Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 37



Alex menutup pintu mobilnya lalu berlari secepat mungkin ke dalam rumah sakit. Pakaian kerjanya sudah tak beraturan, bahkan ia tak sempat untuk sekedar memakai jas kerjanya.



Pria itu mengedarkan pandangan di koridor lalu bernapas lega saat menemukan Leah yang sedang duduk di kursi tunggu. Dengan segera Alex mendekati Leah dan bertanya pada wanita itu.



"Leah! Apa yang terjadi?" Napasnya memburu, ia benar-benar khawatir sekarang ini dan Alex bersumpah kalau terjadi sesuatu pada Sarah, ia tak akan memaafkan siapapun.



Leah mendongak dan menghela napas lega saat melihat Alex muncul dengan tampilan berantakan. Dia dengan segera menarik lengan Alex, membawa pria itu duduk lalu menatapnya dengan perasaan bersalah.



"Kami sedang berada di sebuah toko, aku meminta Sarah untuk duduk menungguku karena aku tak mau dia lelah. Tapi belum ada 20 menit aku pergi, ada keributan. Aku mendengar suara tamparan--"



"Tamparan?! Apa maksudmu?!"



"Jangan potong ucapanku dulu! Jadi saat aku melihat Sarah, dia sudah jatuh ke atas lantai. Aku sadar kalau dia baru saja ditampar oleh pria yang tak aku kenali. Aku panik karena dia tampak kesakitan jadi aku membawanya dengan cepat kemari," Lanjutnya. Alex mengumpat lalu memukul dinding rumah sakit cukup kencang. Leah sedikit terkejut, ia semakin merasa bersalah pada Alex.



"Maafkan aku Alex. Seharusnya aku tahu kalau diluar itu tak aman, tapi aku malah membawa Sarah tanpa pengawasan."



Alex memejamkan matanya, dia mengusap wajahnya sedikit frustasi,"Tidak. Ini bukan salahmu," Balasnya. Ia tak bisa menyalahkan Leah, wanita itu hanya bersikap baik mengajak Sarah karena dia tahu kalau Sarah butuh hiburan. Kejadian ini diluar prediksi mereka.



Pria itu berdiri, mengintip di kaca kecil yang sedikit buram untuk bisa mengetahui keadaan Sarah di dalam sana. Ia panik, sangat panik karena ada bayi-bayinya juga yang ikut terluka.



"Kenapa lama sekali?! Apa Dokter sialan itu terlalu bodoh untuk mengobatinya?" Tanyanya dengan kesal. Ia tak akan bisa menunggu selama ini.



Tepat setelah itu, pintu ruangan tadi terbuka. Alex mengharapkan kalimat positif yang akan dokter layangkan.



"Keluarga pasien?"



"Ya, ya. Katakan apa yang terjadi pada dia dan bayinya?"



Dokter itu hanya tersenyum tipis,"Beruntunglah benturannya tidak terlalu kuat, Tuan. Keadaan pasien dan kandungannya baik-baik saja. Hanya, aku sarankan untuk menjaga keamanan dan keselamatan nya. Aku harap kejadian ini tidak terulang lagi," Jelasnya. Alex berterimakasih pada Tuhan karena masih memberinya satu kesempatan untuk melindungi Sarah.



"Aku harus menemuinya."



"Tentu, Tuan. Anda--"



Belum sempat dokter itu melanjutkan kalimatnya, Alex menerobos masuk ke dalam. Leah meringis saat melihat tingkah Alex yang sangat tak sopan itu.



"Dokter, apa aku boleh berbicara sebentar?"



Dokter laki-laki itu mengangguk lalu mempersilahkan Leah untuk masuk ke dalam ruangannya.



...



Alex menutup pintu lalu menguncinya. Dia menarik kursi kemudian duduk di samping ranjang rumah sakit yang ditempati Sarah.



Wanita itu memejamkan matanya, mungkin pengaruh obat?



Alex meraih tangan Sarah lalu mengelusnya,"Kau baik-baik saja?"



Perlahan mata wanita itu terbuka, dia melirik Alex di sebelah kanannya lalu perlahan air matanya tumpah. Dengan susah payah ia berusaha untuk duduk lalu menarik pria itu. Sarah memeluknya erat sambil terisak karena tangisan.



