
Butuh beberapa detik bagi Alex untuk memahami perkataan Marilyn hingga akhirnya ia merasa gravitasi seolah tak berfungsi lagi bagi tubuhnya.
"Tiga? Apa... Apa maksudmu Mom?"
Marilyn menatapnya dengan perasaan bersalah,"Kau ingat beberapa bulan yang lalu? Ketika Dokter Delilah memberitahu mengenai jenis kelamin bayi kalian? Saat itu dia ingin mengatakan kalau kau punya dua bayi laki-laki dan seorang bayi perempuan. Aku tahu kalau dia bermaksud untuk mengatakan itu, tapi kau terlalu semangat hingga dokter Delilah tak mempunyai kesempatan untuk berbicara. Jadi aku meminta Delilah untuk menyembunyikan perihal bayi ketiga kalian yang tidak terdeteksi, hanya jaga-jaga saja. Maafkan Mom, Alex. Aku menyembunyikan ini demi kebaikan kalian," Tuntasnya.
Alex menggeleng tak percaya. Keringatnya lagi-lagi muncul mendengar penjelasan ibunya. Ia ingin menolak ucapan Marilyn dan berharap kalau wanita itu hanya bergurau, tapi siapapun tahu kalau tatapan mata Marilyn berkata kalau ia jujur.
Alex menahan geramannya sendiri. Ia berusaha mengontrol emosinya karena sang ibu lagi-lagi ikut campur dalam urusannya. Namun Alex tak bisa menampik kalau ia sedikit bahagia. Asal tahu saja, sejak kehamilan Sarah, Alex sering memimpikan bayi perempuan yang cantik. Ia merasa kalau itu memang sebuah pertanda.
"Apa Sarah juga tahu?"
Marilyn menggeleng cepat,"Sudah kubilang kalau aku merahasiakannya darimu dan juga Sarah. Tak ada yang tahu kecuali aku dan Dokter Delilah. Alex, dengarkan aku. Kau harus menerima bayi perempuan itu karena dia adalah darah dagingmu sendiri. Lupakan apa yang pernah tertanam dalam dirimu dan biarkan--"
"Mom, aku memang kesal dan marah karena kau selalu ikut campur dalam masalahku apalagi sampai menyembunyikan hal sebesar ini. Namun aku tak mengatakan kalau aku akan membuang bayiku. Aku sudah berusaha menerima semuanya, Mom. Aku ingin melihat anak-anakku," Tukasnya.
Alex berjalan mendahului Marilyn, ia tidak akan percaya sebelum dia melihat dengan mata kepalanya sendiri.
...
Mungil dan rapuh. Itulah yang ada di pikiran Alex ketika matanya dengan benar melihat tiga keranjang khusus yang di taruh di ruangan itu. Dia berdiri di depan kaca penghubung, menyaksikan bagaimana ketiga bayinya bernapas melalui organ pernapasannya yang kecil.
Dia merasa takjub pada bayi-bayi kecil itu, hati Alex tergerak untuk segera memeluk mereka dalam dekapan hangatnya lalu mencium mereka satu persatu.
Sebuah sentuhan halus di bahunya membuat Alex menoleh,"Masuklah, lihat bayimu disana."
Marilyn memberinya sedikit ketenangan tentu saja. Alex mengangguk antusias, dia menekan tuas pintu ruangan itu lalu masuk ke dalamnya. Kakinya melangkah sangat pelan seperti takut membangunkan salah satu dari bayinya. Tenggorokan Alex tercekat ketika ia berhasil melihat secara dekat anak-anaknya yang kecil. Tubuh mereka masih memerah seperti bayi pada umumnya dan mereka selalu tidur.
Suara tangisan bayi membuat pikiran Alex teralihkan. Ia melirik pada ranjang ketiga, dimana buntalan berwarna merah muda itu tengah bergerak tak nyaman. Nalurinya mengatakan kalau dirinya harus mendekap bayi itu dalam pelukannya. Seperti terhipnotis, Alex benar-benar kagum dengan kecantikan bayi perempuannya itu.
