Perfect Agreement

Perfect Agreement
EPILOG



Empat tahun kemudian


Sarah tersenyum hangat melihat tiga orang paling penting dalam hidupnya tengah bermain di tepi pantai dengan begitu riang. Ia bisa mendengar tawa cekikikan dari salah satu bocah laki-laki yang dengan sengaja mencipratkan air laut itu pada saudaranya.


Sarah melepas kacamata hitamnya lalu menaruhnya di atas meja kecil yang ada di sampingnya. Saat ini dia dan keluarganya kecilnya tengah menikmati liburan di salah satu pulau pribadi milik keluarga Grissham. Suaminya memutuskan untuk mengajak dia dan anak-anak untuk pergi liburan selama musim panas.


"Mom, aku mau ice cream coklatnya."


Ia melirik putra sulungnya yang tidak ikut bermain bersama kedua saudara dan ayahnya. Ya, Aaron adalah pribadi yang pendiam. Ia tidak suka membuat keributan seperti yang biasanya Axelle lakukan di rumah. Sarah senang karena Aaron memiliki sikap yang lebih dewasa dari kedua saudaranya, itu artinya Aaron bisa ia harapkan untuk menjadi seorang kakak yang baik.


Sarah membuka box es di sampingnya lalu mengeluarkan mangkuk kecil berisi es krim coklat milik Aaron sebelum memberinya pada anak itu.


"Makannya hati-hati, nak," Ucapnya sembari mengusap rambut kecoklatan milik putranya.


Sarah menoleh ke depan ketika mendengar suara Axelle yang tengah berlari ke arahnya sebelum menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Sarah,"Mommy!"


Sarah mencium pipi Axelle yang basah karena cipratan air. Ia mencubit gemas pipi putih putranya hingga Axelle tertawa kencang.


Alex datang dengan Alaina di dalam gendongannya. Ia ikut duduk di sebelah Sarah lalu meraih soft drink dari dalam box biru itu.


"Senang bermain di pantai?"


Alaina dan Axelle lekas mengangguk,"Iya, Mom! Axelle mau main disini setiap hari!"


Sarah dan Alex tertawa kecil mendengar celotehan Axelle. Anak itu terlihat sangat riang dan bahagia. Alex senang melihat ketiga anaknya yang periang, ia tidak ingin si kembar merasakan seperti yang ia rasakan dulu. Menyendiri dan sepi karena kekalutan.


"Dad akan membawa kalian kemari di liburan berikutnya. Kalian mau?"


"Kita main disini lagi? Kenapa tidak ajak Nana?"


Si kembar memang terbiasa memanggil Marilyn dengan sebutan Nana. Alex menghela napasnya, akhir-akhir ini kesehatan sang ibu memang sedang buruk. Alex tidak ingin Marilyn tambah sakit dengan mengajaknya kemari, jadi dia memutuskan untuk meninggalkan sang ibu bersama seorang Dokter terpercayanya untuk mengontrol kesehatan Marilyn.


"Nana sedang sakit, Aaron. Doakan dia agar cepat sembuh ya?" Jawab Alex. Aaron lekas menganggukkan kepalanya lalu kembali memakan es krimnya hingga bibirnya belepotan coklat.


"Daddy, semalam Daddy kenapa tidak pakai baju? Axelle lihat Daddy dan Mommy tak pakai baju."


Alex maupun Sarah tiba-tiba tersedak dengan pertanyaan tak masuk akal itu. Sarah menatap Alex dengan pandangan kesal seperti menyalahkan tindakan cerobohnya yang lupa mengunci pintu.


"I-itu, semalam suhunya panas, sayang. Sudahlah itu tidak penting kok," Sarah berusaha untuk mengalihkan rasa ingin tahu Axelle yang besar. Oh tuhan, apakah semalam ia sudah menodai mata suci putra nakalnya ini? Kenapa ia bisa lupa kalau Axelle itu suka berkeliaran saat malam hari dan kenapa pula ia tak menyadari kalau putranya itu belum benar-benar tertidur?!


"Panas? Padahal semalam dingin loh, Mom. Axelle mau masuk, tapi Axelle dengar Daddy sedang memarahi Mommy."


