Perfect Agreement

Perfect Agreement
PART 31



Leah menyimpan kembali ponselnya saat ia tak menerima balasan pesan dari Alex ataupun Sarah. Dia mendengus kesal karena saat ini ada yang harus dia bicarakan bersama mereka tapi keduanya sama-sama tak mau mengangkat telepon.



Scott sedari tadi memandanginya dengan penuh tanda tanya karena Leah terkadang mengumpat.



"Sudah jangan ganggu mereka, Leah. Alex dan Sarah sedang menikmati liburan mereka," Leah mendelik ke arah Scott. Pria itu bisa santai seperti itu padahal Leah benar-benar khawatir karena tak mendapat kabar dari sahabatnya sejak kepergian mereka ke Venesia.



"Berapa hari lagi liburannya?"



Scott tampak tengah berpikir,"Mungkin dua hari lagi sudah pulang. Mereka liburan selama sepuluh hari disana."



Leah menghela napas berat. Dia meraih jus jeruk miliknya sebelum menyeruputnya dengan kasar,"Aku hanya masih merasa marah dengan Calyria si pelacur itu. Rasanya aku ingin mendiskusikan sesuatu dengan Alex untuk melenyapkan wanita sialan itu," Balasnya. Scott menggeleng kepalanya, Leah benar-benar pendendam yang kejam.



"Daripada itu, tidakkah kau ingin membahas tentang hubungan kita?"



Leah menatap tak percaya pada Scott,"Are you serious? Scott, kau dan aku sepakat kalau kita tak akan pernah membahas soal itu."



Scott lantas menggeleng,"We can't, Leah. We still love each other and--"



"I don't. Scott, kita sudah berakhir satu tahun yang lalu. Kau sepakat kalau hubungan kita tak jauh dari pertemanan, jadi bisakah tak membicarakan itu lagi?"



Scott akhirnya menyerah. Sekuat apapun ia untuk mempertahankan hubungannya dengan Leah, semuanya akan berujung sia-sia. Ternyata kesalahannya waktu itu benar-benar tak bisa dimaafkan.



"Baiklah, aku minta maaf. Lalu sebenarnya apa yang kau rencanakan?"



Leah kembali berdeham. Dia mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam tas nya lalu memperlihatkan itu semua pada Scott.



"Aku memata-matai Calyria tiga hari belakangan ini dan kau tahu... Fakta yang kutemukan benar-benar tak bisa aku percaya," Katanya. Scott meraih salah satu foto lalu mengernyit bingung kala melihat ada seorang wanita dan anak kecil. Gambarnya tidak terlalu jelas tapi Scott yakin kalau wanita yang menggendong anak lelaki itu adalah benar Calyria.



"Sial, apa maksudnya ini?!"



"Itulah yang ingin aku bahas bersama kalian semua, bodoh. Kurasa Calyria sudah punya anak dan aku punya firasat kalau wanita itu akan mengacaukan Alex dan Sarah dengan memanfaatkan anaknya. Apa kau punya pikiran yang sama?"



Scott lantas mengangguk. Benar juga, bukan tidak mungkin kalau Calyria hanya diam tanpa merencanakan apapun untuk kembali mengikat Alex, tentu saja wanita itu pasti sudah punya rencana. Kalau sudah begini, Alex mesti mengetahui perihal masalah ini. Jika Alex tak diberitahu, maka semuanya bisa benar-benar diluar kendali.



"Kita harus memastikan kalau bocah itu bukan milik Alex," Ucap Scott.



Leah memutar bola matanya,"Tentu saja, Prescott. Calyria pernah berselingkuh dan pastinya itu anak dari pria selingkuhannya."



"Oke, apa langkah awal kita?"



Leah mengusap dagunya,"Kita harus berkumpul lebih dulu sembari menunggu Alex pulang. Jika memungkinkan, aku akan menghubungi Nathan untuk melacak keberadaan pria bajingan itu dan tentu saja terus mengintai Calyria."



