Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 1



Alex melempar semua kertas-kertas yang tadi dia baca ke atas lantai. Ia berdiri dari kursinya dan menatap tidak senang pada Zack selaku bawahannya yang membawa berita konyol itu.



"Apa maksud ini semua Zack? Siapa yang melakukan ini?"



"Maafkan saya Tuan Grissham. Saat ini saya tengah menyelidiki dalang dari berita ini," Jawabnya. Ia menundukkan kepalanya karena merasakan kalau kemarahan Alex semakin membumbung tinggi ke langit sana. Oh ayolah, berita konyol macam apa ini? Siapa yang berani menjatuhkan Alex Grissham dengan gosip murahan seperti ini?



Dirinya pecinta sesama jenis? Yang benar saja!



Alex seribu persen pria normal. Selangkangannya bereaksi jika melihat wanita telanjang. Lalu kabar macam apa ini? Siapa orang gila yang berani bermain-main dengan seorang Grissham? Dia akan dapat akibatnya.



"Aku ingin kau mengumpulkan semua teman dekatku, Zack. Ada hal yang harus aku lakukan untuk meredam berita busuk ini,"



"Baik Tuan Grissham," Pria itu mengangguk lalu memutuskan untuk keluar dari ruangan besar milik Tuannya. Alex mengusap wajahnya kasar, apakah ini ulah dari para wanita yang ia campakkan setelah selesai meniduri mereka?



Brengsek, jika itu memang ulah dari jalang-jalang sialan yang pernah dipakainya, Alex tidak akan pernah tinggal diam. Selama ini ia dikenal sebagai seorang player karena telah menaklukkan banyak wanita tapi kenapa malah berita seperti ini yang tersebar di publik.



Pria itu melepas jas hitam yang melekat pas di tubuh atletisnya, memilih untuk duduk di atas kursi putarnya lalu memejamkan mata untuk mengendalikan emosinya yang kian memuncak. Berita ini tidak bisa memberinya sedikit ketenangan jika tidak segera dimusnahkan atau ditutupi dengan kabar lain. Alex membuka matanya kembali, menampakkan iris biru yang memukau seperti harta yang berkilauan. Rambut coklatnya yang sudah tidak serapi tadi pagi membuktikan bahwa dia benar-benar frustasi.



Oh tentu, otaknya yang cemerlang sangat membantu Alex dalam memecahkan masalahnya. Sebelum berita itu menyebar luas dan meruntuhkan reputasinya, Alex harus bergerak cepat. Ya, dia akan melakukan cara paling fatal sekalipun untuk menjaga karakternya selama ini.



...



Gadis muda dengan rambut hitam berjalan tanpa arti di sepanjang jalan. Ia menenteng tas berukuran sedang di bahunya dan wajahnya menyiratkan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Terkadang, ia menabrak orang di depannya atau mungkin berhasil menginjak bebatuan yang menancap sempurna di tumitnya. Dia tampak tidak sehat, hari ini dia diusir secara tidak hormat dari flat kecil yang ia naungi selama ia menjadi mahasiswa di salah satu universitas terkenal di Toronto, Kanada. Hal itu terjadi karena gadis malang itu tidak bisa membayar tunggakan selama tiga bulan. Pekerjaannya sebagai pelayan di suatu klub tidak seberapa ditambah biaya kuliahnya yang cukup besar.



Dia meringis dalam hati, dalam dua hari ini dia mengalami kesialan yang sangat menghancurkan hidupnya. Kemarin ia harus keluar dari universitas nya karena masalah biaya juga. Padahal gadis itu adalah perempuan cerdas tapi apalah daya, ia miskin dan sangat tidak berguna. Dosen disana mau saja membantu soal biaya dan semacamnya tapi semua itu tak gratis, mereka ingin dia menjadi penari telanjang dalam satu malam dan barulah uang itu akan ia dapatkan. Sialan, di zaman seperti sekarang ini, kenapa seks selalu menjadi alasan nomor satu bagi seseorang untuk bertahan hidup?



Ia merogoh ponsel di saku celana jeans usangnya dan mencari sebuah nama yang ia yakin dapat membantunya dalam memecahkan masalah selama ia tinggal di Toronto.



