Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 13



Honolulu, Hawaii.



Saat itu di akhir musim panas. Grissham Senior--Leonard-- membawa anggota keluarganya untuk liburan ke Hawaii. Mereka pergi ke kota Honolulu satu minggu sebelum musim panas berakhir. Saat itu Alex kecil tengah berjongkok di depan anak kucing yang kurus karena kelaparan. Ia mengelus kepala si kucing sembari memberinya biskuit sisa dari kantung celananya.



"Mommy, kenapa kucing ini tidak mau makan biskuit?"



Marilyn yang tengah menimang Elle, menatap Alex dan terkekeh,"Tentu saja sayang. Beri dia ikan, maka dia pasti senang."



Alex segera berdiri, dia berlari ke arah ibunya dan menarik ujung pakaian sang ibu,"Beri aku ikan Mom. Untuk kucingnya," Pinta Alex.



Marilyn kembali terkekeh dan ia menggeleng kecil,"Tidak bisa sayang. Kita sedang ada di taman dan Elle sedikit rewel," Balasnya. Alex mengerucutkan bibirnya tak suka, dia menatap adiknya yang masih tidur di dalam buaian sang ibu sebelum menekan pipi gemuk Elle dengan telunjuknya,"Elle menyebalkan. Al tidak suka."



"Kenapa seperti itu sayang? Tentu kau harus menyayangi adikmu sendiri."



Alex menarik diri dari sana. Dia mencari ayahnya di sekitar sana.



Mata birunya mengerjap kala mendapati sang ayah yang berada di dekat kedai es krim,"Daddy!" Teriaknya kencang lalu berlari pada ayahnya. Leonard menoleh lalu meraih Alex dalam pelukannya, pria kecilnya benar-benar periang. Terkadang Leon dan Marilyn kewalahan dengan tingkah Alex yang terlalu aktif di usianya yang baru menginjak 6 tahun itu.



"Dad ingin memberimu es krim ini tapi sepertinya mereka sudah kehabisan es krim. Jadi bagaimana jika kita pergi untuk makan di suatu tempat?" Tawar Leon. Pria itu membawa anaknya mendekati Marilyn yang duduk di hamparan rumput luas itu. Tempat ini cukup ramai, jadi dia harus menjaga anak dan istrinya dengan baik.



Setelah berbincang-bincang, Leon memutuskan untuk mengunjungi salah satu restoran yang menyediakan makanan hasil laut. Marilyn mengatakan kalau Alex menyukai udang, jadi tidak ada salahnya jika mereka pergi ke restoran semacam ini.



Para Grissham itu duduk di salah meja dekat kaca. Tempat ini luas dan padat oleh orang-orang, jadi pilihan untuk duduk di pinggiran adalah yang terbaik. Mereka memesan makanan serta beberapa cemilan kecil untuk Alex, ingatkan dia kalau Alex itu anak yang mudah merajuk jadi jika keinginannya tidak terpenuhi maka itu bisa kacau.



Leon tengah menimang Elle, ia membuat ekspresi lucu pada wajahnya hingga bayi perempuan itu tertawa. Marilyn turut tertawa melihat kedekatan suami dan putrinya itu. Bahkan rasanya ia sedikit cemburu melihat kedekatan ayah-anak itu.



Sedangkan Alex, dia menatap tak suka pada Elle. Oh tuhan, adiknya itu selalu merebut perhatian orang tua mereka, Leon maupun Marilyn lebih suka memerhatikan Elle ketimbang dia. Walau masih kecil tapi Alex tahu jika rasa sayang kedua orangtuanya sedikit berkurang padanya. Lihat saja cara Leon dan Marilyn memangku dan menciumi seluruh wajah Elle.



Lelaki kecil itu mengerucutkan bibirnya tak suka, sesekali ia berdecak kesal. Marilyn melirik Alex di sebelahnya, dia menghela napas pelan lalu mengusap kepala putranya yang pencemburu itu,"Al, wajahmu jadi jelek jika cemberut. Senyum sayang," Marilyn mencoba membujuk Alex. Ia tahu Alex adalah orang pertama yang tidak menyukai keberadaan Elle, maksudnya, seperti kebanyakan anak sulung pada umumnya-- Alex takut perhatian kedua orangtuanya mulai berkurang. Marilyn awalnya mengira itu hanya terjadi sementara tapi selama empat bulan terakhir, hal serupa selalu terjadi. Alex pasti akan memandang sinis adiknya sendiri.



Tak lama kemudian, makanan mereka datang. Pelayan muda itu tersenyum dan mengucapkan selamat makan dengan logat perancisnya yang bisa para Grissham itu dengar. Mereka menyantap makanan dengan canda tawa dan sesekali bercerita tentang rencana liburan saat musim dingin akhir tahun nanti.



Awalnya tidak ada yang salah, semuanya tetap tenang sampai akhirnya terdengar bunyi ledakan dari dalam dapur. Bunyi itu cukup memekakkan telinga dan menggetarkan seisi bangunan. Leon yang pertama kali menyadari itu sebelum semua orang mulai berteriak panik sambil berlarian kesana-kemari karena bangunan yang mulai goyah.



Tidak tahu bagaimana, ledakan besar itu berhasil menghancurkan sebagian restoran dan Marilyn dengan sigap membawa Alex bersamanya karena bocah itu duduk di sampingnya. Keadaan mulai kacau dan satu ledakan kembali terdengar. Orang-orang yang berada disana ada sebagian yang jatuh tertimpa puing-puing bangunan yang hancur itu.