"Nathan sedang berada di Korea. Tidakkah kau ingat kalau dia dan tim nya punya jadwal padat satu bulan ini?"



"Kita tak harus memintanya ke Kanada, Scott. Demi Tuhan, Nathan adalah seorang peretas yang handal. Dimana pun dia berada, itu bukan menjadi penghalang besar," Jawabnya. Scott lagi-lagi terkesan. Leah benar, Nathan adalah orang hebat.



"Aku akan coba mengirim surel padanya nanti. Dan tolong, segera hubungi Alex," Selepas itu Leah pun beranjak dari kursi, dia mengeluarkan beberapa lembar dollar lalu menyimpannya di atas meja,"Kali ini aku yang traktir," Ucapnya sebelum benar-benar pergi.



...



Venesia akan menjadi kenangan terindah bagi Sarah. Ia menghirup napas dalam-dalam sembari memejamkan mata. Malam hari yang sejuk di pinggir balkon adalah salah satu hal paling menakjubkan. Dari sini dia bisa melihat lampu-lampu terang yang menyinari kota serta beberapa gondola yang terlihat masih beroperasi di jam seperti ini. Lusa nanti mereka akan pulang. Walau mereka berdua sudah mengunjungi lebih dari lima tempat wisata di sini, tapi rasanya semua itu tetap kurang.



Sarah melengkungkan bibirnya saat merasakan kalau Alex tengah mendekapnya hangat. Ia menoleh sedikit ke kanan dan mendapati kalau pria itu tengah bersandar di bahunya.



"Gaun tidurmu terlihat tipis. Apa kau sengaja untuk memperlihatkan tubuhmu pada pria-pria di bawah sana?"



Sarah melirik ke arah bawah, mengetahui kalau orang-orang disana mungkin tak bisa melihatnya dengan begitu jelas karena mereka berada di lantai atas. Ia lalu terkekeh, Sarah mengelus punggung tangan Alex yang dingin kemudian berbicara,"Kenapa? Kau tak setuju Mr.Grissham?"



"Well, are you challenging me, my Lady?"



Sarah membalikkan tubuhnya, dia mengalungkan kedua tangannya pada leher Alex lalu mengecup bibir pria itu sekilas,"Tidak, Tuanku. Aku hanya ingin menikmati udara segar, bukan sedang menantangmu," Jawabnya.



Alex meremas bokong Sarah lalu menamparnya dua kali. Ia mencium bibir wanita itu, melumatnya kasar. Sebelah tangannya menekan tengkuk Sarah agar memperdalam ciuman mereka.



Wanita itu terengah-engah, dia perlahan mendorong wajah Alex karena kehilangan oksigen,"Jangan disini. Orang-orang bisa curiga," Katanya.



Alex terkekeh, dia mengangkat pinggang Sarah lalu menggendongnya hingga mau tak mau wanita itu melingkarkan kakinya pada tubuh Alex,"Memangnya mereka siapa? Malam ini adalah milik kita dan tidak ada yang boleh mengacau," Balasnya. Pipi Sarah merona, ia terpaku pada keindahan mata pria itu sampai dirinya tak sadar kalau sudah berada kembali ke atas ranjang dengan Alex yang setengah menindihnya.



Alex mengusap pipi Sarah yang lembut. Dia tahu wanita itu masih sedikit gugup walau mereka sering melakukan ini. Hal itulah yang selalu membuat Alex semakin penasaran.




Sarah membenarkan lagi letak pakaiannya, dia melirik Alex yang meraih ponsel dari meja kopi lalu menjawab panggilan itu.



"Scott, jika ini tidak penting maka aku--"



"Maaf mengganggumu. Aku hanya ingin mengatakan kalau setelah kau kembali dari Venesia, segeralah pergi ke rumahku. Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan."



Dahi Alex berkerut. Dari nada bicara Scott, pria itu sedang serius kali ini. Pasti ada masalah genting.



"Apa ini tentang ibuku atau perusahaan?"