Dia dengan pelan menggendong anaknya lalu menatapnya penuh arti. Alex merasa ia pernah merasakan ini. Sebuah sensasi mengagumkan ketika ia berhasil menggendong seorang bayi.
Inikah rasa yang sama yang pernah ia rasakan dulu ketika untuk yang pertamakalinya dia menggendong Elle? Rasa antusias dan bahagia ini? Benarkah?
Lirihan kecil dari bibir bayi itu membuat Alex ingin menangis. Betapa bodoh dirinya dulu, kenapa ia sempat berpikiran kalau anak perempuan hanyalah pembawa sial? Lihat betapa dia mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang diperuntukkan baginya ini? Dia begitu suci dan mulia, seperti bayi yang lain. Dia mendekatkan bibirnya pada si bayi, mengecup kening anaknya cukup lama sembari memejamkan mata.
Entahlah, semua trauma yang dia miliki seolah hilang begitu saja. Kali ini Alex merasa lega dan puas, ia tak bisa menggambarkan kebahagiaan yang kini ia gapai dengan kata-kata. Ini akan menjadi momen paling indah dalam hidupnya.
Alex mengembalikan putrinya ke dalam ranjang saat dia sudah berhenti menangis. Pria itu tersenyum kecil sembari mengelus pipi gemuk bayinya.
Dia sadar, secara tak langsung dirinya sempat menolak mentah-mentah keberadaan bayi ini. Bukan hanya itu, Alex bahkan menyakiti hati Sarah karena ucapannya yang kejam.
"Maafkan Daddy karena pernah mengatakan hal itu padamu, sayang. Namun jangan khawatir, aku menyayangimu, sangat menyayangimu."
Dia terkekeh pelan sembari mengelus pipi anaknya. Ada satu nama yang terlintas dalam pikiran Alex dan ia yakin kalau Sarah pasti menyukainya.
"Alaina. Itu akan menjadi nama yang cocok untukmu."
...
Marilyn memutuskan pulang keesokan harinya untuk membersihkan diri, ia bilang jika dirinya akan kembali nanti siang. Nathan dan yang lain juga akan berkunjung siang ini mengingat semalam mereka sama-sama tak punya waktu yang pas untuk menjenguk Sarah dan bayi-bayinya.
Alex berada di ruang perawatan Sarah, ia menggenggam jemari tangan wanita yang baru saja terbangun itu. Wajahnya masih terlihat letih, tapi itu tak membuat Sarah menghentikan senyumnya.
"Aku senang karena kita punya tiga bayi, Alex. Sungguh, terima kasih karena kau mau menerima keberadaan bayi perempuan kita."
Wanita itu merasakan air matanya keluar setelah mendengar penjelasan Alex barusan. Ia bahkan terkejut ketika Alex sudah memberinya nama yang manis.
Alex mengecup punggung tangan Sarah,"Tak ada alasan bagiku untuk menolak eksistensinya, Sarah. Alaina terlalu menakjubkan untuk ku singkirkan," Sahutnya.
Pintu ruangannya dibuka, beberapa perawat muncul sembari mendorong tiga ranjang bayi masuk ke dalam ruangan itu. Dokter Delilah hadir setelahnya.
"Aku mengucapkan selamat untuk kalian berdua. Maafkan aku karena menutupi kehadiran bayi ketiga kalian. Nyonya Grissham memintaku untuk tutup mulut dan menjadikan ini sebagai anugerah untuk kalian berdua," Jelasnya. Sarah mengerti bahwa Marilyn ingin menjaga Alaina dari kekejaman Alex, tapi untunglah karena itu semua tidak terjadi.
Dokter dan perawat itu akhirnya keluar dari ruangan untuk memberikan mereka waktu.
Alex berjalan mendekati ranjang pertama, itu Aaron-- si sulung.