"Marilyn! Kau bawa Alex untuk keluar, aku akan cari jalan lain, disana terlalu padat dan Elle bisa dalam bahaya!" Titah sang kepala keluarga. Marilyn mengencangkan rahangnya, ia ingin ikut suaminya ke arah lain, tapi karena mereka terpisah oleh percikan api yang mulai menyambar, Marilyn tidak punya pilihan lain selain pergi ke pintu keluar utama. Alex mulai menangis, ia meraungkan nama ayahnya yang bergerak jauh menghindari reruntuhan dinding bangunan sambil membawa adik perempuannya.



"Daddy! Daddy jangan pergi!"



Tapi mereka semua tahu, Leonard dan Elle tidak pernah keluar dari dalam reruntuhan itu. Mereka hancur bersamanya.



...



Sarah menatap kosong pada jendela di hadapannya. Dia memerhatikan rintik hujan yang jatuh membasahi bumi, agak menenangkan hatinya yang runyam.



Wanita itu masih terpekur, memikirkan cerita Alex satu minggu yang lalu. Pria itu memang menjelaskan semua pertanyaan yang ia layangkan tapi Sarah tetap tak bisa mengerti. Ia masih tidak bisa menerima alasan yang digunakan Alex untuk mengendalikannya.




Sarah melihat dari pantulan jendela, pintu kamar mandi di belakangnya sudah terbuka. Menampilkan Alex yang sudah memakai celana tidurnya tanpa atasan. Sarah mulai mengawasi setiap kebiasaan Alex, pria itu selalu minum soda atau apapun yang berjenis sama di dalam kulkas, tidur tanpa atasan dan pulang malam. Ah, jangan lupakan kalau ia juga pekerja keras dengan urusan ranjang.



Kulit wanita itu merinding ketika merasakan kecupan hangat di pundaknya yang terbuka, bahkan naik hingga ke tengkuknya. Sebuah pelukan erat juga turut menghampirinya, Sarah menggeliat kecil, entah kenapa ia mulai menyukai sentuhan manis seperti ini. Alex selalu memeluknya dan mencium lehernya ketika sedang bergairah. Tentu saja Sarah bisa menangkap sinyal itu hanya dari cara Alex bersikap.



"Kau memikirkan sesuatu?"



"Hmm," Sarah memejamkan matanya, ia menggigit bibirnya saat Alex dengan sengaja meninggalkan jejak di pundaknya.



"What is that? Is there something wrong?"



Sarah membalikkan tubuhnya untuk bisa mencium bibir Alex saat itu juga. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher Alex dan mencium bibir Alex yang mengundangnya. Tentu saja Alex tak akan menolak, ia akan dengan senang hati menerima ciuman yang disengaja ini.



Mereka berpagutan cukup lama hingga akhirnya kedua bibir itu terpisah. Alex menempelkan keningnya pada Sarah, sama seperti wanita itu, ia terengah-engah.



"Ada sesuatu yang ingin kau katakan?"



Sarah menggeleng,"No. Just fuck me."



Tiga kata itu mampu membuat Alex bahagia. Ia menggendong Sarah seperti pengantin lalu menghempaskan tubuh seperti biola itu ke tengah-tengah ranjang. Alex merasa ia mulai hilang akal ketika menatap Sarah dan tubuhnya yang menggoda. Ia ingin menghitung sedikit, berapa kali mereka bercinta?



Oke mungkin pertemuan mereka berdua belum sampai satu bulan tapi ia bisa dengan bangga mengatakan kalau dia sudah menggempur Sarah lebih dari sepuluh kali. Jangan lupakan untuk menghitung percintaan mereka saat di dalam mobil, kamar mandi dan ruang tamu. Dan tentu saja dapur, itu terjadi selama dua hari ini.



Mereka menikmati semuanya bersama-sama, melupakan sedikit tentang perjanjian awal mereka. Sarah hanya menginginkan Alex saat ini, ia hanya ingin pria itu yang menghangatkannya saat ini juga.



...



Sarah mengoleskan selai stroberi pada roti tawar di tangannya, ia ingin sarapan sederhana seperti ini saja. Bukan masakan mewah seperti orang kaya pada umumnya. Terlebih lagi disini hanya ada dia dan Alex, tentu saja memasak akan terlihat percuma.



Tepat setelah Sarah menaruh piring berisi roti, Alex muncul dengan wajah mengantuknya. Jujur saja, penampilan seperti itu terlihat lebih menyenangkan dan panas.



Ia melirik Alex yang menuju kulkas tapi Sarah lebih dulu mencegahnya,"Aku ingin kau berhenti minum soda saat pagi hari, Alex. Itu tidak sehat, sebagai gantinya aku sudah menyiapkan teh hangat untukmu."



"Wow, sejak kapan kau menjadi peduli akan urusanku?"



Sarah berdecak tak senang,"Tentu saja sejak kau memutuskan untuk menjadikan ku pelayan dirumah besar ini Mr.Grissham yang terhormat. Apa kau lupa kalau kau memintaku untuk memenuhi segala kebutuhan mu?"



"Easy, woman. Aku hanya sedikit menggodamu," Lalu Alex pun menurut. Dia mengambil tempat di kepala meja lalu menghirup teh buatan Sarah. Rasanya pas, tidak terlalu manis atau pahit.



"Aku hanya menyediakan roti isi, maafkan aku," Ucap Sarah. Ia merasa tak enak pada Alex, mungkin pria itu tidak berselera dengan apa yang ia sediakan.



"Tak masalah untukku, Sarah. Aku makan apapun yang bisa membuatku puas termasuk dirimu," Balasnya lalu mulai makan tanpa merasa berdosa akan ucapannya. Sedangkan Sarah, ia mulai salah tingkah sendiri dan merutuki dirinya yang mudah terbawa suasana. Ingatkah dia kalau rencana awalnya ialah membuat Alex jijik akan dirinya? Dan lihat yang terjadi saat ini, bahkan Alex ingin menerkamnya bulat-bulat.



...