Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 46



Malam itu, hujan mengguyuri langit Florida. Suara gemuruh petir yang bersahutan di atas sana semakin menunjukkan betapa buruknya cuaca malam ini. Seakan tak ada habisnya, angin kencang turut menyertai, membuat sebagian orang berpikir kalau berdiam di dalam rumah adalah pilihan paling bijak diantara semuanya. Begitu pun dengan Alex, setelah berkeliling seharian, mencoba mencari keberadaan Sarah, ia pun akhirnya terbujur lelah di atas ranjang hotel. Dirinya tertidur begitu saja, tak memedulikan betapa ngerinya hujan malam ini.



Dahi Alex berkerut dalam, dia merasa kedinginan, tapi bukan karena suhu yang rendah melainkan karena ia kehilangan sumber kehangatannya. Dia kehilangan Sarah dan calon bayi-bayinya. Perempuan itu masih belum kembali dan Alex pun tidak punya petunjuk apapun tentang keberadaan wanita itu.



Pikirannya mulai berhalusinasi. Tubuhnya seperti merasakan elusan jemari tangan Sarah. Dia mulai mendengar suara wanita itu sedang tertawa, berbisik padanya. Tangan Alex terulur, dia meraih telapak tangan yang tengah mengusap pipinya dengan lembut lalu mengecupnya.



Matanya terbuka, ketika ia melihat wajah Sarah yang tersenyum manis di depannya. Pria itu lantas ikut tersenyum,"Kau pulang."



Namun Sarah tak menjawabnya. Alex mengerjapkan matanya beberapa kali lalu mulai menyadari kalau dia hanya berhalusinasi. Ia menatap tangannya sendiri, mendapati kalau yang ia genggam hanyalah kekosongan belaka. Alex menghela napasnya, ini sudah lama sekali dan ia masih belum menemukan dimana Sarah berada. Entah apa yang terjadi dengan keberuntungan yang selalu ia banggakan. Kali ini Alex benar-benar merasa sial.



Paginya, Alex segera bergegas. Ia melajukan mobilnya ke sebuah rumah sakit kecil yang kemarin sempat ia datangi. Ia akan menemui wanita kemarin dan menagih janjinya. Alex tahu kalau perawat itu menyimpan rahasia darinya.



Ketika mobilnya sampai di parkiran, Alex dengan segera keluar mobil lalu mengambil langkah lebar ke pintu utama. Sebelumnya ia sempat melihat ada sebuah mobil Jeep yang sepertinya jarang dibersihkan karena bisa terlihat bekas lumpur yang mengotori ban mobilnya. Tanpa memedulikan mobil siapa itu, dia masuk ke dalam rumah sakit. Ia sempat bertemu dengan beberapa perawat lain lalu menanyakan seorang wanita tua yang juga bekerja disini.



"Nyonya Joanna? Dia ada di ruangannya, Tuan. Saat ini dia sedang kedatangan tamu. Anda bisa tunggu sebentar di ruang tunggu," Tukas seorang perawat muda. Alex mengangguk lalu mulai bergerak ke lorong di sebelah kanan, dimana Joanna berada. Alisnya terangkat sebelah ketika melihat pintu ruangan itu tak tertutup rapat. Ia bukan orang yang suka menguping pembicaraan orang, tapi entah kenapa Alex merasa sedikit penasaran.



Dia pun mengintip dari celah kecil itu, melihat kalau Joanna memang sedang kedatangan tamu. Mungkin anaknya.



Alex menyipitkan mata, dia tak bisa mendengar cukup jelas pembicaraan dua orang di dalam sana. Namun sepertinya Joanna dan tamunya hanya membicarakan perihal masalah pribadi.



Ia terkejut saat pria di dalam ruangan itu berjalan mendekati pintu. Dengan cepat Alex menjauh dari sana agar tidak ketahuan kalau dia tadi sedikit menguping.



Pintu itu terbuka, mata mereka sempat saling bertatap beberapa detik. Pria dengan rambut pirang dan mata hijau itu tersenyum kecil untuknya lalu berjalan menjauh. Alex tak memedulikan itu, dia pun masuk ke dalam ruangan Joanna untuk mendapatkan informasi.



"Apa aku mengganggu?"



Joanna segera berbalik ketika mendengar suara Alex. Awalnya dia terkejut, tapi setelahnya Joanna mempersilahkan Alex untuk duduk di kursi tamu.



"Aku menagih perkataan mu kemarin."



"Ya, aku tahu tujuanmu kemari," Balas Joanna.



Wanita itu menutup pintu ruangannya sebelum duduk di seberang Alex,"Sebelum aku berkata banyak, apa yang membuatmu tak menyerah mencari gadis itu?"



"Aku tak tahu."



"Kau harus mengetahuinya, nak. Tentu saja pasti ada alasan khusus lainnya," Ujar Joanna. Alex menundukkan pandangannya.



"Seperti kataku kemarin. Aku mencintainya dan aku tak mau kehilangannya."



Wanita itu melihat raut wajah Alex yang tampak menyesal. Sepertinya ia tak bisa menyimpan rahasia lebih lama lagi.



"Aku tak tahu apa aku bisa mempercayai mu atau tidak, karena dari yang aku tahu, pria adalah pembual yang paling hebat. Bagaimana jika nanti kau malah melukai perasaan perempuan itu?"



