
Mobil itu berhenti tepat di depan gedung besar yang letaknya berada di pusat kota. Bangunan itu terlihat begitu megah dengan beberapa pilar besar yang berdiri tegak di depan sana. Lampu-lampu di pekarangan luas itu menyala-- menyinari keindahan taman kecil yang terbentuk di dalamnya. Sarah bisa melihat ada banyaknya mobil mewah yang terparkir di dekat mereka atau orang-orang dengan pakaian elegan mereka yang mampu membuat Sarah gugup seketika. Ia meremas jemarinya sendiri, merasa kalau ini bukan keputusan yang tepat untuk ikut memeriahkan acara itu bersama Alex.
"Aku tak yakin untuk turun. Ba-bagaimana jika aku menunggu disini saja?"
Alex menoleh pada wanita yang duduk gelisah di sebelahnya. Ia berdecak tak suka melihat ketegangan yang terpatri jelas di wajah itu,"Apa yang kau takutkan? Kau tidak terlihat seperti beruang atau apapun itu," Jawabnya. Sarah mendengus mendengar jawaban Alex, bukan itu yang membuat dia gugup. Hanya saja, ini adalah kali pertama ia datang ke pesta besar seperti ini dan yang kacaunya lagi, ia datang sebagai pendamping Alex. Sarah tak siap jika ia harus menjadi bahan perbincangan orang-orang dan semua kesialan lainnya.
"Ayo turun. Kita sudah sedikit terlambat," Alex membuka pintu mobil dan Sarah mengikutinya dengan terburu-buru. Jemari tangan pria itu meraih telapak tangannya sebelum menggenggamnya erat,"Jangan berbicara pada siapapun kecuali mereka menyapa mu oke? Kita mulai peran kita sebagai sepasang kekasih," Titahnya. Sarah mengangguk patuh, tanpa disuruh lagi ia pun enggan untuk berbicara pada siapapun. Demi Tuhan, tidak ada yang ia kenal di pesta ini selain Alex.
Mereka berdua berjalan memasuki gedung itu, disambut oleh beberapa penjaga dan tiga perempuan dengan gaun putih gading dan sedikit ketat. Orang-orang itu memberi jalan untuk Alex tanpa memedulikan Sarah. Namun Sarah tahu, kalau sebenarnya tiga perempuan itu tengah membicarakan dia walau tak nampak.
Koridor yang tidak terlalu jauh membawa mereka ke sebuah aula besar. Sarah terkagum melihat indahnya dekorasi aula itu. Ruangan yang dipenuhi oleh bunga dan hal lain semacamnya.
"Ini adalah pesta pernikahan salah satu teman dekatku."
Sarah menatap Alex sebelum mengalihkan matanya ke sepanjang dekorasi ruangan yang benar-benar mewah. Matanya berhenti pada sebuah kue pernikahan yang begitu besar, di setiap sisinya dihiasi dengan bunga mawar membuat kue itu jauh lebih cantik dan rasanya begitu sayang untuk dirusak.
"Ayo, sebelah sini," Alex membawanya lagi ke sisi lain. Dimana segerombolan orang tengah berbincang sambil sesekali tertawa mendengar celotehan tak jelas.
"Wow lihat siapa yang datang," Ucap seorang pria dengan jas hitam. Ia menurunkan gelas dari tangannya sembari bertepuk beberapa kali.
Orang-orang itu akhirnya memusatkan perhatian pada mereka berdua. Membuat Sarah semakin gugup dan gelisah. Ia memaksakan diri untuk tersenyum walau rasanya begitu aneh.
"Selamat atas pernikahan mu dan Abby, Jake. Maaf aku datang terlambat," Kata Alex. Pria dengan jas putih itu hanya tersenyum tipis pada Alex dan mengangguk,"Sebaiknya kau dan pasangan mu duduk dulu. Bergabung dengan kami," Balasnya.
Alex menarik pelan tangan Sarah, membawanya pada kursi kosong di samping pengantin wanita yang bernama Abby itu.
Akhirnya Sarah bisa menarik napas lega ketika bokongnya menyentuh kursi. Sedari tadi kakinya terasa seperti jelly karena kegugupan yang melandanya itu.
Alex duduk tepat di sebelahnya. Sarah bisa melihat kalau pria itu jauh lebih santai dan terlihat bahagia. Apa mungkin karena teman baiknya juga sedang berbahagia?
"Jadi Alex, apa kau tak mau memperkenalkan kekasihmu pada kami?"
Alex melirik Scott, pria dengan jas hitam tadi. Ia menuangkan anggur merah ke dalam gelasnya sebelum meneguknya langsung. "Dia Sarah. Dan dia kekasihku."
Secara spontan Sarah menatap Alex, hatinya berdegup kencang saat mengetahui Alex menyebut dia sebagai kekasih walau nyatanya tidak seperti itu. Reaksi yang ditunjukkan teman-teman Alex tampak terkejut tapi Sarah tahu mereka hanya pura-pura terkejut. Terlebih lagi Scott dan Jake, tampaknya dua pria itu sudah tahu tentang apa yang terjadi antara Sarah dan Alex.
"Man, kau benar-benar luar biasa. Salam kenal Sarah, aku Prescott Brie dan cukup panggil aku Scott," Scott menaikkan gelasnya pada Sarah sedangkan Sarah hanya mampu tersenyum menanggapi itu.
"Aku tidak tahu kalau Alex punya kekasih sejak... Uhm ya sejak berita itu," Abby berkata tak enak pada Alex. Jujur saja, Sarah bisa melihat kalau hanya Abby lah satu-satunya manusia di gerombolan ini yang terlihat tidak mengetahui kebenarannya. Alex hanya menanggapi itu dengan gumaman, ia tidak terlalu memedulikan ucapan Abby karena sejujurnya dia tahu kalau dirinya yang akan menang. Persetan dengan ucapan si pengantin wanita itu, sebentar lagi persepsi dunia tentang dirinya akan segera kembali normal seperti yang sebelumnya.
