
Leah dan Scott turun dari mobil saat keduanya sampai di bandara. Alex sempat menghubungi Scott untuk menjemputnya di bandara karena Zack tengah ia berikan tugas ke Florida.
Ya, tidak apa kan? Setelah ini mereka bisa langsung mendiskusikan hal yang ingin dibicarakan agar lekas selesai.
"Apa kita datang tepat waktu?" Tanya Leah.
Scott mengangguk lalu menunjuk ke arah depan dengan dagunya,"Ya. Itu mereka," Jawabnya. Leah mengikuti arah pandang Scott lalu tersenyum lega ketika melihat Sarah dan Alex di depan sana. Barang bawaan mereka sudah tertata rapi di atas troli dan dia bisa melihat senyuman yang tercipta di wajah Sarah. Ada cahaya kebahagiaan yang terlihat, Leah yakin, mereka pasti bersenang-senang disana.
Kedua wanita itu saling berpelukan hangat,"Sialan kau Sarah. Aku mencoba menelepon mu, tapi tak pernah ada jawaban," Gerutunya. Sarah hanya mengulas senyum tipis, ia melirik Alex yang tampak tidak peduli dengan perkataan Leah.
"Maafkan aku, Venesia terlalu indah jadi pikiranku sedikit teralihkan."
"Huh baguslah. Kukira sperma Alex yang terlalu indah hingga kau hilang akal," Suara Scott berhasil menumbuhkan guratan kekesalan pada wajah Alex. Pria itu menahan kekesalannya sambil memberi tatapan peringatan pada Scott.
Leah memukul lengan pria itu,"Tidak tahu sopan santun!"
"Easy, woman," Balas Scott sambil mengusap lengannya yang sebenarnya tidak terlalu sakit.
Sarah sedari tadi sudah menahan malu setengah mati. Sialan sekali Scott, dia terlalu jujur dalam berbicara.
"A-apa kita bisa pulang sekarang? Aku mulai lelah," Gumamnya. Scott pun lekas mengangguk,"Tentu saja, Sarah. Naiklah ke mobil, aku akan membantu membawa koper kalian," Scott mulai membantu Alex membawa koper mereka dan Leah menuntun Sarah untuk masuk ke dalam mobil.
"Jika saat ini kita hanya berdua saja Scott, aku bersumpah untuk memukul wajahmu itu lalu memotong lidahmu," Bisik Alex saat mereka tengah menyusun koper di bagasi.
Scott memutar bola matanya,"Kejam sekali, bung. Lagipula aku benar kan? Berapa kali kau menumpahkan--"
"Bajingan sialan! Benar-benar kau ini!" Alex bersiap untuk memukul Scott, tapi pria itu lebih dulu menghindar sembari tertawa. Alex menghela napasnya, merasa sedikit malu juga.
Mereka pun akhirnya meninggalkan bandara untuk langsung pulang ke mansion.
Sesampainya, kedatangan Alex dan Sarah ternyata disambut dengan baik oleh para pelayan. Seperti mereka pulang bulan madu saja, tapi tak mengapa kan? Sarah ingin berkhayal kalau dia dan Alex sudah menikah.
"Scott, Leah. Aku akan menemui kalian di tempat biasa. Sepertinya aku tak bisa untuk berdiskusi sekarang," Kata Alex. Leah dan Scott hanya mengangguk paham, pasti Alex lelah kan? Perjalanan 10 jam itu memang mengerikan. Ditambah hari sudah sore dan sebentar lagi langit akan gelap.
"Baiklah, Alex. Hubungi saja aku jika kau ingin pergi," Balas Scott. Mereka pamit pulang lebih dulu karena ada sedikit urusan yang harus diselesaikan.
Alex memberitahu pada semua pelayannya kalau mereka boleh pulang setelah makan malam. Mungkin akan ada sedikit perubahan jadwal kerja untuk mereka.
Ia menutup pintu kamar tidur dan mendapati kalau Sarah sedang duduk di pinggir ranjang sembari memijat kakinya,"Ada apa?"
"Tidak, aku tadi nyaris terjatuh di kamar mandi."
"Apa?! Bagaimana mungkin? Kau baik-baik saja?"
Ia mendongak menatap Alex yang tampak khawatir. Pria itu berjongkok di hadapannya lalu meraih kaki kanannya,"Apa ada luka?"
Sarah menggeleng,"Tidak ada. Hanya sedikit terkilir kurasa," Jawabnya.
"Apa kau benar-benar terjatuh?"
"Ya ampun Al, sudah kubilang aku nyaris terjatuh. Kaki ku saja yang sedikit terkilir," Jawabnya. Ia sedikit gemas karena Alex selalu mengulang pertanyaan yang sama, seakan tak mau memercayainya.
"Bagaimana dengan... Bayinya?"
Sarah secara spontan mengusap permukaan perutnya lalu tersenyum,"Bayimu baik-baik saja. Jangan khawatir."
Alex perlahan memijat pergelangan kaki wanita itu yang sedikit membiru. Entah bagaimana Sarah bisa ceroboh saat berjalan hingga kakinya membiru.
