Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 34



Stefan bersembunyi di balik kaki ibunya. Ia melirik Alex dengan takut karena wajah pria itu terlihat begitu penuh dengan emosi yang membuncah. Calyria melipat tangannya di depan dada, ia dengan berani membalas tatapan tajam yang diberikan Alex padanya.



"Kenapa Alex? Kau takut reputasi mu kian hancur jika aku memberitahu dunia akan keberadaan Stefan?"



Alex tertawa mendengar ucapan Calyria. Wanita itu bahkan terlalu bodoh untuk menantangnya. Pria itu menghela napasnya, dia memilih untuk duduk di kursi miliknya lalu menatap sinis pada Calyria yang masih berdiri dengan angkuhnya di depan pintu.



"Jadi semua ini karena kau mau menghancurkan nama baikku? Begitukah?" Tanyanya dengan santai. Alex mengetukkan jemarinya ke meja, seakan semua ini hanyalah omong kosong yang menyenangkan.



"Benar! Kau tidak mau kan jika aku merusak semuanya? Jadi kau harus menuruti semua ucapanku!"



Alex mengangguk santai,"Apa permintaanmu?"



Calyria merasakan situasi seperti menyudutkannya. Dia tidak lagi tersenyum sinis seperti tadi melainkan dirinya merasa aneh. Alex tidak terlihat takut bahkan terdengar seperti menantang dirinya.



"Kau harus mau menikah denganku, Alex. Dulu kau berjanji untuk menikahi ku dan aku menagih janji itu. Kita bisa buat masa depan yang lebih baik."



"Lalu jika kita menikah, bagaimana dengan putramu?" Tanyanya lagi-- masih dengan nada yang santai.



Calyria melirik Stefan yang masih menyembunyikan diri di belakangnya lalu berdeham,"Aku akan menaruhnya di panti asuhan lalu mengubah identitasnya agar tak diketahui publik. Kau setuju?"



Alex menggelengkan kepalanya. Kasihan bocah itu karena menjadi anak dari wanita murahan seperti Calyria yang bahkan jauh lebih rendahan dibanding dengan jalang-jalang yang sering ia temui di kelab malam.



"Itulah yang membedakan mu dengan wanita lain, Calyria. Tidak seperti mu, bahkan ada perempuan yang merelakan dirinya sendiri untuk disakiti demi anak mereka dan setelah mendengar mu mengatakan hal sekejam itu, aku semakin bersyukur karena dulu kita tak sempat menikah," Balasnya.



Calyria menahan napasnya. Sekali lagi, dirinya merasa direndahkan oleh pria yang menjadi obsesinya ini. Wanita itu ingin menampar Alex dan menumpahkan semua kekecewaannya, tapi Calyria tak punya banyak kekuatan untuk itu. Ditambah, memang dirinya lah yang lebih dulu mengkhianati Alex karena masalah sepele.



"Kau tidak lihat Calyria? Anakmu ketakutan. Apa mungkin ia akan membencimu karena perilaku kejam mu itu?"



"Cukup, Alex! Aku kemari hanya karena aku masih mencintaimu. Aku menginginkan kau dan aku tak akan pernah rela jika Sarah si pelacur itu berhasil membuatmu berpaling dariku?!" Katanya dengan kesal. Calyria menahan dirinya sendiri untuk tak menghancurkan seisi ruangan ini karena ia sudah terlampau kesal.



Alex berdiri dari kursinya. Dia memberi tatapan penuh peringatan pada Calyria karena berbicara hal yang tidak ingin dia dengar. Oh, rasanya begitu menyebalkan mendengar Calyria berkata hal seperti itu mengenai Sarah dan ia tak terima dengan yang wanita itu katakan.



"Jaga bicaramu pelacur! Asal kau tahu, aku sudah tidak mencintaimu sejak pertama aku mengetahui kau berselingkuh dengan pria latin itu! Dan ya, Calyria, aku terpesona dengan kecantikan serta kepolosan wanita yang kau sebut pelacur tadi. Benar, aku menyukainya dan kau harus menerima kenyataan itu," Ucapnya dengan lantang.



Calyria tidak dapat menahan keterkejutannya lagi. Dia ingin berteriak keras dan membuat Alex kembali padanya, tapi kata-kata itu terdengar begitu nyata dan membunuhnya.



