Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 44



Sarah berdecak senang ketika semua menu makanan sudah tersaji di atas meja. Ia menoleh pada pintu depan yang dibuka, Joseph masuk sembari mengelap keringatnya dengan handuk kecil. Mungkin pria itu baru saja selesai dengan pekerjaannya.



"Kau datang tepat waktu. Aku baru saja selesai membuat makan malam," Kata Sarah. Joseph tergiur dengan berbagai makanan yang ada di atas meja karena selama ini dia tak pernah makan masakan rumahan. Ya begitulah kehidupannya, Joseph benci pekerjaan yang lama dan susah, makanya dia lebih suka makan makanan kalengan.



"Aku terkesan Nona Sarah. Kau membuat makanan seenak ini. Terima kasih atas hidangannya," Joseph lalu duduk di salah satu kursi, meraih piring lalu mulai mengisi piringnya dengan nasi serta lauk pauk. Sarah hanya tersenyum kecil menatapnya, dia pun turut duduk di seberang Joseph lalu mulai mengisi piringnya.



Tangannya berhenti bergerak ketika mengingat Alex. Dia bertanya-tanya, apa pria itu sudah makan malam? Atau sedang apa ia sekarang?



Ini baru satu hari, tapi Sarah merasakan kekhawatiran yang mendalam. Dia takut Alex hilang kendali, lupa makan atau mungkin tak tidur semalaman. Ia merasa bersalah, tapi Sarah tetap akan disini setidaknya sampai hatinya benar-benar yakin untuk bertemu kembali dengan Alex.



"Kau tak makan?"



Matanya berkedip lalu ia pun mengangguk,"Ya, aku hanya memikirkan suatu hal."



"Tentang suamimu?"



Sarah melirik Joseph yang tampak penasaran,"Tidak. Bukan dia," Jawabnya.



Joseph mengelap sudut bibirnya dengan tisu lalu menegak air minum di sebelahnya,"Kau bisa meneleponnya jika kau khawatir, Sarah. Aku bisa melihat dari matamu kalau kau gelisah."



"Tidak, Jo. Aku baik-baik saja dan kumohon, jangan bahas apapun saat di meja makan," Balasnya sedikit kesal. Joseph kemudian mengalah, dia berkata kalau dirinya yang akan membereskan dapur dan Sarah tak perlu membantunya.



Selepas makan, wanita itu berjalan masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu. Sarah mendekati jendela, menatap ke arah luar yang gelap dan sepi. Hanya ada beberapa cahaya lampu dari lumbung dan istal yang terlihat dari dalam sini. Joseph bilang jika hari mulai gelap, diluar memang sepi seperti itu.



Sarah melepas ikatan rambutnya, dia memilih untuk segera beristirahat karena tubuhnya mudah lelah.



"Tidur yang nyenyak ya sayang? Mommy benar-benar lelah."



Wanita itu mencoba untuk menutup matanya, berharap kalau malam ini bisa ia lewati dengan baik.



...



Dua hari? Satu Minggu? Dua Minggu?



Alex tak berhenti mengelilingi setiap sudut Jacksonville sejak Sarah menghilang dua minggu yang lalu.Β  Sejak semalam dirinya tak keluar dari mobil demi mencari Sarah. Alex sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari ke sekitaran kota bahkan sampai ke ujung Florida sekalipun. Pria itu tak mau kehilangan Sarah dan ia tak akan berhenti untuk terus mencari.



Seperti saat ini, matahari sudah mulai naik ke atas. Alex membuka matanya karena sinar matahari mulai mengusik kelopak matanya. Dia mengusap wajahnya lalu meraih ponsel dan mendesah kesal karena tak ada informasi apapun yang masuk ke dalam sana. Hanya ada beberapa panggilan tak terjawab dari ibunya dan puluhan pesan masuk yang mengatakan kalau wanita tua itu mengkhawatirkan Sarah serta dirinya.



Alex tak berniat untuk pulang kembali ke Kanada karena ia yakin kalau Sarah masih berada di Florida.



Ia menjalankan mobilnya ke arah pom bensin, sekalian membeli kopi dan makanan ringan.



Alex memberhentikan mobilnya lalu mengisi penuh tangki bensin sebelum masuk ke dalam minimarket untuk membeli minuman.



Dia kembali lagi masuk ke dalam mobil, berniat untuk kembali mencari Sarah.



Alex sempat memikirkan beberapa tempat, tapi berakhir dengan kehampaan. Otaknya yang terkenal genius mendadak seperti orang bodoh. Alex merasa lemah dan tolol kali ini.



"Ya Tuhan, kalian dimana?" Tanyanya frustasi. Alex mengetukkan dahinya pada kemudi mobil lalu menyesali semuanya. Dia menyesal karena membuat Sarah menunggu dirinya terlalu lama atau terang-terangan menyatakan kalau dia tak menginginkan anak perempuan dari wanita itu. Bukankah ucapannya sama saja seperti sebuah penolakan? Wanita manapun pasti merasa sakit hati jika mendengar kata-katanya yang kasar. Apalagi dirinya tak jujur soal kematian Allison.



Ia meraih ponselnya untuk menghubungi Scott, ia butuh pencerahan.



"Alex? Kau baik-baik saja? Kenapa baru menghubungi ku hari ini?"




"Menurutmu dimana wanita biasanya menenangkan diri selain di kamar?"