"Katakan padaku jika ada masalah dengan kandungan mu," Katanya sembari terus memijat. Ia tak bertatapan dengan Sarah saat mengatakan itu, tapi Sarah tahu kalau ada pancaran kekhawatiran yang Alex berikan.
Walau mungkin Alex memang pria arogan yang suka meremehkan orang lain, tapi dalam hatinya pria itu penuh dengan kasih sayang. Mau bagaimana pun dia terlihat, sifat terdalam dari diri Alex pasti akan menampakkan eksistensinya juga. Seperti kata Marilyn, Alex adalah sosok yang baik. Dia penyayang dan mudah jatuh cinta, rasanya jika mendengar kata-kata itu, timbul secercah harapan dalam pikirannya. Ia merasa kalau dirinya punya kesempatan untuk bersama Alex di sisa hidupnya.
"Sarah? Apa kau dari tadi tak mendengar ku?"
Alex menghela napasnya,"Aku bilang, apakah kita harus menghubungi Delilah si dokter kandungan?"
"Oh, ti-tidak perlu. Kandungan ku baik-baik saja," Jawabnya. Alex lalu mengangguk, dia berdiri dari sana lalu berjalan ke arah kamar mandi.
"Aku mau mandi dulu. Jika makan malam sudah siap, makan saja duluan," Ia berujar. Sarah tak menjawab, ia terpesona saat Alex melepas kancing-kancing kemejanya dengan gerakan yang pasti membuat semua jalang di muka bumi seketika mendapatkan ******* mereka.
Ia membuka bibirnya, oh demi tuhan! Keindahan mana yang bisa menandingi bentuk tubuh Alex yang menggoda?
Sarah menggigit bibir bawahnya, ia merasa basah di pusat tubuhnya. Sial! Sial! Hormon macam apalagi yang kini menghampirinya hingga ia kepanasan seperti ini?
"Alex!" Sarah bahkan nyaris mendesah saat menyebut nama pria itu. Alex menoleh padanya dengan satu alis terangkat,"Apa?"
"A-aku... Itu.. uhm..."
"Kenapa?"
Sarah menggigit bibirnya,"Aku mau bercinta denganmu sekarang!"
Mau tak mau Alex terbahak mendengar itu. Itu adalah hal paling langka yang pernah ia dengar. Secara terang-terangan Sarah berteriak seperti itu? Dia wanita yang berani rupanya.
"Tidak sekarang, baby. Aku harus mandi dulu lalu makan malam dan--"
"Kau menolak ku?" Tanyanya kemudian. Sarah bisa merasakan air matanya mulai mengalir deras seiring dengan wajah Alex yang seperti menahan tawanya.
"Sarah, kau bercanda kan? Kau menangis?" Alex menahan dirinya sendiri untuk tak tertawa.
Alex lalu menggeleng kecil, dia membiarkan kemejanya sudah tidak terkancing dengan rapi lalu berjalan mendekati Sarah. Dia berhenti di depan wanita itu lalu mengusap kedua matanya yang basah.
"Kau manis sekali, Sarah. Terlihat lugu dan menggairahkan disaat yang bersamaan."
Sarah menjauhkan tangan Alex dari wajahnya lalu menekukkan bibirnya,"Kau menolak ku kan? A-aku sudah seperti jalang untukmu atau memang aku--"
"Cerewet sekali, tapi aku suka," Potongnya.
Ia menarik pinggang Sarah hingga tubuh bagian depan wanita itu menabrak dengan sempurna padanya.
"Mana bisa aku menolakmu disaat kau sendiri yang meminta diriku."
Pipi Sarah memerah seperti kepiting rebus. Dia agak menyesal karena telah mengucapkan kalimat paling terkutuk yang dapat membuat pria seperti Alex tertawa jahat.
"A-aku malu," Gumamnya. Alex melengkungkan sudut bibirnya, ia meraih dagu Sarah agar kembali bisa bertatapan dengan iris hitam yang memukau itu.
"Katakan, dimana aku harus menyentuhmu?"
Sarah menahan napasnya, dia ingin mengendalikan dirinya sendiri untuk tak mencium Alex lebih dulu.
"Ka-kau yang menentukan Alex," Jawabnya.
"Baiklah. Aku mau menyentuhmu dimana pun yang aku suka. Dengan keras dan cepat hingga kau berteriak menyebut namaku tanpa henti," Bisiknya. Suaranya kian seksi dan serak, Sarah bisa saja ******* saat ini jika Alex tetap meneruskan kalimatnya.
"Demi Tuhan! Lakukan! Kumohon!"
"As your wish, baby."
Setelah kalimat itu terucap, bibir mereka saling mencecap satu sama lain. Seolah itu adalah terakhir kalinya mereka dapat berciuman. Alex mendorong tubuh Sarah ke atas ranjang, ia mencium rahang lalu semakin turun ke leher wanita itu. Tangannya dengan kasar merobek sweater biru muda yang dikenakan Sarah hingga menciptakan serangkaian bunyi yang menyedihkan. Namun, disaat yang sama, hal itu justru membuat keduanya semakin bergairah hingga tak bisa membedakan dimana dunia nyata serta imajinasi mereka.
...
A/n: maaf ya telat up😅