"Bukan. Ini tentang kau dan masa lalumu. Nanti akan kita bahas, tapi jangan sampai lupa, oke?"



Alex menghela napasnya, dia menoleh ke arah ranjang, ternyata Sarah masih diam di sana sambil mengamatinya.



"Kau berhasil mengacaukan kegiatanku."



"Maaf, oke? Sudah, jangan terlalu banyak mengeluarkan sperma mu. Tidak baik, kau tahu?"



"Bajingan sialan!" Lalu Alex memutus sambungan ponselnya secara sepihak. Dia menaruh lagi ponselnya ke atas meja sebelum mendekati ranjang dan duduk di pinggirnya.



"Kenapa kau marah-marah pada Scott?"



Alex menoleh ke belakangnya, mengetahui kalau saat ini Sarah tengah berbicara padanya,"Bukan apa-apa," Jawabnya. Ia melepas kaos yang ia kenakan-- melemparnya ke sudut ruangan lalu mulai berbaring. Alex menarik selimut lalu tidur membelakangi Sarah. Mood nya benar-benar hilang.



Sarah tak banyak berkata lagi. Ia mematikan lampu tidur di sebelahnya lalu ikut berbaring terlentang. Sarah menoleh sedikit ke kanan, memerhatikan bahu Alex yang bergerak teratur. Ia menjalankan jemarinya pada punggung pria itu, mengamati tato yang terbentuk di sana.



"Kenapa kau membuat tato, Alex?"



Pria itu tak menjawab. Sarah mendengus sebal lalu ia pun turut membelakangi Alex.



"Hanya hobi."



Sarah kembali menoleh padanya. Suara Alex begitu serak, kenapa dia cepat sekali marah sih?



"Sejak kapan?"



"Sejak aku berkuasa."



Sarah melipat bibirnya. Dia kembali berbaring terlentang, mengamati langit kamar yang penuh dengan ukiran istimewa. "Kukira kau memang terbiasa dengan tato sejak kecil," Katanya. Terdengar kekehan dari bibir Alex--ranjang itu bergerak-- saat Alex membalikkan tubuhnya menyamping menghadap ke arah wanita itu.



"Kau tak suka aku punya tato?"



"Bu-bukan begitu. Aku hanya bertanya saja," Sarah menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya. Jujur saja ia malu, sebenarnya tato yang Alex punya bukan suatu hal yang mengerikan. Hal itu malah membuat Alex terlihat seksi.



"Sudah, tidurlah. Besok kita masih punya beberapa tempat untuk dikunjungi," Titahnya. Sarah mengangguk kecil, ia dengan segera memejamkan matanya, tapi di detik berikutnya ia kembali membuka mata.



"Alex, aku tak bisa tidur."



Pria itu tak jadi memejamkan mata,"Kau ingin aku mengusap perutmu?"



"Da-darimana kau bisa tahu?"



"Aku sering melihat di televisi, wanita hamil bisa tidur nyenyak saat perut mereka dielus," Jawabnya. Sarah mengangguk malu, Alex benar, dia butuh sedikit elusan.



Dengan malu-malu, Sarah memposisikan dirinya membelakangi Alex sedangkan pria itu mendekatkan tubuhnya lalu mulai mengusap perut Sarah dengan gerakan yang lembut.



"Kalau tidak salah, sudah 7 minggu bukan?"



Sarah mengangguk perlahan. Ya, sudah hampir dua bulan.



"Apa aku bisa melihat jenis kelaminnya?"



Wanita itu menggeleng kecil,"Belum. Mungkin saat usia kandunganku 6 bulan?"



Alex lantas menggumam. Ia sedikit merasa tak sabar dengan itu. Entah, apa yang ia harapkan sebenarnya? Bukankah dia hanya ingin menggunakan bayinya sebagai penyelamat reputasinya yang nyaris saja hancur? Namun, rasanya lebih dari sekedar hal bodoh itu. Alex merasa... Punya sedikit harapan. Ya, tentu saja kan?



...