Scott heran dengan pertanyaan itu. Dia mendengar nada bicara Alex yang terdengar sangat putus asa dan menyedihkan. Dirinya lalu mengingat sesuatu, dulu saat Scott dan Leah sedang bertengkar, wanita itu biasa pergi ke pantai atau melakukan kegiatan di sekitar pantai untuk menghilangkan masalahnya. Apa mungkin Sarah punya tempat seperti itu?



"Begini Alex, coba kau pikir suatu tempat yang mungkin Sarah datangi atau kau ingat lagi, apa saja kebiasaan wanita itu di waktu senggang? Biasanya para wanita menghabiskan waktu mereka dengan melakukan hal yang mereka sukai," Jawabnya.



Jemari Alex mengetuk kemudi mobil dengan gerakan yang beraturan. Apa? Tempat seperti apa yang mungkin Sarah kunjungi ketika wanita itu bersedih? Club? Perpustakaan?



"Halo? Alex, kau disana? Aku tutup dulu ya, aku sedikit sibuk. Jika kau masih belum bisa menemukan Sarah, beritahu saja aku," Ucap Scott lalu pria itu menutup ponselnya.



Mata biru Alex bergerak memandangi orang-orang di pinggir jalan. Ada beberapa anak kecil dan orang tua yang sepertinya tengah bercanda ria.



Tiba-tiba saja matanya membola. Ya, Alex mengingat sesuatu yang hampir ia lupakan.



Sarah menyukai anak-anak dan wanita itu mengatakan kalau dia biasa pergi ke rumah sakit anak hanya untuk memberi semangat ataupun menghabiskan harinya. Ya Tuhan, bagaimana dia bisa melupakan poin penting itu? Semoga saja dugaan Alex tak meleset. Ia berharap Sarah berada di salah satu rumah sakit dimana pun itu.



...



Sarah baru saja bertelepon dengan Joanna. Wanita itu mengatakan kalau dia senang tinggal di peternakan ini dan berharap kalau Joanna akan berkunjung kemari untuk menemaninya. Sarah juga mendapat teman baru dan beruntungnya warga disini tidak memandangnya sinis karena tinggal di rumah pria yang tidak ada ikatan apapun dengannya. Ditambah dengan kondisinya yang tengah hamil besar.



Wanita itu pergi keluar rumah, berjalan pelan ke arah lumbung dimana Joseph sedang bekerja memindahkan jerami.



"Jo?"



Pria bermata hijau itu menoleh pada Sarah,"Hai Sarah, selamat siang. Kenapa?" Tanyanya sembari terus bekerja. Sarah menaruh kedua tangannya di depan pagar kayu tua lalu menggeleng,"Tidak ada, aku hanya suka melihatmu bekerja keras tiap hari."



Terdengar tawa renyah dari pria itu,"Yap, inilah pekerjaanku. Aku bukan pemilik perusahaan besar, hanya seorang peternak yang mengurusi kotoran sapi dan memandikan kuda-kuda. Jadi aku harus bekerja keras."



Mau tak mau Sarah tertawa. Benar juga, Joseph hanya terlihat bekerja di lumbung atau paling tidak membersihkan kandang kuda setiap dua hari sekali. Pria itu hanya pergi ke kota saat Sabtu.



"Jadi apa besok kau ke kota?"



"Ya rencananya seperti itu. Kau mau ikut kali ini?" Tanyanya.



Sarah segera menggeleng. Tidak, tentu saja dia tak akan pernah ikut. Dengan pergi ke kota, semakin besar peluang kalau Alex akan menemukannya. Sarah belum bisa bertatap muka dengan Alex sekarang. Mungkin satu bulan lagi?



"Disini tak ada dokter kandungan, Sarah. Para wanita biasa pergi ke kota jika mereka ingin memeriksakan kandungan. Apa kau yakin kau tidak mau ikut aku? Setidaknya kau bisa periksa bayimu di kota," Tawar Joseph. Lagi-lagi Sarah menggeleng, pemeriksaan terakhir menyatakan kalau kedua bayinya sehat. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan bukan?



Joseph membersihkan tangannya dari jerami. Dia meraih segelas air lalu menegaknya,"Hari ini aku mau ke pasar, kau mau menitip sesuatu?"



"Bisa belikan aku syal? Sebagai gantinya, aku akan menyiapkan makan malam yang enak," Jawabnya. Joseph mengacungkan jempolnya,"Tentu saja kalau begitu! Baiklah, aku bersiap-siap dulu," Balas Joseph lalu ia pun meninggalkan Sarah di dekat lumbung.



Wanita itu duduk di bawah pohon yang rindang, menikmati ketika angin berhembus dari bawah sini. Dia mengusap perutnya, tak lama lagi dia bisa melihat kedua bayinya yang tampan. Sarah tak sabar menantikan hari-harinya sebagai seorang ibu.



Ia akan lakukan apapun untuk mempertahankan bayinya. Sarah rela menentang Alex jika pria itu berani untuk memisahkan dia dan bayinya. Persetan dengan perjanjian sialan itu, saat ini hanya kedua bayinya yang Sarah punya. Satu-satunya keluarga yang akan menjadi penopang kehidupannya.



"Aaron dan Axelle, Mommy mencintai kalian."



...



A/n : like dan komen terus untuk lanjut πŸŽ‰πŸŽ‰