
"Maafkan aku Alex. Awalnya aku mengira kau itu selalu hidup dalam gelimang harta, bersikap manja dengan ibumu dan menjadi brengsek. Namun lihat... Kau sama saja seperti ku kan? Hidup seperti orang pesakitan, sulit untuk mencari sesuap nasi bahkan direndahkan. Aku dan kau sama-sama mengerti bagaimana sulitnya hidup seperti itu, tapi kau jauh lebih beruntung daripada aku. Maksudku, menjadi orang kaya dan berkuasa sudah ada dalam darahmu hanya saja kau membutuhkan waktu untuk bisa seperti sekarang. Sedangkan aku?"
Sarah mengangkat kepalanya dari bahu Alex, dia menarik dagu pria itu dan tersenyum sedih,"Aku hanyalah wanita biasa. Aku hidup tanpa bakat apapun yang bisa aku tonjolkan. Hidup sendiri, bekerja di kafe kecil dan membiayai semuanya. Di suatu titik aku ingin menyerah dan menjadi pelacur saja. Maksudku, aku hanya punya tubuhku untuk ku jual lalu mendapatkan uang yang banyak. Namun aku--"
"Sarah. Kau bukan pelacur. Kau disini dan mengandung bayiku karena semua rasa egoisku. Aku tahu kalau akibatnya terlalu membuatmu menderita, tapi aku tetap saja mengedepankan kepentingan ku sendiri dan menolak untuk memikirkan perasaan mu," Potongnya. Sarah tertawa kecil, ia mengusap perutnya yang belum membesar,"Aku senang karena mereka akan punya ayah seperti mu Alex."
Pria itu tak bisa untuk tak mencium bibir Sarah. Alex menarik dagunya lalu mulai memagut bibir merahnya yang basah. Sarah memejamkan matanya, ia heran, kenapa reaksi yang ditimbulkan oleh ciuman ini sangat membuatnya tak karuan? Hatinya selalu berteriak senang ketika Alex memperlakukan dirinya seperti seorang putri. Bersikap lembut walau kenyataannya mereka tidak seperti itu.
"Maaf mengganggu waktu kalian, tapi sudah saatnya kalian pulang. Waktu kunjungan sudah hampir habis."
Suara itu menyadarkan Sarah, ia menarik tubuhnya menjauh dari Alex dan menatap malu pada Mytha yang berdiri di depan pintu sambil memandang mereka geli. Wajarlah, gairah muda, Mytha bisa memakluminya.
Sarah mengucapkan maaf lalu pamit untuk pulang bersama Alex. Hal paling memalukan adalah ketika ia hampir ketahuan bertingkah mesum di tempat umum. Sial, ini akan jadi momen yang tidak baik untuknya.
...
Autumn
Daun-daun yang berjatuhan dari pohon di tengah musim gugur adalah hal paling menakjubkan selain musim salju. Sarah menyukai warna-warna dari dedaunan yang kering itu. Ia mengusap perutnya yang membesar. Usia kandungannya sudah mencapai 26 minggu. Sarah begitu senang ketika Dokter Delilah mengatakan kalau bayi-bayinya begitu sehat setiap harinya. Dia begitu mencintai bayi dalam kandungannya ini, bahkan melebihi dirinya sendiri.
Saat ini Sarah sedang berdiri di pinggir balkon, sembari menikmati coklat hangat yang disiapkan oleh seorang pelayan yang bertugas untuk mengawasi dia selama masa kehamilan yang menyulitkan ini. Alex memaksa seorang pelayan untuk menjaga Sarah selama ia pergi atau setidaknya selama Alex pergi bekerja saja. Hubungan mereka berdua juga lumayan membaik. Sarah suka melihat perubahan yang kentara pada Alex. Pria itu memang suka membentak jika sedang kesal dan kerap kali bertengkar melalui ponsel dengan rekan kerjanya, tapi Alex menunjukkan sisi kelembutannya ketika mereka sedang berbicara.
Tak jarang juga pria itu mengecup lembut perutnya dan berkata kalau dia menantikan jagoan-jagoannya itu. Sarah pernah berkata kalau ia ingin anak perempuan dan berharap kalau salah satunya adalah benar perempuan. Namun, respon yang diberikan Alex tidak sesuai dengan harapannya. Pria itu hanya menatapnya dan tersenyum masam. Tak ada ucapan apapun yang Alex katakan, tapi Sarah tahu kalau dalam hatinya Alex tengah berusaha menahan sesuatu.
