
"Bahagia? Kau pikir aku bahagia setelah nama baikku tercoreng begitu saja? Susah payah aku mencoba untuk menjaga nama baik keluarga kita, tapi Mommy membuat semua usahaku kacau. Kalian menghancurkan usahaku selama ini," Balas Alex.
Marilyn menatapnya nanar,"Usaha? Kau berupaya untuk menjaga nama baik? Jangan bercanda, anakku. Apa kau pikir hidupku hanya untuk kehormatan saja? Aku nyaris gila setiap kali menerima kabar kalau kau melakukan seks dengan jalang yang berbeda setiap malam. Aku hancur Alex, sebagai seorang ibu, aku merasa gagal telah mendidikmu. Aku hanya ingin putraku hidup normal, menikah lalu punya anak dan bahagia. Tapi kau tidak pernah mengerti seperti apa perasaanku," Marilyn menangis. Ia terduduk di atas sofa sambil memijat keningnya yang terasa pusing.
Sarah yang melihat itu mencoba untuk menenangkan Marilyn. Dia memeluk tubuh wanita itu dan mengelus bahunya dengan pelan. Oh tuhan, dosa seperti apa lagi yang Marilyn lakukan hingga putranya menjadi seperti ini? Sungguh, Alex benar-benar seorang anak yang durhaka.
Netra hitamnya menatap Alex yang terdiam disana. Pria itu hanya memandang lirih pada ibunya yang menangisi dia. Hal itu sedikit mencubit hati Alex, ia memang telah melakukan kesalahan hingga ibunya menjadi seperti ini.
Leah menarik tangan Alex, ia membawa sahabat masa kecilnya itu ke dapur untuk berbicara empat mata dengannya.
"Alex apa kau gila?! Ya, sudah pasti kau gila, menuduh ibumu begitu saja! Oke, aku minta maaf karena membantu ibumu untuk melakukan tindakan konyol itu tapi demi Tuhan, tidak ada niatan kami menjebakmu bersama Sarah. Aku hanya kasihan padamu Alex, walau aku bekerjasama dengan ibumu tapi tak dapat dipungkiri aku juga ingin membantu sahabatku. Aunty tidak tahu kalau aku yang mengenalkan Sarah padamu sampai aku memberinya kabar sore tadi. Jadi Alex, kumohon, dewasalah,"
Alex menyugar rambutnya frustasi. Ia menatap enggan pada Leah sebelum menghela napas berat,"Tapi kenapa Leah? Kenapa kau memilih untuk bekerjasama dengan ibuku lalu bersikap seperti sahabat yang baik waktu aku meminta tolong padamu?"
"Sudah kubilang kalau kau itu sahabatku. Aku tidak tega saat kau meminta tolong padaku waktu itu. Itu terjadi begitu saja dan di saat yang bersamaan, Sarah sedang terpuruk dengan kondisinya. Aku tahu, aku telah salah langkah Alex tapi jangan salahkan ibumu. Dia hanya ingin kau bahagia," Jawab Leah. Dia menepuk pundak Alex, mencoba memercayakan semuanya pada pria itu.
"Temui ibumu dan minta maaf. Kau tahu, dia merindukan sosok putranya yang dulu."
Alex seakan tersadar dari lamunannya. Dia menoleh ke samping, mendapati kalau Sarah masih berusaha untuk menenangkan Marilyn di depan sana. Lelaki itu perlahan bergerak, dia mendekati Sarah dan Marilyn sebelum memanggil ibunya.
"Mom,"
Alex berjongkok di depan ibunya. Sarah menatap pria itu dalam diam, wajah seperti es tadi sudah hilang entah kemana, digantikan oleh wajah penuh luka dan kesedihan yang terpancar jelas. Sarah melirik Leah, wanita itu meminta Sarah untuk memberi Alex waktu bersama ibunya. Seketika, perempuan itu pergi, meninggalkan Alex dan ibunya berdua di ruang tamu itu.
"Al minta maaf padamu, Mom. Al sudah mengecewakan mu dan menjadi durhaka. Maafkan aku,"
Marilyn menatap putranya yang tertunduk, dia meraih wajah Alex dan mengelus pipi putranya dengan sayang,"Tidak nak, kau yang terbaik," Wanita tua itu memeluk tubuh tegap putranya dengan erat. Marilyn mengelus punggung Alex, seperti yang selalu ia lakukan ketika Alex sedang nakal.
"Mommy mohon padamu Alex, berubahlah. Jangan berbuat hal yang bisa menyakiti dirimu sendiri."
