Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 50



Sarah tak mampu mengatakan tidak. Semua pengakuan yang dikatakan Alex benar-benar membuat hatinya tersentuh. Dia tahu kalau Alex punya jutaan cinta yang ia tutupi dengan sikap arogannya dan Sarah bersyukur karena kali ini Alex benar-benar membuka hati untuknya.



Wanita itu mengangguk beberapa kali sembari menangis haru. Dia mengatakan kata ya dengan penuh semangat seakan itu adalah gambaran betapa ia bahagia hari ini.



Alex memasangkan cincin pada jemari wanita itu. Perpaduan yang benar-benar pas, Alex semakin merasakan keberuntungan sedang berpihak padanya.



Mereka saling berpelukan, berbagi kasih yang berhasil menyatukan hati mereka.



"Oh Alex, betapa aku mencintaimu."



"Dan kau pun tahu kalau aku jatuh cinta padamu juga," Balas Alex. Mereka tertawa bersama, setidaknya hal seperti ini mampu membawa kebahagiaan untuk mereka semua.



"Apa kau mau membeli peralatan bayi lagi? Kupikir semuanya masih kurang," Tawarnya. Sarah mengangguk setuju, yang ia beli saat itu bersama Marilyn tentu saja tidak cukup.



Alex menautkan jemarinya dengan Sarah, menuntun wanita itu untuk keluar ruangan. Alex ingin menghabiskan waktunya bersama Sarah tanpa gangguan dari orang lain yang hanya akan menambah masalah untuknya.



...



Keduanya berada di toko khusus bayi yang berada di Downtown. Sarah memandang takjub pada isi tempat ini. Semuanya benar-benar imut dan lucu, rasanya Sarah ingin membeli semua ini.



"Kita mulai dari mana?" Tanya Alex.



Sarah menunjuk ke arah pakaian bayi,"Kurasa dari sana."



Mereka berjalan mendekati bagian yang menjual pakaian bayi lalu mulai melihat-lihat. Wanita itu menjalankan jemarinya ke setiap pakaian bayi yang ada disana dan membayangkan ketika anaknya memakai baju yang lucu itu.



"Semuanya lucu, menurutmu mana yang mesti kita beli?"



Alex mengendikkan bahunya,"Beli saja semuanya."



"Alex! Jangan lakukan pemborosan. Kau kira kau bisa kaya selamanya? Kita hanya akan memilih beberapa saja oke?"



Alex terkekeh pelan, dia membiarkan Sarah mulai memilih pakaian sedangkan dirinya melihat yang lain. Matanya tak sengaja menangkap sebuah gaun kecil untuk bayi perempuan. Tangannya tanpa sadar meraih gaun kecil itu lalu menggenggamnya erat. Tiba-tiba saja bayangan masa lalu tentang adik perempuannya yang sudah lama tewas itu muncul dalam kepalanya. Jantung Alex berdetak sedemikian rupa, ia melepas genggamannya dari gaun itu.



"Aku harus melupakannya. Mom benar, Elle tidak bersalah," Adik perempuannya itu tidak pantas untuk disalahkan atas semua yang terjadi. Lagipula semuanya sudah berlalu, apa bisa dikatakan benar jika Alex menumpahkan segala kekesalannya pada setiap bayi perempuan bahkan untuk anaknya sendiri?



Pria itu lantas menggeleng keras, Alex harus bisa menunjukkan kalau dia mampu berubah. Tak bisa selamanya dirinya terkurung dalam rasa kecewa dan benci terhadap seseorang yang tak pantas menerima semua perasaan itu.



"Alex? Apa yang kau lakukan disana? Ayo sini," Suara Sarah menyadarkan Alex dari lamunannya. Alex berjalan mendekati Sarah lalu melihat ada beberapa potong pakaian yang dia pegang.



"Kau suka yang ini? Warna biru dan putih cocok untuk anak laki-laki, kupikir Aaron dan Axelle akan terlihat tampan mengenakan ini," Katanya.



Alex meraih salah satu pakaian bayi itu,"Benar. Ambil keduanya, ini tampak lucu," Balasnya.



Setelah berlama-lama mencari pakaian bayi, mereka akhirnya beranjak untuk melihat yang lain. Alex berkata kalau ada ranjang bayi yang bagus untuk si kembar dan tentu saja harganya mahal.



Mereka berdua sepakat untuk membeli keranjang bayi. Sarah semakin tak sabar untuk segera mendekorasi kamar bayinya. Ini adalah momen yang paling ia tunggu-tunggu.



"Alex, haruskah kita membeli lampu tidur ini? Pegawai disini bilang ini adalah lampu yang cantik," Tanya Sarah. Ia menunjukkan sebuah lampu berbentuk kuda yang jika dinyalakan saat malam hari, akan ada bayangan kuda kecil yang lucu. Well, itu bukan sesuatu yang buruk kan?



"Ya, kita bisa memilikinya jika kau mau," Jawabnya. Sarah terkikik senang, dia menyerahkan semua barang belanjaannya pada si pegawai untuk segera dibayar. Suhu di luar begitu dingin karena salju sebentar lagi akan turun, jadi pilihan untuk berada diluar bukanlah hal yang bijak.



Malamnya.



Sarah menghidupkan pemanas ruangan yang ada di dalam kamar karena ia merasa agak kedinginan. Ia sudah memakai piyama yang tebal, tapi tetap saja udara mampu membuatnya menggigil seperti anak kecil yang sedang sakit.