"Aku minta kau bawa anak itu pergi dari sini sebelum aku yang akan melakukannya sendiri. Dan Calyria... Kau pikir aku tidak tahu tentang bocah itu? Dasar wanita bodoh, aku mengawasi mu saat itu. Lalu aku sadar kalau kau tak mungkin semudah itu untuk pergi jauh dariku, sebab itulah aku menyimpan senjata untuk melawan mu di kemudian hari. Lihat... Tebakan ku benar, kau berusaha mengancam ku dengan anak hasil perselingkuhan mu dan berlagak seperti kau memang lebih unggul dariku," Alex menunjuk pelipisnya sembari memberi senyuman remeh pada Calyria.



"Gunakan otakmu, Calyria. Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa saat ini." Katanya dengan nada pelan membuat Calyria seketika merinding mendengar suara Alex. Fakta yang membuat dia semakin terpojok adalah kenyataan kalau Alex tahu tentang kehamilannya waktu itu.ย Alex sengaja berpura-pura bodoh selama ini padahal kenyataannya dia memang mengawasi dirinya saat itu.



Wanita itu berusaha untuk memutar otak, dia merasa terjebak dalam rencananya sendiri.



"Reginald Anderson."



Wanita itu kembali menatap wajah Alex, pria itu tidak memberinya ekspresi yang berarti hingga dia harus menebak, apa yang hendak Alex sampaikan.



"Sampai saat ini aku masih menaruh dendam padanya, tapi juga berterimakasih karenanya aku berpisah dari jalang seperti mu," Ucapnya.



"Apa maksudmu?"



"Aku yang meminta kekasih sialanmu itu tidak pernah kembali ke Kanada lalu aku mengancamnya jika dia berani menginjakkan kaki di tanah ini maka aku bisa saja membunuh kau, anak itu bahkan dirinya sendiri. Aku bisa saja memberitahu lalu meminta dia untuk datang kemari dan melihat kelakuan mu itu, tapi kau masih beruntung. Aku memberimu satu kesempatan untuk tidak mengacau lagi disini dan Calyria, aku tak pernah main-main dengan ucapanku."



Bungkam. Hanya itu yang bisa Calyria lakukan. Ya, dia tidak percaya kalau Alex ternyata merencanakan hal ini. Dia memaksa Reginald untuk pergi agar pria itu tak bisa bertanggungjawab atas kehamilannya beberapa tahun yang lalu.



"Brengsek kau, Alex! Jadi.. jadi kau yang membuat Reggie pergi? Hah? Kau melakukannya?!" Dia berjalan ke arah Alex, Calyria memukul dada pria itu karena kesal. Ia bertahan selama empat tahun ini dengan semua kebohongan, merasa kalau hidupnya sudah gagal ketika Stefan muncul dalam rahimnya. Namun, Alex yang membuat Reginald mundur. Pria itu berhasil menghancurkan semua kehidupan Calyria.



Alex meraih kedua tangan Calyria, mencengkeramnya lalu menatapnya penuh peringatan,"Jangan pernah bermain-main denganku Calyria. Karena semua orang pun tahu kalau kau tak jauh beda dengan debu di jalanan. Lagipula sekarang aku benar-benar akan punya bayi, jadi kau tak usah repot menebar kebohongan yang akan semakin membuat dirimu sendiri tersudut."



Alex melirik Stefan yang berdiri ketakutan. Ia terlihat ingin menangis melihat hal yang tidak ia mengerti di hadapannya saat ini,"Lebih baik kau ubah hidupmu, urus anakmu lalu menjauh dariku," Dia menyentak kedua tangan Calyria. Wanita itu mundur, ia memandang tak percaya pada Alex.



"Kau... Kau akan menyesal Alex! Sungguh kau akan menyesali semuanya!"



Calyria meraih tangan Stefan dengan kasar hingga anak itu berjalan terseok-seok di sampingnya. Alex menghela napas panjang ketika ruangannya kembali senyap. Dia memilih untuk duduk di kursi kerja miliknya lalu mengusap wajahnya yang lelah.



Oke, untuk saat ini dia bisa menahan kegilaan Calyria jadi mungkin tak akan ada kegilaan dalam beberapa waktu ke depan. Alex sudah menduga kalau hal ini cepat atau lambat pasti terjadi, jadi tiga bulan yang lalu, ia meminta Reginald untuk kembali ke Kanada dan mengawasi pergerakan wanita sialan yang dulu pernah ia puja.



Jujur saja, Alex masih kesal pada Reginald, tapi rasa kesalnya perlahan memudar ketika tahu kalau dirinya tak punya alasan lagi untuk membenci pria latin itu. Alex merasa kalau insiden perselingkuhan Calyria waktu itu benar-benar menyelamatkannya.