Ia mengecup bibir bayi itu sekilas sebelum memberinya pada Sarah untuk disusui. Sarah terharu saat kedua tangannya berhasil mendekap tubuh kecil putranya, ia tak berhenti mengucapkan kata cinta sembari mengecup setiap bagian wajah Aaron dengan sayang.
Wanita itu melepas kancing bagian depan pakaian yang ia kenakan, ia mengeluarkan payudaranya lalu Aaron pun langsung menghisap putingnya dengan kencang. Ia pasti sangat kelaparan.
"My baby boy..." Gumamnya.
Alex mendekap Axelle dan Alaina bersamaan sembari duduk kembali di kursinya.
"Mereka masih tertidur," Gumamnya.
Sarah melirik kedua bayinya yang lain lalu ia terkekeh. Sungguh, rasanya ia masih tak percaya kalau ia melahirkan bayi kembar tiga. Waktu persalinan kemarin, ia nyaris berteriak kaget ketika merasakan kontraksi ketiga dari perutnya lalu tak lama setelah itu putri bungsunya lahir secara tak terduga. Hadiah dari Tuhan benar-benar menakjubkan.
Pada awalnya Sarah takut, ia tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi atau tindakan yang akan Alex lakukan ketika mereka dianugerahi bayi perempuan. Namun hal itu tak lagi menjadi ketakutannya karena kenyataannya Alex terlihat begitu antusias pada Alaina. Ia rasa ini bukan saat yang tepat untuk membahas trauma yang pria itu alami.
"Kapan kau memutuskan untuk memberi nama Alaina?"
Alex mengendikkan bahunya sembari menggoyangkan lengannya agar kedua bayinya tak menangis,"Terlintas begitu saja di kepalaku. Aku tertarik melihatnya makanya kuberi nama Alaina yang artinya 'menarik'. Kau tidak keberatan bukan?"
Sarah menggigit bibir bawahnya gemas. Ia menggeleng cepat sembari menyembunyikan senyum yang nyaris membuat matanya menyipit. Dia bahagia karena Alex mampu menerima kehadiran Alaina dalam hidupnya.
Mata hitam Sarah kembali menatap Aaron yang tertidur. Anak lelakinya itu tidur dengan damai dan Sarah sangat berharap kalau dia kelak akan menjadi seorang kakak yang baik untuk saudaranya.
"Aku sudah menyiapkan nama tengah untuk mereka, Sarah. Kau mau dengar?"
"Iya, kau bilang kau akan memberitahu ku kan?"
Alex memberikan Alaina pada Sarah, wanita itu terlihat begitu memesona dengan dua bayi di pelukannya.
Pria itu akhirnya memberitahu Sarah nama tengah untuk melengkapi nama anak-anaknya dengan begitu antusias.
Aaron Leonathan Grissham.
Axelle Lathaniell Grissham.
Alaina Hailee Grissham.
"Kenapa nama tengah Alaina diawali huruf yang berbeda?"
Alex hanya memberinya senyum getir,"Dulu aku ingin sekali memberi nama Elle dengan nama Hailee, tapi ayahku tak menyukai nama itu hingga dia memberi nama Elle padanya. Ya... Aku hanya mencoba untuk memperbaiki kesalahan ku pada Elle dan berharap jika nama itu bisa semakin membuatku sadar kalau selama ini aku memang menyayangi adikku."
Sarah ikut bersedih akan kehilangan yang Alex rasakan. Benar, Alex pasti menyayangi adiknya karena Sarah yakin kalau hubungan persaudaraan itu kuat. Bohong jika Alex tak punya rasa kasih pada saudaranya sendiri.
"Aku yakin dia senang mendengar pengakuan mu. Al, kau tak perlu untuk menyalahkan dirimu sendiri atau selalu terpekur dalam masa lalumu. Sekarang kau punya Aaron, Axelle, dan juga Alaina. Mereka akan menjadi pengobat rasa sepi mu."
"Tidak. Selama ada kau dan anak-anak kita, aku akan selalu bahagia."
...
A/n : saya mau up banyak! sebel karena kemarin review nya lama bener :'