Bunyi sambungan masih setia terdengar hingga beberapa saat kemudian suara perempuan di seberang sana menyahutnya dengan suara yang seperti bisikan,"Halo? Ada apa Sarah? Aku ada urusan,"



Sarah menghela napasnya sebelum mengambil tempat duduk yang dilihatnya barusan,"Aku diusir dari flat. Bisakah aku mampir ke rumahmu untuk bermalam? Aku janji besok aku akan pergi,"



Gadis di seberang sana tampak berpikir sebelum berkata iya pada Sarah. Jawabannya terkesan terburu-buru dan Sarah merasa bersalah karena telah mengganggu kegiatan temannya itu. Ia menyimpan kembali ponselnya dan lebih memilih untuk memerhatikan beberapa orang yang berjalan dengan pakaian mahal di tubuh mereka. Ada juga anak-anak sekolahan yang tampak berjalan berombongan dari arah kanannya yang tertawa bersama. Mereka jauh lebih bahagia karena tidak tahu bagaimana hidup itu yang sebenarnya. Atau mungkin belum saja.



Sarah mengeratkan tas di pundaknya lalu kembali berjalan untuk segera sampai di rumah temannya itu. Mungkin malam ini ia bisa berpikir lebih jernih tentang apa yang akan ia lakukan esok hari agar semuanya kembali seperti biasanya. Sarah hanya berharap, semoga semua masalah yang tertimpa padanya ini bisa menemukan titik terang agar dia setidaknya punya alasan untuk hidup.



...



Alex mengetukkan jemarinya di atas meja. Ia menatap satu persatu teman dekatnya yang berdiri heran di depannya. Seakan mereka akan menemukan hukuman sekarang juga dari majikan mereka. Dia berdiri dari kursinya dan mempersilakan beberapa orang itu duduk di atas sofa panjang di ruang kerjanya. Alex menggulung lengan bajunya hingga siku dan melepas dasi yang terikat kencang di lehernya. Tangannya meraih salah satu majalah yang ia terima hari ini dan melemparnya secara tidak sopan ke atas meja yang berada di antara temannya.



"Lihat berita sialan itu. Aku tidak mengerti kenapa ada orang bodoh yang berani berbuat macam-macam denganku,"



"Man... Aku tahu ini gila dan sangat merusak reputasi mu. Tapi apa yang bisa kami bantu? Memberi klarifikasi kalau kau itu seratus persen normal?" Tanya salah seorang teman lelakinya. Alex menatap tajam pria bermata coklat itu,"Jika itu bisa mengembalikan keadaan maka lakukanlah,"



"Cih Alex! Itu tak akan berjalan semudah yang kau pikirkan. Maksudku, kenapa tidak umumkan kalau kau punya pacar atau tunangan baru? Itu tampak lebih berguna daripada memberi statement tak jelas pada awak media," Balasnya tak mau kalah. Alex mengambil tempat di hadapan semua temannya dan menatap mereka satu persatu.



"Jake, aku mengerti maksudmu. Maka dari itu aku butuh bantuan kalian semua yang ada disini,"



"Oke, kami bersedia membantu. Apa yang bisa kami lakukan?" Tanya seorang wanita bernama Leah. Alex menghembuskan napasnya kasar. Ia sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tapi nama baiknya akan bermasalah jika dia tidak melakukannya. Oh ayolah, Alex adalah pria berkuasa, ia ingin semua orang memuja bahkan tunduk padanya. Ia tidak ingin merasa diremehkan begitu saja atau bahkan dicela oleh orang-orang sinting yang iri dengan kekuasaannya. Maka dari itu, hal apapun akan ia lakukan untuk terus mempertahankan apa yang ia punya.



"Aku berniat untuk memiliki anak dan--"



"Apa?! Anak? Kau berniat mengadopsi?"



"Bukan seperti itu Scott! Kau tak membiarkan aku berbicara,"



"Oke maaf, aku hanya terlalu terkejut kau mengatakan ingin punya anak," Kata Scott dan menenangkan kembali pikirannya. Sialan, sahabat gilanya ini bahkan sudah menduga hal yang tidak-tidak. Alex mana mungkin menampung anak kecil yang sama sekali tak punya hubungan darah dengannya. Apalagi jika latar belakang anak itu tak baik. Sial, kenapa semua temannya mendadak menjadi bodoh begini?