Dengan cepat dia menekan tombol hijau lalu menempelkan benda itu di telinganya.



"Ada apa sayang? Jangan katakan kau mau bercinta denganku lewat telepon?"



"Kau gila! A-aku menelepon hanya ingin bertanya, bolehkah aku mampir ke kantormu? Ku-kurasa bayinya ingin makan siang bersamamu."



Alex tak dapat menahan senyumnya lagi. Ia sedang menerka-nerka bagaimana ekspresi Sarah ketika mengatakan itu, apakah wajahnya lucu seperti badut?



"Baiklah. Kau bisa kemari, aku akan menyuruh seseorang untuk menjemputmu. Ngomong-ngomong, apa ibuku sudah pulang?"



"Iya, baru saja," Jawabnya.



Setelah berbincang kecil, Alex pun menyudahi obrolan itu. Dia memerintahkan salah satu bawahannya untuk menjemput Sarah di mansion. Rasanya ia semakin tak sabar menanti.



...



"Apa ada sesuatu yang ingin kau makan lagi?"



Sarah menggeleng. Ia mengelap bibirnya dengan tisu lalu meraih air minum.



"Aku sudah makan cukup banyak, Alex."



"Ya, terserahlah."



Sarah memerhatikan pria itu. Alex hanya memakan sedikit, entahlah, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.



"Kau baik-baik saja?" Tanyanya.



Pria itu menatapnya lalu menggeleng. Alex kembali ingat pada ucapannya tadi sewaktu Calyria datang. Ia mengatakan dengan lantang dan percaya diri kalau dirinya menyukai Sarah atau mungkin sekarang lebih dari rasa suka semata?



"Sarah."



"Hm?"



Pria itu tak ingin tenggelam di dalam pesona mata Sarah. Seakan ada sesuatu yang menariknya masuk ke dalam lalu membiarkan dirinya terkepung oleh keindahannya.



"Dalam perjanjian... Kita sepakat kalau setelah bayi itu lahir, aku akan memberimu imbalan lalu kau bisa pergi jauh bukan? Jika hal itu terjadi, kemana kau akan pergi?"



Sarah tersenyum lirih,"Aku akan kembali ke Florida dan menemui grandma disana. Ya, mungkin akan sedikit menyenangkan jika kau tidak memintaku untuk benar-benar pergi karena aku tak sanggup kalau harus berpisah dari anak-anakku. Walau kau mengenalkan aku sebagai orang asing, tapi setidaknya aku bisa melihat mereka."



"Begitukah?"



"Iya, Alex. Aku tahu, kau terlalu jauh untuk aku gapai. Sulit bagimu untuk menerimaku karena--"



"Karena aku takut, Sarah. Aku selalu ketakutan. Setiap saat, sejak ayahku tiada, aku selalu merasa tak aman. Disaat aku mencoba untuk bahagia, seorang wanita mengkhianatiku. Rasa takutku kian membesar saat tahu kalau lagi-lagi aku dilukai. Dan seperti inilah... Maafkan aku karena membuat dirimu menjadi korban dari perasaan takut ini, Sarah."



Sarah terdiam. Dia menjauhkan gelas di tangannya, wanita itu memilih untuk duduk di atas paha Alex. Ia meraih kepala pria itu lalu memeluknya sembari mengelus puncak kepala Alex dengan pelan.



Alex memejamkan matanya, dia menaruh tangannya di sekitar pinggang Sarah, menjaga wanita itu agar tidak terjatuh.



"Tidak, Alex. Kau tidak menyakiti ku dan aku tidak pernah menyalahkan mu dalam situasi ini. Aku sekarang merasa.. bersyukur. Karena kita dipertemukan dalam takdir yang seperti ini," Ucapnya.



"Aku menyukaimu, Sarah. Aku sangat menyukaimu."



Wanita itu berhenti mengelus rambut coklat Alex. Ia terpaku sejenak, merasakan kalau oksigen seperti hilang di sekelilingnya. Bibir Sarah bergetar, ia ingin menahan rasa ini, tapi hatinya kian berdegup kencang disaat dia berusaha untuk menahannya.



"Kau, apa?"



Alex mendongak, dia menatap netra hitam yang tampak bergerak-gerak mencari jawaban.



"Ya, aku tak bisa menyangkalnya. Pria brengsek ini sepertinya memang menyukaimu."



...



A/n : ๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