Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 54



"Satu minggu lagi kita akan kedatangan anggota keluarga baru, Ya Tuhan! Mom benar-benar merasa diberkati karenanya."


Senyum yang muncul di sudut bibir Marilyn menular pada semua orang. Sarah mengusap perutnya lembut karena terlalu bahagia. Ada banyak cinta yang akan menyambut kedatangan dua putranya ini dan Sarah yakin kalau Aaron juga Axelle tak akan pernah kekurangan kasih sayang dari semua orang.


"Mom, bisakah kau menjaga Sarah untukku hari ini? Aku ingin mengunjungi makam Dad dan juga... Elle," Pinta Alex.


Marilyn terkejut pada awalnya. Untuk yang pertama kalinya Alex berkata kalau dia ingin mengunjungi makam saudarinya yang sudah lama pergi. Tak ada kata-kata apapun yang ingin Marilyn ucapkan selain sebuah pelukan hangat yang pasti dibutuhkan Alex. Wanita tua itu merasakan kalau gumpalan air mata siap turun membasahi pipinya karena  perkataan Alex barusan.


Dia menangkup kedua pipi putranya dan mengumbar senyum,"Sampaikan salamku pada Leonard dan Elle," Balasnya.


Alex tersenyum getir,"Yes, Mom."


Pria itu mengecup pipi ibunya lalu mengecup dahi Sarah, mengatakan kalau dia tak akan pergi lama karena salju cukup berbahaya.


Setelah pamit pada semuanya, Alex menghidupkan mesin mobil lalu mulai mengendarai mobilnya menuju salah satu tempat pemakaman di Davisville.


Butuh sekitar 30 menit untuk sampai ke tempat pemakaman itu karena jalanan masih dipenuhi oleh salju hingga mengharuskan Alex mencari jalan pintas lain. Ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir lalu keluar dari sana. Dia mengeratkan mantel yang ia kenakan sebelum melangkah mendekat pada dua makam yang dirawat rapi walau sedikit tertutupi oleh putihnya salju.


Alex menatap kosong pada nama ayahnya yang terpahat di batu nisan itu. Ia berjongkok disana lalu mengusap nama ayahnya di atas batu itu,"Merry Christmas, pops."


"Al merindukanmu, sangat," Lanjutnya. Ia benci ketika dirinya harus menangisi sesuatu yang menyebalkan, seperti sekarang misalnya. Ia tidak bisa menampik kalau dirinya sedih dan hancur.


Alex mengusap hidungnya yang memerah, dia duduk di atas rerumputan itu sembari memandangi nisan ayahnya dalam. Ada rasa bangga karena ia bisa memanggil Leonard sebagai ayahnya juga terlahir sebagai seorang Grissham yang tangguh, sama seperti yang selalu Leonard harapkan.


"Mom menitipkan salamnya untukmu. Kau harus tahu betapa dia merindukan mu, Dad. Well, aku pun rindu denganmu, tapi kurasa kau kini jauh lebih bahagia bersama Elle."


Alex terkekeh dalam tangisnya. Dia menatap ujung sepatunya dalam diam,"Aku selalu ingat akan pesanmu saat itu, Ayah. Kau selalu berpesan kalau aku harus menjadi pelindung bagi Ibu dan Elle. Kau menaruh banyak harapan padaku, tapi saat itu aku tak suka dengan kata-kata mu karena kupikir itu merepotkan. Namun, aku sadar kalau itu merupakan tugas paling penting dalam hidupku, tapi aku mengabaikannya begitu saja. Maafkan aku, Dad. Kupikir aku sudah membuatmu kecewa," Ujarnya panjang lebar. Alex menundukkan kepalanya, ia menyesali karena ia dulu merupakan bocah yang nakal. Dia menyesal karena ia belum bisa memberikan apapun untuk membuat bangga Leonard atau karena pria itu yang lebih dulu pergi?


Ia kembali memandangi batu nisan ayahnya,"Tapi coba tebak, sekarang kau akan menjadi seorang kakek. Kali ini aku yang akan berperan sebagai ayah untuk anak-anak ku. Sebentar lagi aku akan merasakan betapa sulitnya mengurus seorang anak, uh, dalam kasus ini aku akan punya anak kembar. Kupikir semuanya akan jauh lebih sempurna jika kau berada disini bersamaku untuk memberiku pengajaran soal membangun sebuah keluarga. I just.. I need you here, Dad."


Jika ada sesuatu yang bisa mengembalikan nyawa ayahnya, mungkin Alex akan mencari hal itu hingga ke ujung dunia. Ia menyesal karena belum bisa menjadi yang terbaik untuk ayahnya, bahkan ia menyalahkan Elle atas kematian Leonard. Kekanak-kanakan bukan? Tapi orang lain pun pasti akan merasakan apa yang Alex rasakan jika berada di posisinya sekarang.


Pria itu menghela napas, mengusap jejak air mata di sudut matanya sebelum beralih pada makam di sebelah ayahnya.


Elle Georgia Grissham.


Satu-satunya saudari yang ia punya. Seseorang yang ia anggap sebagai alasan kenapa ayahnya bisa mati. Alex tidak ingin lagi menyimpan dendam pada Elle, tapi entah kenapa ia tak bisa menghilangkan bayangan itu. Memori saat Leonard dengan tangan bajanya, memeluk Elle erat, berusaha untuk melindungi anak perempuannya dari reruntuhan bangunan dan api yang membara. Alex tak bisa berhenti membayangkan hal menyakitkan itu. Hatinya tergerak untuk menyimpan kemarahan juga dendam pada Elle. Mendoktrin dirinya sendiri kalau setiap bayi perempuan adalah pembawa sial. Mungkin itulah yang sampai sekarang terus ia pikirkan dalam kepalanya, kebenciannya pada Elle, rasa cemburu karena adiknya mendapat lebih banyak perhatian-- apa mungkin itu bisa menjadi alasan kuat?


