
Alex melempar kertas itu dengan kesal. Matanya memerah karena rasa marah semakin membuncah dalam hatinya. Di suatu titik dia merasa khawatir karena Sarah pergi sendirian tanpa perbekalan apapun serta seseorang yang bisa melindunginya. Alex kecewa tentu saja, ia tidak percaya kalau Sarah lah yang lebih dulu menyerah dengan sikapnya setelah sebelumnya ia pernah berkata kalau dirinya akan menolong Alex. Alex mengusap wajahnya frustasi, bukan hanya Sarah, ia bahkan kehilangan kedua bayinya.
Alex tak pernah merasakan perasaan hancur yang seperti ini sebelumnya. Dia baik-baik saja ketika Calyria mengkhianatinya, tapi kenapa ketika Sarah pergi dengan cara seperti ini mampu membuat dunia Alex seperti kiamat seketika?
Rasa takut akan kehilangan, dibenci dan semuanya benar-benar memengaruhi Alex. Jantungnya berdegup tak karuan ketika Sarah memutuskan untuk pergi dan enggan untuk bersamanya.
Apalagi ketika netra biru pudarnya menangkap sebuah liontin yang tergeletak di atas nakas, semakin memperparah keadaan saat ini.
Pria itu meraih liontin yang pernah ia berikan kepada Sarah lalu menggenggamnya erat. Tidak, ini tak bisa terjadi. Ia tak bisa kehilangan Sarah, apalagi dalam keadaan seperti itu.
Alex tak bisa, ia akan hancur jika Sarah pergi.
Ya, hanya satu jawaban dari semuanya.
Ialah karena dirinya 100% mencintai Sarah dengan segenap jiwanya. Alex jatuh cinta, pada kerapuhan serta ketulusan hati wanita itu atau bagaimana wanita itu tersenyum untuknya. Lucu, karena Alex menyadari itu ketika Sarah beranjak pergi dari kehidupannya.
Alex dengan langkah terburu-buru, keluar dari kamar hotel, kembali menyusuri jalanan dengan mobilnya dan berharap ia bisa menemukan Sarah lebih cepat lalu menyatakan perasaannya pada wanita itu. Ya, Alex akan mengungkapkan semua rasa yang kini ia yakini sebagai salah satu bentuk kebahagiaan dari dalam hatinya. Meminang wanita itu sebagai istrinya dan menjalani kehidupan sebagai pasangan. Oh sialan, kenapa harus disaat seperti ini?
...
Sarah sesekali melirik ke beberapa toko pakaian bayi atau semacamnya di sepanjang jalan. Ia sudah membeli pakaian bayi waktu itu dan semuanya berada di mansion milik Alex. Wanita itu tak pernah berniat untuk kembali, ia ingin mengubur rasa cintanya terhadap pria itu. Sarah tak bisa hidup seperti ini, disaat semua keluarganya sudah lebih dulu pergi. Lalu, apa yang akan ia lakukan jika sebelumnya Alex memberitahukan tentang kematian Allison padanya? Sekarang ini Sarah merasa dirinya ditipu. Ia merasa Alex sengaja menyembunyikan semuanya hanya karena dia takut kalau Sarah akan merencanakan hal lain. Mungkin saja seperti itu, tapi bisa jadi Alex berusaha untuk melindunginya.
Namun, Sarah masih tak bisa menahan rasa kecewanya. Setidaknya, untuk saat ini, dia bisa berdiam di suatu tempat sembari berpikir langkah apa yang akan ia ambil kedepannya.
Sebuah taksi menghampirinya untuk menawari tumpangan, Sarah berpikir, ia punya satu tempat yang bisa ia kunjungi dan itu tak jauh dari sini. Dengan segera dia masuk ke dalam taksi lalu menyebut alamat yang ia tuju.
Setelah lima belas menit dalam perjalanan, Sarah akhirnya sampai di sebuah gedung setingkat yang terlihat kecil, tapi indah. Ia membayar taksi dengan sisa uang yang ia miliki di sakunya lalu berjalan masuk ke pintu utama.
Itu sebuah rumah sakit kecil untuk anak-anak. Mungkin disinilah dia bisa meminta pertolongan.
Mata hitamnya menatap ke segala arah lalu mendapati seorang wanita yang kira-kira seusia ibunya tengah berdiri di depan meja resepsionis sambil mengobrol dengan beberapa temannya. Sarah tersenyum dan berharap kedatangannya kemari tidak membawa masalah pelik lainnya.
"Bibi Joanna?"
Wanita dengan surai pirang itu menoleh dan membelalakkan matanya karena terkejut,"Sarah?!"
Wanita berumur itu dengan segera mendekati Sarah lalu memegang bahunya. Joanna sudah lama sekali tak melihat Sarah sejak kepindahan wanita itu ke Kanada beberapa tahun yang lalu. Dan ia semakin terkejut ketika melihat perut Sarah yang membuncit layaknya orang hamil.
"Kau sudah menikah?" Tanyanya.
Sarah merasa sesak seketika. Joanna pasti bertanya-tanya tentang kehamilannya atau apa yang sedang terjadi padanya akhir-akhir ini hingga dia tiba-tiba muncul di Florida. Oh ya tuhan, betapa malunya dia sekarang.
