
Sarah duduk terdiam di dalam kamar. Sudah hampir dua jam lamanya dia menunggu disini tanpa ada kepastian lain. Sejak kepergian ibunya Alex, pria itu langsung bangkit dan meraih celananya kemudian menyusul ibunya di luar sana. Entahlah, drama seperti apa yang sedang terjadi, tapi Alex memerintahkannya untuk tetap berada di kamar.
Sarah menghela napasnya, dia cukup lapar dan saat ini sekujur tubuhnya masih agak sakit. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain diam. Sungguh, Sarah merasa seperti wanita panggilan.
Ia menundukkan wajahnya, memerhatikan ujung kemeja putih milik Alex yang ia kenakan. Setelah berlama-lama dengan pemikirannya, pintu kamar itu kembali terbuka. Sarah segera mendongak, di depannya Alex dengan tampang kusut menatapnya tajam.
"Puas? Apa kau puas dengan yang ibuku katakan tadi hem?"
Sarah mengerutkan dahinya, kenapa Alex terlihat menyalahkannya dalam situasi ini?
Wanita itu segera berdiri ketika Alex mengambil langkah lebar padanya. Sarah berniat untuk kabur tapi tangan Alex lebih dulu menyentak lengannya hingga tubuh mereka kembali bersinggungan. "Dengarkan aku perempuan tidak tahu diri, tidak peduli dengan apa yang ibuku katakan, aku tidak akan menikahimu,"
Sarah mendelik,"Ta-tapi kau setuju dengan persyaratan--"
"Hanya jika!" Bentaknya. Sarah terdiam seketika. Ia menatap Alex dengan matanya yang berkaca-kaca. Perempuan itu tidak biasa dibentak, ia tidak akan pernah bisa. Sekeras apapun Sarah untuk menahan air matanya, ia tidak akan pernah berhasil.
"Hanya jika bayi yang kau lahirkan itu perempuan, Sarah. Kau tidak bisa menuntutku lebih karena kau tidak akan pernah bisa," Lanjutnya. Sarah menahan tangisnya, cengkraman lelaki itu pada lengannya terasa begitu sakit. Sarah tidak bisa diperlakukan seperti ini.
Alex melirik ke arah ranjang yang belum dirapikan, disana terdapat sebuah bercak kemerahan yang menempel di atas ranjang. Senyumnya seketika keluar, dia kembali melirik Sarah,"Kau bukan gadis lagi saat ini Sarah. Jika kau berani untuk macam-macam, jangan salahkan aku jika aku melempar mu ke tempat pelacuran," Ancamnya.
Alex menyentak tangannya kemudian berbalik ke luar kamar. Ia akan mandi di kamar mandi lain lalu pergi secepat mungkin.
Sarah menarik napasnya, dengan sisa-sisa keberanian nya, dia mulai berbicara.
"Apa aku salah Alex? Apa kesalahan ku hingga kau berbuat tidak adil padaku? Seharusnya ini menjadi lebih mudah, jika--" Sarah menghapus air matanya dan menatap tidak senang pada punggung Alex yang berhenti di depan pintu.
"Jika kau menerima siapapun bayimu nanti dan tidak bersikap arogan. Kenapa kau melempar semua amarahmu padaku? Bisa kau jelaskan kenapa kau terlihat begitu ketakutan saat aku membicarakan bayi perempuan?" Tanyanya kemudian. Ya, sedari tadi hal itulah yang mendiami benaknya. Sarah sedikit penasaran dengan apa yang terjadi pada Alex sehingga pria itu tampak benar-benar jijik dengan anak perempuan.
Alex menoleh padanya sebentar. Dia tidak mengucapkan apapun lalu pergi begitu saja. Sarah mendudukkan dirinya di atas ranjang kemudian kembali menangis.
...
Alex memandang kosong pada kertas di tangannya. Rahangnya mengeras, menandakan bahwa ia sedang menahan gejolak api dalam dadanya. Sedari tadi, Zack, menatapnya heran. Pria kurus itu tak henti-hentinya memerhatikan ketika jemari Alex seakan merobek kertas-kertas itu.
"Tuan Grissham? Apa Anda baik-baik saja? Anda butuh sesuatu?"
Mata biru pudarnya mengerjap sekali. Ia membalas tatapan Zack tanpa minat sebelum melempar semua kertas dari tangannya.
"Kau belum menemukan pelakunya? Orang yang mencemarkan nama baikku?" Tanya Alex. Zack kemudian menggeleng dan menunduk, ia tahu saat ini tugasnya tidak terselesaikan dengan baik dan mungkin saja Alex bisa memecatnya karena ini.
Zack mendengar helaan napas dari majikannya.
Alex berdiri membelakangi Zack, satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celana dan matanya memandang tajam pada burung-burung yang terbang di atas awan. Kaca yang begitu besar itu menampilkan semua hal eksotis dari alam.
"Apa ada informasi dari mansion?"
Zack menegakkan kepalanya. Alex terlihat tidak jelas untuk saat ini. Ia terlihat, tidak fokus?
"Maksud Tuan?"
Alex berbalik,"Ya, itu. Kabar, kau tahu kan," Jawabnya tanpa minat.
Zack segera menganggukkan kepalanya ketika mengerti,"Nona Sarah?"
"Hmm,"
"Terakhir kali kudengar dari kepala pelayan, Nona Sarah tidak melakukan apapun dirumah, Tuan," Jawab Zack. Ia melihat Alex hanya menganggukkan kepalanya saja sebelum kembali duduk di atas kursi miliknya.
"Ada yang ingin Tuan sampaikan pada Nona Sarah?"
