
Seharusnya malam natal adalah malam yang menakjubkan bagi setiap orang. Namun, hal itu berbeda bagi Calyria. Dia menatap penuh kesedihan pada setiap pohon natal yang menghiasi beberapa tempat di pinggir jalan atau mendengarkan lagu-lagu natal yang dinyanyikan oleh anak-anak yatim piatu.
Dia mengeratkan mantelnya lalu kembali melangkah, Calyria menanyai setiap tempat yang memungkinkan ia untuk bertemu dengan Reginald dan Stefan, tapi sayangnya tak ada petunjuk apapun selain kehampaan hingga malam natal tiba. Calyria masih punya satu tempat, dimana dia bisa mengetahui keberadaan Stefan. Ya, dia masih punya Alex dan Calyria tahu kalau Alex ada di balik semua masalah ini.
Di tempat lain-- di bagian Eropa timur, sebuah tempat dimana Reginald dan putranya berada, tengah merayakan malam natal pula. Semua bentuk dekorasi juga pohon natal putih sudah menghiasi ruang tamu. Reginald tak pernah merasa sebebas ini sejak terakhir kali. Dia menoleh pada putranya yang sedang berdiri di depan jendela, menatapi setiap butiran salju yang memenuhi pekarangan rumah.
Reginald memilih untuk mendekat, dia mensejajarkan dirinya lalu mengelus puncak kepala Stefan,"Kau mau makan sesuatu?"
Stefan hanya menggeleng kecil. Bocah empat tahun itu memilih untuk tak berbicara, ia tidak pernah merasa nyaman. Saat pria itu mencoba untuk meraih tangannya, mata bulat Stefan langsung memberinya sebuah tatapan sedih,"Dimana Mommy? Stefan ingin sama Mommy," Tanyanya. Reginald menarik kembali tangannya, ia menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Ia tidak ingin membahas tentang Calyria lagi sekarang. Namun bagaimana cara dia mengatakan pada Stefan kalau saat ini Viktor dan Svetlana adalah orang tua angkatnya yang baru?
"Kau punya Svetlana sebagai ibu barumu, Stefan. Dia baik padamu dan juga menyayangimu kan?"
Stefan menundukkan kepalanya, dia tahu kalau Svetlana wanita baik. Namun Stefan tetap ingin bersama Calyria, dia merindukan ibu kandungnya. "Stefan ingin pulang," Lirihnya. Reginald merasa tak tega dengan kesedihan bocah itu setiap hari. Dia tak mau kembali ke Kanada disaat semuanya sudah sempurna disini, Reginald tak mau Calyria menyakiti Stefan lebih jauh jika wanita itu tetap bersama Stefan.
"Kau harus mengerti, nak. Daddy Viktor dan Mommy Svetlana adalah orang tua terbaik untukmu."
...
"Satu Minggu sebelum mansion ini dipenuhi oleh suara bayi. Benar kan?"
Pria itu terkekeh, dia mengeratkan pelukannya pada wanita yang sudah menjadi kelemahannya itu.
"Yap, dan dua Minggu lagi, pernikahan kita akan digelar. You happy now?"
Sarah mengangguk cepat. Dia menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria yang tengah mendekapnya dari belakang itu dengan nyaman. Mata hitamnya menatap kosong pada bayangan hitam yang diciptakan oleh api yang menyala di perapian elektrik. Malam natal seperti ini biasa Sarah habiskan di rumah sakit anak atau di perpustakaan, tapi sekarang ia menghabiskan malam natalnya dalam dekapan hangat pria yang akan segera menikahinya.
"Aku suka gaunku, Alex. Terima kasih karena kau mengabulkan permintaan ku untuk desain gaunnya," Kata Sarah. Alex menggumam, dia mengecup kening Sarah lalu jemarinya mengusap lembut perut wanita itu. Alex menggerakkan tubuhnya sedikit, mencari posisi nyaman di atas ranjang. "Aku mencintai kalian."
Sarah mendongak,"Kami juga mencintaimu, Daddy Alex," Balasnya sebelum ia mengeluarkan suara tawa yang kecil.
Sebenarnya di ruang depan, semua sahabatnya sedang merayakan malam natal ini dengan gembira. Ibunya Alex juga berada disini untuk turut merayakan natal. Namun Alex hanya ingin berdua-duaan dengan Sarah. Untuk apa ia menghabiskan malam natal dengan para sahabatnya yang menyebalkan disaat dia punya Sarah yang mampu membuat jantungnya seolah ingin melompat dari tempatnya?
Alex menarik wajahnya mendekat pada Sarah sebelum mengecup bibir wanita itu cukup lama. Ia memejamkan matanya ketika aroma manis itu terasa di lidahnya, membuat Alex merasa ketagihan untuk merasakannya lagi.