Kemarahan Alex semakin membumbung tinggi kala merasakan air mata Sarah yang membasahi bahunya. Ia balas memeluk wanita itu dan mencium pelipisnya,"Aku disini. Jangan takut," Bisiknya.



Sarah menggeleng,"Aku takut. Alex, aku tak mau kau meninggalkanku."



Alex mendorong pelan tubuh Sarah, dia menghapus jejak air mata dari wanita itu lalu meneliti, apakah terdapat luka di sekitar sana. Dan benar saja, di sudut bibirnya ada luka goresan kecil. Pasti tadi sempat berdarah walau sudah diobati.



"Siapa yang melakukannya?" Tanyanya. Nadanya begitu dingin, seakan menunjukkan kalau Alex benar-benar diliputi oleh rasa benci.



Sarah tahu jika ia membeberkan apa yang terjadi, maka ini akan berakhir tak baik. Bisa jadi Alex mengotori tangannya sendiri untuk hal percuma. Namun, tatapan itu memberi perlindungan yang berarti untuknya. Untuk sejenak Sarah merasa kalau ia memang punya malaikat pelindung yang siap menghancurkan siapapun yang berani melukainya.



"Apa yang akan kau lakukan jika aku memberitahumu?"



"Tak perlu kau bertanya. Biar aku yang mengurusnya. Sekarang katakan, siapa yang melakukan ini padamu?"



Sarah meneguk ludahnya.



"Ma-mantan dosen ku, Edric Lynch."




"Kenapa dia sampai melakukan itu padamu?"



Sarah kembali terisak. Ia menghapus air matanya,"Aku sering dilecehkan olehnya ketika aku masih kuliah dulu. Dia menawarkan bantuan untukku, tapi sebagai timbal baliknya, dia.. dia--"



Alex menangkup pipi Sarah dengan kedua tangannya,"Akan kubalas perbuatannya. Kau jangan takut," Potongnya.



Cukup sudah. Alex semakin tak sabar untuk melenyapkan bajingan yang telah melukai Sarah hingga ia mengalami trauma seperti ini.



...



Alex kembali ke kantornya saat sore hari. Dia meminta Leah untuk menjaga Sarah hari ini karena Alex ingin melakukan sesuatu yang sejak tadi ia ingin lakukan. Pintu ruangannya diketuk, lalu muncul Zack dari luar sana. Pria itu datang dengan sebuah dokumen di tangannya lalu memberinya pada Alex.



"Semua data tentang Edric Lynch ada di dalam sana Mr.Grissham. Termasuk data keluarga dan peliharaan pria itu." Kata Zack.



Alex tersenyum puas. Ia membolak-balik kertas-kertas itu,"Aku ingin kau dan beberapa anak buahmu, ikut aku ke tempat si sialan ini. Ada hal yang harus kita kerjakan." Titahnya. Zack mengangguk paham, ini mungkin akan menjadi malam yang panjang karena sudah lama Alex tak bersikap seperti ini. Dan Zack terkesan karena kehadiran Nona Sarah mampu membuat perangai Alex yang satu ini muncul.



Zack lebih dulu undur diri, dia menutup pintu ruangan Alex sebelum pergi.



Alex meraih ponselnya, dia menghubungi Leah untuk memantau kondisi Sarah. Ibunya sudah diberitahu tentang hal ini dan dia benar-benar terkejut serta khawatir dengan Sarah. Seharusnya Sarah bisa saja pulang, tapi Alex tetap ingin Sarah berada disana sampai besok karena ia masih belum bisa memercayai ucapan dokter yang berkata kalau Sarah sudah tidak apa. Demi tuhan, ini tentang bayinya, jika terjadi sesuatu bagaimana?



"Sarah baik-baik saja. Suster baru saja membawa makan malam untuknya dan saat ini dia sedang makan."



"Baguslah. Jika terjadi sesuatu, cepat hubungi aku," Balasnya.



"Alex, tadi Sarah meminta ku untuk menyuruh mu datang ke sini sekarang. Dia tidak ingin berbicara dengan siapapun selain kau."