Ia menoleh ketika melihat pelayan masuk ke dalam kamar. Perempuan muda itu menundukkan wajahnya saat berhadapan dengan Sarah.
"Nona, di depan ada Nona Leah ingin bertemu," Ucapnya.
"Oh ya? Baiklah, aku akan kesana."
Pelayan itu pergi setelah mendengar balasan Sarah. Sarah segera membawa gelasnya lalu keluar dari kamar.
Dia menuruni tangga dengan hati-hati karena takut terpeleset. Alex sudah meminta dirinya untuk tak menaiki tangga, tapi Sarah benar-benar ingin melihat pemandangan dari atas balkon. Tak apa ia membantah ucapan pria itu.
"Leah!"
Wanita di depannya segera menoleh. Dia tersenyum melihat Sarah yang sepertinya memang baik-baik saja dibanding sebelumnya.
"Kau tadi turun dari tangga?"
"Iya, aku dari lantai atas."
"Astaga, aku kira Alex melarang keras bagi wanita hamil seperti mu untuk ke lantai atas. Ya sudah, aku kemari ingin mengajakmu ke mall. Hampir musim dingin, kau tidak ingin beli sesuatu?"
Sarah tampak memikirkan beberapa hal. Yang pertama, sore ini Marilyn akan kemari. Ibunya Alex berencana untuk membuat kue. Yang kedua, Alex juga tak memperbolehkan dia pergi kemanapun tanpa diawasi. Ah sialan.
"Aku tak tahu, Leah. Mungkin lain kali saja," Jawabnya.
Leah menggeleng keras,"Ayolah, kau ikut aku saja. Nanti akan kuberitahu Alex kalau kau bersamaku. Tak perlu takut."
Sarah menghela napasnya. Ia juga ingin keluar rumah, penat juga berada di dalam rumah ini setiap hari. Wanita itu pun memutuskan untuk pergi bersama Leah setelah sebelumnya menghubungi Alex untuk meminta izin.
...

Keduanya sampai di pusat perbelanjaan kota Toronto. Disini begitu ramai dengan orang-orang. Sarah bisa melihat banyaknya pasangan muda atau segerombolan anak sekolah tengah menghabiskan uang mereka disini. Leah berkata kalau ia ingin melihat-lihat mantel musim dingin. Ia beranggapan kalau mantel lamanya sudah tak layak dipakai padahal Sarah tahu, hampir separuh isi lemari wanita itu belum terjamah sedikitpun dan sekarang dia berkata kalau mantel-mantelnya sudah jelek. Dasar orang kaya.
"Apa menurutmu yang warna putih bagus?"
"Ya, lumayan," Jawabnya.
"Atau bagaimana yang warna coklat ini? Bulu-bulunya lebih halus."
"Iya, yang itu juga bagus," Jawabnya lagi.
Leah memutar bola matanya, dia berkacak pinggang menatap Sarah,"Ayolah Sarah, setidaknya beri aku pilihan, mana yang bagus dan baik?"
Sarah hanya tersenyum kecil,"Beli saja dua-duanya jika kau pusing."
Leah menghela napas. Dia mengembalikan kedua mantel yang ia pegang,"Ada apa? Tidak jadi beli?"
"Kau kelihatannya tidak begitu semangat, Sarah? Kenapa?"
Sarah hanya menggeleng. Tidak, dia bukan tak semangat, hanya saja rasanya mual berada di sekumpulan mantel bulu yang agak mengerikan ini. Sepertinya bulu-bulu itu membuat tenggorokannya pahit.
"Bulu-bulunya menggangguku, Leah. Maafkan aku."
Leah mengajak Sarah untuk pergi ke toko pakaian dalam. Ia rasa disini Sarah tak akan merasa mual.
"Kau bisa duduk saja disini, Sarah. Aku akan berkeliling mencari pakaian dalam dulu. Tidak lama kok," Katanya. Sarah hanya mengangguk, dia duduk di kursi panjang lalu mengelus perutnya.
"Sepertinya kalian tidak suka mantel bulu ya nak?" Katanya lalu tertawa sembari mengelus perutnya yang lumayan besar.
"Kau... Sarah kan?"
Sarah segera mendongak. Ia terkejut melihat seorang pria berusia paling tidak 30 tahunan ke atas itu.
"Mr.Lynch?"
"Wah ternyata benar kau Sarah Heather. Apa yang kau lakukan di tempat ini?"