"Mari bersulang untuk Alex dan pernikahan ku," Kata Jake. Dia menaikkan gelas berkaki miliknya, diikuti oleh semua orang yang berada di meja bundar ini kecuali Sarah. Wanita itu hanya menggenggam gelasnya tanpa berniat untuk menyesap rasa dari anggur merah yang telah disediakan di depannya. Pikirannya terusik oleh Alex, dadanya terasa sesak ketika membayangkan Alex membuangnya jauh atau yang lebih parah benar-benar melenyapkan dirinya.
"Ma-maafkan aku tapi aku permisi ke toilet sebentar," Sarah tidak perlu menunggu respon yang akan diberikan teman-teman Alex karena ia tidak berani menunjukkan wajahnya yang kacau seperti ini.
Dia berjalan meninggalkan meja itu dengan banyak pertanyaan tapi tak ada satupun yang mampu untuk menghentikan Sarah. Wanita itu melirik ke kanan dan kirinya, kebingungan dengan lokasi toilet itu. Helaan napasnya kemudian terdengar tatkala Sarah akhirnya menemukan pintu toilet wanita di sudut kanan. Ia melangkah cepat dan masuk ke bilik toilet sebelum menguncinya dan duduk diam di atas kloset. Sarah menutupi wajahnya dengan kedua tangan ketika ia merasa ada bulir air mata yang mulai berjatuhan. Ia tidak tahu mengapa dia menjadi cengeng seperti ini. Bayangan dimana kehidupan akan direnggut darinya lah yang membuat Sarah merasa sesak dan ingin berteriak.
Ia mengusap matanya yang basah lalu membuka pintu toilet untuk membenahi dirinya yang kacau. Sarah menaruh tas kecilnya di atas wastafel lalu mengeluarkan tisu dan alat make-up miliknya. Perlahan ia membasahi tisu itu dengan air lalu mengusap seluruh bagian wajahnya yang kacau, Sarah membuang tisu itu ke tempat sampah lalu meraih alat make-up nya. Tangannya sedikit bergetar ketika ia mengoleskan lipstick pada bibirnya tapi beruntung hal itu tidak membuat kacau. Setelah selesai dengan alat kecantikannya, Sarah membenarkan letak rambutnya yang tergerai agar tampak lebih rapi. Ia tak sengaja menyentuh liontin yang melekat pada lehernya sebelum menggenggam itu pada tangannya.
Ia memejamkan matanya lalu merapal dalam hati kalau dirinya akan baik-baik saja. Ia yakin kalau suatu saat ia akan berhasil membuat Alex takluk terhadapnya.
Sarah menyimpan barangnya ke dalam tas lalu keluar dari toilet itu. Untuk kembali bergabung ke dalam acara. Ia mengerutkan dahinya saat tak menemui Alex di meja yang tadi ia tinggalkan. Ia tidak ingin kembali ke sana, jadinya Sarah mencari ke sepanjang tempat yang luas itu. Ia bahkan tak memedulikan ketika si pembawa acara mengatakan kalau sebentar lagi pengantin akan melakukan first dance mereka. Ia hanya penasaran, dimana Alex.
Kakinya melangkah hingga ia berhenti di depan panggung dansa. Di seberangnya, ia melihat, Alex tengah mencium seorang wanita yang Sarah tahu itu siapa.
Calyria.
...
Alex menatap Sarah dengan dahi yang mengerut bingung. Wanita itu tiba-tiba ingin ke toilet tanpa mengucapkan apapun lagi. Ia mengetuk gelas itu dengan telunjuknya sebelum ikut berdiri,"Kurasa aku ingin menyusul kekasihku dulu. Dia tampak kurang sehat. Aku permisi semuanya," Alex pun berbalik dan mengejar Sarah yang berhasil masuk ke dalam toilet. Langkahnya terhenti ketika ia menabrak seseorang.
"Cal?"
Wanita dengan rambut pirang pucat itu tersentak saat bertemu dengan Alex di tempat ini. Ia dengan cepat menaruh gelas yang ia pegang ke atas meja,"Alex! Akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi," Ucapnya senang. Tentu saja, sejak kejadian di apartemen Alex beberapa waktu yang lalu, Calyria tak dapat menemui ataupun menghubungi Alex.
Pria itu mendengus muak. Ia berniat berjalan melewati Calyria karena tujuannya bukan untuk berbicara dengan wanita itu tapi Calyria dengan cepat menahan tangan Alex,"Kumohon biarkan aku menjelaskan semuanya padamu Alex. Aku mohon dengarkan aku," Pintanya.
"Kau lupa? Kita sudah berakhir sejak kau tidur dengan lelaki brengsek itu, Cal. Jangan menghalangi aku," Balasnya sinis. Calyria sebenarnya takut tapi ia masih membutuhkan Alex. Ia mencintai pria itu.
"Aku mohon Alex, aku tidak ingin kau salah paham. A-aku hanya mencintai mu dan yang terjadi beberapa tahun yang lalu itu hanya sebuah kesalahan. A-aku minta maaf tapi hanya kau yang aku cinta."
Alex tertawa mendengar itu. Ia sudah terlanjur membenci Calyria atas semua yang dilakukan wanita itu padanya. Alex tak akan pernah kembali pada wanita yang berhasil membuat dia ingin membunuh orang.
"Ikut aku. Lebih baik kita berbicara di sana," Calyria menarik pelan tangan Alex dan tersenyum dalam hati karena pria itu tak menolak ajakannya.
...