Apalagi ini? Sepertinya pembahasan ini belum berakhir.


Alex menggaruk lehernya. Ia melirik ke arah Sarah seakan menyuruh istrinya yang menjawab. Apa jangan-jangan semalam Axelle mendengarnya meneriakkan nama Sarah atau Axelle melihatnya melakukan itu?


"Daddy tidak boleh memarahi Mommy! Alaina marah jika Dad melakukannya!" Kini si gadis kecilnya turut berceloteh seperti Axelle. Sarah berusaha menutupi wajahnya yang kian memerah, ya tuhan! Ketahuan berbuat mesum oleh anak sendiri rasanya lebih memalukan dibandingkan apapun yang ada di dunia ini.


"Su-sudahlah! Semalam tidak terjadi apapun kok. Kalian ingin main air lagi?"


Beruntung karena ucapan Sarah berhasil mengalihkan perhatian anak-anaknya. Alaina dan Axelle kini kembali berlarian ke pinggir pantai diikuti Aaron di belakang mereka.


"Ini salahmu Alex! Sudah kubilang untuk tak memaksakan nafsu menjijikkan mu itu disaat anak-anak belum tidur, tapi kau egois sekali!"


"Kenapa kau jadi menyalahkan aku? Sayangku, kau juga menikmatinya," Balas Alex. Ia merengkuh tubuh istrinya, tapi Sarah menepisnya cepat.


"Masih saja egois! Jangan peluk aku seperti itu disaat ada anak-anak! Pokoknya ini salahmu! Kan aku pernah bilang untuk memastikan keadaan sebelum kau nekad menyentuhku?!"


Alex menghembuskan napasnya. Dia lantas mencuri satu ciuman dari istrinya sebelum beranjak dari sana untuk mengawasi si kembar yang bermain air. Sarah menatapnya sembari menggelengkan kepalanya. Alex harus bisa melihat-lihat keadaan, setidaknya tunggu sampai si kembar tidur barulah mereka melepas rindu. Oh tuhan, Sarah tak mau Axelle kembali memergoki mereka seperti semalam. Sial sekali memang.


Sarah lalu memilih untuk bergabung bersama suami dan ketiga anaknya. Karena ini adalah pulau pribadi milik mereka, Alex membolehkan Sarah mengenakan bikini renang. Tentu saja hanya orang bodoh yang akan mengenakan sweater di pantai.


Empat tahun sudah sejak hari dimana mereka menikah. Sudah empat tahun berlalu dan Sarah masih tak bisa memercayai apa yang ia miliki saat ini.


"Mommy! Lihat ombaknya besar sekali!" Ia tersenyum lebar mendengar ucapan Aaron. Ia lantas mendudukkan dirinya di pasir pantai itu sembari menikmati dinginnya air laut yang membasahi kakinya. Alaina mendekatinya lalu duduk di pangkuan Sarah, turut menikmati air lautnya.


Aaron dan Axelle mengumpulkan kulit kerang yang mereka temui di pasir lalu meminta Alex untuk menyimpannya.


"Ini untuk Nana. Jangan dihilangkan!" Titah Axelle setelah memberi belasan kulit kerang pada ayahnya. Alex menghela napas, si bos kecil sepertinya jauh lebih berkuasa dibanding dirinya. Lihatlah betapa nurutnya Alex ketika Axelle memberinya kulit kerang.


"Daddy, nanti malam Axelle tidak mau tidur cepat. Kita nonton film kartun dulu ya?"


Alex mendudukkan dirinya di sebelah Sarah lalu menaruh kulit kerang itu di sebelahnya,"Iya, apapun untukmu, sayang."


"Kak Aaron juga mau nonton kan, kak?" Tanya Axelle. Si sulung mengangguk antusias sembari menunggu ombak datang menerpa kaki kecilnya.


"Aaron, Axelle, ayo kemari duduk sini!" Ucap Sarah sembari mengibaskan tangannya. Aaron dan Axelle dengan segera mendekati ibunya lalu duduk di sisi Sarah.


"Berapa hari lagi kita disini, Daddy?" Tanya Alaina. Alex menatapnya sembari tersenyum,"Selama musim panas, sayang. Bukankah kalian mau liburan musim panas?"