Alex menatapnya tak setuju. Dia tak pernah bermain-main dengan perkataannya. Jika dia sudah mengatakan kalau dirinya jatuh cinta, maka itu adalah faktanya. Alex tak suka saat ada seseorang yang berani mengatakan kalau dirinya adalah seorang pembual.



"Kau harus berhati-hati ketika berbicara padaku. Aku bukan tipe pria yang suka bermain-main apalagi dengan masalah seperti ini," Sanggahnya. Baiklah, Joanna yakin dengan ucapan Alex. Pria ini bisa dipercaya dan mungkin hari ini adalah saat yang pas bagi Alex dan Sarah untuk membicarakan hubungan mereka kedepannya.



"Baik, aku percaya kalau kau itu pria yang jujur, makanya aku memintamu datang pagi ini. Sebelumnya, aku mengenal wanita yang kau cari itu. Dia adalah putri dari mendiang sahabatku. Sarah datang kemari dua Minggu yang lalu dan meminta bantuan ku. Dia menceritakan semuanya, tentang perjanjian kalian dan berita miring yang hampir menjatuhkanmu. Dia memintaku untuk merahasiakan keberadaannya darimu karena dia butuh waktu untuk menenangkan diri," Ujarnya panjang lebar. Alex mengepalkan tangannya, dia menatap tajam pada Joanna lalu menuntut jawaban dari wanita tua itu.



"Katakan dimana Sarah dan calon anak-anakku?"



"Di sebuah peternakan, tepatnya di White Springs. Dia tinggal bersama keponakan ku, Joseph, yang tadi berpapasan denganmu di depan pintu," Jawabnya.



Alex membulatkan matanya, dia bilang apa? Jadi Sarah tinggal di satu rumah yang sama selama dua minggu dengan pria pirang tadi?! Brengsek, kenapa Sarah bisa sebodoh itu untuk tinggal bersama pria yang tidak ia kenal?




"Berikan aku alamat tempat tinggalnya sekarang."



...



Joseph tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil ketika ia mendengar suara ketukan yang lumayan kencang. Dia melihat jam yang menunjukkan pukul 8 malam. Memangnya siapa yang datang saat malam seperti ini?



Pria itu berjalan melewati dapur, ia sempat melihat Sarah duduk di kursi makan dan melamun. Ia berniat untuk menghampiri Sarah lebih dulu, tapi suara gedoran di pintu itu semakin menyebalkan.



Joseph memutar kunci lalu membuka pintu. Di depan sana ia melihat seorang pria yang agak familiar. Pria itu memakai pakaian seperti orang kaya dan ia bisa melihat sebuah jam tangan mahal yang melingkari pergelangan tangannya.



"Anda siapa?"



"Dimana Sarah?" Balas Alex. Ia benci melihat pria ini karena selama dua Minggu dia berhasil berdua-duaan dengan Sarah di rumah tua ini.



"Wow tunggu dulu, kau siapa? Aku tak bisa membiarkan Sarah bertemu dengan orang asing," Jawab Joseph. Ia siap untuk memukul pria ini jika dia berniat melukai Sarah dan bayinya.



"Aku adalah ayah dari bayi dalam kandungan perempuan itu."



Bibir Joseph terkunci seketika. Ia memerhatikan Alex dari atas sampai bawah. Jadi ini tampang suami Sarah? Sial, Sarah punya suami yang kaya raya sepertinya. Mata hijaunya tak sengaja melirik sebuah mobil yang terparkir di bawah pohon dan Joseph sedikit tersedak ketika mengetahui itu mobil mahal.



"Kau serius?"



"Biarkan aku masuk. Aku mau menjemput Sarah pulang," Alex tak menggubris pertanyaan Joseph.



Joseph lantas mempersilahkan Alex untuk masuk dan menunggu di ruang tamu. Dia akan memanggil Sarah untuknya.



Sedangkan Sarah, ia masih setia melamun sampai tepukan di bahunya menyadarkannya.



"Ada apa Joseph?"



"Kau kedatangan seseorang," Jawabnya.



"Siapa?"



"Suamimu itu Sarah, kau harus lihat dia."



Sarah membulatkan matanya. Ia terlihat sangat terkejut dan bingung mau melakukan apa. Joseph mengatakan kalau dia harus menemui Alex dan mereka mesti berbicara.



Sarah tak tahu bagaimana Alex bisa tahu tentang tempat ini, tapi ia rasa ini adalah saatnya dia bertemu dengan pria yang dua minggu ini dia rindukan.



Kakinya melangkah ke ruang tamu, ia semakin tak karuan saat melihat Alex tengah duduk tak sabar di sofa coklat itu. Pria itu agak berbeda, ada raut kelelahan yang bisa Sarah lihat.



Dia mengusap perutnya lalu menarik napas.



"Alex."



Pria itu langsung menoleh. Ia tak percaya kalau Sarah benar-benar ada disini dan berdiri di hadapannya dengan perut yang agak membesar dari yang terakhir kali Alex lihat.



Mereka saling bertatapan sejenak sebelum pria itu mengambil langkah lebar ke arah Sarah lalu mendekapnya hati-hati. Dia mencium aroma tubuh Sarah yang selalu sama dan mulai bernapas lega ketika pada akhirnya dia berhasil menemukan Sarah dan calon bayinya.



...



A/n : up up🎉