"Aku berniat punya anak. Dan itu anakku sendiri. Dan disini aku meminta kalian memberikanku beberapa gadis yang jelas latar belakangnya serta punya penampilan yang menarik. Jika kalian punya, kirim semua data tentang wanita itu padaku malam ini dan besok beritahu semua gadis itu untuk datang ke kantorku untuk ku ajak dalam sebuah kesepakatan. Apa kalian mengerti?"



Suara ponsel dari Leah mengalihkan perhatian mereka semua. Leah meminta waktu sedikit untuk menjawab telepon dari temannya.



Perempuan itu segera berdiri dan keluar dari ruangan Alex. Menyisakan para pria di dalam sana yang masih berbincang.



"Bung, apa kau yakin dengan keputusan mu itu? Tidak menikah? Maksudku, bukankah itu lebih memperparah keadaan? Semua akan mengecapmu sebagai pria brengsek yang menebarkan benih ke semua wanita,"



Alex mengendikkan bahunya, ia lebih memilih jika orang-orang menyebutnya seperti itu daripada memandang dia sebagai pria gay yang menyedihkan. Lihat saja jika orang yang menyebarkan berita bohong itu terkuak, Alex akan memotong lidah dan dua tangannya sebagai ganjaran.



"Itu urusan belakang dan aku ingin melakukan ini. Kalian tinggal berikan aku daftar gadis yang memenuhi kriteria untuk ku hamili,"



Leah kembali ke dalam ruangan dan duduk di tempatnya semula.



Mereka berbincang kecil mengenai hal lain dan akhirnya memutuskan untuk membubarkan diri karena banyak hal yang harus dilakukan.




"Alex, aku punya seorang teman perempuan. Namanya Sarah Heather. Dia cantik dan aku yakin memenuhi kriteria mu. Tapi... Sarah orang yang agak pemalu dan cukup miskin. Dia sempat berkuliah sebelum berhenti karena tak sanggup membayar. Jika kau tertarik, aku akan memberimu data lengkapnya malam ini. Kau tahu kan kalau aku tak punya banyak kenalan wanita,"



Alex menatap manik biru sahabatnya dengan penuh pertimbangan. Gadis miskin tapi menarik? Sepertinya tidak salah jika dicoba. "Kau kirim profil tentang gadis itu malam ini. Aku akan mempertimbangkan, gadis mana yang akan kuajak berbisnis,"



Leah melipat bibirnya. Apakah keputusannya ini tepat? Bukankah ini sama saja menjual Sarah pada pria tak bertanggungjawab seperti Alex? Ini akan semakin bertambah parah jika Sarah menanggapi nya dengan hal negatif. Wanita itu sudah punya masalah, Leah tidak ingin menambah kekalutan yang ada dengan perjanjian ini. Tapi... Ia rasa berbicara dulu pada Sarah bukanlah hal buruk. Mungkin gadis itu bisa membaca situasi dan mempertimbangkan penawarannya.



"Hanya saja Alex, jangan bermain-main dengan gadis sepertinya. Jika dia menolak tolong jangan kau paksa,"



Alex mengibaskan tangannya. Dia mengerti kalau Leah takut ia berbuat macam-macam. Ya, jika Sarah menolak untuk berbisnis dengannya soal bayi, maka tidak ada alasan bagi Alex untuk memaksanya kecuali gadis itu menyebalkan. Mungkin ia bisa sedikit bermain-main.



Leah memutar tubuhnya dan berjalan keluar dari pintu. Ia akan berbicara hal ini dengan Sarah dan ia harap Sarah tidak salah tanggap.



...



Mobil itu berhenti tepat di depan pagar rumah yang ukurannya tidak terlalu kecil ataupun besar. Tempat yang begitu nyaman untuk bernaung dan bersantai. Dikelilingi oleh sekumpulan tetangga yang baik hati tapi suka menggosip membuat daerah ini terasa semakin realistis. Leah turun dari dalam mobilnya dan mengunci pintu mobil dengan tombol khusus. Ia melihat gadis berambut hitam tengah merenungkan sesuatu di depan terasnya. Terlihat kacau terbukti dari tatanan rambutnya yang acak-acakan dan tas yang menggantung di bahunya yang kecil.



