.
Alex menghempaskan tubuh Sarah hingga wajahnya menyentuh ranjang. Ditatapnya Sarah dengan penuh kebencian, perempuan ini cukup licik juga rupanya. Dia tahu Alex adalah orang yang cukup dikenal banyak orang, maka dari itu dia memanfaatkan pamornya untuk hal seperti ini.
"Sarah, kau tarik ucapanmu itu atau--"
"Kenapa?! Kau keberatan? Ya Alex, memang, aku gadis miskin dan mungkin akan terdengar mengerikan jika aku memaksamu untuk menikahiku tapi Alex... Aku hanya perempuan... Tidak ada hal berharga dari diriku ini selain nyawa dan tubuhku Alex," Potongnya. Sarah terisak, dia tidak mengerti, secepat itukah dunia membuat masa depannya hancur? Rasanya baru kemarin dia tersenyum lebar karena sebuah tawaran yang 'wajar' menurutnya. Tapi pagi ini, dia benar-benar merasa kosong setelah tahu alasan kenapa dia ada disini.
"Lalu apa yang akan terjadi setelah aku melahirkan bayimu? Pergi begitu saja? Apa kau tidak memikirkan nasib diriku Alex? Semua orang akan membicarakan ku dan yang paling parahnya, mereka pasti mengecapku sebagai pelacur murahan lalu tidak akan pernah ada pria yang mau menikahiku," Jelasnya lagi. Kali ini dipenuhi deraian air mata.
Alex menatapnya semakin berang, Sarah benar-benar menantangnya,"Dan kenapa kau menerima tawaranku kalau kau tahu akibatnya akan seberat itu? Jangan jadikan aku sebagai pelaku kejahatan Sarah karena dari awal kau menyetujuinya," Balas Alex. Pria itu tak mungkin mengalah secepat ini pada perempuan macam Sarah dan sepertinya Sarah benar-benar keras kepala.
"Sudah cukup. Aku akan pergi dan kuharap malam ini kau siap untuk memulai 'proyek' bersama ku. Seperti yang kau katakan tadi kan Sarah?" Katanya lagi, kali ini benar-benar menghancurkan Sarah bagai debu.
Gadis itu menekuk lututnya lalu menyembunyikan wajahnya di balik sana, menumpahkan tangisannya kembali dan menyesalkan semua keputusan yang sudah dia ambil kemarin.
...
Alex merasa kesal hari ini, sedari tadi rapatnya tidak berjalan cukup lancar dan beberapa karyawan sangat bertingkah menyebalkan dengan melakukan kesalahan dalam pekerjaannya. Oh, apakah Alex memang kesal karena hal sekecil itu? Tentu bukan, dia kesal dengan celotehan Sarah. Gadis itu cukup berani untuk balik menyerangnya seperti ini.
Dia mengangkat gagang telpon di atas meja sebelum berbicara dengan seseorang diseberang sana,"Glo, kosongkan semua jadwalku hari ini. Aku akan pulang cepat," Tanpa menunggu balasan lagi, Alex menutup telponnya. Dia memijat dahinya, mungkin hari ini dia bisa sedikit bersantai di mansion daripada di apartemen. Gadis yang baru dikenalnya kemarin itu sangat menyebalkan dan Alex harus menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum kembali menemui Sarah.
Dia bangkit dari kursi besarnya lalu keluar ruangan. Koridor itu cukup ramai karena karyawannya berlalu lalang untuk cepat menyelesaikan tugas mereka sebelum Alex murka. Terlebih mereka cukup terkejut karena berita mengenai Alex yang sangat memalukan itu. Sebisa mungkin pekerja disini, menjauh saat bertemu Alex atau pria itu akan berbuat sesuatu yang mengerikan.
Alex masuk ke dalam lift lalu menekannya ke lantai dasar, ia tidak menampakkan ekspresi apapun karena dia memang begitu. Pintu lift kembali terbuka dan ia segera keluar dari sana, beberapa orang tampak menundukkan kepalanya setelah itu tampak terburu-buru menghindari Alex. Mungkin mereka tahu kalau bos mereka punya emosi yang mengerikan atau karena mereka mulai terpancing oleh berita yang mengatakan kalau Alex adalah penyuka sesama jenis makanya mereka merasa jijik.
Ah, terserah mereka saja. Toh nanti Alex akan menggemparkan dunia dengan membawa berita lainnya.
Sepanjang perjalanan ke arah mansion, pikiran Alex dipenuhi oleh ucapan Sarah. Saat gadis itu mengatakan kalau Alex harus menikahinya jika dia melahirkan bayi perempuan.
Jujur saja, jika masalah menikah, mungkin Alex masih bisa mempertimbangkannya. Lagipula, dengan menikahi Sarah, tidak ada ruginya juga. Hanya saja, permintaan Sarah yang satunya...
Ia takut.
Alex membenci bayi perempuan. Karena bayi perempuan lah, dia harus kehilangan seseorang yang sangat ia hormati dulu. Ayahnya.
Pria itu mencengkeram erat kemudi mobil sebelum memukulnya keras.
"Sialan! Tak akan kubiarkan Sarah memberiku bayi perempuan,"
Di lain tempat, Sarah baru saja selesai membaca buku yang ia temukan di dekat perapian. Disana ada beberapa buku tentang peperangan, politik dan beberapa novel komedi. Beruntung Alex menyimpan benda-benda seperti ini di dalam apartemennya jadi Sarah tak terlalu bosan di dalam sini.
Seharusnya ia bisa pergi keluar dan menemui Leah tapi Sarah tak punya uang lagi. Rumah Leah cukup jauh dari apartemen Alex dan jika ia memaksa untuk tetap pergi jalan kaki, ia bisa berjalan berjam-jam dan tentu saja itu bukan ide yang bagus.
Ia mendudukkan dirinya di atas sofa ruang depan dan memikirkan kembali semuanya. Pagi ini merupakan pagi yang buruk, ia bangun dari tidur kemudian menerima tamparan serta cacian dari perempuan psikopat yang tidak ia kenal kemudian sedikit bertengkar dengan Alex dan yang terakhir terjebak di dalam sangkar emas ini entah sampai kapan. Baru kali ini ia mendapat hal konyol dalam hidupnya selain bekerja mati-matian untuk biaya kuliah dan biaya hidup dia dengan Neneknya di Florida. Oh tuhan, kepala Sarah rasanya ingin pecah saat ini juga.
Kenapa ia begitu bodoh karena menerima penawaran Alex kemarin?
Dia menepuk kepalanya beberapa kali karena kebodohannya itu. Sarah merasa takut, bagaimana kehidupannya nanti? Jika ia berhasil hamil lalu melahirkan, apa mungkin dia sanggup untuk memberikan begitu saja bayinya demi lembaran kertas yang sialannya begitu berharga?
Sarah tahu, perjalanan hidupnya baru dimulai saat ini. Masa depannya akan berubah kacau jika dia tidak bisa mengendalikan Alex dan membuat pria itu membatalkan janji mereka.
"Aku harus melakukan sesuatu,"
...
hai :) ayo like dan komen buat update lagi ya :)