Yang bisa Sarah lakukan hanyalah menundukkan kepalanya. Beruntung karena Joanna lebih dulu mengerti dengan situasi sebelum membawa Sarah ke ruang kerjanya karena dia pasti butuh tempat privasi.
"Apa yang terjadi Sarah? Kau bisa bercerita padaku, nak."
Sarah mengusap matanya yang basah,"Aku kacau, Aunty. Aku menghancurkan diriku sendiri," Jawabnya. Bibirnya semakin bergetar tak karuan dan mengalirlah cerita itu. Ia menceritakan kepada Joanna tentang kuliahnya yang tak selesai, pelecehan yang dia terima serta perjanjian yang ia lakukan dengan Alex, si pengusaha kaya yang di fitnah.
Sarah mengatakan kalau hubungan antara dirinya dan Alex hanya sekedar perjanjian, tapi wanita itu melangkah ke arah yang salah. Pesona Alex dan cara pria itu memperlakukan dirinya membuat Sarah terlena dan jatuh ke dalam kubangan cinta yang menyakitkan. Bahkan ia juga membeberkan fakta kalau Alex berniat untuk merebut bayi-bayinya karena seperti itulah perjanjian mereka. Namun, perihal Alex yang punya trauma terhadap anak perempuan semakin memperkeruh keadaan. Sarah masih tak mampu untuk melanjutkan perjuangannya demi mengubah persepsi Alex. Ia sudah merasa kalah lebih dulu, apalagi setelah mengetahui kalau kedua bayinya ini laki-laki, semuanya tak akan semudah yang ia perkirakan.
"Apakah Alex mengatakan padamu kalau dia akan mengusirmu kelak setelah kau melahirkan bayi yang ia inginkan?"
Sarah lantas menggeleng kecil. Memang benar, Alex tak pernah lagi membahas soal pengusiran ataupun timbal balik yang akan ia berikan pada Sarah. Namun Sarah tetap saja tak bisa tenang. Hal sekecil apapun bisa menjadi alasan Alex untuk menyelesaikan perjanjian mereka berdua.
"Sarah, ada dua tipikal pria yang ada di dunia ini. Ada yang pandai mengatakan cinta tapi tak mampu membuktikannya dan ada pula yang tak pernah mengatakan cinta tapi ia selalu membuktikan cintanya lewat perbuatan. Nah sekarang aku ingin bertanya, tipikal pria seperti apa Alex ini?"
Sarah membungkam bibirnya. Ia tidak tahu, Alex memang tidak mengatakan kalau dia mencintai Sarah. Namun, perlakuan pria itu selalu terasa manis walau pada awalnya dia terlihat mengerikan. Apa Alex juga mencintainya?
"Kau tidak harus menjawab saat ini, nak. Aku tahu, suatu saat nanti Alex akan memberikan mu pembuktian. Jadi saat ini, apa yang bisa aku lakukan untukmu?"
Sarah menggigit bibir bawahnya. Ia sedang kalut dan tidak tahu harus melakukan apa. Mungkin dengan berdiam di suatu tempat, bisa meredam sedikit perasaan takut dan semacamnya.
"Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya. Bisakah kau membawa ku ke suatu tempat dimana Alex tak mungkin menemukan kami?" Tanya Sarah. Joanna sudah menebak kalau Sarah berniat untuk pergi jauh. Dia tahu, Sarah sudah melewati banyak hal apalagi setelah kematian Allison. Joanna tidak mengerti rintangan seperti apa yang sedang terjadi di lingkaran cinta anak dari sahabatnya ini, tapi sebisa mungkin Joanna akan menolong Sarah. Setidaknya sampai wanita itu merasa baik dan siap untuk bertemu kembali dengan Alex.
"Aku tahu suatu tempat yang bisa kau kunjungi, nak."
"Dimana?"
"Ada sebuah peternakan yang berada di pinggir Florida. Peternakan yang dikelola oleh keponakan ku, Joseph. Aku akan mengabari nya kalau kau akan menetap disana sementara," Jawab Joanna. Sarah menemukan secercah harapan. Dia tidak berniat untuk selamanya pergi dari Alex, Sarah hanya ingin mencoba untuk menguatkan hatinya dan kembali memercayai Alex sehingga nanti saat mereka dipertemukan lagi, dirinya tak selemah seperti sekarang. Sarah harus mempertahankan bayi-bayinya juga cintanya kepada Alex.
"Terimakasih bibi Joanna. Aku benar-benar merasa tertolong. Kumohon, jika kau berhasil menemukan Alex, jangan beritahukan keberadaan ku padanya. Aku ingin bertemu dengannya jika situasi sudah tepat untuk kami bertemu kembali," Balas Sarah.
Joanna meraih tubuh wanita itu lalu memeluknya hangat. Wajah Sarah benar-benar mengingatkan dia dengan mendiang sahabatnya yang sudah lama meninggal. Hal itulah yang mendorong Joanna untuk membantu Sarah menyelesaikan masalahnya.
"Sarah, aku tak bisa berjanji. Sewaktu-waktu, Alex bisa saja menemukan mu di tempat itu dan kau mau tak mau harus berbicara dengannya."
"Aku tahu. Aku selalu tahu kalau pada akhirnya Alex pasti akan menemukan ku," Balasnya.
Jika semuanya sudah jelas dan Alex menolak cintanya, maka pilihan Sarah hanya satu, ialah melupakan Alex dan membuang semua perasaannya jauh-jauh.
...
A/n : πππ