Alex melepas pelukannya. Dia menggenggam kedua tangan Marilyn sembari menghela napas,"Aku tahu kalau aku mengecewakanmu kali ini. Tapi semua sudah terjadi begitu saja, orang-orang sudah percaya kalau aku ini gay. Jadi biarkan aku yang mengurus sisanya," Mata biru pudarnya melirik ke arah Sarah yang berdiri di dekat tangga bersama Leah. Tatapan itu seakan menyiratkan bahwa Sarah lah yang akan membuat citra namanya kembali seperti dulu.
"Kalau begitu aku pulang dulu," Alex segera berdiri. Marilyn menahan tangannya,"Alex. Tentang Sarah--"
"Kumohon, Mom. Sarah akan menjadi urusanku, lagipula sekarang aku punya masalah lain dengan dia," Potongnya. Alex tahu, ibunya pasti akan memohon untuk melepas Sarah dan wanita itu akan melakukan segala cara untuk membuat Alex merubah pikirannya. Jadi sebelum itu terjadi, Alex akan lebih dulu menguasai keadaan. Karena saat ini urusannya dengan Sarah bukan sekedar penyelamat nama baiknya saja, mereka berdua sudah terikat dengan kesepakatan. Dan Alex tidak pernah menarik ucapannya kembali jika ini menyangkut tentang perjanjian apalagi keturunan.
Marilyn melepas tangannya, ia tidak ingin ikut campur dengan urusan Alex tapi ia tidak bisa membiarkan Sarah menjadi korban begitu saja. Perempuan itu tidak tahu apapun soal ini dan harusnya Marilyn memikirkan akibat dari perbuatannya.
Sarah terkesiap, ia memerhatikan langkah kaki Alex yang mendekat padanya sebelum merasakan tatapan tajam serta penuh dengan makna di dalamnya.
"Untuk saat ini aku memaafkanmu, Leah. Tapi sebagai gantinya, aku akan tetap membawa Sarah bersamaku. Dan Mom, jangan lakukan hal gila lainnya. Cukup kali ini saja," Selepas itu Alex menarik tangan Sarah menjauh dari sana. Sarah tidak dapat berbuat banyak, ia cukup merasa bingung dengan keadaan yang terjadi hingga akhirnya ia menyadari kalau dia sudah berada di dalam mobil.
Sarah menoleh ke samping, dimana Alex sudah duduk di kursi kemudi. Tak lama kemudian, pria itu menjalankan mobilnya menjauh dari rumah masa kecilnya.
Sarah menoleh ke belakang, dimana Marilyn berteriak memanggil nama Alex tapi pria itu tidak memedulikannya dan tetap mengendarai mobilnya. Wanita itu meneguk ludahnya, ia tahu Alex pasti tidak akan melepasnya semudah itu karena saat ini memang hanya ada urusan mereka berdua.
Setelah beberapa lama, Alex menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Situasi disitu gelap walau kendaraan lain masih berlalu-lalang. Alex mematikan mesin mobilnya, dia memutar tubuhnya menghadap Sarah dan menatap tajam wanita itu.
Sarah yang merasa ditatap seintim itu merasa gelisah. Tidak jarang dia menggerakkan tubuhnya, berusaha untuk menghindari Alex dan tatapannya.
"Jadi bagaimana sekarang? Kau masih berpikiran untuk pergi?"
Sarah menoleh padanya sebentar,"A-apa maksudmu?"
Alex menggeleng, dia membenarkan kembali posisi duduknya. Pria itu menepuk pahanya beberapa kali,"Duduk di atasku."
Sarah mendelik,"A-apa?"
"Kau tidak tuli, Sarah. Sekarang duduk di atasku," Alex menekankan setiap perkataannya. Sarah menggeleng kecil tapi nyalinya untuk memberontak kembali menciut saat Alex memberinya tatapan seperti pisau. Sarah tak punya pilihan lain, dia bergerak cukup susah untuk memenuhi perintah Alex. Pria itu membantunya untuk duduk, Sarah menahan napasnya, astaga, ia tidak tahu kalau dengan hanya duduk seperti ini bisa membangkitkan gairah pria. Lihat saja, sesuatu di antara paha Alex terasa begitu keras menusuk bokongnya.
"Entahlah, sedari tadi aku tidak fokus dengan pakaian yang kau kenakan ini," Ucapnya. Ia meremas kedua paha Sarah yang terekspos karena posisinya yang merugikan tersebut.
Sarah menaruh tangannya di depan dada Alex, ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang begitu teratur dan tenang. Berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan dan ditengah kegelapan serta suhu yang mulai memanas, Sarah mengakui kalau Alex memang seorang brengsek yang sialnya tampan. Iblis yang terlahir dalam wujud seperti malaikat.
"Apa yang akan kau lakukan?" Bisiknya.
Alex menyeringai, ia tidak tahan melihat kepolosan Sarah atau wanita itu hanya berusaha terlihat seperti biarawati yang kuno.
"Menurutmu apa? Aku ingin dimanja, kau tahu?"
Shit.
...