"Sarah!"



Sarah mendongakkan kepalanya saat melihat Leah yang berjalan sedikit cepat dengan sepatu haknya yang tinggi. Ia memeluk Sarah dengan erat dan mempertanyakan keadaan Sarah saat ini. "Apa yang terjadi hari ini? Bagaimana kau bisa diusir?"



Sarah tersenyum pahit. Ia malu untuk mengatakan kalau dia terlalu miskin untuk membayar uang sewa flat kecil yang minim fasilitas itu. Jika dibandingkan dengan Leah yang punya segalanya, tentu Sarah bukanlah apa-apa. Leah menarik gadis itu kembali ke dalam pelukannya sebelum membawanya masuk ke dalam rumah.



"Apa kau lama menunggu? Maaf tadi aku ada sedikit urusan," Leah menaruh tas tangan mahalnya ke atas sofa sambil melepas sepatu tingginya itu yang serasa menyakitkan. Sarah duduk di atas sofa empuk di ruang tamu Leah dan membenarkan letak rambutnya yang tidak karuan. Leah masuk ke dapur dan membuat minuman untuk temannya yang sedang dilanda masalah ini. Sarah tidak banyak berkata, dia lebih sering melamun sambil menatap penuh keterkaguman pada desain ruang tamu di rumah sederhana ini.



Leah datang tak lama kemudian, wanita itu menaruh segelas es jeruk ke hadapan Sarah dan duduk di sebelahnya. "Jadi ada apa Sarah? Kenapa pria gemuk itu mengusirmu?"



Leah meraih telapak tangan Sarah dan menggenggamnya,"Aku telat bayar. Itu saja dan dia tidak mau menampungku lagi," Sarah menundukkan wajahnya, membuat sebagian rambut Sarah turun ke wajah dan menutupinya. Leah menatap kasihan temannya ini, dulu ia sudah pernah mencoba untuk membantu Sarah dengan biaya kuliahnya yang besar agar gadis itu bisa menyisihkan sedikit uang hasil bekerjanya untuk bayar uang sewa dan keperluan lain. Tapi Sarah sangat keras kepala dengan mengatakan kalau dia tidak ingin merepotkan Leah dengan segala macam masalahnya. Gadis itu ingin hidup dengan jerih payahnya sendiri, dia tidak datang ke Kanada dengan percuma, Sarah ingin mengubah hidupnya di sini.



"Kau bisa tinggal disini Sarah. Aku tahu kau lelah dengan semuanya,"



Sarah menggeleng keras,"Tidak Leah! Aku hanya akan menginap satu malam saja lalu aku akan pergi. Sungguh, aku sangat merepotkan mu,"



Leah menggigit bibirnya. Dia ragu untuk mengatakan ini tapi ia ingin sekali membantu Sarah juga membantu sahabatnya, Alex.



"Sarah, sebenarnya aku ingin menawarkan sesuatu padamu. Ah tidak seperti pekerjaan pada umumnya tapi kupikir kau bisa memikirkannya malam ini,"



"Apa maksudnya?"



Leah pun mulai menjelaskan bahwa ada seorang kenalannya yang membutuhkan sedikit bantuan. Leah tidak bisa menjelaskan secara spesifik bantuan seperti apa karena itu bukan hak nya untuk memberitahu tapi yang jelas uang yang ditawarkan begitu banyak.



"Jika kau mau, kau bisa datang ke kantornya besok pagi. Jika menunggu dia untuk datang menemuimu kurasa itu bukan ide bagus,"



Sarah mungkin bingung tapi mendengar uang yang sebegitu banyak dari yang ia dengar tadi membuat Sarah memikirkan penawaran itu kembali. Dia tidak tahu, pekerjaan macam apa itu tapi sepertinya tidak berbahaya.



