Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 64



Sarah tengah menyisir rambutnya ketika pintu kamarnya dibuka perlahan. Alex masuk ke dalamnya lalu menatapnya dengan satu senyuman. Baru saja mereka menyantap makan malam bersama Marilyn sebelum wanita itu memutuskan untuk segera pulang ke mansion Keluarga.


Alex berdiri di belakangnya lalu menyentuh bahu terbukanya pelan. Sarah menatap Alex dari pantulan kaca,"Ada apa?"


"Tidak, hanya sedikit merindukanmu."


Sarah tertawa kecil, dia menaruh sisir itu ke atas meja rias lalu ia berdiri menghadap Alex. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher suaminya lalu mencuri satu ciuman,"Apa aku pergi terlalu lama siang tadi?"


"Tidak juga," Jawabnya.


Wanita itu memeluk tubuh suaminya dengan erat, ia menyandarkan kepalanya ke depan dada Alex lalu memejamkan mata, menikmati aroma tubuh suaminya yang menenangkan. "Hari yang damai ya?"


"Hmm," Pria itu menjalankan jemarinya ke sepanjang punggung Sarah sebelum menarik turun tali gaun tidur yang Sarah kenakan,"Alex.."


"Sstt, kita tak punya banyak waktu. Aaron masih tertidur nyenyak, setidaknya anak itu tak akan terbangun hingga beberapa jam."


Wanita itu hanya bisa bersikap pasrah saat gaun tidurnya terlepas begitu saja lalu ia sedikit menjerit kaget saat Alex mengangkat tubuhnya hingga Sarah terpaksa harus melilitkan kakinya ke sekitar pinggang Alex.


Alex membawanya ke tengah ranjang, ia mencium bibirnya dengan penuh gairah, merasakan betapa indahnya cinta yang ia rasakan hanya dari decakan bibir. Ia menggigit kulit leher istrinya sebelum semakin turun ke bawah untuk merasakan hal yang lebih menakjubkan lagi.


"Apa aku perlu meminta izin pada si kembar tentang ini?" Sarah lantas tertawa, ia meremas rambut suaminya saat Alex menjilat lalu menghisap puncak dadanya dengan sensual. Salahkan gairah ini yang membuat ia tak mau berhenti mendesah seperti orang haus belaian.


Alex melepas kaos putih yang ia kenakan, menampakkan keindahan otot yang ia punya. Sarah sering melihat Alex berada di ruang olahraga setiap hari minggu, ia beruntung sekali karena bisa menikmati pemandangan menakjubkan ketika Alex tengah melakukan push up atau olahraga lainnya.


Lamunannya buyar ketika melihat Alex tengah memposisikan dirinya di antara kedua kakinya yang terbuka lebar sebelum berhasil masuk dan membuat Sarah merasa melayang di atas awan.


Ia mencakar punggung Alex beberapa kali ketika serangan kenikmatan itu membuatnya benar-benar jatuh ke dalam lubang gairah. Ia tak menolak ketika suaminya mencium rakus bibirnya atau membuat beberapa tanda di sekitar dada dan lehernya yang akan Sarah temukan besok pagi.


"I love you, Sarah. You are my world, my life, my sweet destiny. I'm glad to call you mine."


...


Alex meremas telapak tangan istrinya sebelum mencium keningnya dengan sayang. Pagi ini dirinya akan berangkat ke Melbourne. Ada urusan bisnis yang harus ia tangani di sana. Ia tidak pergi sendiri, Zack juga ikut bersamanya pun dengan dua sekretaris di kantor.


"Kau serius akan pergi dua Minggu?"


"Maafkan aku karena tidak mengatakan ini padamu sebelumnya, sayangku. Ini bisnis yang berat dan jika kehilangannya akan membawa banyak kerugian. Kuharap kau bisa mengerti ya?"


Sarah mengerucutkan bibirnya tak suka. Ia kesal karena Alex tak pernah mengatakan kalau dia akan pergi selama dua Minggu ke tempat yang begitu jauh dari rumah. Ia menghela napas panjang,"Lalu bagaimana jika aku merindukan mu atau si kembar yang merindukan mu?"