Alaina menatapnya dengan penuh binar kebahagiaan. Dia bangkit dari pangkuan sang ibu untuk memeluk ayahnya dengan erat. Si kembar memang suka pergi jalan-jalan apalagi jika itu bersamanya. Ia mengusap rambut hitam kecoklatan milik Alaina dengan sayang lalu mengecup pipinya. Putrinya itu benar-benar manja, dia tak akan pernah suka melihat Sarah mengecup pipi Alex. Makanya ia disebut si tukang pencemburu oleh Axelle.


Rasanya baru kemarin ia mendekap si kembar dalam gendongannya, tapi sekarang mereka sudah tumbuh besar dengan segala sifat mereka yang menggemaskan. Alex tak pernah memarahi si kembar, ia selalu menuruti apa saja yang si kembar inginkan. Terkadang Sarah marah padanya karena terlalu memanjakan anak-anak, tapi Alex hanya ingin yang terbaik. Rasanya begitu menyenangkan saat mendengar tawa ketiga anaknya itu.


...


Rumah di pulau yang mereka tempati ini terbilang mewah. Fasilitas yang dimiliki juga lumayan seperti, ada ruang Home Theater, ruang pemandian air panas, tempat bermain anak-anak bahkan ruang penyimpanan anggur di lantai bawah. Alex tentu tahu apa-apa saja yang dibutuhkan untuk keluarga kecilnya ini.


Axelle sedari tadi memilih film-film kartun yang akan mereka tonton malam ini. Dia memang anak yang sangat aktif, Sarah dan Alex harus ekstra hati-hati saat menjaganya.


"Kak, yang mana?"


Aaron duduk di sampingnya lalu menarik salah satu kaset film sebelum menunjukannya pada Axelle,"Kita tonton ini saja, sepertinya bagus."


Axelle mengangguk antusias lalu meminta Alex yang kebetulan baru saja masuk ke dalam ruangan itu untuk menyetel film kartun yang akan mereka tonton. Sarah menyusul bersama Alaina, mereka membawa popcorn rasa karamel yang baru saja Sarah buat beserta minuman dingin.


Kelimanya duduk di kursi empuk yang sudah disediakan lalu mulai menonton sembari memakan popcorn.


Sepanjang film diputar, Axelle tak berhenti berceloteh. Ia terus menanyakan tentang mengapa tokoh ini begini atau bagaimana dia bisa berbuat begitu.


"Kak Axelle, jangan nakal! Filmnya tidak seru karena mu!" Teriak Alaina. Ia mengerucutkan bibirnya tak suka karena Axelle benar-benar ribut,"Alaina jangan berteriak, suaramu jelek."


Axelle dan Aaron tertawa karena ejekan itu berhasil membuat adik mereka menangis keras. Sarah memijat kepalanya karena si kembar benar-benar berisik.


Alaina segera memeluk ayahnya untuk mencari perlindungan. Beginilah sifatnya, jika sudah dijahili oleh kedua kakaknya, maka sifat tukang mengadunya keluar.


Alex menghela napasnya sembari mengelus punggung Alaina yang bergetar. Gadis kecil itu bahkan semakin mengeratkan pelukannya hingga Alex nyaris tak bisa bernapas.


"Daddy harus memarahi Axelle dan Aaron! Mereka jahat! Huahh!"


Sarah menahan senyumnya melihat Alex yang tampak kewalahan menghadapi tangisan Alaina yang terkesan berlebihan,"Baby girl... Sudah jangan menangis lagi, Dad akan memarahi mereka ya?"


Perlahan tangisan itu tak lagi terdengar. Aaron dan Axelle masih tertawa melihat Alaina yang cengeng. Sarah lantas memberi tatapan peringatan pada dua jagoannya untuk berhenti mengganggu Alaina. Keduanya langsung terdiam sembari kembali menonton film sedangkan Alaina masih tak mau melepas pelukannya dari sang ayah.


Sarah yang berada di samping Alex ikut mengusap punggung putri kecil mereka yang hampir tertidur.


Film kartun itu sangat membosankan, Alex nyaris tertidur jika saja suara Axelle dan Aaron tak mengganggu ketenangannya.