Entah bagaimana caranya, posisi mereka pun berganti. Jemari tangan Alex terampil melepas kancing piyama yang Sarah kenakan, ia menyentuh kulit wanita itu seringan bulu, membuat kulit Sarah meremang karena sentuhan halus itu pada kulitnya.
"You want it too?"
Sarah mengangguk penuh arti, dia mengelus rahang tajam Alex sebagai balasannya. Alex mengecup leher Sarah, menggigitnya kecil-- tapi meninggalkan jejak yang akan Sarah sukai.
Telapak tangan pria itu bermain di area dada Sarah, meremasnya lembut ketika mengetahui bahwa wanita itu menyukai sentuhannya. Alex membawa bibirnya untuk mengecup puncak dada Sarah, menggigitnya lalu menghisapnya hingga suara Sarah terdengar begitu panas di telinganya.
Wanita itu menyembunyikan tangannya di antara rambut coklat Alex, meminta pria itu untuk memberinya lebih dari sekedar kecupan.
"Apa ini berbahaya untukmu?"
Sarah menggeleng. Dokter Delilah sempat mengatakan kalau hubungan seksual tidak memberikan efek negatif yang perlu ia khawatirkan. Hanya saja, melakukannya harus dengan lembut dan hati-hati.
"Do you mind if i rip your underwear, Bunny?"
"I don't mind."
Srakk!
Dalam sekali tarikan, celana dalam yang Sarah kenakan pun robek. Alex melempar celana dalam yang sudah sobek itu ke atas lantai lalu mulai memainkan milik Sarah yang basah.
"Panas, seperti dirimu," Gumamnya. Sarah memejamkan matanya, ia tak bisa menahan desahan dari bibirnya sendiri ketika jemari Alex mulai bermain di area paling sensitifnya.
"Alex, please.."
Pria itu menghirup aroma tubuh Sarah, menjilat leher wanita itu dengan lidahnya yang panas.
Alex memposisikan Sarah berbaring menghadap ke sebelah kiri dengan dia di belakang wanita itu. Alex menggerakkan tubuhnya hati-hati agar tidak menyakiti kandungan wanita itu. Dia menggigit daun telinga Sarah lalu membisikkan kalau dia sangat mencintai Sarah hingga rasanya seluruh jiwanya mati jika wanita itu pergi.
Mereka saling menautkan tangan dan meneriakkan nama. Suhu yang dingin tampaknya tak berhasil menghilangkan keringat yang berhasil membanjiri sekujur tubuh mereka berdua, momen yang paling Sarah sukai sepanjang ia menjalin hubungan bersama Alex.
"I love you, Sarah. Until forever."
...
"Merry Christmas, everyone! Tuhan memberkati kita semua!"
Suara Scott yang besar diluar sana memaksa Alex membuka matanya. Ia mendecih karena teriakan Scott berhasil membuat dia terbangun dengan sangat terpaksa. Dia meraba sisi ranjang yang dingin, mengetahui kalau Sarah tidak lagi berada di sana. Alex lantas membuka matanya, dia mengedarkan pandangan ke setiap sisi kamar dan mendapati Sarah sedang berdiri di depan kaca seluruh badan dengan senyum sumringah.
"Baby?"
Sarah menoleh ke arah Alex lalu memberinya kekehan kecil,"Selamat natal, Alex. Maaf, aku lebih dulu mengucapkannya pada si kembar," Wanita itu melangkah kembali ke arah ranjang lalu duduk di pinggirnya. Pria itu mendekapnya hangat, Alex mengusap punggung Sarah yang ditutupi oleh gaun tidur.
"Aku tak bisa cemburu pada jagoan-jagoan ku, Sarah. Mereka terlalu spesial," Balasnya.
Wanita itu menyamankan kepalanya di pundak Alex sembari menatap salju yang masih memenuhi pekarangan rumah.
"Sebaiknya kita membersihkan diri lalu keluar, mereka pasti menunggu kita."
Alex mengangguk setuju, dia meraih boxer miliknya lalu melangkah ke kamar mandi bersama Sarah.
Tak lama kemudian mereka pun sudah berpakaian rapi, dengan tetap saling menautkan jemari, Alex dan Sarah berjalan bersamaan ke ruang depan. Di sana sudah ada Scott, Leah, Nathan, Jake dan istrinya serta ibunya Alex. Mereka tampak sedang bercanda bersama sembari membuka kado natal.
"Hey, selamat natal untuk kalian berdua! God bless you all!" Leah memberi Alex dan Sarah sebuah pelukan dan tentu saja menyapa si kembar yang belum terlahir itu.
Marilyn pun turut mendekati Alex dan Sarah, dia mendoakan yang terbaik untuk putranya juga keselamatan bagi Sarah dan calon bayinya. Ini adalah natal pertama baginya dapat berkumpul bersama seperti ini karena dulu mereka tak pernah melakukan ini. Kendati Alex punya banyak teman atau relasi kerja, ia memang tak pernah merayakan natal bersama-sama seperti ini.
...