"Akan ku usahakan untuk menghubungi mu setiap hari, sayang. Jangan khawatir," Jawabnya. Ia menyampirkan rambut Sarah ke belakang telinganya lalu mengusap pipi wanita itu,"Hanya dua minggu, aku janji."


Lalu Sarah pun mengangguk. Ia meraih tubuh suaminya lalu memeluknya sangat erat. Dia akan merindukan Alex untuk dua minggu ke depan, menyebalkan sekali.


"Disana pasti banyak wanita cantik. Bagaimana jika kau berpaling dariku?"


Alex tertawa, ia meraih bibir istrinya untuk ia kecup. Dia gemas sekali dengan tingkah Sarah yang tampak manja padanya, tapi Alex menyukai itu.


"Kau konyol. Untuk apa aku melakukan itu? Ada yang jauh lebih sexy di kamarku ini, jadi untuk apa aku mencari yang lain?"


Pipi Sarah merona hebat, dia menahan senyumnya saat Alex lagi-lagi menggodanya pagi ini.


"Jadi kau mengizinkan aku kan?"


Sarah mengangguk,"Iya baiklah, tapi hanya dua minggu. Aku ataupun si kembar tak bisa menunggu terlalu lama."


"Tentu saja, sayang. Aku pun tak bisa berlama-lama untuk jauh dari kalian," Balasnya.


Alex beralih ke tengah ranjang, ketiga anaknya seakan menunggu giliran untuk mendapat kecupan perpisahan itu.


Ia meraih Alaina lebih dulu lalu menciumnya gemas,"Daddy pasti akan merindukanmu disana, baby girl. Jangan nakal selama Daddy pergi oke?" Ia menempelkan pipinya dengan pipi putrinya sebelum menatapnya cukup lama.


"Dia cantik sekali."


Alaina menatapnya penuh kekaguman. Mata bulatnya itu tak berkedip saat melihat wajah ayahnya yang kini tengah mendekapnya itu. Alex tidak tahu apa isi pikiran Alaina, tapi ia bisa merasakan kalau gadis kecilnya ini juga menyayanginya.


Alex memberi Alaina pada Sarah lalu ia meraih Axelle, menciumnya sama seperti yang ia lakukan pada Alaina. Jika Aaron adalah anak yang sulit tidur maka Axelle adalah kebalikannya. Dia selalu tidur lebih cepat bahkan sebelum Sarah sempat memberinya susu. Dia tidak terlalu rewel seperti Aaron.


Lalu ia beralih pada si sulung yang ia harapkan bisa menjaga kedua saudaranya dengan baik walau mereka hanya berbeda beberapa menit saja. Ia berharap Aaron bisa tumbuh menjadi anak yang tangguh agar suatu hari ia bisa menjaga saudaranya dari dunia. Namun untuk saat ini, Aaron hanyalah seorang bayi kecil yang gemuk. Tugas Alex sekarang adalah membesarkannya dan memberinya cinta yang tak bisa orang lain berikan untuk mereka.


Dia meletakkan Aaron kembali ke tengah ranjang, tepat di sebelah Axelle lalu beranjak. Sarah lantas ikut berdiri, dia membenarkan posisi Alaina dalam pelukannya ketika anak itu berhenti menyusu.


"Tidak bisakah kau membiarkan Zack saja yang pergi?"


"Baby... Sejujurnya aku pun tak ingin pergi, tapi ini benar-benar mendesak. Mereka ingin menemuiku."


Lagi-lagi Sarah menghela napasnya. Dia menimang Alaina sebelum mencium Alex sekali lagi.


"Hati-hati, Alex. Kami mencintaimu."


Pria itu mengulas satu senyuman. Ia membuka pintu kamar lalu melihat Zack yang berdiri di samping pintu. Pria itu membawa koper milik Alex lalu turun lebih dulu ke lantai bawah.