"Aku akan pikirkan malam ini Leah,"



Leah mengangguk. Dia meraih tas tangannya lalu mengeluarkan kartu identitas dari dalamnya sebelum memberinya pada Sarah. Gadis itu membaca dengan jelas nama seseorang yang sepertinya benar-benar kaya itu. Alexander Grissham. Pemilik perusahaan GrissWorld Inc yang sudah berdiri sejak lama. Oh, Sarah pernah mendengar nama perusahaan itu, dulu ibunya yang sakit keras pernah rawat inap di rumah sakit yang namanya tidak jauh beda dari nama perusahaan besar itu. Sarah menelan ludahnya, berpikir kalau dia akan bertemu dengan direktur dari perusahaan ini dan menerima membicarakan pekerjaan yang dikatakan Leah padanya. Semoga tuhan membantunya.



"Sarah, kau bisa gunakan kamar di sebelah kamarku jika ingin istirahat segera. Aku harus mengumpulkan beberapa data untuk pekerjaanku," Leah segera berdiri dari hadapan Sarah lalu masuk ke kamarnya sendiri. Sarah menyimpan kartu nama itu di dalam tas nya lalu meminum es jeruk yang dibuat oleh Leah untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Jantungnya terpacu, membayangkan betapa banyak uang yang akan ia dapat sebagai timbal balik atas pekerjaan singkatnya itu. Otak Sarah berpikir panjang, pekerjaan seperti apa yang ditawarkan oleh Tuan Grissham?



Malam pun tiba.



Alex berdiri di balkon lantai dua sambil memandangi langit yang penuh dengan bintang. Di tangannya, ia memegang sloki berisi anggur putih kesukaannya. Tadi ada beberapa berkas yang sudah dikirim oleh sahabatnya melalui Zack. Berkas itu berisi informasi tentang wanita-wanita muda yang menjadi kandidat dalam kesepakatan yang dibuat Alex. Ia meneguk anggur terakhir di dalam sloki itu lalu berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya untuk membaca dan melihat-lihat beberapa gadis yang ditawarkan oleh sahabatnya.



Alex duduk di atas sofa panjang dan meraih satu berkas. Dibukanya kertas-kertas itu dan membaca isi di dalamnya. Gadis itu dipilih oleh Jake. Namanya Starsia Bailey, umur 24 tahun dan seorang desainer di Meksiko. Riwayat lainnya bisa Alex lihat di kertas berikutnya tapi ia kurang tertarik dengan wajah gadis itu walau sebenarnya dia lumayan. Mata sewarna madu dengan rambut legam yang hanya sebahu. Tidak, itu bukan seleranya.



Alex menutup berkas dari Jake dan memindahkannya ke sisi kosong di sebelah meja dan beralih ke berkas lainnya. Nathan menawarinya seorang wanita yang seusia Alex dan lumayan menarik tapi ternyata seorang jalang di salah satu klub Los Angeles. Keterlaluan, ia tidak ingin calon anaknya lahir dari rahim wanita hina semacam itu. Rendah sekali. Begitu pula dengan berkas-berkas lain yang dikirim temannya untuknya.



Berkas terakhir datang dari Leah. Ia ingat kalau tadi pagi Leah sempat membicarakan tentang kandidatnya pada Alex. Pria itu sedikit penasaran lalu membuka berkas dari Leah.



Namanya Sarah Heather, wanita keturunan Rusia-Amerika. Umurnya baru memasuki 21 bulan lalu dan putus kuliah karena keterbatasan biaya. Latar belakangnya tidak cukup baik, ayahnya seorang pemabuk yang mendekam di penjara sedangkan ibunya sudah meninggal akibat sakit keras. Ia anak tunggal dan bekerja sebagai pelayan di sebuah klub malam. Tidak punya kekasih ataupun mantan kekasih, gadis ini pribadi yang tertutup.



Alex meraih foto Sarah yang terpampang di dalam sana. Rambut hitam panjang dengan mata hitam seperti kegelapan malam.



Dia sangat cantik. Dengan mata bulatnya yang memukau, alisnya tebal dengan struktur wajah seperti gadis bangsawan. Bibirnya seksi dan memerah seperti ceri, semua yang ada padanya sangatlah sempurna.



Alex meraih pena merah lalu melingkari nama Sarah di atas kertas itu. Yap, dia menginginkan Sarah sebagai ibu dari anaknya tapi tidak untuk menikahi gadis itu. Hanya melahirkan keturunannya saja dan menghancurkan berita konyol yang berusaha untuk meredupkan namanya.



TBC