Setelah beberapa lama, akhirnya film itu pun selesai. Alex melirik Alaina yang telah tertidur pulas di atas dadanya bahkan suara dengkuran kecilnya terdengar. Begitu pula dengan Aaron dan Axelle, mereka sudah tertidur. Ah, mungkin karena mereka kelelahan akibat bermain di pantai tadi.


"Aku akan membawa Alaina lebih dulu ke kamar," Kata Alex dengan suara kecil. Pria itu beranjak dari sana bersama Alaina yang sudah tertidur. Sarah menggeser tubuhnya ke arah Aaron lalu mengusap kening putranya yang terlelap itu. Malaikat-malaikat kecilnya ini benar-benar tampan! Sarah merasa diberkati dengan kehadiran si kembar.


Alex kembali lagi tak lama kemudian. Dia meraih Aaron lalu membawanya ke dalam kamar sedangkan Sarah menggendong Axelle. Si kembar berada di satu kamar yang sama dengan masing-masing ranjang kecil mereka. Alex menyelimuti tubuh Aaron dengan selimut lalu mengecup kedua pipi putranya sebelum membisikkan kata selamat malam pada putra sulungnya.


Pria itu melirik Sarah yang sedang memerhatikan dirinya sebelum ia menarik sebuah senyuman tipis. Ia beranjak mendekati sang istri lalu menarik lembut tangan istrinya,"Kita juga harus istirahat setelah seharian menemani anak-anak bermain," Katanya.


Sarah tertawa, dia lalu menggelayut manja di lengan suaminya. Alex menutup pintu dan tak lupa menguncinya dari dalam.


Sarah mengalungkan tangannya di leher Alex, ia menatap penuh dambaan pada netra biru pudar sang suami yang begitu mengagumkan baginya,"Aku senang karena hari ini kita kembali menghabiskan waktu bersama anak-anak. Kau tahu, dua minggu yang lalu Alaina selalu merengek meminta liburan karena kau jarang menghabiskan waktu dengannya akhir-akhir ini. Namun syukurlah karena kau menepati janjimu pada si kembar."


Alex merapatkan tubuhnya dengan sang istri lalu mengecup bibirnya mesra,"Aku minta maaf untuk itu. Makanya aku bilang kalau kita akan berada di sini selama musim panas," Balasnya.


Pria itu meraih sebelah tangan istrinya lalu mengecupnya lama,"Iya."


Mereka kembali berciuman, Alex mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongannya sambil terus mencium bibirnya. Sarah melenguh kecil saat tubuhnya membentur ranjang yang empuk. Ia meremas rambut suaminya ketika Alex menciumi sekitaran leher dan dadanya.


"Su-sudah kau pastikan pintu terkunci?" Tanyanya. Alex menggumam, ia menarik turun tali gaun tidur yang dikenakan Sarah hingga istrinya kini benar-benar telanjang bulat.


"Aku bisa gila jika tidak menyentuhmu sehari saja," Bisiknya. Sarah merona seketika, ia menggigit bibirnya saat Alex memanjakan tubuhnya seperti yang ia lakukan setiap malam dan Sarah tak akan pernah bosan.


Beruntunglah karena si kembar sudah benar-benar tertidur, jadi tak akan ada gangguan untuk malam ini.


...


Paginya, Sarah tengah disibukkan dengan urusan dapur. Ia terlambat bangun karena Alex tak membiarkannya tidur hingga subuh. Bukankah itu menyebalkan?


"Mom, Aaron sudah lapar," Ia menoleh sekilas pada putranya yang duduk di kursi makan sembari memegangi perutnya yang kelaparan,"Sebentar lagi, sayang."


Wanita itu memindahkan telur mata sapi ke dalam piring, menambahkan roti panggang dan sosis ke dalam piring yang sama. Dia juga membuat panekuk dengan tambahkan sirup maple dan stroberi, Alaina suka itu.


Aaron menatap lapar pada piring berisi telur dan roti yang ditaruh Sarah ke atas meja makan, disusul oleh sepiring panekuk dan roti isi.


"Susunya mana Mom?"


Sarah berbalik ke meja dapur lalu membawa beberapa gelas susu untuk si kembar.