"Ya sudah, kau boleh pergi," Titahnya. Zack menundukkan badannya sedikit lalu berbalik ke arah pintu untuk melanjutkan tugasnya yang belum selesai. Alex masih memerintahkan dia untuk terus mencari si pelaku berita palsu untuk ditindaklanjuti sementara Alex juga menyelesaikan pekerjaannya.
"Tunggu Zack!"
Zack berhenti dan kembali menatap Alex,"Anda butuh sesuatu?"
"Pakaian dalam. Kau cepat belikan,"
Zack mengerutkan dahinya. Pakaian dalam untuk siapa?
"Untuk--"
"Ya, untuk wanita itu. Belikan dia pakaian dalam dan semua yang diperlukan perempuan. Katakan padanya kalau itu bonus," Potongnya dengan cepat. Entahlah, Alex merasa kesal jika mendengar nama Sarah di telinganya.
"Tapi Tuan, ukuran seperti apa? Saya tidak mengetahui."
Alex memejamkan matanya. Oke, ini harus tampak mudah untuknya. Hanya pikirkan ukuran dada Sarah. Alex mengelus dagunya, tenggorokannya terasa gatal saat kembali membayangkan ukuran sempurna aset yang Sarah miliki.
"Favoritku, Zack. Kau tahu itu."
Zack tidak berkata lagi, dia menundukkan sedikit badannya lalu keluar dari ruangan Alex untuk memenuhi permintaan pria itu.
Di lain tempat, Sarah masih betah dalam kesendiriannya. Dia menekuk lututnya dan menatap kosong pada perapian elektrik di hadapannya. Bunyi ketukan pintu membuatnya menoleh. Sedari tadi pelayan disana berusaha membujuknya untuk keluar tapi Sarah enggan. Dia takut jika harus bertatap muka dengan Nyonya besar dirumah ini. Apa jadinya jika wanita berumur itu mencaci dia lalu menamparnya? Sungguh, Sarah takut hal seperti itu kembali terulang.
"Nona, Anda belum makan sejak tadi pagi. Nyonya Grissham meminta saya untuk menyuruh Nona keluar," Suara pelayan dibalik pintu terdengar begitu putus asa. Sarah meneguk ludahnya, telapak tangannya mulai berkeringat. Untuk apa ibunya Alex memintanya keluar? Ia ingin melukai Sarah?
Sarah berdiri perlahan. Dia tidak ingin menambah masalah, jadi wanita itu memilih untuk berjalan ke arah pintu lalu membukanya perlahan. Di depannya, si pelayan tampak menghembuskan napas lega. Dia menuntun Sarah untuk turun ke bawah dan menemui Nyonya Grissham tersebut.
Ketika sampai di pintu taman belakang, pelayan itu berhenti. Dia mengatakan kalau Nyonya Grissham berada di taman belakang.
Mata hitamnya menatap ke arah depan, tepat di hadapannya, wanita anggun itu duduk di sebuah kursi santai sambil meminum pelan sesuatu di dalam gelasnya. Ia terlihat begitu menikmati pemandangan taman di halaman belakang itu yang memang indah. Ada air mancur kecil dan beberapa tanaman cantik yang menghiasi rerumputan terawat itu. Terdapat sebuah kolam kecil dan beberapa kura-kura lucu di dalamnya. Demi apapun, Sarah begitu menyukai hal yang ada di depannya ini.
Perlahan kakinya melangkah, mendekati Nyonya Grissham yang duduk di bawah payung berukuran besar. Sarah memerhatikan pakaian di tubuhnya yang tidak pantas. Dirinya terlihat seperti jalang dengan keadaan seperti ini.
"Pemandangan indah bukan?" Sarah segera mendongakkan kepalanya. Ia tersentak saat bola mata coklat tua itu memandangnya dengan sebuah senyuman kecil.
"Alex dan aku begitu menyukai alam. Jadi aku mengatakan padanya untuk membuat taman kecil seperti ini. Rasanya disini aku selalu bisa melihat Alex kecilku yang nakal," Lanjutnya. Mata coklatnya kembali memerhatikan kura-kura yang menceburkan diri mereka ke dalam kolam dan terkekeh,"Aku tak percaya Alex akan tumbuh menjadi pria seperti ini," Lirihnya. Sarah memerhatikannya dalam diam, ibunya Alex terdengar seperti wanita yang putus asa.
Wanita itu kembali menatap Sarah,"Duduklah sayang. Jangan berdiri seperti itu," Pintanya sambil menunjuk kursi kosong di sebelahnya. Jarak mereka hanya dihalangi oleh sebuah meja bundar yang di atasnya terdapat beberapa makanan enak.
Sarah mendudukkan dirinya dan kembali diam. Dia akan berbicara jika Nyonya Grissham memintanya untuk berbicara.
"Tolong Sarah, jangan bersikap takut seperti itu. Aku tidak akan melukaimu," Ucapnya.
Sarah hanya mengangguk,"Ma-maafkan aku,"
"Ya ampun nak! Kau tak harus mengucapkan kata maaf. Sudah kubilang ini salahku, kau berada dalam situasi seperti ini," Balasnya.
"Pertama, namaku Marilyn Grissham. Kau bisa panggil aku ibu atau bibi atau terserah padamu."
Sarah kembali mengangguk diam.
"Sarah, apa kau memang diminta Alex untuk berbuat semacam ini? Melahirkan anaknya lalu pergi begitu saja demi mengembalikan nama baik Alex?"
Sarah menundukkan wajahnya,"A-aku butuh uang dan Alex menawarkan kerja sama padaku. A-aku... Setuju untuk membantunya karena dia juga membantuku," Jawabnya lesu. Marilyn tampak memandangnya kasihan, dia tahu ini salahnya dan Sarah hanya korban akibat ulahnya.
"Aku yang membuat berita konyol tentang putraku itu."