Demi Tuhan, bayi hanyalah bayi. Entah itu bayi perempuan atau laki-laki, mereka pasti mendapat perhatian lebih karena bayi adalah makhluk lemah yang bahkan tak bisa menghentikan tangisnya sendiri. Pria dewasa seperti Alex juga pasti punya insting kuat jika ia melihat bayi yang terlantar di jalanan. Lalu apa itu juga berguna pada Elle? Tentu saja.


Elle adalah bagian dari hidupnya, saudarinya. Alex tak mungkin membenci adiknya hanya karena takdir tuhan yang sudah digariskan dalam kehidupan keluarga Grissham.


"Maafkan aku, Elle. Aku menyakitimu terlalu lama," Lirihnya. Alex tak pernah merasa sesedih ini dalam hidupnya, tapi tak bisa dipungkiri kalau akhirnya ia lega. Entah itu perasaan yang datang dari mana, tapi ia merasa jauh lebih baik. Jemarinya membersihkan salju yang mengotori pahatan nama sang adik dengan penuh kasih, Alex merogoh sesuatu dari balik mantel yang kenakan-- mengeluarkan selembar foto ukuran sedang yang terlihat sudah lama.


Ia menyimpan foto dirinya yang tengah menggendong bayi mungil itu di makam Elle. Ia mengulas sebuah senyum tipis ketika mengingat bagaimana antusias dirinya dulu saat mengetahui kalau ia akan mempunyai adik.


"Rest in peace, Elle. Little did you know that i love you."


Alex pun memilih untuk pergi setelah berdiam beberapa saat di depan makam ayah dan adiknya. Ini adalah saat dimana dia harus menghadapi kenyataan dan tak kembali mengungkit masa lalu keluarganya. Alex hanya perlu untuk mengerti dan rela melepas kesedihan akan kehilangannya. Semua orang benar, dia payah dalam melupakan masa lalu walau dirinya selalu berkata kalau tak akan menoleh pada hal yang sudah-sudah.


...


Tiga hari setelah Natal, keadaan mansion kembali ke sedia kala. Leah dan yang lain sudah pulang sejak semalam sedangkan Marilyn masih berada di sini untuk memantau kondisi Sarah. Kehamilan yang sudah memasuki tahap akhir ini membawa banyak kekhawatiran sebenarnya. Alex harus selalu siaga karena Sarah bisa melahirkan kapan saja mengingat usia kandungan wanita itu yang memasuki tahap melahirkan. Untunglah Marilyn ada disini ketika dia sedang dalam suatu urusan.


"Hati-hati," Marilyn menuntun Sarah untuk duduk di atas sofa dengan perlahan. Dia menyuruh salah satu pelayan yang khusus bekerja untuk Sarah, membuatkan segelas coklat hangat karena suhu tubuh Sarah dingin.


"Kau akan baik-baik saja, Sarah. Kita hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi sebelum Aaron juga Axelle lahir. Mom akan menyemangati mu," Katanya. Sarah merasa sedikit tenang mendengar ucapan itu, jujur saja, ia sebenarnya takut. Sarah pernah diam-diam melihat proses seorang wanita yang tengah melahirkan di internet dan itu mengerikan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang akan ia alami. Hal paling menakutkan lainnya adalah Sarah akan melahirkan dua bayi sekaligus. Itulah yang membuat dia agak khawatir.


"Biasanya akan ada kontraksi palsu, tapi jangan khawatir dengan itu karena kau akan baik-baik saja."


Marilyn mendengar suara ponselnya berbunyi cukup kuat di ruang depan. Ia lupa membawa ponselnya kemari jadi ia mengatakan pada Sarah kalau dia harus menjawab panggilan ponsel itu dulu.


Sarah memejamkan matanya sembari mengelus perutnya yang besar. Ini memang siang hari, tapi karena salju, suhu disini cukup mengerikan. Alex sedang pergi keluar bersama Zack karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan. Urusan kantor katanya.


Sarah berdecak kesal saat dirinya merasa haus seketika, tapi pelayan yang membawakan coklat panasnya belum muncul. Ia dengan sebal berusaha berdiri, mengambil gelas kosong di atas meja kopi lalu mengisinya dengan air di dalam teko. Sesaat ketika Sarah akan meminum air di dalam gelas itu, perutnya tiba-tiba mengencang.


Rasanya benar-benar menyakitkan hingga ia berhasil membuat gelas itu terjatuh lalu pecah, menimbulkan suara nyaring yang semakin menyebalkan.


Wanita itu merasakan ada air mengalir di sekitar pahanya lalu ia pun mulai menyadari kalau air ketubannya pecah.


Sarah berjalan tertatih sembari memegangi dinding, bibirnya tak berhenti mendesah sakit saat bagian bawah perutnya terasa kram.


"Mom! Tolong! Akkh!"


Pintu coklat itu dibuka lebar dan Marilyn datang dengan wajah pucatnya. Dia membantu Sarah berjalan keluar ruangan lalu meneriakkan salah satu anak buah Alex untuk membopong Sarah ke dalam mobil agar mereka bisa segera ke rumah sakit. Seharusnya beberapa hari lagi, tapi sepertinya cucu-cucunya tidak sabar untuk melihat dunia.


...


A/n : oke saya mau up banyak!