"Kalau begitu aku pergi dulu, sayang. Kau juga jangan terlalu sering membereskan rumah karena itu tugas para pelayan, oke? Aku akan menghubungi nanti," Ia mengecup keningnya lalu mengucapkan selamat tinggal. Sarah menutup pintu kamarnya saat Alex tak lagi terlihat di lantai bawah, ia bergabung dengan Aaron dan Axelle di atas tempat tidur sebelum menaruh Alaina.


"Kita harus menunggu, sayang. Daddy akan pulang dua minggu lagi, tidak apa kan jika mainnya dengan Mommy dulu?"


Ia tertawa mendengar lirihan dari Axelle, seolah merespon bahwa dia dan saudaranya akan baik-baik saja selama ayahnya pergi.


"Baiklah, ayo kita mandi! Mommy akan menemani kalian bermain hari ini," Sarah memandikan Alaina lebih dulu, lalu Aaron dan Axelle. Setelah selesai memandikan ketiga bayinya, barulah dia membersihkan dirinya sendiri. Untungnya Leah akan kemari nanti sore, setidaknya dia tidak terlalu merasa sepi selama suaminya pergi.


...


Alex sampai di Melbourne saat hari sudah begitu gelap. Ada mobil khusus yang menjemputnya langsung dari bandara, mengantarkan rombongannya ke hotel saat itu juga. Alex benar-benar merasa lelah, 20 jam berada di dalam pesawat bukanlah yang menyenangkan. Ia nyaris sakit pinggang karena berada di tempat yang sama berjam-jam.


Setelah sampai di kamar hotel, pria itu langsung merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang. Mungkin ia akan menelepon Sarah besok pagi saja karena malam ini dia benar-benar kelelahan.


Keesokannya, sebelum berangkat ke tempat tujuannya, Alex menghubungi Sarah terlebih dahulu. Perbedaan waktu antara Kanada dan di sini lumayan jauh jadi bisa ia lihat kalau di tempat Sarah cukup temaram.


"Disini sudah pagi. Apa kau baru akan tidur?"


Ia bisa melihat wajah lelah istrinya di seberang sana. Sarah tersenyum sebelum mengangguk sebagai jawabannya.


"Aaron lagi-lagi rewel malam ini. Kupikir karena ia sedang rindu padamu."


Alex memasang dasinya tanpa melepas pandangannya pada layar ponsel yang memperlihatkan wajah Sarah. Ia tersenyum,"Katakan kalau aku juga rindu padanya."


Sarah menepuk bokong putranya yang tengah tertidur di atas dadanya dengan mata yang terbuka,"Cepatlah pulang, Daddy. Kami tak sabar ingin bertemu denganmu."


Alex memberi kecupan jauh pada Sarah dan putranya. Belum ada 2 hari ia pergi, dirinya sudah dilanda kerinduan pada si kembar dan juga Sarah.


"Aku akan pulang jika urusanku bisa lebih cepat selesai. Aku harus pergi sekarang."


"Baiklah, hati-hati ya. Aku mencintaimu Alex."


"Iya sayang, aku juga mencintaimu."


Tepat setelah itu, pintu kamar hotelnya diketuk dan suara Zack terdengar dari luar sana. Alex mematikan ponselnya lalu menyimpannya ke dalam tas kerja. Jika saja bisnis ini tidak penting, mungkin ia sudah menolaknya sedari awal. Namun Alex tak bisa, ia sedang memperjuangkan sebuah resort yang ada di suatu pulau. Ia ingin berdiskusi tentang sesuatu bersama si pemilik dan jika ia berhasil dengan kesepakatannya maka resort itu bisa menjadi miliknya juga. Hanya sesederhana itu.


Kembali ke mansion, Sarah menaruh ponselnya lalu mengusap punggung kecil Aaron yang belum juga tertidur.


"Sabar ya, sayang? Mom tahu kau tidak terbiasa melihat Daddy pergi jauh," Ia mengecup puncak kepala Aaron lalu mulai memejamkan matanya untuk menyambut hari esok.


...


A/n : up lagee, sebentar lagi tamat loh hehe, beberapa part lagi hehe