Wanita itu memutuskan keluar kamar untuk mencari Alex. Dia ingin pria itu ikut tidur bersamanya karena Sarah tak bisa tidur nyenyak jika Alex tak memeluknya dari belakang seperti yang selalu pria itu lakukan.



"Uhm, apa kau melihat Alex?" Tanyanya pada salah satu pelayan khusus yang bekerja malam ini.



"Iya Nona. Tuan Alex berada di taman belakang," Jawabnya sopan sebelum pamit untuk menyelesaikan sisa pekerjaannya yang belum selesai.



Sarah mengelus perutnya sembari berjalan pelan ke pintu belakang. Sebenarnya kakinya sering merasa keram akhir-akhir ini, tapi dia tak betah jika harus berada di atas ranjang setiap hari.




Sarah memeluk dirinya sendiri karena merasa dingin,"Alex? Kau sedang apa?"



Pria itu menoleh ketika mendengar suara Sarah. Dia melempar sisa kertas terakhir dari tangannya sebelum meraih sebelah tangan Sarah untuk ia genggam,"Aku hanya membakar sesuatu."



"Apa?"



"Berkas perjanjian kita dulu. Aku membakarnya karena aku tak mau kita terikat oleh hal sialan itu lagi," Jawabnya.



Sarah ingin berteriak senang, tapi ia menahan itu,"Terima kasih karena membuatku merasa nyaman."



Dia mencium kening Sarah cukup lama,"Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika waktu itu kita tak berjumpa," Balasnya.



"Haruskah kita mengucapkan terima kasih pada ibumu dan Leah?"



Alex tertawa, dia menganggap Sarah begitu konyol. Dia lantas menggeleng, pria itu meraih sebelah tangan Sarah, memerhatikan kilauan cincin yang dia kenakan. Tanpa Sarah sadari, ada namanya terukir di balik cincin itu. Alex memang sudah menyiapkan cincinnya sejak lama dan ia tak menyangka kalau dirinya benar-benar akan memberinya pada Sarah dalam situasi seperti ini.



"Kembali lah ke kamar. Aku akan menyusul," Titahnya. Sarah mengangguk setuju, disini dingin dan dia tak betah berlama-lama. Setelah mengecup pipi Alex, Sarah akhirnya kembali masuk ke dalam rumah untuk tidur. Ini cukup malam dan punggungnya mulai lelah.



...



Tidak terasa, musim dingin akhirnya tiba. Sarah mengulurkan tangannya untuk merasakan butiran salju pertama hari ini. Senyumnya merekah ketika setitik salju jatuh ke tangannya.



"Sarah, kau mau coklat hangat?" Tanya Leah. Wanita itu menunjukkan salju yang mencair di telapak tangannya pada Leah,"Lihatlah, salju," Ucapnya penuh semangat.



Leah ikut tersenyum, dia meletakkan segelas coklat hangat ke atas meja lalu memerhatikan permukaan tanah yang mulai dipenuhi salju. Saat ini dia sedang berkunjung ke rumah Alex, begitu juga dengan sahabatnya yang lain. Mereka biasa melakukan ini di musim salju.



"Kapan kau akan melahirkan, Sarah?"



Sarah mengelus pelan perutnya,"Kurasa tak lama lagi. Tinggal menghitung Minggu," Jawabnya.



Leah terlihat tak sabar,"Aku benar-benar ingin melihatnya Sarah. Mereka pasti bayi yang gemuk," Balas Leah. Sarah tertawa, ia juga tak sabar menantikan bayi-bayinya. Apakah mereka memiliki mata seperti Alex atau dirinya?



"Perutmu besar sekali ya, Sarah. Apakah susah mengandung bayi kembar?"



Sarah menggeleng,"Aku menikmatinya, sungguh. Rasanya menakjubkan ketika sedang mengandung bayi kita sendiri."



Leah ingin tahu lebih banyak soal kehamilan, tapi dia tak yakin kalau suatu saat dia juga bisa seperti ini.



Mereka berdua menoleh ke arah tangga saat Scott dan Alex turun. Mereka terlihat buru-buru.



"Alex, ada apa?"



"Sarah, aku harus pergi. Sesuatu terjadi pada Zack," Jawabnya.



Sarah terkejut tentu saja, memangnya Zack kenapa? Ia mulai memikirkan sesuatu yang buruk. Akhir-akhir ini Zack memang tak terlihat kehadirannya dan ini makin memperparah keadaan.



"Leah, aku ingin kau, Jake dan Nathan berada disini untuk sementara waktu. Aku harus menolong Zack," Pinta Alex. Pria itu lalu mencium bibir Sarah dengan cepat sebelum masuk ke dalam mobilnya.



"Zack baru saja menghubungi Alex, dia berada di Ukraina dan kondisinya parah. Akan kami hubungi kalian nanti," Scott pun mengikuti Alex masuk ke dalam mobil lalu mereka pun pergi dengan cepat. Mungkin mereka akan pergi dengan Jet pribadi milik Alex.



"Apa yang dilakukan Zack di Ukraina?"



Leah menggeleng tak tahu. Dia meminta Sarah untuk menunggu di sofa sementara dirinya akan mencari Nathan dan Jake di taman belakang. Ini saat bagi mereka untuk mengorek informasi lebih lanjut.



Jika ini berhubungan dengan Reginald yang kabur beberapa waktu yang lalu, maka ini bukan hal baik.



...



A/n : Yeay update lagi dan lagi๐ŸŽ‰๐ŸŽ‰