"Makanlah duluan, nak. Mom akan membangunkan saudaramu dan ayah."


Aaron makan dengan lahap. Ia sedari tadi menahan lapar karena Sarah telat membuat sarapan.


Sarah masuk kembali ke dalam kamarnya, ia menatap kesal pada suaminya yang masih saja tertidur nyenyak sejak tadi,"Alex, ayo bangun! Saatnya sarapan," Titahnya. Ia menyibak selimut yang menutupi wajah suaminya itu lalu Sarah mengelus rambut coklat Alex.


Pria itu masih enggan bangun, dia meraih pinggang istrinya lalu merengkuhnya erat,"Nanti saja."


"Jangan begitu, kasihan si kembar makan sendiri. Ayo, pakai celana mu dan segeralah ke meja makan. Aku bangunkan Axelle dan Alaina dulu," Titah Sarah. Alex berdecak pelan, tapi ia menurut. Dengan segera pria itu meraih celananya dan memakainya secepat kilat. Sebelum Sarah sempat membuka pintu kamar, pria itu menarik lengan istrinya lalu mencium bibir Sarah.


"Kau melupakan ciuman selamat pagi mu."


Sarah terkekeh, tapi detik berikutnya dia mencubit gemas pipi suaminya,"Itu karena kau tak membiarkan aku istirahat! Lihat kan aku jadi melupakan semuanya!" Sungutnya lalu berjalan meninggalkan Alex untuk membangunkan kedua anaknya.


Alex tersenyum geli. Ia keluar kamar, berjalan ke arah dapur dan melihat disana ada Aaron yang sedang makan sendirian.


Alex mengacak-acak rambut putranya sebelum mencium pipinya beberapa kali,"Tumben makan sendirian?"


"Daddy kenapa bangun siang?"


Alex duduk di kursi sebelah Aaron lalu meraih segelas jeruk hangat yang disiapkan istrinya,"Tidak ada, sayang. Semalam Daddy olahraga, jadi tidurnya lebih lama," Jawabnya tanpa sadar membuat otak Aaron berpikir keras.


"Olahraga apa malam-malam, Dad?"


Lagi-lagi Alex merasa tertohok. Ia merasa telah salah bicara.


Beruntunglah sebelum ia sempat menjawab, Sarah datang dengan Axelle yang tengah mengusap sebelah matanya dan Alaina yang ada di gendongannya.


"Nah ayo sarapan dulu setelah itu segera mandi," Titah sang ibu. Ia mendudukkan Alaina di seberang Aaron lalu menyodorkan sepiring panekuk untuk putrinya.


"Daddy... Alaina mau disuap."


Axelle menatapnya penuh kejahilan,"Tidak tahu malu! Kau sudah besar tahu!"


"Axelle, berhenti menjahili adikmu. Makan saja dengan tenang, sayang," Ucap Sarah. Alaina menekukkan bibirnya karena kesal, tapi ia tetap akan meminta ayahnya untuk menyuapinya makan.


"Baiklah, Daddy akan menyuapimu."


Alex berpindah tempat di sebelah Alaina. Gadis kecil itu bersorak senang saat ayahnya memotong lapisan panekuk itu lalu menyodorkan sendok di depan bibirnya.


Sarah tersenyum melihat itu. Mereka pun sarapan dengan tenang tanpa ada satu pun suara yang terdengar kecuali dentingan sendok dan garpu.


...


Aaron dan Alaina tengah menggambar sesuatu di buku gambar. Saat ini mereka tengah berada di ruang bermain yang cukup luas.


Alex dan Axelle pergi ke pantai lagi, bocah itu marah pada Alex karena menghilangkan kerang-kerang yang sudah ia kumpulkan untuk Marilyn. Mengingat tentang mertuanya, Sarah jadi khawatir dengan keadaannya.


Ia lantas meraih ponselnya untuk menghubungi Marilyn. Butuh waktu beberapa detik sampai akhirnya Marilyn mengangkat teleponnya.


"Mom? Apa kabarmu disana?"


"Hai Sarah! Aku disini baik-baik saja walau terkadang sakit kepalaku kambuh," Sarah dapat mendengar nada bicara Marilyn yang mengindikasikan kalau dia sedang tak baik-baik saja. Ya tuhan, Sarah merasa tak enak karena telah meninggalkan Marilyn di rumah sendirian.