Sarah mengerut tak senang melihat wajah salah satu dosennya dulu. Asal tahu saja, Mr.Lynch sering melecehkannya sewaktu dia masih kuliah.
"A-aku datang bersama temanku," Jawabnya. Dia memandang ke arah lain, berharap Leah kembali kesini karena Sarah mulai takut kalau Mr.Lynch berbuat tak baik padanya.
Pria itu duduk di sebelah Sarah. Dia tertawa kecil karena melihat gelagat mantan muridnya ini yang ketakutan.
"Kau cantik seperti biasanya Sarah. Aku terkejut bisa melihatmu disini."
Sarah tak lekas menjawab, dia meneguk ludahnya karena takut. Di sini tak terlalu ramai, hanya ada beberapa perempuan yang berlalu lalang dan mereka tak mencium bau kecurigaan sama sekali.
"Oh Lord! Apa kau sedang hamil?"
Sontak saja Sarah memeluk perutnya dengan kedua tangan. Dia berusaha untuk menjauh dari sana, tapi tangannya ditahan.
"Sialan, ternyata kau putus kuliah untuk menjadi pelacur ya? Dasar, kukira kau memang perempuan baik-baik, tapi nyatanya kau bahkan menjadi pelacur. Kenapa dulu kau menolak untuk ku sentuh hum? Sok suci."
Plak!
Napas Sarah terdengar begitu cepat. Dia mulai emosi mendengar pelecehan yang dilakukan oleh pria tua gila ini.
"Jangan pernah berbicara seperti itu, Mr.Lynch! Anda harus bisa menjaga mulut kotor Anda di depanku!"
Edric Lynch tak terima dengan cara bicara Sarah lalu tamparan yang dilayangkan oleh wanita itu. Dia melirik sekitarnya, mengetahui kalau ada beberapa orang yang menatapi mereka berdua walau diam-diam.
"Sombong sekali kau Sarah! Sudah baik dulu aku pernah menawari mu uang untuk biaya kuliah, tapi kau malah memilih untuk melacurkan diri seperti ini," Katanya. Sarah semakin merasa hatinya nyeri. Dia berusaha untuk tak menangis, tapi rupanya ia tak bisa.
"Bajingan! Aku tak pernah sudi memberikan tubuhku sebagai timbal baliknya! Apa kau sadar kalau kau itu hanyalah sampah terendah menjijikkan yang hidup di dunia ini?! Lancang sekali kau menggunakan uang sebagai alasan untuk mendapatkanku!"
Sudah. Itu luapan emosi yang sedari tadi Sarah simpan. Edric Lynch semakin berang, dia berdiri di hadapan Sarah lalu tanpa aba-aba menampar wajah wanita itu hingga Sarah terjatuh menghantam lantai.
Orang-orang yang melihat pun tak melakukan apapun selain diam. Mereka seakan sedang menikmati pertunjukan gratis saja.
Sarah meringis sakit ketika ia terjerembab ke atas lantai. Ia mengusap perutnya yang sedikit berkontraksi, tapi beruntung bayi-bayinya baik-baik saja.
"Asal kau tahu Sarah, wanita murahan seperti mu tak pantas ada di tempat elit seperti ini. Kau itu lebih baik telanjang di dalam kelab malam lalu jual tubuhmu itu pada pria kaya!"
Terlepas dari celotehan tak berguna dari dosen tak bermoral itu, Sarah lebih memedulikan keadaan bayinya. Ia takut terjadi sesuatu.
"Ya ampun Sarah! Astaga kenapa kau!" Leah datang secepat mungkin ketika mendengar ada keributan di depan toko itu. Ia menolong Sarah untuk berdiri lalu memastikan keadaan wanita itu.
Ia menatap berang pada pria gila sombong itu,"Bajingan! Apa yang kau lakukan!"
Leah mengucap sumpah serapah sebelum membawa Sarah ke rumah sakit. Persetan dengan belanjaannya, Sarah dan bayinya jauh lebih penting.
Leah meraih ponselnya, ia menghubungi Alex segera.
"Halo, ada apa Leah?"
"Segeralah ke rumah sakit yang paling dekat dengan kantormu. Aku membawa Sarah kesana," Jawabnya sembari menyetir dengan sedikit terburu-buru.
"Apa yang terjadi?! Dia baik-baik saja?"
"Akan aku jelaskan nanti, segeralah menyusul."
"Damn it!"
...
A/n : up terosss🎉