Alex tersenyum kecil. Dia tahu kalau Sarah benar-benar bergantung dengannya sekarang. Dia percaya dengan cinta wanita itu dan Alex kagum karena Sarah begitu tulus dan sabar menanti balasan cinta darinya. Walau agak sedikit susah bagi Alex mengatakan perasaan pada Sarah, karena ia masih tak yakin dengan dirinya sendiri.



"Katakan saja kalau aku akan kesana nanti malam, jadi jangan menunggu ku," Titahnya lalu mematikan sambungan ponselnya. Saat ini ada sesuatu yang harus ia lakukan pada pria pengecut yang berani membuat Sarah berada di rumah sakit.



Sedangkan di seberang sana, Leah menghela napas sebelum menyimpan ponselnya. Dia melirik dari kaca pintu, dimana Sarah makan dengan sedikit tak bersemangat sambil tangan kirinya mengusap perut buncitnya itu. Dia kasihan pada Sarah, sejak pertama kali bertemu wanita di kafe beberapa tahun yang lalu, Leah tahu kalau Sarah punya kehidupan yang tidak begitu baik. Dia mengerjakan semuanya sendirian bahkan untuk membiayai kuliahnya saja dia berani bekerja sana-sini. Dan sekarang penderitaannya pun belum selesai, ia terikat perjanjian dengan Alex, cintanya bertepuk sebelah tangan, neneknya meninggal lalu sekarang ia harus menerima pelecehan dari mantan dosen nya. Kasihan sekali dia.



Wanita itu menekan tuas pintu lalu masuk ke ruang perawatan Sarah. Alex memberi kamar yang paling mahal dengan segala macam interior hebat di dalam sini.



"Bagaimana? Kau sudah lebih baik?"



Sarah hanya mengangguk. Dia menjauhkan nampan itu ke sampingnya dan memandang lurus ke depan,"Apa Alex akan kemari?"



Leah duduk di sebelah ranjangnya dan memberi senyuman,"Alex akan datang nanti malam, jangan khawatir."



"Leah, jika Alex sedang marah besar, biasanya dia melakukan apa?"



Leah mengerutkan dahinya,"Maksudmu?"



"Aku memberitahu padanya tentang pria tadi siang dan sepertinya dia benar-benar marah. Aku takut dia melakukan hal bodoh," Jawabnya.



Bibir Leah terkunci rapat. Tentu saja, hal bodoh yang Sarah sebutkan bisa saja terjadi, mengingat Alex memang tipikal pria pencemburu sekaligus pemarah level akut.



"Tenang, dia akan baik-baik saja."



...



Malam itu, Edric tengah menikmati kopi yang dibuat oleh istrinya. Pria itu masih menggeram kesal karena tak berhasil mendapatkan Sarah, ditambah wanita itu sudah hamil besar. Dasar sialan, awalnya Edric ingin menjadikan Sarah sebagai salah satu pekerja seks di tempatnya atau menjual perempuan itu pada taipan-taipan kaya, tapi Sarah jauh lebih cepat menghindar darinya. Awas saja jika bertemu lagi, Edric benar-benar akan menjual Sarah.



"Levany! Dimana cemilan ku? Aku tak bisa menonton tv tanpa cemilan!" Teriaknya.



Wanita yang berusia sepertinya berjalan tergopoh-gopoh dari arah dapur sambil membawa semangkuk cemilan ringan lalu meletakkannya ke atas meja,"Sabar sedikit kenapa? Aku kan mesti menyiapkannya dulu," Gumamnya lalu meninggalkan Edric dengan kesal ke dalam kamarnya.



Edric tak menjawab apapun, dia menghidupkan televisi lalu mulai menonton berita dengan tenang.



Tak lama setelah itu, ketenangannya terganggu oleh suara dobrakan pintu yang lumayan kencang diiringi oleh teriakan mengerikan dari luar sana.



Edric terlonjak, ia secara tiba-tiba berdiri dari sofa yang ia duduki lalu menoleh ke arah pintu depan. Ia melihat ada beberapa pria yang masuk secara paksa ke rumahnya, membuat Edric ketakutan. Dari lantai atas, istri serta dua orang putrinya yang masih belasan tahun langsung turun karena ikut terkejut dengan suara dobrakan yang lumayan kencang hingga menghancurkan engsel pintu itu.



...