"Syukurlah Mom. Aku akan bilang pada Alex untuk mempercepat liburan kami--"


"Sayangku! Jangan begitu, nikmati waktu kalian disana, nak. Lagipula ini adalah momen yang pas untuk menghabiskan waktu dengan si kembar bukan?"


Sarah memainkan ujung gaunnya sedangkan matanya menatap Aaron dan Alaina yang masih tengkurap di atas karpet bulu sembari mewarnai.


"Apa Mom mau bicara dengan anak-anak?"


"Tidak usah, Sarah. Dokter meminta ku untuk istirahat. Kalau begitu aku tutup dulu ya, sayang? Bersenang-senanglah!"


Sarah meletakkan kembali ponselnya, ia menghela napas sebelum dirinya bangkit dan berdiri di depan kaca besar. Bisa ia lihat dari sini, Alex dan Axelle tengah mencari-cari kerang di pasir pantai. Wanita itu tertawa kecil.


"Mom, ayo kita berenang lagi ke pantai!" Ia menoleh ke arah belakang, Alaina meraih kakinya lalu menarik gaunnya untuk menyusul sang ayah di pantai.


"Tidak bosan? Kita nonton film saja ya?"


Alaina lantas merengek. Sarah tertawa lalu dia mengamit tangan kecil Alaina dan Aaron, menyusul Alex di pantai.


Sesampainya, keduanya langsung berlarian ke pinggir pantai sembari berteriak senang. Axelle yang melihat kedua saudaranya lantas meninggalkan kerang-kerang yang tadi ia kumpulkan lalu bergabung bersama kakak dan adik kembarnya.


Alex menghela napas lelah. Dia mendudukkan diri di atas pasir sembari mengamati si kembar yang sedang aktif-aktifnya.


Ia menoleh ke kiri saat melihat Sarah yang juga duduk di sampingnya sembari bersandar di bahu Alex.


"Tadi aku menelepon ibu, menanyakan keadaannya. Kurasa ia sudah lumayan membaik walau masih terdengar tak sehat."


Alex mengecup puncak kepala istrinya,"Ibuku adalah wanita kuat. Dia akan baik-baik saja."


Wanita itu menghembuskan napasnya,"Senang sekali rasanya karena kita bisa berkumpul sebagai keluarga seperti ini. Aku masih tak percaya dengan apa yang kumiliki sekarang."


Alex merengkuh tubuh istrinya, ia mengusap lengan Sarah,"Kita harus percaya, Sarah. Mulai sekarang dan selamanya, kita adalah keluarga. Aku berjanji untuk tetap setia hingga kita bertemu kembali di kehidupan selanjutnya."


Sarah merasa tenang berada di pelukan suaminya, merasakan aroma dan detak jantung Alex yang selalu ia sukai.


Alex kembali mencium bibirnya, kali ini cukup lama dan lembut.


Sarah senang karena pada akhirnya semua masalah mereka sudah beres. Entah itu gosip tentang orientasi seksual Alex ataupun trauma pria itu. Semuanya sudah selesai, ia tak perlu lagi mencemaskan hal lainnya disaat semua yang ia lihat kini adalah kebahagiaan. Bersama Alex dan ketiga anaknya, Aaron, Axelle, serta Alaina.


END


...


A/n : Terimakasih untuk semua pembaca setia dari seri pertama Grissham๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Šย  ini benar-benar akhir dari kisah Alex-Sarah.


Akhirnya kita sudah menemukan kata selesai dari kisah kali ini:) kasih tahu dong, apa aja yang kalian suka? Atau part mana yang ngeselin bagi kalian?


Semoga karya saya satu ini dapat terus melekat di dalam hati kalian ๐Ÿคฉ๐Ÿ˜ saya ucapkan jutaan kata Terimakasih pada semua yang mendukung cerita ini hingga sampai selesai. Tanpa kalian, kisah Alex-Sarah tak akan pernah ada๐Ÿ˜


cek sinopsis untuk kisah Aaron ya :). tenang aja, Axelle dan Alaina kebagian kok. tunggu saja :)